Suami Settingan

Suami Settingan
Salah Menduga


__ADS_3

Mereka selalu terlibat debat kusir yang sangat sengit bila berhadapan dengan pembahasan hamil lagi. Darren begitu trauma dan Jen yang begitu berambisi mendapatkan tambahan anak. Apalagi setelah Naja memiliki dua adik untuk Cio. Anak bungsu kakaknya itu adalah seorang gadis yang sangat cantik dan menggemaskan.


“Abang …,” panggil Jen saat Darren masuk ke kamar. Hari ini Darren menidurkan Ace karena Jen ada janji dengan teman-temannya, dan belum lama sampai di rumah.


Darren hanya menggumam untuk menjawab panggilan untuknya. Meski dia merasa heran dengan panggilan itu. Seingatnya, terakhir kali dia memanggilnya dengan panggilan itu saat dia masih hamil Ace. Lalu untuk apa dia menghidupkan lagi panggilan itu? Sekilas Darren melirik Jen yang masih menghadapi cermin.


“Kapan nginep di rumah mama?” Jen menyudahi kegiatannya mengoleskan pelembab harian, lalu memutar tubuhnya menghadap Darren yang bersiap merebah di ranjang.


“Biasanya juga ngga nanya kalau mau nginep di sana … lagian mama jarang di rumah kan?” Darren menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Bergelut seharian dengan pekerjaan, lalu bermain dengan Ace membuat tenaganya seakan terkuras, namun dia sangat senang. Sekarang adalah momen-momen yang tak akan bisa diulanginya lagi.


Jen beranjak mendekati Darren. “Mama Desy, bukan Mama Kira ….” Lantas ia ikut-ikutan merebah di samping Darren.


“Nanti perang dingin sama Dinka, bikin suasana gak nyaman,” jawab Darren seraya memejamkan mata. Namun, dia merasa aneh dengan sesuatu yang kurang saat menjelang tidur kali ini. Cepat-cepat ia membuka mata dan melirik diam-diam istrinya tersebut. Jen masih memakai gaun tidur yang biasanya, tetapi dia sudah memejamkan mata. Apa dia sudah menyerah merengek dan menggoda untuk dibuahi?


“Baiklah … ngga usah kesana kalau begitu.” Jen yang sudah miring menghadap Darren, menggerakkan kepala untuk menyamankan posisi tidurnya. Tangannya terlipat menyangga kepala, terlihat memang kalau Jen kelelahan.


Darren menarik bibirnya tersenyum. Dia terlalu lama menghabiskan waktu untuk mengamati tingkah laku wanita itu, jadi ketika ada hal lain yang berbeda dari raut wajah Jen, Darren harus waspada. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu. Tidak melawan, tidak membantah maupun mendebat. Itu pasti tipuan.


“Udah minum vitamin hariannya?” Darren masih sibuk bertanya-tanya, tetapi Jen seolah memberinya klu.


“Udah. Kenapa? Tumben ngingetin?” Darren menyeringai. Jadi ada sesuatu di minuman itu, karena ia melihat Jen tersenyum ketika menjawab.

__ADS_1


Jen menggumam pelan, masih dengan senyumnya yang tertahan-tahan.


“Jen, kamu harus dengar dan ingat! Hanya ada Ace dalam hidup kita. Aku ngga mau kalau kamu menderita seperti saat kamu hamil Ace. Kamu tahu itu membuatku hampir gila. Apa sih, bedanya anak satu atau dua atau berapapun jumlahnya? Mengapa harus ngotot untuk punya anak lagi?” Akhirnya Darren tak tahan untuk mengeluarkan apa yang mati-matian ditahannya selama ini.


“Kamu ngomong apa, sih, Darrenio?” Jen bangkit seraya mengulurkan tangan untuk meraba kening Darren. “Sakit atau salah minum obat?” Jen menyibak selimutnya, lantas ia beranjak begitu saja dari kasur seraya menyimpulkan kimono yang terbuka. Seingatnya dia hanya meletakkan suplemen harian saja di meja tadi, tapi kenapa suaminya itu seperti habis minum tambah darah sehingga suamiya itu naik darah jadinya.


“Mau kemana? Aku minumnya pake air dan gelas yang lain, jadi apapun yang kamu masukkan ke dalam air itu aku sama sekali tidak menyentuhnya!”


Jen sampai di ambang pintu dan menoleh, kelopak matanya sudah menciut. Semakin tidak mengerti saja jalan pikiran suaminya itu. Apa beban berat sebagai penggerak usaha pertanian penuh inovasi yang mendapat award dari pak walikota dan dinas pertanian membuatnya stress dan tertekan?


