
Season of love baru saja berakhir, napas keduanya bahkan masih satu dua dan pendek-pendek. Peluh bahkan masih menetes.
Jen tak berani menatap langsung ke arah suaminya, sejak tadi ia memilih memejam atau berkedip, bahkan berpaling ke samping. Ia terlalu berdebar dan malu. Ya, sangat malu. Tentu karena perasaannya yang mungkin tampak dan mengambang di wajahnya, dan juga ia tak bisa berbohong karena menikmatinya—mau tak mau.
Perasaan setelah sesi ini berakhir malah yang membuatnya kian meremang. Ada rasa bahagia, senang, dan terpuaskan. Euforia yang meletup seperti kembang api. Entahlah, tapi bisikan-bisikan Darren membuatnya tersipu.
"Sakit?" Darren menaikkan selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Melihat Jen seperti melamun, Darren merasa agak menyesal menumpahkan dirinya terlalu kuat hari ini.
Jen menggeleng dan memindahkan kepalanya ke posisi nyaman.
"Pakai bajumu ... setelah itu kuantar ke kamar mandi." Darren menoleh ke kanan dan kiri, mencari kain penutup tubuh istrinya itu.
Jauh sekali tanganku ini melemparnya.
Darren geli sendiri melihat dimana baju Jen berada. Mencapai muka pintu. Ia bangkit, tanpa memedulikan dirinya sendiri.
"Ya Tuhan, Darren ... punya malu dikit kenapa? Sengaja ditunjukin ke aku? Biar apa? Aku kagum gitu?" Jen menutup matanya sementara bibirnya terus bergumam.
"Sori, Yayangku ... aku gak maksud apa-apa, kok ... cuma lupa aja." Ia menyampirkan tanktop Jen di bahunya, sementara ia sendiri menutupi dirinya. "Dah ... buka mata kamu, lagian kenapa begitu banget, sih ... gak papa kali, dilihatin sampe puas, siapa tahu malah minta lagi!"
"Jangan gila! Ini aja masih belum ilang kok," gerutu Jen.
Darren terkekeh, "Belum ilang enaknya?" Ia mendekati sisi kepala Jen dan mengangkat kepala wanita itu. "Diem aja, biar aku pakaikan. Aku tanggung jawab kok, akan mengembalikan apa yang aku obrak abrik!"
Senyum Darren yang penuh percaya diri membuat Jen kesal. "Jangan bicara apa-apa, atau aku akan menendangmu ke Pluto."
Darren melebarkan senyumnya, "Baik Ratu, titah ratu akan Raja laksanakan!"
Jen melebarkan matanya, ia mencubit pinggang Darren sampai memelintir.
Rasakan, Raja yang kurang ajar!
"Aduh-duh-duh ... sakit Jen!
"Makanya jangan macem-macem!"
"Satu macam saja, kok ...," ucap Darren sambil melepaskan cubitan Jen. "Ampun, Yayangku." Senyum Darren dibuat semanis mungkin.
"Gak lagi-lagi deh ...!" Darren memohon pengampunan.
Mata Jen menatap tajam wajah Darren seolah berkata, kapokmu kapan!
Ketika bekas cubitan itu mulai berangsur hilang sakitnya, Darren mengusap dan mengecup kening Jen. "Sudah, tidurlah! Kecuali kalau kamu mau lagi!"
Plak!
Tangan Jen yang sangat ringan menampar lengan Darren. Ia bahkan mengusahakan untuk menamparnya lagi. Tampak lebih bertenaga.
"Mau mandi lagi, maksudnya ... jangan salah paham, dong!" Darren meringis sambil menahan tangan Jen.
"Bohong!" Jen menampar lagi lengan Darren sangat keras dan menjauh. Tapi pertengkaran barusan malah membuat lelah dan kantuk Jen hilang. Tiba-tiba ia merasa kembali segar.
"Malam, Yayangku, met bobok, mimpi indah, jan lupa mimpiin aku, ya ...," Darren mengecilkan suaranya penuh ejekan, menirukan pesan ala pacaran di masa hape nokia.
__ADS_1
Jen hanya mencibir, lelah membalas ocehan Darren yang akan membuatnya darah tinggi. Aku mati muda, keenakan dia, duda muda, nikah sama perawan lagi ... lah aku, dikubur, digerogoti hewan tanah yang menjijikkan, gak ada yang meratapi kuburanku! Hah menyedihkan.
Memikirkan itu, Jen kesal sendiri. Ia membayangkan senyum menjengkelkan Darren saat mengejek makamnya bersama istri barunya.
Jen membalik tubuhnya, menatap Darren yang sudah memejamkan mata. Cepat sekali dia tidurnya, dasar unta!
Jen melamun saat menatap wajah Darren yang hanya tampak sisi kanannya. Napasnya terdengar halus dan teratur. Itu sangat mendamaikan hatinya yang terombang ambing. Ia hanya belum memiliki perasaan spesial saja pada suaminya ini.
