
Memutuskan untuk memberitahu Excel bahwa ia tak membutuhkan pinjaman baju, Darren mengetuk pintu kamar mandi sekadar berpamitan pada Jen. Namun hingga beberapa kali ketukan, tak ada sahutan dari dalam sana. Ia melangkahkan kaki meninggalkan kamar, menyusuri lorong menuju lantai di bawahnya. Di bawah sana, tampak pria yang ia cari sedang menapaki anak tangga ke atas. Mungkin karena mendengar suara langkah, Excel mendongak ke arahnya. Tampak terkejut melihat penampilannya yang sudah berganti.
"Ini gak butuh lagi?" Tangan pria itu menggoyang satu setel pakaian yang hendak ia berikan kepada iparnya.
"Aku baru saja mau memberitahumu ...." Darren mempercepat langkahnya, bahkan ia menuruni tangga dengan cekatan, hingga mencapai hadapan kakak iparnya.
Excel hanya menarik salah satu sudut bibirnya menepi. Tak masalah. "Oke, aku kembalikan dulu, kita ke meja makan sama-sama."
"Oke ...," jawab Darren menggiring langkah, kedua pria tampan itu menuruni tangga lalu berpisah ketika Excel kembali ke kamarnya, dan Darren mengambil kursi panjang di sebelah tangga. Melihat tempat ini, rasanya hanya bayangan wajah Jen yang begitu tidak suka selalu terarah padanya. Darren tersenyum mengingat masa-masa itu.
Darren setengah melamun ketika samar-samar mendengar langkah lembut menuruni tangga. Kepalanya menoleh, lalu mendongak. Ia segera bangkit ketika Ranu berhenti sejenak dan membalas tatapannya.
"Hai, Ran ... mau ke meja makan juga?" sapa Darren dengan senyum yang mampu mencekungkan pipinya. Senyum yang mampu melumpuhkan Ranu seketika.
Ranu hanya mengangguk lalu meneruskan langkahnya. Tangan wanita itu menyusur kayu mengkilap yang menjadi pegangan di tangga.
Darren mengikuti gerakan Ranu hingga mencapai depannya. Senyumnya makin lebar merentang. Seperti biasa ia memperlakukan adik iparnya.
"Aku ke sana dulu, Kak ...," pamit Ranu sejenak menyapu seluruh wajah Darren. Aroma parfum Ranu memenuhi udara disekitar Darren.
"Gak bareng sama aku saja?" Masih tersenyum dan berusaha mengusir pikiran yang mengatakan bahwa Ranu berbeda. Darren merasa ada yang berubah dengan sikap Ranu padanya. Ia pikir akan lebih akrab bila kini mereka telah menjadi keluarga. Adik dan kakak sesungguhnya. Namun, Ranu seperti menjaga jarak dan sikap.
Ranu menghentikan langkahnya, kepalanya menoleh dan menatap tajam. "Memangnya kakak menungguku? Tidak 'kan?"
Darren memudarkan senyumnya, ucapan Ranu adalah ucapan paling dingin dan tajam yang pernah ia dengar. Ada apa ini? Apa salah bila bercanda seperti biasa? Memangnya kenapa kalau menunggu orang lain? Bisakan berbincang di sini lalu ke meja makan bersama-sama? Karena mereka keluarga, bukan?
Ranu membuang muka dengan anggun meski terlihat sekali ia tengah memendam kesal, langkahnya juga tidak tergesa atau menghentakkan kakinya. Tenang dan lembut.
Mata Darren terpaku pada punggung yang tertelan lorong menuju ruang makan yang remang. Masih bertanya-tanya dan tidak mengerti akan perubahan Ranu yang mendadak.
"Ayo ...," suara di belakang telinganya membuatnya terkejut dan menoleh. Excel sedang menggendong bayinya, sementara Naja berjalan sedikit jauh dari mereka.
Darren mendongak, seakan mengharap Jen segera turun dan bisa ke meja makan bersama.
"Udahlah, Jen tau jalan ke meja makan, ngga usah pikirin dia." Excel mendahului langkah Darren, ujung hidung pria itu sibuk menggosok pipi anaknya yang telah terbangun.
Darren tertawa kecil dan mendesis, "Beneran bangun kalau dibaringkan?" Mengalihkan pembicaraan, Darren mendekati Excel.