“Kamu bicara apa, sih, Papinya Ace? Aneh banget kelakuanmu malam ini? Ada masalah?”


“Pura-pura banget, sih … kamu pikir dengan bersikap sok gak tau gitu, aku bisa kamu kelabuhi? Tidak semudah itu, Esmeralda!” Darren berdiri, “apa yang kamu masukkan ke dalam air putih itu?”


Apa-apaan ini? Dia terlalu lelah untuk berdebat. Apa sumbu pendek itu berpikir kalau akan diracuni atau diberi obat perangsang? Hanya karena hampir sepanjang tahun berdebat soal anak? Jika dia tidak mengindahkan Darren mungkin dia sudah melepaskan penghalang yang ada di rahimnya bertahun-tahun lalu. Haaish!


“Nih, coba minum kalau memang tidak ada obat setannya di sini!” Darren sudah menyibak tubuh Jen yang menelungkup, dia membawa gelas penuh dengan air putih di tangannya.


Jen mengerang panjang, lalu dengan gerakan cepat dia menyambar gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Napasnya masih terengah, tetapi dia sudah tidak tahan untuk tidak memaki Darren.


“Dengar ini baik-baik, Kakaknya Dinka!” Jen berdiri berhadapan dengan Darren, seketika ia paham apa maksud suaminya itu. “Sekalipun kita bercinta sampai gila, kalau IUD yang ada di rahimku ini tidak di lepas, aku tidak akan pernah hamil. Apa kau lupa kalau setelah kelahiran Ace kau meminta Dokter Luna memasangkannya tanpa persetujuanku?”

__ADS_1


Darren terkesiap, merasa dikuliti dan boroknya ketahuan.


“Jadi kamu masih berpikir aku mengerjaimu? Astaga Darren, kurasa kau ini paranoid!” Jen bersedekap di dada. “Apa aku sudah gila dengan hidup bersama orang kurang waras?”


“Kupikir, kau-kau tidak agresif karena kau sedang merencanakan sesuatu …,” jawab Darren akhirnya.


Jen melirik sinis, “Kau pikir aku semurahan itu? Merendahkan diri hanya untuk kau buahi? Astaga! Percaya diri sekali anda?”


Darren kembali dilanda syok. “Lalu kau minta dibuahi siapa?” pria itu menoleh kiri kanan dengan bingung. “Kau ada pria lain? Pria India yang jadi pemasok kain kamu? Atau pengusaha Turki yang pesan seragam untuk karyawannya itu? Atau jangan-jangan, kau mengadakan arisan berondong dengan teman-temanmu itu?”


Jen menengadahkan kepalanya, membuang napas keras-keras dari mulutnya. Kesal sampai di ubun-ubun, bahkan sampai ingin meremas mulut suaminya yang keterlaluan. Darren ini antara bucin kronis, naif, dan juga agak bodoh. “Aku hanya mau dibuahi dan dicumbu sama anaknya Pak Rendi! Puas!”


“Siapa dia?” tanya Darren dengan terbata-bata, entah kenapa dia jadi kurang konek setelah dimarahi Jen. Pikirannya sudah menjangkau ke seluruh kenalan Jen yang ia awasi dengan ketat. Istrinya itu sangat cantik dan seksi. Mengherankan sekali, bagaimana bisa dengan perut sedikit chubby—karena Darren melarang Jen untuk meratakan perutnya berlebihan, bokongnya lebih berisi, dan wadah asinya Ace itu tiba-tiba menjadi mengembang dengan memuaskan, begitu menyenangkan mata Darren. Jadi mungkin saja pria-pria yang, huft … menjadi langganan Jen, juga tertarik, juga tergoda. Pria dimana-mana sama, tertarik berdasarkan visual yang memanjakan mata. Darren mendadak merasa cemburu.


“Pikir saja sendiri, sampai matahari terbit malam-malam!” Jen tidak peduli dengan Darren. Ia lelah seharian ini. Dan dia tadi memang bercerita tentang keinginannya punya anak kepada teman-temannya, juga kekhawatiran Darren akannya. Dari sana, Jen mendapat pencerahan dan tidak lagi memaksakan keinginannya itu. Dia malah berniat minta maaf, namun melihat Darren yang terlihat lelah tadi, Jen memutuskan untuk besok saja berbicaranya. Akan tetapi, semua kacau karena si sumbu pendek cemburuan itu. Ya Tuhan, darimana dan bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Dari Claire atau dari Sindy?


*


*


*

__ADS_1


*


2/5


__ADS_2