Suami Settingan

Suami Settingan
Aku Menyukaimu


__ADS_3

"Mama tidak menyangka kamu akan jadi anak yang sangat kasar dan arogan begini, Jen!" Kira menghempaskan tubuh Jen sekenanya, tubuh kecil anak yang dulu selalu direngkuhnya penuh kasih, kini dengan tangan dan mulutnya sendiri harus ia kasari.


"Kenapa, Jen? Kenapa kamu ngga berubah, ha? Mama pikir kamu sudah bisa merendahkan sifat keras dan kasarmu, setelah kejadian terakhir, tapi kamu masih saja seperti ini!" Kira masih meneliti wajah putrinya yang dengan angkuh tak mau membalas tatapannya. Jen menyedekapkan tangannya dengan ekspresi tajam menolak menatap mamanya.


Hening kembali menyerap semua suara, Kira menunggu reaksi Jen, berharap anak gadisnya mau mengatakan sesuatu atau paling tidak menyadari tindakannya adalah salah.


"Jen ... mama bicara sama kamu! Tatap mama, Jen!" Kira menegaskan suaranya.


Jen melakukan apa yang mamanya minta, ia menatap mamanya dengan berani, karena ia merasa apa yang telah ia lakukan adalah benar. Namun, melihat reaksi mamanya yang sudah sangat marah, ia menduga kalau mamanya akan membela Ranu. Tentu, karena Ranu adalah segalanya dimata mamanya.


"Kenapa kamu menampar Ranu, Jen? Apa semua tidak bisa dibicarakan baik-baik? Kalian ini saudara—"


"Aku dan dia hanya saudara tiri, Ma ... dia anak kandung papa dan aku hanya parasit bagi keluarga ini. Aku tak pernah benar meski aku melakukan apa yang benar menurutku. Dan pasti mama hanya akan membela Ranu tanpa bertanya mengapa aku melakukan itu!"


"Jen ... ngga seperti itu, Nak ... Mama hanya minta kamu perhalus tingkah lakumu, kamu udah dewasa dan harusnya lebih tau cara bersikap, Sayang."


Jen tertawa miris, "Aku emang gak dewasa seperti Ranu, Ma ... aku punya caraku sendiri untuk menjalani hidupku. Aku memang manja dan egois, tapi aku ngga menggoda lelaki milik orang lain seperti Ranu!"


"Apa maksud kamu, Jen?" Kira menyipit ketika Jen mengatakan hal itu. Ia tak menyangka Jen akan melayangkan tuduhan seserius itu kepada adiknya.


"Sudahlah, Mama pasti tidak akan percaya denganku, karena aku bukan anak kebanggaan Mama. Dan aku bukan anak Papa."


"Jen! Jaga ucapan kamu, ya ... selama ini papa tidak pernah membeda-bedakan kamu dengan Ranu. Malah kamu lebih disayangi dari pada Ranu yang anak kandungnya. Apa kamu tidak merasakan itu, ha? Tega sekali mulutmu itu menuduh papa pilih kasih!"


"Tapi kenyataannya memang begitu, 'kan, Ma ... semua orang selalu memihak Ranu, menyayangi Ranu, membanggakan Ranu, tapi tidak denganku, 'kan? Apa namanya kalau bukan pilih kasih? Aku salah sedikit saja kalian itu selalu menyudutkanku!"


Kira benar-benar meradang mendengar perkataan Jen. "Baik, Jen! Mama akan tunjukkan bagaimana pilih kasih itu. Mulai saat ini, mama menarik apa yang telah papa berikan. Semuanya, tanpa terkecuali! Nikmati hidup dengan cara kamu yang kamu banggakan itu!"


"Ambil semuanya, Ma ... ambil! Aku tidak butuh bantuan kalian!" Jen membuang mukanya. Ia sangat terluka, di rumah ini tidak ada yang percaya padanya. Tidak ada, siapapun tidak ada.


Jen berlari meninggalkan kamar mamanya dengan perasaan bercampur. Entahlah, dia terluka, tapi terluka karena apa, dia tidak tahu. Yang pasti ia sangat kecewa.


Darren berada di kamar ketika pintu menjeblak dengan keras dan kasar. Terkejut mendapati bahwa Jen masuk dengan wajah merah dan berurai air mata, sebelah tangannya sibuk menyeka air mata itu.