"Kan aku sudah bilang, dia gak mau ditidurkan, maunya gendong." Naja telah sampai, ia memakaikan sarung tangan di jemari anaknya. Lalu mengamit lengan suaminya, dengan senyum penuh rasa terimakasih. Kepala wanita itu segera mendarat di lengan yang sama dimana anaknya tengah merebah.
Mereka melangkah menjauhi Darren. Sekali lagi Darren menengadah, berharap Jen datang tapi hingga beberapa saat, tak ada suara lalu ia memutuskan bergabung dengan pasangan yang sangat bahagia di depannya.
__ADS_1
Celoteh dan canda tawa menyambut kedatangan mereka. Ramai dan sibuk, beberapa Art sedang mengantarkan menu makanan malam ini tampak berlalu lalang. Mereka segera mengangkat wajah begitu menyadari kehadiran mereka.
"Wah, cucu Oma mau ikut makan malam?" Kira berlari kecil mendatangi Cio. Ia mencium saja tanpa mengambil alih, sebab takut kalau mengganggu kenyamanan cucunya pelukan si Daddy.
"Ayo, segera kita makan malam ...," kata Kira lalu mengusap satu-satu anaknya, dan jatuh ke Darren pada akhirnya. "... Jen mana?"
"Tadi masih mandi, Ma ...," jawab Darren.
"Ya udah, kita tunggu saja di sini, kebiasaan anak itu kalau mandi lama sekali, belum lagi dandannya." Ia menarik Darren dan membawanya lebih dekat ke meja makan. "Duduklah."
Kira berlalu dan mengusap lengan suaminya sekilas, cincin berlian di jari manis wanita itu berkilauan ditimpa cahaya terang di atas meja makan yang letakknya sedikit lebih rendah dari lampu-lampu yang lain.
Darren mendekati papa mertuanya, berbasa-basi sejenak sebelum ia duduk di kursi yang kosong. Dentang-denting kembali terdengar lalu aroma masakan menyeruak lebih pekat, mengoyak cairan lambung Darren yang terasa memenuhi rongganya.
"Ayo, mulai saja ... keburu dingin kalau nunggu Jen ...." Kira mulai membuyarkan ketenangan meja makan dengan membuka piringnya lalu mengisinya dengan berbagai menu makanan. Mulai dari sate ayam, sampai pecel, lalu olahan ikan air tawar termasuk gurame.
Darren mengikuti dengan ragu, ia masih memikirkan Jen yang tak kunjung datang, kepalanya berulang kali mencuri pandang ke ujung ruangan yang terhubung dengan lorong.
"Ambilah apa yang kau mau, jangan sungkan," bisik Naja yang telah mengisi piringnya dengan jumlah sayuran lebih banyak daripada nasinya. Naja tampak tak senang melihat Darren menatap piringnya.
"Ini buat berdua, bukan karena rakus!" Naja menutupi piring dengan kedua telapak tangannya, lalu bibir itu meliuk kesal ke arah Darren. Darren hanya tertawa lalu ia mengisi piringnya sendiri dengan menu yang berada dekat dengannya. Gurame terlalu jauh untuk dijangkau. Sayang sekali.
"Darren, guramenya buat kamu, Nak ... kenapa ngga dimakan?"
"Makasih, ya, Ran ...," ucapnya dengan senyum ketika menerima piring tersebut.
Jen masuk ketika adegan itu terjadi, mata wanita itu membulat dan langsung merengut. Kesal tentu saja. Perhatian sekali dengan suami orang, pikir Jen. Ia berjalan cepat dan mengambil posisi duduk di sebelah Darren.
"Maaf, aku terlambat!" Ia melebarkan senyumnya pada semua orang. Namun tatapan mata Kira membuat Jen mengangkat lagi tubuhnya, menyalami papa dan mamanya, karena tadi belum sempat bertemu. Lalu secepat kilat kembali ke sisi Darren dan berhasil membuat seluruh penghuni meja makan menatapnya heran.
Tak memedulikan, ia segera mengambil beberapa menu makanan dan sesekali menawari Darren, meski sebagian besar ditolak, atau Darren mengambilnya karena tak enak hati pada istrinya tersebut.
Sepanjang acara makan, ia terus memperhatikan Ranu yang sesekali mencuri pandang kepada Darren dan tersenyum. Entah mengapa, Jen merasa risih dan kesal melihat hal ini.
