Suami Settingan

Suami Settingan
Polusi Cinta


__ADS_3

Seperti tertarik dari mimpinya, Darren terbangun karena gerakan Jen yang sangat perlahan. Ia memang belum membuka mata, tapi sengaja memberatkan lengan yang mengungkung tubuh kecil di dadanya yang polos. Malah semakin merapatkannya.


Terasa panas sekali tubuh Jen dalam kungkungan lengan Darren hingga seluruh badannya lengket dan gerah meski ia telah mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih tipis dan terbuka. Matanya terpaku pada sebidang dada yang baginya biasa saja, tidak berpetak-petak, tidak juga berotot, tetapi tetap padat dan nyaman sekali sebagai sandaran. Badan ini benar-benar tercipta untuknya.


Ia menengadah, wajah damai suaminya tampak tak terusik, sepertinya ia mengalami keletihan yang sangat. Memori terulang kembali, semalam adalah masa paling intim dan menggelora, baginya. Ia begitu berdebar dan berani sekali. Seakan tersadar, ia menggigit bibir karena malu. Ini benar-benar gila.


Perlahan sekali ia menarik lengannya lalu menurunkan lengan Darren dari pinggangnya. Ia harus bangun pagi seperti hari-hari sebelumnya, meski ia masih mengantuk, tetapi ia mengusahakan matanya tetap terbuka.


Jen duduk, dan melegakan tangannya ke atas. Sekali lagi ia menoleh ke arah wajah damai itu, bibirnya sekali lagi mengukir senyum. Berharap benih-benih dalam dadanya segera menjadi tunas dan berbuah cinta. Semoga.


Jen turun dan menyisir rambutnya, mengikat dengan rapi, lalu melapisi tubuhnya dengan pakaian yang layak. Ketika ia berbalik mengambil handuk yang menggantung di sebelah lemari, ia dikejutkan dengan bayangan dirinya sendiri. Cap stroberi semerah dan semerona warna buah ceri tercetak jelas di leher depannya.


Jen mengerutkan bibir, kening, dan garis wajahnya bersamaan. Ngeri dan geli. Sengatan cap stroberi itu seperti menggaris dan menggurat dalam jiwanya. Ia berdesir, tetapi tak berlama-lama ia segera meraih perlengkapan make up dan menutup cap stroberi berjumlah dua dan berjarak sejengkal itu dengan foundation. Mendesahkan suaranya, ia mengeluhkan tindakan Darren.


"Ngga cinta kok bercinta sampe gini? Napsuan banget, ya ... diriku," ucap Jen sambil mematahkan lehernya sekilas, dan kembali tegak dan memiringkan lehernya, mengusapkan foundation itu lebih banyak dengan gerakan memutar.


Kembali tegak, ia memisahkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Menggantungkan tangan di udara dengan telapak tangan menghadap atas. Ia mencibir dirinya sendiri, seakan sedang berbicara pada sisi dirinya yang lain.


"Enak, sih ... siapa yang bisa nolak," desisnya dengan senyum nakal. Dasar Jen! Ia ingat rasa melambung yang memabukkan.


Oh My ... Jen segera meletakkan peranti make up ditangannya ke atas meja. Ia segera beranjak karena ingat ia belum mandi besar tapi sudah mengaplikasikan foundation. Darren memang membuat orang jadi gila.


Darren yang sejak tadi menahan senyumnya, langsung tertawa keras begitu Jen menutup pintu kamar. Ia menarik dirinya hingga duduk dan melanjutkan tawanya. Menggelengkan kepala dengan tingkah istrinya itu. Galaknya hanya untuk menutupi perasaan sesungguhnya.


"Nanti hidupku bakal penuh warna karena wanita itu. Lain dimulut lain dihati, tapi sekali waktu dia akan jujur." Ucapan yang hanya berupa suara dalam hatinya. Sikapnya bersandar di dinding yang dingin, kedua tangannya memeluk perutnya sendiri.


