Suami Settingan

Suami Settingan
Kami Kecewa


__ADS_3

Desy dan Rendi pulang dalam keadaan duka yang menyelimuti. Terlebih Desy, wanita itu terlihat murung, dan langsung menuju ruang tengah dimana ia telah menyiapkan bingkisan untuk acara empat bulanan cucunya. Kotak-kotak berbungkus kain satin yang rencananya akan di isi souvenir itu tampak menyedihkan, teronggok begitu saja. Desy menyanggupi membuat seratus kotak itu selama satu bulan ini bersama beberapa karyawan floristnya. "Ini tidak boleh sia-sia, cucuku baik-baik saja, dan aku yakin Jen bisa menjaganya." Desy mendekap salah satu kotak yang paling dekat dengannya. Air matanya kembali tumpah.


"... masih aja ditangisin!"


Desy lamat-lamat mendengar suara anak perempuannya. Desy dan Rendi secara gamblang dan rinci mengetahui penyebab dan resiko kehamilan menantunya hari ini. Dan perkataan anaknya itu membuat hati Desy menggeramkan amarah.


"Apa kamu bilang, Din?" Desy masih setengah jalan menuju ruang tengah. Suaranya menggelegar tak terkendali, memenuhi rumah mereka yang tak seberapa ini.


Rendi yang menyandarkan tubuhnya di sofa, sedikit terkesiap mendengar suara Desy yang sedikit meninggi. Ia segera bangkit dan mendekati istrinya. "Mama ...." Semoga saja Desy tidak mendengar perkataan Dinka.


Dinka sudah bersiap menaiki tangga menuju kamar, ia menoleh, sedikit terkejut melihat mamanya sedang menatapnya tajam. Jangan -jangan mamanya mendengar perkataannya barusan. "Bilang apa memangnya?"


"Kamu ngga tahu kalau kucing kamu yang menyebabkan bayi kakakmu dalam bahaya?" Desy maju hingga menyisakan sedikit jarak dari anak perempuannya itu yang terlihat tidak peduli. Matanya memindai dengan rasa tidak percaya. "Atau kamu pura-pura tidak tahu agar terhindar dari masalah?" tuduhnya saat Dinka mengalihkan pandangan darinya.


"Mama berlebihan, deh ... dia baik-baik saja! Hanya karena orang tuanya kaya dan memiliki segalanya, dia jadi manja!" jawab Dinka enteng.


"Baik-baik saja katamu?" Desy belum pernah segeram ini pada anaknya sendiri. Dan apa itu tadi barusan? "Astaga, Nak ... mama tidak pernah mengajari kamu jadi anak yang seperti ini!" Desy tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya, tetapi ia mencoba sabar, takut kalau dia kelepasan sikap dan malah membuat semakin runyam. Saat ini, dia masih terpengaruh oleh kejadian yang mengejutkan tadi.

__ADS_1


"Kenapa bawa-bawa ajaran segala, sih, Ma? Kaya aku ini jadi anak durhaka saja? Seolah aku ini yang paling salah dan bertanggungjawab atas sakit menantu kesayangan mama itu?"


"Dinka!" Desy meradang, tangannya terangkat dan siap melayang ke arah pipi anaknya. "Kamu—"


"Mama!" Rendi buru-buru menahan tangan Desy. Bisa-bisa semakin runyam nanti masalahnya. Bukan malah reda dan tenang, fokus mendukung jen, tapi malah ada masalah baru dengan Dinka. "Mama istirahat ke kamar saja."


Rendi sejenak menatap Desy, istrinya terlihat marah, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak selain menuruti perintah suaminya.


"Dinka ...!" hardik Rendi dengan suaranya yang sedikit berat.


"Papa hanya kecewa melihat kamu seperti ini." Rendi sedih, sekejap saja keluarganya berubah. Mungkin ini juga salahnya dan Desy yang semakin sibuk. Biasanya Dinka selalu mendapatkan perhatian lebih dari mereka. Dan kini, Dinka menjadi asing hanya sesaat saja setelah apa yang mereka usahakan sedikit demi sedikit menampakkan hasil. "Papa hanya ingin kamu tau, kamu juga wanita, suatu saat kamu akan merasakan apa yang Jen rasakan. Dan, sebagai keluarga, perkataanmu barusan sungguh tidak pantas. Jika tidak bisa berempati, sebaiknya mulutmu dijaga agar tidak melukai. Jika kamu merasa kami berlebihan pada kakak iparmu, itu karena kondisinya serius dan membahayakan."


Rendi merasa membentak dan marah tidak akan didengar oleh Dinka, malah pertengkaran yang terjadi. Mata Dinka mengatakan segalanya, anak perempuannya sedang menyembunyikan sesuatu. Apa itu? Rendi sungguh penasaran, tapi bertanya juga bukan cara yang efektif. Rasanya ia harus kembali mendekati anaknya lagi.


Dinka mematung menyaksikan papanya pergi dari hadapannya dengan perasaan hampa. Ia sungguh tidak mengerti, sekalipun sakit, Jen terlihat sehat dan baik. Lagipula, Myung sudah membayar mahal kesalahannya. Apa lagi yang kurang? Apa karena kemarin dulu, ia ketakutan setelah mengamuk Jen lalu menutupi kesalahannya itu dengan mengatakan kalau Jen telah menghilangkan Myung? Lagipula, ia tak menuntut apa-apa kan, masihkah dia dituntut untuk bersikap baik pada iparnya?


Dinka akhirnya memutuskan melangkah ke kamarnya. Pikirannya masih dikuasai kebenaran akan tindakannya. Dia selamanya mungkin membenci Jen, entah sampai kapan. Alasannya tak bisa dijelaskan, dia sudah tidak suka jauh-jauh hari sebelum pernikahan itu. Dan dia tidak sepenuhnya membenci, tapi dia juga tidak mau dekat-dekat. Masih ada rasa kecewa jika mimpinya untuk bersaudara dengan Ranu hancur begitu saja.

__ADS_1


Dinka menghela napas, melemparkan tubuhnya serampangan di atas ranjang. Mengabaikan ponselnya yang berdering panjang. Sejujurnya, dia tidak bahagia dengan hidup yang memelihara rasa tidak suka, tapi entah mengapa, sisi itu susah sekali diajak damai.


Dering ponsel masih menginterupsi, dan masih dengan mata yang terpaku pada satu titik di langit-langit, Dinka menggapai tasnya, merogoh dimana ponselnya berada. Malas sekali rasanya menjawab panggilan itu, dia berniat menolak saja telepon tersebut. Sungguh dia sedang tidak ingin di ganggu. Namun, mata bulatnya semakin bulat saja ketika melihat nama yang terpampang di sana.


"Ranu ...."


.


.


.


.


.


1 bab saja, ya hari ini🤭

__ADS_1


__ADS_2