Suami Settingan

Suami Settingan
Oh, Istriku!


__ADS_3

Sesiangan tadi, sampai sekarang, Darren bekerja dengan tidak tenang, ia secara berkala menghubungi Jen, tetapi tidak ada satupun balasan. Dan ketika ia menghubungi mamanya—katanya, Jen belum kembali. Kemana dia?


"Kamu pulang aja, gih ... mungkin dia udah balik." Melihat Darren kelimpungan, Tamy mengerti kalau Darren sangat mengkhawatirkan istrinya itu.


Darren yang sedang ngebut untuk menyelesaikan pekerjaanya, berdehem kecil. Mengurangi rasa tercekat yang tidak enak di kerongkongannya. Ya, memikirkan Jen membuat lehernya terasa nyeri hingga ke ulu hati. Sebisa mungkin tenang, tetapi tetap saja otaknya kacau sekali.


"Nanggung! Aku akan selesaikan dulu semua ini, baru aku akan pulang." Darren mengangkat kepalanya dari laporan yang sangat panjang di depannya. "Kamu handle sisanya, ya ... liburnya mulai besok aja!" Senyumnya melengkung samar, ketika Tamy merotasikan manik matanya. Dia berharap Tamy mau menuruti maunya setelah ia melakukan apa yang Tamy pinta. "urusan hati dan bini selalu urgent, Tam!" Ia terkekeh ketika melihat Tamy meliukkan bibirnya.


"Pulang sono!" Tangan Tamy mendorong lengan Darren hingga tubuh pria itu terhuyung ke samping. Nadanya sedikit kesal, tetapi Darren benar. Seharian ini Darren telah menuruti apa yang dia mau, dan yah, tak masalah jika dirinya merelakan libur yang tinggal beberapa jam saja secara teknis, besok dia bisa libur puas-puas sampai satu minggu lamanya.


"Thanks, Sistah ...." Darren meringis melihat Tamy yang mengerucutkan bibirnya. Ia tahu kalau Tamy hanya pura-pura kesal padanya. Lalu ia menekankan lembaran kertas beralaskan sebuah papan ke tangan Tamy. "kerjakan dengan benar, Jeje pulang dalam beberapa hari ke depan."


Darren tergelak melihat Tamy harus pusing ketika mencapai ujung liburnya dan dia masih harus melakukan kerja tambahan karena kepentingan Darren . Ah, sial sekali lah lelaki itu!


"Untung dia sodara bosku, kalau enggak ... udah aku—" Tamy menghela napas. "Sudahlah ...," katanya sambil mengibaskan tangannya. Lantas ia duduk di kursi yang Darren tinggalkan barusan. Berurusan dengan suplier memang merepotkan.


Tamy menggerundel dalam hati, tetapi ia hanya menghela napas sebagai bentuk pelampiasannya melihat lembaran laporan yang belum selesai setengahnya. Dia bisa apa memangnya, setelah apa yang dilakukan Darren untuknya seharian ini? Selain sebuah pengertian.


***


Sudah berjam lamanya, Darren sendirian di rumah, Jen benar-benar marah padanya sampai mengabaikan seluruh panggilan dan pesan darinya.

__ADS_1


"Jen, kamu kemana, sih?" Ponselnya tergeletak di sebelahnya, tangan yang bebas sendok, mengacak rambutnya dengan kasar. Berdecak berulang kali.


Dia sedang menghabiskan nasi goreng buatan Jen tadi pagi setelah memanaskannya, sebagai bentuk permintaan maaf atas terabaikannya usaha istrinya hari ini. Jen mungkin telah berusaha menjadi istrinya yang baik, terbukti dari beberapa lembar kartu post-it yang tersemat di pintu kulkas, berisi step-step membuat berbagai menu masakan sederhana.


Dan yang baru Darren sadari adalah sikapnya pada Jen terakhir kali pasti telah membuat Jen tidak nyaman. Lalu salah paham terakhir belum sempat ia selesaikan. Ah, salahnya memang, atau salah kesibukannya.


***


Darren mengenyakkan tubuhnya yang lelah di sofa setelah lelah hilir mudik seperti penagih hutang yang sedang menunggu pengutangnya keluar. Dengan resah ia menimbang baik buruknya jika bertanya pada mertuanya. Bayangan kekacauan yang timbul di antara keluarga besar itu membuat Darren menelan kecut harapannya. Kepalanya yang serasa meledak disandarkan di sofa saking tak kuat menahan beban.


Deru mobil membuyarkan lamunan Darren, ia melesat ke pintu dalam satu kedipan mata. Secemas itu dia pada Jen.


Jika maksud Darren adalah mengkhawatirkan, mungkin bagi Jen itu adalah bentuk penghakiman. Dan Darren tidak mau membuat Jen merasa semakin kesal dan marah padanya.


Jen menatap datar ke arah Darren sekilas, ia meraih tangan suaminya, dan mengecup punggung tangannya.


Darren merasa lega hingga tersenyum, tetapi ketika ia hendak mengusap kepala Jen dan mencium kening istrinya itu—malah dia berniat mendekap Jen, Jen berlalu begitu saja. Meninggalkan Darren yang hampa hingga alisnya terangkat dan helaan napasnya terhempas berat. Namanya juga kesel.


Darren mengekori Jen yang menuju dapur, ia menyeletuk.


"Nasi gorengnya aku panaskan dan aku makan semua, tapi ... susunya masih di kulkas, perutku begah, penuh dengan nasi goreng yang enak buatanmu, Yang."

__ADS_1


Harapannya sia-sia, Jen hanya menyapukan pandangan ke seluruh dapur dan berlalu ke kamar. Masih tanpa suara.


Darren menghela napas lagi, di cuekin gini bat ya, rasanya! Hadeh!


"Mandilah, rumah udah aku bereskan." Ia mendorong bahu Jen yang tidak menolak sama sekali ke depan pintu kamar mandi. Berbalik lagi ke lemari dengan cepat mengambil handuk dan menyusulkannya ke pintu yang hampir tertutup sepenuhnya.


"Ini handuknya." Sebelah tangannya menahan pintu dan yang lain mengulurkan handuk. "udah malem, mandinya jangan lama-lama." Dia tersenyum, dan senyumnya dibalas dengan tatapan yang menggantung. Ya, Jen membalasnya dengan malas dan tidak peduli.


Bedebam pintu terkatup pelan, membuat Darren melongo. Semengerikan ini ketika Jen mendiamkannya.


Sungguh lebih baik Jen meluapkan kemarahannya, mengatakan segalanya, jadi dia tahu yang mana salahnya? Yang mana yang fatal dan yang mana yang bisa dimaafkan. Oh, istriku! Darren hanya menggigit bibir dengan getir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2