"Alhamdulillah, makmumku sadar kewajibannya," ucapnya bersyukur melihat niat Jen yang mau berubah sedikit-sedikit.


***


Pagi ini terlalu manis bagi pasangan pengantin baru itu. Untuk pertama kalinya, Jen mengulurkan tangan usai menunaikan kewajiban mereka. Suka rela berdiri dan rajin melipatkan sarung dan menggantungkan baju kokonya, lalu Darren mengecup kening istrinya lama disertai dekapan penuh cinta. Membuncahkan seluruh rasa.


"Sayang ...," sapa Desy yang mengusap punggung Jen yang berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang. Desy jelas melihat senyum penuh sipu dan rona merah muda yang cantik menghiasi pipi anak mantunya.


"Ya, Ma ...." Jen mengerjapkan kelopak matanya berulang-ulang, lalu dengan salah tingkah mengambil sendok dan pura-pura sibuk menyiapkan teh dan kopi. Matanya menoleh ke arah Desy tapi tangannya meraba wadah gula.

__ADS_1


"Kenapa senyum-senyum gitu? Seneng?" selidik Desy hingga wajahnya maju meminta penegasan.


Jen menggumamkan 'em' yang panjang dan dalam, lalu menggelengkan kepalanya ragu. Malu ia mengaku.


"Bahagia?" cecar Desy.


Jen menipiskan bibir, lalu mengangguk. "Sedikit, Ma ...," jawabnya malu-malu.


Desy mengangguk dan mengalihkan tatapannya ke jajaran cangkir hadiah kopi yang ia beli di warung tetangga. Bibirnya ber 'oh' ria.


"Masih lama mendidihnya, 'kan?" tanya Desy yang diangguki Jen. "Kita ke pasar dulu, yuk ... shoping ala rakyat biasa." Desy menaik turunkan alisnya. Membujuk mantunya yang dianggap tak pernah kepasar tradisional.


"Boleh, Ma ... tapi ini siapa yang nunggu?" Jen menunjuk panci yang menyerupai teko.


"Dinka dan Darren ada. Mereka pasti bisa kalau buat kopi dan teh saja." Desy menarik tangan Jen, "kalau sama Mama Kira 'kan ke mol, pake kartu-kartuan ... sekarang kita pakai uang recehan."


Jen tersenyum, "malah jarang belanja sama mama, Ma ... setelah punya resto jarang banget belanja. Paling pesen dan diantar ke rumah. Pokoknya apa-apa dirumah. Sampai bosen."


"Wajarlah ... mamamu sibuk sekali, ngurus kalian dan kerja. Heran sama papamu, kok, malah nyuruh istrinya kerja."


"Ngga taulah, Ma ... itu kemauan papa atau mama sendiri."


Disangka Desy, Jen tidak bisa mengendarai motor, rupanya, Jen sangat mahir mengendarai motor milik Dinka. Mereka menembus jalanan yang masih gelap dan udara masih dingin menusuk kulit.


Dipasar, Jen hanya mengekori mamanya, membawakan keranjang dan kantong plastik berisi banyak sayuran dan bumbu-bumbu dapur. Mata Jen terpaku pada orang-orang yang berjualan baju dan banyaknya pengunjung pasar. Ide muncul dan seolah menemukan jalan kemana ia harus segera melenyapkan sisa pakaian ditokonya setelah sebagian ia sumbangkan.


"Nak, beli ikan dulu buat lauk." Sentuhan di tangan Jen membuat perhatiannya teralih dari jajaran pedagang baju ke arah mamanya yang sibuk memasukkan kembalian uang ke sebuah tas selempang yang menyilang di dada mamanya. Jen mengangguk, ia segera mengikuti mamanya, tetapi mata Jen masih kembali melihat lapak pedagang baju tersebut.