"Jen, kenapa? Ada apa?" Darren panik dan menangkap istrinya dalam pelukan. Cukup jelas baginya melihat Jen sangat terluka. Ya, ia tahu wanita ini hanya akan menangis ketika ia tak bisa lagi berkata-kata karena terkuras oleh goresan luka.


"Kita pergi, Ren ... bawa aku pergi dari sini! Ini bukan lagi tempatku!" Isaknya di dada Darren, ia langsung mengangkat wajahnya, menemui sepasang mata yang tampak penuh tanya, tetapi teduhnya selalu membuat Jen kembali tenang.


Darren mengangguk, "Oke, kita pulang sekarang. Tapi kamu harus berhenti menangis!" Pintanya lembut sambil membantu Jen yang patuh mengendalikan tangisnya dengan menyeka air matanya.


"Pakai jaket, biar ngga kedinginan." Lagi-lagi, Jen seperti kucing yang sangat manis. Ia mengangguk dan patuh mengambil sebuah sweater dari dalam lemarinya. Lalu ia menarik sebuah koper yang lebih besar, untuk membawa barang-barang miliknya lebih banyak.

__ADS_1


"Kita hanya akan pulang ke rumahku, bukan pindahan, Jen!" Darren heran, pikirnya melsti telah terjadi apa-apa dengan Jen hingga ia seperti kalap ketika menurunkan pakaiannya.


"Aku tidak akan kembali ke rumah ini lagi, Ren. Di sini tidak ada lagi tempat buatku." Ia terus mengemas barang-barang miliknya, lalu menutup kasar koper itu dan menariknya. "Ayo ...!"


Darren mengemas napasnya dalam helaan yang dalam. Sesuatu pasti terjadi meski entah apa itu dan itu membuat ego Jen tercubit. Ia memadukan langkah, lalu berjalan mengiringi Jen usai mengambil alih koper maha besar dan berat itu kedalam kuasanya. Melintasi ruang demi ruang dengan tenang dan sepi hingga sampai di minibus milik Darren yang tampak paling usang dan murah di antara deretan mobil mewah di garasi Harris Dirgantara.


"Tunggulah di sini, aku akan pamit papa!" Ia tahu Jen tidak akan mau berpamitan, sehingga ia memilih mengeluarkan tenaga lagi untuk kembali ke dalam rumah, daripada membujuk keakuan Jen.


Jen tak menjawab dalam kungkungan seatbelt yang telah di pasangkan Darren untuknya. Ia melirik sekilas, lalu berpaling dan menunduk.


***


"Salah, ya, Pa ... kalau aku memiliki perasaan kepada kak Darren?" Berbeda dengan kamar atas yang panas dan sengit, di ruang kerja Harris suasana justru hening, hanya Harris sedang mengompres pipi Ranu yang merah. Ia diam saja memerhatikan Ranu yang sibuk berpikir.


"Salah ...," jawab Harris ringan sehingga membuat putrinya menoleh dan hampir menumpahkan air mata. Mata berguncang itu seolah bertanya dan menghakimi kalau Harris terlalu kejam. Dan berterus terang.


Harris mengambil posisi nyaman agar dia dan Ranu bisa berhadapan. Tak lupa ia menawarkan apa masih butuh perawatan pada bekas merah tangan Jen. Ranu menggeleng, ada yang lebih menyakitkan daripada itu, yaitu pernyataan papanya yang menyalahkan sikapnya.


"Tentu perasaan Ranu pada Darren saat ini adalah salah, karena dia telah menjadi suami kakak kamu, kak Jen. Ranu harus bisa menerima itu dan mengganti rasa cinta sebagai pria dan wanita dengan rasa cinta dari adik ke kakaknya."


"Tapi, Pa ... mereka hanya menikah selama satu tahun saja, Dinka dengar kok, kalau kak Jen itu memanfaatkan kak Darren saja."


"Itu hanya omong kosong, Ran ... kamu dengar sendiri 'kan kalau waktu itu Darren sendiri mengatakan kalau mereka sedang berhubungan kepada mama?"