***
Jen tinggal sejenak sekadar melepas kangen dengan keluarganya. Seperti tak ada yang terjadi hari-hari lalu, keluarga ini kembali damai. Jen baru kembali dari kamar Naja saat Cio mulai tenang dan Naja mulai mengantuk, ketika sampai di ujung lorong yang menghubungkan ruang tengah dan kamar-kamar, ia melihat Darren berbincang dengan Ranu. Ia tak jelas mendengar percakapan mereka tetapi ia jelas melihat Ranu tersenyum layaknya seseorang yang kesenangan saat berjumpa kekasihnya. Bahkan, Darren mengacak rambut Ranu lalu melangkah bersama menuju bagian belakang rumah.
"Hah ...," Jen menyikapkan tangannya di dada. Kesal dan geram, ia memalingkan matanya dari pemandangan itu. Kecamuk dari berbagai diskusi batin Jen menyeruak memenuhi seluruh tubuhnya.
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan suaranya untuk membuyarkan suasana yang memerahkan hati di sana. Dasar kalian berdua!
Jen berjalan cepat, ia berniat menyusul Darren yang telah berlalu ke belakang. Sementara Ranu hanya ke dapur untuk mengambil minum, sehingga ia berpapasan di ujung ruang tengah ini.
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu?" Jen bertanya ketika Ranu memandangnya dengan wajah masam.
"Seperti apa memangnya?" Jawab Ranu.
"Kamu menyukai Darren?" Cetus Jen tanpa basa basi. Tampak seperti itu dimata Jen, dan ia seolah baru sadar hari ini. Semua tindakan Ranu adalah karena adiknya menyukai Darren.
Ranu terperanjat, tetapi ia segera membuang muka. "Aku suka atau enggak 'kan ngga ada hubungannya sama kakak."
"Ada ... karena kini aku istrinya. Sebaiknya kamu buang jauh-jauh perasaanmu itu, Ran ... cari yang lain saja. Ngga usah sok perhatian dan cari kesempatan untuk mendekati pria beristri." Jen menyikapkan tangannya, entah kenapa ia ingin Ranu tahu kalau Darren hanya miliknya. Ia lupa segala hal yang ia perjanjikan pada Darren.
"Melupakan seseorang itu bagiku tidak mudah, Kak ... tidak sepertimu yang bisa melupakan Diego dalam hitungan minggu lalu menikah dengan orang lain."
"Maksudmu apa? Aku melupakan D karena dia memang pantas dilupakan, lalu menikah dengan orang yang kuanggap tepat."
"Benarkah? Benarkah kakak menikahi orang yang tepat? Bukan pelarian yang tepat? Atau seseorang yang tepat untuk bisa dimanfaatkan kebaikannya saja?"
Jen kini membeku, berpikir Ranu telah mengetahui sesuatu. Darren kah yang membuka rahasianya? Atau Ranu mengarang cerita agar seisi rumah tahu, lalu memisahkan mereka?
"Kenapa? Apa aku bicara benar, Kak?" Pertanyaan Ranu membuat Jen memanas.
"Heh, aku ngga nyangka aja, kalian berdua itu menjijikkan, mempermainkan pernikahan demi menyelesaikan sebuah masalah."
Jen membulatkan matanya, "Jaga omongan kamu, ya, Ran ... siapa yang mempermainkan pernikahan? Jangan mentang-mentang kamu selalu dianggap baik dan disayangi semua orang, kamu seenaknya saja menjelekkan orang lain."
"Menjelekkan? Aku menjelekkan siapa? Menjelekkan orang yang mempermainkan janji dihadapan Tuhan?" sarkas Ranu.
Plak!
Tangan Jen mendarat dipipi Ranu, tepat ketika itu terjadi, Kira yang berada dilantai atas dan Harris yang baru keluar dari ruang kerjanya terkejut bukan main. Dua orang itu berlari untuk memisahkan adu pandang penuh amarah.
"Jen, kamu keterlaluan sekali pada adikmu!" bentak Kira pada Jen yang kesusahan mengikuti langkahnya menaiki tangga. Kira menyeret Jen ke lantai dua, membawanya masuk ke kamarnya.
Sementara Harris membawa Ranu ke ruang kerjanya. "Mana yang sakit?"
.
.
.
.
.
__ADS_1