Jen hanya bisa menghela napas yang teramat berat. Entahlah. Ia terlalu sibuk memikirkan pelajaran di rumah mertua yang harus ini dan itu, sampai ia lupa akan melakukan apa dan bagaimana hidupnya nanti. Ia terbiasa hidup tanpa rencana. Semua terasa mudah baginya selama ini.
Jen bangkit perlahan, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri meski ia tak mandi lagi. Airnya pasti sangat dingin.
Besok kuminta Darren buat pasang pemanas air, gak tahan aku lengket begini.
***
Malam telah menjelang pagi, tapi mata Jen masih betah membuka, pikirannya berkecamuk hebat, setelah berbagi pengalaman dengan grup sekolah SMA-nya dulu. Mereka sebagian besar sudah berkeluarga dan tak sungkan lagi berbagi 'ilmu' di atas ranjang.
Dasar emak-emak!
Jen menyimak, tak ada yang tahu dia telah menikah. Ia memang tak pernah ingin siapapun tahu penikahannya, meski sesekali ada yang bergosip tentangnya, tapi yah ... ia berhasil menangkis dan berkelit. Sampai ketika mereka membicarakan kehamilan duar rencana, bulu di tubuh Jen menegak semua.
Dilakukan berulang dan tanpa pengaman.
Oh My ... kenapa ia sampai lupa mengingatkan Darren tentang itu? Sumpah demi apa saja, ia lupa, atau mungkin ... terlena. Jen bergerak rajin mengontak temannya yang mengatakan itu. Mengiriminya pesan pribadi.
"Berapa kali kamu lakukan tanpa pengaman?" Jen menyergah tanpa basa-basi.
Canda Jen! Tapi iya juga gak papa, sama D lagi! Memperbaiki keturunan, biar hidungmu yang mancung kebelakang itu agak naik kasta! Hahahahaha ....
"Serius woey ... pake malak," ketik Jen dengan cepat, saking penasarannya. Ia berkeringat dingin. Mati aku! Segera ia menarik tubuhnya duduk dan merapat ke tembok.
Jadi kalau tanpa pengaman sudah pasti dung, kalau ditinggal di dalam! Hahahahaha ... makanya, kalau ninggalin gua kemasi barangnya. Jan sampe ada yang ketinggalan! Bisa jadi bocah! Hahahahaha ... suruh pakai helm Jen, agar terlindung dari kebobolan. Pil dijual bebas, karet apalagi!
Shiit! Jen melempar ponselnya, ia mengadu kepalanya dengan tembok. Kacau sudah semuanya. Jika dia hamil ... oh, no! Dia terjebak di sini selamanya. Meski sebenarnya tidak buruk.
"Kenapa?" Jen terlonjak ketika ia melihat Darren membuka matanya. Tampak biasa, sepertinya ia sudah terjaga sangat lama, meski matanya memejam.
"Gak ada!" Jen mengambil ponselnya di dekat kaki Darren. "Sorry, udah buatmu terkejut!" Ia menggoyang ponselnya ke arah Darren.
Darren bangkit dan menyandarkan kepalanya di tembok juga. Ia sejak tadi melihat gelagat Jen yang tidak biasa.
"Jika ada masalah, berbagilah ... meski hanya satu tahun, tapi aku tetap suamimu. Apa kau khawatir hidupmu selama bersamaku?"
"Bukan ... bukan itu." Jen berpaling, ia mellow sendiri ketika kata satu tahun meluncur dari bibir suaminya itu.
Ya, tapi itu mau kamu, 'kan?
Jika ia hamil, dan satu tahun, ia akan jadi single mother, membayangkan itu Jen teringat mamanya. Mamanya tanpa suami yang mendukungnya. Menghadapi dunia seorang diri. Mamanya wanita kuat dan terbiasa susah payah, sedangkan dia ... hanya wanita manja dan lemah. Tanpa papa sambungnya, ia bukan siapa-siapa.
Darren mengerti akan susah bagi Jen untuk hidup dengan keterbatasannya. Namun, ia harus meyakinkan Jen bahwa terbatas bukan berarti tidak bisa bahagia. Ia beringsut ke depan Jen, menarik tangan Jen dan menggenggamnya.
"Jen ... lihat aku!" pinta Darren lembut, "Jen ... tatap aku!"
__ADS_1
Ekor mata Jen melirik Darren yang terlihat serius. Apa yang akan dia katakan? Jen membuang napasnya, lalu memutuskan menuruti suaminya.
Tangan Darren yang bebas, merengkuh pipi Jen hingga ke telinga. "Katakan padaku apa yang kau rencanakan saat bersamaku? Aku akan mengikuti apa saja yang menjadi pilihanmu. Aku tidak keberatan."
Dielusnya pipi mulus Jen dengan ibu jarinya. Kesedihan dimata kesayangannya begitu melukai hati Darren. "Katakan!"