***


Ketika sampai di rumah, Jen bergegas ke kamar, ia mengabari Vaya tentang gagasan barunya, dan tanpa menunggu balasan dari Vaya, ia segera turun dan membantu mamanya bersiap memasak.


"Darren lari pagi, kayaknya, Jen ...," ujar Desy yang menata barang belanjaannya di kulkas.


Tentu ini sesuatu yang baru ia lihat hari ini, sebab sebelumnya, Darren selalu berada di rumah bersamanya. "Benar itu, Ma?"

__ADS_1


"Iya, tentu saja benar. Dia sama Dinka suka joging sampai di lapangan bola di ujung sana." Desy masih berkutat dengan kesibukannya.


"Oh ... biasanya di siapin apa, Ma, kalau abis joging?" Jen tentu sangat penasaran dan ingin terus belajar mengenal suaminya itu.


Desy bangkit, ditangannya ada susu cair yang biasa Darren minum. "Ini saja cukup. Terus setelah mandi langsung sarapan seperti biasa. Dia ngga pernah sarapan tanpa mandi dulu. Katanya keringatnya membuat polusi udara."


Desy tertawa mengatakan itu, Jen juga demikian. Ya, begitulah ... Darren juga sebuah polusi bagi hati dan tubuh Jen. Polusi cinta.


.


.


.


.


.


Bhaa ... ada yang kangen gak nih? 😆😆😆


-Lu siapa, Thor ... kepedean pake kangenkangenan segala. Lu pikir lu keren😆😆😆


Ya wis lah ... ku heran sama bau ranjang dipart sebelumnya🤭 komennya banyak beut🤭 belum sempat balesin pula, mon maap ... lagi syok sama level yang bejibun tapi cuma bertahan sebulan. Mau cari bonus tamat tapi syaratnya banyak😆


Ngokey ... othor kulit bawang yang suka bikin mata pedes dan sakit ini cuma mo bilang makasih banyak-banyak😍 tanpa kalian aku bukan siapa-siapa ... maaf kalau belum bisa memuaskan kalian dengan banyaknya update setiap hari ya ... pertama, meski gak bagus-bagus amat, aku tuh berusaha jaga tulisanku agar tetap bisa dinikmati dengan baik🤭 kalau kualitas aku emang ngesot ya ... terus, aku di sini terlihat idealis dengan tidak ikut cerita dan judul pasaran. Bikos, aku mau jadi diri sendiri🤭 diusia yang udah beranjak dewasa eh, tua maksudnya ... aku masih harus mencari dan meraba jati diriku sendiri ... sedikit-sedikit komen kalian jadi pegangan.


-Thor bisa ngga kasih up 2 kali sehari?


Bisa, bisa banget itu ... tapi kalau yang aku suguhkan hanya percakapan doang, aku gak bisa ... itu kalau ibarat orang bicara kaya orang berantem ...😆 jadi sahut-sahutan gitu. Dua atau tiga orang berada dalam suatu tempat, berdiri kaku, tanpa ekspresi, dan ngomong. Udah kaya gitu bayanganku ya, kalau isinya cuma apostrop doang.😆


-Sok pinter sih lu thor😆😆


Gak papa kan sok pinter, kali aja bakal pinter beneran ... orang sok cakep aja jadi cakep beneran kok🤭 apalagi sok kaya ... aminkan aja deh😆😆😆


Sekali lagi, aku gak berani nuntut apa-apa sama temans sekalian, vote, gift, like, dan komen, seikhlas temans semua saja. Karena apa, aku juga belum mampu berikan yang terbaik buat kalian semua ... dukung dengan baca sampai akhir, itu lebih dari cukup. Dan menyenangkan sekali di sini, komentar terutama menjadi asupan nutrisi bagi otak ku yang suka mbolang😆

__ADS_1


Say thanks for all reader. Big love always.


Tetap jadi diri sendiri, agar tetap di sayangi😘😘😘


__ADS_2