
Jika saja boleh, Darren ingin sekali memindahkan isi perut Jen ke dalam tubuhnya. Wanita itu kepayahan dan tertawa. Tubuhnya melebar, membuatnya minder saat keluar rumah. Perutnya jangan ditanya seberapa besar, itu mirip balon yang sudah ditiup mencapai ambang batas mengembang.
Jen banyak bergerak, mungkin itu diharapkan bisa menurunkan sedikit berat badannya. Namun ternyata, entah setengah atau satu kilo, berat badan Jen naik dan dia selalu memejamkan mata jika ditimbang saat periksa. Yang membuat Darren ingin menangis sekaligus tertawa adalah Jen membisiki perawat yang bertugas memeriksanya untuk tidak menyebutkan keras-keras berapa berat badannya.
Jen mungkin keras kepala, tapi disatu sisi, dia juga sangat lembut. Mungkin bayi-bayi itu yang mengajarinya. Berimbas pada tindakannya sehari-hari, termasuk kepadanya. Darren menyukainya.
Hari ini acara tujuh bulanan itu diadakan, Jen terlihat kelelahan setelah melewati rangkaian acara secara keseluruhan. Dinka sejak tadi juga melakukan banyak hal untuk Jen, membantu dan menyiapkan segala kebutuhan Jen, hingga membuat Darren heran. Ada yang aneh pada Dinka sejak beberapa waktu terakhir. Mungkin ada yang membisiki adiknya tersebut agar bersikap lebih baik.
“Din ....”
Darren baru saja akan beranjak dari pintu ketika mendengar Jen memanggil Dinka usai membantu Jen sampai ke ranjang dengan selamat. Lambat-lambat ia mendengar Dinka menjawab panggilan Jen, tanpa bisa menyembunyikan nada keheranan dari suaranya.
“Kamu ngga perlu sampai seperti ini sama aku. Kesannya aku semakin manja dan kau semakin senang mengejekku nanti. Aku bukan orang yang menderita sakit parah sampai kamu membantuku berlebihan seperti ini.”
Darren mematung, sejak kapan Dinka dekat dengan Jen?
“Aku merasa ini tidak berlebihan, kok.” Dinka terdengar bingung.
“Bagiku berlebihan ... dan apa kau mempunyai maksud lain? Apa karena kau ingin minta maaf? Atau kau akan menggunakan bantuanmu kali ini agar aku sungkan padamu?”
“Ngga kok ... eh, maksudku ... aku memang mau minta maaf sama kamu, dan aku tidak tau gimana caranya minta maaf.”
“Kalau begitu, kamu tidak perlu seperti ini, aku tidak suka. Cukup katakan maaf saja dan kau sudah kumaafkan. Aku tidak terbiasa memendam kesal lama-lama, dan aku juga tidak terbiasa dibantu secara berlebihan yang mengesankan aku ini manja dan tidak bisa apa-apa. Aku menerima bantuan karena kita sama-sama membutuhkan dan tulus. Aku tidak menerima bantuan hanya karena ada sesuatu di baliknya.”
Hening di dalam sana, membuat Darren penasaran untuk mengintip.
“Tidak usah mengatakan apapun, Din ... aku sudah memaafkanmu dan terimakasih atas bantuanmu. Tidak apa-apa kau tidak menyukaiku dan aku tidak memaksamu menerimaku, karena cukup kakakmu saja bagiku. Sementara yang lain terserah saja, aku tidak peduli. Aku hidup dengan kakakmu, bukan kamu. Selama dia menginginkan aku bersamanya, sekalipun kau menggulingkan dunia, aku tetap disini bersamanya. Maaf, aku berterus terang dan blak-blakan soal ini, karena bagiku, lebih baik mengungkapkan daripada memendam lama-lama.”
Darren mendadak berbunga-bunga hingga lehernya terasa panas sampai ke telinga dan berakhir di wajah. Jen terlihat keren mengatakan hal itu, hingga Darren tak tahan untuk tidak tersenyum. Bangga sekali pada wanita keras kepala yang memesona itu.
Dinka terihat mengangguk dan membalik tubuhnya sebelum meinggalkan kamar, sementara Daaren langsung berpura-pura baru tiba di depan kamar. Dia berekspresi datar dan masih jutek pada adiknya itu, saat berpapasan.
__ADS_1
Dinka terperangah dan salah tingkah hingga ia tak sanggup menatap kakaknya tersebut. “Aku hanya mengantar Jen, ngga ngelakuin apa-apa ...,” kata Dinka ragu dan pelan. Tangannya saling meremas dan akhirnya dia mengusap tengkuknya sebelum pelan-pelan menatap Darren.
“Maaf untuk tingkah bodohku dulu ....”
Darren tersenyum, “Tidak semudah itu, Ferguso ...!”
Dinka membelalak, awalnya kesal dan ingin meneriaki kakaknya, tetapi ia menelan lagi kata-kata yang sudah berjubel di ujung lidah. Sebagai gantinya, dia menghembuskan napas untuk memompa sabar. “Kenapa?”
“Ingin menyulitkanmu saja,” jawab Darren jahil. Kedua tangannya masuk ke dalam saku dan memainkan bibir tanpa menatap Dinka yang masih dipenuhi keheranan.
“Sampai kau tulus menerima kakak iparmu, aku baru akan memaafkanmu ... mengerti?”
