Suami Settingan

Suami Settingan
Cinta Mengubah Segalanya


__ADS_3

"Ya, tapi aku lebih baik ngga tau sajalah, Na ... toh katanya virus itu sudah tidak ada lagi ditubuhku, mereka juga baik dan berkembang sesuai usianya, makanya aku heran kenapa harus sampai tes itu segala?" kesah Jen dengan mendelikkan pandangannya dan suara meninggi yang langsung ditenangkan oleh Naja.


"Apa karena aku anak dari pemilik rumah sakit sampai harus diistimewakan? Lagian itu biayanya mahal. Kenapa ngga digunakan buat nolong orang yang kekurangan biaya saja," lanjutnya dengan sewot luar biasa. Wanita itu meluapkan apa yang dipendamnya selama ini. Darren? Diajak bicara? Hah ... yang ada, suaminya itu langsung memberinya tatapan mengancam yang membuat Jen seakan mengkerut dan menguap.


Naja tertawa melihat Jen. "Itu hanya alasan kamu!" tuduh Naja gamblang. "Kamu ngga mikir kalau mereka itu selalu melaporkan keadaan kamu, keadaan kita semua pada Papa? Kamu lupa siapa papa kamu?"


"Ta—" Jen sudah menaikkan tubuhnya lebih dekat pada Naja, bibirnya sudah siap mengatakan bantahan yang telak, tetapi ia langsung terdiam begitu kalimat Naja terolah sempurna oleh otaknya. Lalu dengan ******* panjang, Jen kembali membiarkan punggung sofa menerima tubuhnya. Naja benar.


Naja tertawa lirih, "itu semua demi kebaikan kamu. Aku akan menemanimu nanti ... tenang saja, aku punya babysitter baru." Naja berbisik misterius dengan mengendikkan kepalanya lebih dekat pada Jen. "Jeje sepertinya lagi LDRan sama gadis Jepang," bisik Naja tertahan, sebab telinganya lamat-lamat mendengar suara pintu bergeser.


"Ngomongin aku?" Suara itu menuduh dengan sinis.


Naja dan Jen langsung membenahi posisinya. "Kepedean! Sok cakep! Lu siapa? Kek penting aja buat kita omongin," sinis Jen dengan bibirnya yang bergelombang mengerikan.


Jeje mendeciskan tawanya dengan lirih, kesal dengan mulut kembarannya itu. "Kupikir setelah nikah bibir kamu itu sudah sekolah dan terkendali. Ternyata malah lebih parah."

__ADS_1


"Apa kamu—"


"Jen ... pelankan suaramu!" Naja menarik tangan Jen agar duduk dan kembali tenang. "Bumil kudu sabar, jangan bergerak tiba-tiba, nanti bayi kamu syok."


Astaga! Naja sampai terbelalak melihat gerakan tiba-tiba dan sangat cepat dari Jen, sampai napasnya tercekat begitu lama. Ia menoleh ke arah Jeje yang bersandar malas di dinding samping pintu. Puas sekali kelihatannya pria itu membuat Jen kesal.


"Je, berhenti bersikap kaya anak kecil gitu ... kalau Jen kenapa-napa, gimana?"


Jeje membuang napasnya, semua orang dirumah ini rupanya sudah berubah jadi seperti mamanya. Naja bahkan sudah mulai suka mengomel apa yang boleh dan tidak boleh. Rasanya dia sudah tidak lagi punya teman.


"Kenapa, sih, dia?" Jen sedikit heran dengan tingkah Jeje. Biasanya meski sudah diperingatkan untuk berhenti, pria itu malah seperti diberi suntikan semangat, makin menjadi-jadi tingkahnya.


"Ya, itu tadi ... LDRan sama gadis jepang. Lihat saja ponselnya, cantik dan imut. Kayaknya masih SMA dilihat dari seragamnya." Naja mengingat-ingat fitur gadis itu yang hanya sekilas lalu dilihatnya di ponsel saudara suaminya itu. "dan dia udah mulai berahasia, Jen ... ponselnya pakai password sekarang."


"Beneran, Na?" Jen ingin tidak percaya pada ucapan Naja yang bertolak belakang dengan bagaimana sifat Jeje dulu, yang sangat terbuka bahkan pada gadis-gadis yang disukainya. Mereka sering menjadikan kekasih Jeje bahan candaan yang seru. Jeje juga ikut serta menertawakan kekasihnya itu. Jeje memang begitu, terang-terangan mengakui kalau dia tidak punya perasaan khusus pada wanita yang bersamanya. Alasannya jelas, dia tidak mau terluka dan melukai. Anehnya, wanita itu mau dan menerima begitu saja jika Jeje berterus terang dengan perasaannya itu. Bagi mereka—gadis-gadis itu, berdekatan dan 'dianggap' oleh Jeje saja mereka sudah sangat senang. Kendati demikian, Jeje tidak pernah berbuat kurang ajar pada mereka. Pantang bagi Jeje melakukan hal itu.

__ADS_1


"Bener ... aku juga sempat bingung, sih ... tapi cinta bisa mengubah segalanya, 'kan?" Naja mengisyaratkan banyaknya bukti kalau cinta itu bisa melakukan banyak hal.


Jen menganggukkan kepalanya berulang, dia juga merasakan hal itu. Cinta ... mengubah dirinya, sepertinya, sih. Jen menggigit bibirnya, hatinya kembali berdesir dan dia tersenyum. Ya ... dia tahu, perkataan Naja benar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2