
Kisi langit telah penuh dengan pendar cahaya mentari, ketika Darren bangun. Mata pria itu sembab sekali dan nampak linglung, kepalanya juga pusing berdenyut-denyut. Entah berapa lama ia tertidur di atas lengan Jen yang masih lelap dalam damai, seolah tidak terusik oleh gempita dunia, dia tak mampu mengingat sama sekali.
"Tidak perlu khawatir, dia akan bangun tak lama lagi." Dokter Luna menyentak lamunan Darren, sehingga pria itu menoleh. Ia tersenyum lemah sebagai tanggapan.
"Ada hal yang lebih penting yang harus kau ketahui." Darren membeku, sesuatu sedang memelintir ulu hatinya. Membuat tubuh lemah seketika.
Semoga saja tidak!
Dokter cantik itu belum beristirahat sejak semalam sehingga wajahnya tampak sayu. Keadaan terlalu mengerikan, jangankan tidur, ia bahkan tak mampu bernapas dengan bebas sampai—mungkin, keadaan lebih baik.
Dokter Luna hanya berkata sudah waktunya mengunjungi si kembar. Selebihnya, dia hanya menunduk dan melangkah dengan cepat. Begitu sampai di luar ruang NICU, segerombol orang datang dan menyongsongnya dalam pelukan.
"Kamu yang kuat, ya, Nak ... seorang ayah harus tegar menghadapi cobaan." Desy mendekap Darren dengan air mata berurai, sementara Rendi hanya menepuk bahu Darren dan membisu. Mungkin berbicara akan membuatnya tak mampu menahan bendungan air matanya.
Darren mencoba untuk ingkar pada pikiran buruknya. Membentengi diri dengan ketegaran yang dipaksakan dan terus mengatakan bahwa semua baik-baik saja.
"Jadilah pria yang kuat di depan anakmu, ingatlah selalu, masih ada Jen yang membutuhkanmu."
Pandangan Darren lemah, jatuh pada Kira yang masih berjarak beberapa langkah darinya. Seketika tubuhnya lemas, di depan wanita yang melahirkan istrinya tersebut, ia merasa menjadi pria yang paling buruk dan tidak berguna.
Desy melepaskan pelukannya, memberikan kesempatan untuk Kira dan Darren berbicara.
__ADS_1
Darren merasa ini adalah salahnya, Jen dan anak-anaknya seperti ini adalah karena dia. Hari bahkan masih pagi, dan dia sudah menerima kemalangan bertubi-tubi.
Darren luruh di kaki Kira, ia bersimpuh dengan penyesalan yang dalam. "Maaf, Ma ... maafkan kebodohanku."
Kira tentu terkesiap melihat tindakan Darren, buru-buru ia menyejajarkan diri duduk di depan Darren.
"Darren ...." Kira mengusap rambut hingga pundak pria itu. "Nak ... jangan berkata seperti itu. Mama tidak berpikir demikian, Sayang ... kita tidak bisa memaksakan kemauan kita kepada takdir. Manusia hanya bisa berserah, Nak ... segala ketentuan adalah milik-Nya."
"Darren ... masuk dan lihatlah anakmu!" Harris bersuara. Pria itu terluka, tetapi merasa tidak ada gunanya menyalahkan. "Ada yang lebih menyayanginya dari pada kita, Nak."
Darren menaikkan pandangannya ke arah Kira yang tersenyum lemah, lalu ke arah Harris, kemudian bangkit perlahan.
"Maafkan Darren, Pa ...." Darren akhirnya menubruk Harris dan menumpahkan tangisan di sana.
Terus saja ia menguatkan menantunya yang terlihat sangat terpukul. Ketegaran Darren benar-benar diuji, Harris salut akan hal itu. Jika saja itu dia, pasti akan meraung dan menyumpah serapah. Memprotes sebuah ketidakadilan.
Darren akhirnya masuk setelah ia mengumpulkan serpihan kecil ketegaran yang tersisa. Di dalam sini semuanya terasa menghimpit, bebunyian itu terasa seperti silet yang mengiris setiap sisi hati Darren.
Luna terus memandunya sampai Darren melihat di mana anaknya berbaring. Keduanya berhadapan, seolah saling mengucapkan perpisahan.
"Dia sungguh anak yang kuat. Dengan keadaannya yang sungguh buruk, ia mampu bertahan cukup lama. Dia benar-benar pria kecil yang luar biasa hebat. Sama seperti mamanya." Luna mencoba untuk tidak menangis mengatakan itu, tetapi kenyataannya, mengingat bagaimana perjuangan Jen dan juga bayi mungil ini, air matanya jatuh begitu saja.
__ADS_1
Selalu saja begini, ia menjadi saksi kuatnya manusia bertahan. Sekalipun mereka masih sangat kecil.
***
"Harusnya Hero menunggu Mami siuman ... Mami pasti akan sangat senang bertemu Hero. Papi lupa bercerita tentang sayangnya mami ke kamu, Nak ...." Darren tersenyum di depan pusara kecil yang bertuliskan nama Hero yang lahir dan meninggalkannya di hari yang sama.
Darren berulang kali menciumi pusara anaknya yang telah menjadi penyelamat untuk saudaranya yang lain. Hero seolah menyerap semua parasit, mengorbankan diri, mengawal saudaranya sampai melihat dunia, dan menjaga hingga kembarannya dipastikan baik dan stabil.
Ya, Ace dinyatakan sehat tanpa kekurangan apapun ketika Hero membuka mata dan memejam untuk selamanya. Mereka berdua sempat menangis seolah tak mau dijauhkan, bahkan Ace tak berhenti menangis sampai Hero benar-benar telah pergi.
Darren menangis lagi, ia tak kuasa membayangkan detik-detik itu. Subuh tadi ia masih melihat anak-anaknya tertidur, tetapi baru beberapa saat berlalu, semua telah berbeda. Ia tak mampu lagi memeluk putra terhebatnya.
"Ayo kembali, Kak ... Kak Jen sudah bangun." Dinka sedari tadi menemani Darren di pemakaman. Dia juga terlihat berduka juga menyesali segalanya. Sungguh ia berharap mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Darren menghela napas, lalu berkata pelan-pelan, "Hero sayang, yang tenang di sana, ya, Ace dan mami baik-baik saja di sini. Papi akan menjaga mereka dengan baik seperti yang Hero ajarkan. Papi pulang dulu, nanti Papi akan kembali bersama Mami dan Ace. Sampai jumpa lagi, ya, Nak ...." Ia memeluk dan menciumi sekali lagi pusara Hero sebelum beranjak dari sana. Bahkan hingga beberapa langkah menjauh, Darren masih menoleh dan memandangi makam Hero, seakan tak sanggup berpisah darinya.
*
*
*
__ADS_1
*