Dinka mengerjapkan matanya, “tapi aku sudah menerimanya, kok ... aku juga sudah baikan sama dia. Aku malah sering datang ke rumahmu.”
“Ya, tapi kau punya niat lain. Jika kau sudah dimaafkan pasti kau akan semena-mena lagi sama Jen. Iya, kan?”
Dinka kembali membelalak. “Kakak tau semuanya?” mungkin maksud Dinka, semua termasuk kejadian barusan. Dan wajah gadis kecil itu memerah, mungkin malu.
“Berusahalah sampai berhasil, Din ...!” Darren tersenyum lebar sembari mengacak rambut depan Dinka. Darren berlalu, mengabaikan decakan kesal Dinka.
“Hei ... something happen?” Jen mengawasi Darren dengan curiga, “kau bahagia sekali kelihatannya.”
“Biasanya aku juga seperti ini, kan?” Darren mengambil tempat persis di sebelah Jen yang bersandar di kepala ranjang. Baru saja Darren melihat Jen meringis sembari mengusap pinggulnya. “Lelah, ya?”
Darren mengambil pinggang Jen dan mengusapnya perlahan. “Begini lebih baik?” meletakkan kepala dan punggung Jen menyandar di depan tubuh Darren.
“Ya ... terima kasih.” Jen mengangguk dan menyamankan dirinya di bawah pelukan Darren yang selalu berhasil membuat semua lelah dan sakit yang menyiksa ini menguap entah kemana. Mata Jen terpejam dan menimpakan telapak tangannya ke atas punggung tangan Darren. “Mereka sangat aktif dan aku selalu dikejutkan dengan tendangan mereka.”
Darren melukiskan tawa tertahan. “Mereka menyakitimu, dan aku tidak suka itu.” Maksud Darren menyakiti lebih jauh. Mungkin mereka akan membuat Jen kerepotan saat mereka lahir. Bahkan saat ini, Darren tidak tahu harus mengatakan apa perihal keadaan bayi mereka. Harapan Darren hanya satu, Jen baik-baik saja.
Jen merengut dan menampar tangan Darren perlahan. “Mereka mendengar ucapanmu, Abang.” Jemari Jen beralih mengusap pipi Darren, mendongakkan wajah untuk memandangi wajah suaminya.
__ADS_1
Darren tersenyum. “Apa kau berniat memberiku panggilan sayang?”
“Tidak perlu panggilan sayang, karena aku sudah sayang sekali sama kamu.” Jen melipat bibirnya saat ia menggoda Darren.
Darren tertawa hingga kepalanya mendongak. Astaga, Jen masih sama saja. Polos sekali ucapannya, membuat Darren gemas dan ingin ********** sampai habis.
"Kenapa?” Jen merengut, bibirnya maju sampai bisa dikuncir. “Apa aku terlihat lucu? Karena pipiku gembul? Atau karena aku melebar dan gendut?”
Darren menurukan wajahnya, mengendalikan tawa, “Bukan seperti itu, Sayang.” Tangan Darren melepaskan telapak tangan Jen yang menyentuh pipi. Tetapi gelagatnya, Jen kesal dan malah menjauhkan tubuhnya.
"Sayang ... ngga gitu!” Darren memindahkan tubuhnya ke depan Jen. Mengerlingnya dengan sangat manis. “Kamu menggemaskan sekali saat menggombal. Kau tau aku sangat bahagia kau akhirnya mengakui perasaanmu padaku. Dan aku mau menggantikan kelebihan berat badanmu, memindahkan perutmu ke perutku, menggantikan sakitmu. Karena aku tak sanggup melihatmu kesakitan seperti ini. Aku janji tidak akan membuatmu sakit seperti ini lagi. Aku ... aku sungguh mencintai kamu, Jen. Aku ngga mau kehilangan kamu.” Darren menggenggam telapak tangan Jen dan menciuminya.
Jen merasa tersentuh sekali dengan perkataan Darren dan dia menubruk tubuh suaminya itu. “Aku tau kau tidak bermaksud apa-apa, hanya senang kalau kau mengatakan cinta padaku.” Jen meringis dalam rengku pelukan Darren.
Darren merengut kesal, lalu memisahkan pelukan mereka. “Kau ini sangat nakal, ya ... sini biar kuhukum bibirmu yang sangat kurang ajar ini.” Darren menyambar bibir Jen, melepaskan kerinduan yang entah sudah berapa lama tidak pernah saling melepaskan. Mereka ingin tetapi saling menjaga. Namun kali ini, rasa itu memenuhi dada, merambat hingga menguar melalui udara.
“Abang ....” Jen mendesah dengan mata memejam. Ketika Darren melepaskan ciumannya, ia melihat Jen menengadah penuh harap.
“Tapi kita ngga bisa, Yang!” kata Darren susah payah. Bagaimana tidak, dia sudah sangat tersiksa dengan kehidupan lain dalam tubuhnya.
Jen menelan ludahnya yang tercekat. “Tapi aku rindu kamu, Bang ....” Jen memungkasinya dengan menggigit ujung bibirnya.
Ah, sial! Darren membuang napas dengan kasar. Menelan ludah agar tenggorokannya kembali lega.
“Abang ... sebentar saja!” pinta Jen sembari merangkak naik ke dada Darren dan melabuhkan bibirnya disana.
Bisa gila kalau lama-lama puasa!
.
.
__ADS_1
.
Haloo apa kabar? maaf ya lama up nya ... sehat-sehat semuanya🥰