"Ranu, sayang ngga sama kak Jen?" Harris tersenyum melihat kebisuan putrinya, ia meredakan kegalauan Ranu dengan usapan lembut di rambut Ranu. Ia mengerti Ranu tengah patah hati dan ia yakin Jen sedang cemburu melihat kedekatan suaminya dan Ranu.


Ranu semakin terdiam. Ya, dia sayang sekali dengan kakaknya itu. Tanpa dia, Ranu tak akan bisa melewati harinya. Karena berat badannya dulu yang cukup membuatnya minder hingga ia di buli, dan hanya Jen yang selalu menghiburnya. Namun, ketika perasaannya sendiri sedang terluka, ia tidak ingin mengalah. Bisakah?


"Ranu besar sama kak Jen, banyak loh, yang kak Jen lakukan untuk Ranu. Masa Ranu ngga ingat? Percaya deh sama papa, nanti semua akan baik-baik saja setelah, yah ... sedikit waktu saja Ranu menahan sakit. Dulu papa juga sering sakit hati seperti Ranu. Tapi lihatlah, papa malah dipertemukan dengan mamamu dan kakak-kakak kamu, mengisi hari-hari kamu jadi penuh warna. Kata orang di negeri tua, luka mengajarimu memakai logika. Bukan hati saja."


Mata Ranu kembali mengambangkan air mata. Ia mengerti apa maksud papanya. Saudara adalah berkorban, termasuk perasaan. Tidak mungkin ia merebut apa yang menjadi milik saudaranya sendiri. Artinya ia yang harus menepi.


"Anak papa pasti kuat, ini hanya seperti di gigit semut."


Semut gajah.


"Yang sakitnya tidak sebanding dengan bahagia ketika mampu merelakannya. Ayo, Sayang, tantang dirimu sendiri! Kamu pasti bisa!"


"Emangnya di suntik?" Ranu cemberut dibuat-buat dan merebahkan dirinya di dada papanya.


"Sedikit lebih sakit dari di suntik, Ran ... kamu yang kuat, ya. Maafkan papa memintamu seperti ini, tapi akan berdosa bila kita berbuat tak adil pada mereka." Harris mengecup kepala putrinya secara berulang. Ia sungguh menyesal telah mengorbankan perasaan anaknya, demi anak yang lain. Namun keyakinan bahwa Ranu masih muda dan jalannya masih panjang, akan lebih baik jika menggunakan masa itu untuk belajar, membuatnya memutuskan hal ini.

__ADS_1


Semua telah diatur dengan baik dan hanya akan terjadi yang baik-baik.


"Negeri tua itu, mana Pa?"


"Entahlah, papa belum pernah mendatanginya." Harris mengetatkan pelukannya, ia tahu putrinya tengah tersenyum.


***


Darren baru sampai di muka pintu ketika Ranu keluar dari ruang kerja papanya. Ia kembali bersikap sinis dan angkuh pada Darren. Bahkan ia berlalu tanpa menyapa kakak iparnya tersebut.


Darren hanya bisa menghela napas, sesorean ini ia dibuat sesak oleh himpitan perasaan tidak nyaman. Ada apa dengan mereka? Padahal belum lama Ranu tersenyum riang ketika Darren membersihkan rambut Ranu yang penuh dengan serbuk bunga dan cipratan air. Ranu tadi pasti baru kembali dari halaman belakang dimana bunga-bunga hias aneka warna tumbuh.


Darren memutar tubuhnya, memutus pandangannya dari Ranu yang terus berlalu menjauhinya.


"Aku menyukaimu, Kak!"


Darren seperti tersedak dan langsung melebarkan matanya yang semula tak fokus. Ia perlahan kembali menghadapi Ranu yang tengah menatapnya kaku.


"Apa itu cukup untuk mengatakan perasaanmu yang sebenarnya pada kak Jen?"


Ia melihat buku jari Ranu mengepal dan tegang. Gadis itu mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan hal itu padanya.


Inikah yang menjadi biang dilema diantara mereka?


Darren menarik napas dan tersenyum. "Aku menyukaimu ...."


.


.


.


.


.


.


Banyak cintah buat yang masih setia sama othor sisaan semut ireng ini😂 ketchup-ketchup😘


...~Jika menyukai karya Author,...

__ADS_1


...berikan vote yang banyak~...


__ADS_2