
Usia kandungan Jen sudah memasuki usia 17 minggu dan Jen mantap tidak akan melakukan test apapun pada anaknya. Hari ini test itu terjadi, tapi Jen berkeras menolak, seperti apapun bujukan dan macam pengertian yang di berikan kepadanya. Bayinya memiliki dua kantung ketuban dan satu plasenta. Kemungkinan tertular sangat tinggi, ditambah berbagi plasenta, yang mungkin saja virusnya sudah sampai pada darah anaknya, kendati demikian, mereka tampak tumbuh dengan baik. Jen sudah senang melihat itu, tidak perlu tes segala macam yang malah akan membuatnya down. Pikirnya, jika suatu saat bayinya lahir tidak sempurna, dia akan menerima bagaimana pun kondisinya. Ia takut jika hal itu membuatnya kehilangan gerakan lembut di kedua sisi perutnya. Itu indah.
Jen menangis dan memeluk perutnya, seakan orang-orang itu hendak merebut gundukan yang ada di perutnya. Darren sejak tadi hanya bisa pasrah, melihat Jen yang mengancam melalui sorot matanya. Bujukannya tidak mempan, dan akhirnya dia meminta semua orang mundur. Membiarkan istrinya itu tenang. Harris pun juga tidak bisa membujuk Jen lebih jauh. Ketakutan di mata Jen itu membuatnya tak tega mendesak lebih jauh.
"Maafkan kami, Tuan ... mungkin Nona tahu, em ... meski kami tidak memberitahunya apapun, Nona sepertinya mencari informasi lain tentang resiko kehamilannya." Andina tampak pasrah. Seluruh keluarga tahu kalau kemungkinan bayi itu tidak akan bertahan lama di perut Jen, tapi tidak ada yang mampu memberitahukan semua itu. Melihat bagaimana usaha Jen yang begitu menjaga dan antusias dengan kehamilannya. Hanya berharap pada keajaiban dan yakin pada pilihan calon ibu tersebut.
Harris tidak pernah merasa tidak berdaya dengan segala koneksi dan kekuasaan yang ia punya. Ia telah membuat pengaturan agar Jen bisa dirujuk ke rumah sakit mana saja yang terbaik di belahan bumi ini, tetapi dia tidak kuasa memaksa atau melakukan desakan yang mungkin membuat wanita keras kepala—seperti istrinya itu, malah depresi.
Pria itu menghela napas, "Biarkan dia pulang dan beristirahat, berikan saja semua perawatan dan pengobatan yang terbaik untuknya." Harris membuka pintu tempat yang sudah begitu siap untuk test tersebut. Harris menyejajarkan tubuhnya dengan Darren yang begitu pilu melihat Jen yang masih meringkuk dan melindungi perutnya.
"Tidak apa-apa, kita percaya saja pada ikatan ibu dan anak yang terjalin diantara mereka." Harris berkata sebelum Darren sempat mengatakan apapun. "Tidak apa-apa." Ia menepuk bahu Darren yang terguncang itu.
__ADS_1
Darren hanya bisa menunduk, menahan tangis. Ia tidak tahu kalau semua akan berkembang mengerikan dan liar seperti ini. Menggelinding dan panas.
"Sayang—"
"Papa jangan mendekat ... Papa jangan berkata apa-apa untuk membujukku. Aku tidak mau!" raung Jen berbalik dengan mata sembab dan berderai menukas perkataan pria yang selama ini dia hormati. Selama berpuluh tahun dan akhirnya dia melawan kuasa pria itu. Pecah sudah semua yang ia bangun dengan hati-hati hanya demi dua onggok daging yang belum ia lihat. Jen kecewa pada keadaan, terlebih pada dirinya sendiri. Andai ... semua ini hanya tinggal andai. Andai dia tidak abai. Ini adalah kehamilan pertama yang indah dan berkesan. Ah, ini juga berkesan.
Melihat ketakutan itu, Darren maju perlahan dan meraih Jen yang langsung melabuhkan kepalanya di dada. Ia terisak. "Aku takut, Ren ... aku takut mereka mengambilnya."
"Sshhh ... enggak. Mereka ngga akan nyentuh mereka." Darren mengusap lembut rambut dan punggung Jen yang sudah memakai pakaian rumah sakit. Dia—entah mengapa, mengerti ketakutan itu. Seakan ikut merasakan kepiluan itu. Dia tak bisa menyalahkan, juga tidak bisa mendesak atau memaksa. Biarlah semua berjalan seperti air mengalir. Biarkan keajaiban bekerja.
Harris sekali lagi hanya menghela napas. Dia bukan lagi belahan jiwa anak perempuannya. Ada dada lain yang lebih nyaman untuknya, ada tubuh lain yang didesain sesuai dengan kebutuhan Jen. Dia bukan lagi menjadi bagian itu, tapi kini dia menjadi sosok yang menuntun jika arah mereka berubah. Mengawal dari jauh dan mendukung penuh. Orang tua selalu seperti itu pada akhirnya. Tapi itu cukup membahagiakan.
__ADS_1
Dengan sadar, Harris meninggalkan dua anaknya yang masih saling bertaut. Dia tidak bisa berlama-lama juga, dia datang karena keadaan diluar kendali.
Diluar, sekelompok orang tengah cemas menanti. Mereka diam dan terisak di balik tangan kala menjumpai wajah sendu Harris.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, Ibunya sudah memutuskan," kata Harris lemah. Kira berusaha tegar, meski air matanya masih membanjir, wanita itu tampak terkendali.
.
.
.
__ADS_1
.
.