Jen kekeh menggeleng. "Aku hanya tidak ingin hamil ...," ucapnya lirih dan menunduk. Ya, memang itu yang menjadi dilema terbesarnya, ia bisa hidup susah tapi ia tak bisa mengajak seorang anak hidup susah dan tanpa kehadiran seorang ayah. Itu sangat menyakitkan. Bahkan Darren sendiri menjadikannya olok-olok ketika dia seorang anak tanpa dukungan orang tua secara penuh.
"Aku ingin mencegahnya ... aku-aku akan ke dokter atau membeli obat pencegah kehamilan. Aku-aku tidak bisa anakku lahir tanpa dukungan ayahnya."
Darren menghela napas, ia pikir karena kekurangan ini penyebabnya. Tenyata itu. Kini Darren membuka dirinya, bersiap meraih kesayangannya dalam dekapan.
"Boleh aku memelukmu sebentar saja, sebagai suami yang melindungimu? Atau sebagai teman juga tidak apa-apa!" Darren selalu mengatakan antisipasi, takut jika Jen makin marah, dan dia kehilangan momen untuk berbicara.
Jen sejenak menelisik mata suaminya itu, terlihat penuh keyakinan dan menenangkan. Sejurus kemudian, ia segera merapatkan tubuhnya di pelukan Darren. Awalnya hanya sekedar menempel, tapi usapan tangan Darren membuat Jen yakin dan tenang. Ia menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Darren dan mengeratkan pelukan.
"Maaf, karena ucapanku dulu menyakitimu. Karena aku, kamu jadi takut menghadapi dunia. Kamu anak yang manis saat kecil, aku suka sekali bibirmu yang selalu manyun saat bertemu denganku. Aku bahkan sudah berniat menciummu sejak kita berpisah di SD, jika tak ingat ada mama di sana. Lalu aku jadi sangat sepi saat kamu dan Jeje tidak bersekolah di tempat yang sama sejak SMP hingga kuliah. Kau tahu, aku sangat sedih. Kau juga ngga tau, aku diam-diam menunggumu keluar dari sekolah setiap hari, tanpa berani menyapamu. Aku terlalu takut. Bahkan ketika kau punya pacar, aku yang paling terluka, tanpa bisa berbuat apa-apa."
Darren terus membelai punggung Jen yang tampaknya menangis. Ia mengecup sisi kepala Jen yang mampu ia jangkau seperti ingin mengatakan maaf tak terhingga.
"Aku tidak akan membebanimu apapun, Jen ... apa saja yang membuatmu senang dan bahagia, aku akan menurutinya, termasuk tidak membuatmu hamil. Meski ketika kamu hamil, artinya kita malah akan bersama selamanya dan itu sangat menyenangkan bagiku, tapi aku ngga mau memikirkan diriku sendiri. Satu tahun bersamamu akan kunikmati tanpa menyakitimu lagi. Aku cukupkan hukumanku atas tindakanku di masa lalu sampai saat ini, karena jika aku menyakitimu lagi, aku tidak tau lagi bagaimana harus menebusnya lagi setelah kita berpisah."
"Bahagia dan tersenyumlah saat bersamaku, Jen ... katakan apa yang membuatmu tidak nyaman, akan aku usahakan, selama aku mampu."
Jen terisak di bahu Darren. Ia bingung dan tidak menyangka Darren akan mengatakan itu, pikirnya Darren akan membujuknya untuk menuruti apa maunya. Namun lelaki kurang ajar ini malah membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Ingatlah bahwa aku sangat mencintaimu, Jen ... sangat!"
Jen menarik tubuhnya menjauh. Ia mengusap matanya yang basah dan tak jelas menatap wajah suaminya itu.
"Tapi aku tetap belum yakin perasaanku sebenarnya, Ren ... aku ngga mau salah langkah. Kau tidak lupa aku menikahimu karena apa, 'kan? Aku hanya tidak ingin ada yang menderita karena kesalahan kita."
Darren membeku, "Baiklah, aku mengerti, tapi jangan sekarang." Darren mengusap tengkuknya, ia salting mengataknnya. "Kan udah terlanjur, jadi tunggu sampai satu bulan ya," ucap Darren akhirnya.
Jen melemas seketika, "Itu maksudku! Kan udah dua kali 'kan? Aku takut kalau ...."
"Sudahlah, jangan parno ... banyak kok yang menikah bertahun-tahun tapi belum hamil. Naja juga 'kan?" potong Darren cepat. Ia mengusap lagi pundak Jen dengan lembut, mengusir kekhawatiran yang mengambang.
"Setelah hari ini, aku gak akan nyentuh kamu lagi, tenang saja!"
Jen terpaku sejenak. Yah ...!(Penonton kecewa, dan jadi ngga tenang, donk bang Darren)
"Kamu saja yang pake safety-nya ...," celetuk Jen saat kepalanya menyala sebuah bolam pijar lima watt.
.
.
.
.
.
__ADS_1