
Jen membawa Darren ke JC dimana dia masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum ia benar-benar rehat. Ia mengerti akan kondisinya kini yang tidak lagi bisa lagi bekerja. Menaiki taksi untuk sampai ke sini, Jen melangkah lebih dulu meninggalkan Darren yang masih bertelepon.
"... aku udah melakukan banyak hal, Ma ... masa belum dimaafkan sama kak Darren, sih ... aku capek ih, tiap kali ke sana, tapi di cuekin."
Jen membawa tubuhnya kembali mundur dan berusaha tidak menguping, tetapi ia terlanjur mendengar semuanya dengan jelas.
"Itu resiko, Din ... makanya kalau mau buat salah mikir-mikir dulu, biar gak susah buat minta maaf. Lagipula, kamu kesana karena tugas dari mama, bukan niat dari hati kamu sendiri buat minta maaf. Itu namanya kamu belum ikhlas minta maaf dan berdamai."
"Namanya juga salah paham, Ma ... aku juga gak tau keadaan sebenarnya, 'kan? Ini kan keadaan yang menuntun, bukan mau Dinka."
"Itu alasan kamu aja! Ada hal-besar dibalik perbuatan kamu pada kakak iparmu. Kamu kayaknya udah gak suka dia sejak lama!"
Dinka terdiam dan menghela napas. "Baik Mama ... Dinka ngaku salah. Jadi Dinka harus gimana sekarang?"
"Minta maaf, sana! Buat apa ngaku ke Mama? Kan kamu masalahnya sama kakak, bukan sama mama!"
"Ih, Mama nyebelin!" hening di seberang sana. "Bodo amat, minta maafnya lebaran nanti saja! Kesel! Gak kakak, gak papa, gak mama, semuanya nyebelin."
Jen yang setengah melamun seolah tersentak ketika mendengar langkan Dinka yang semakin dekat dengannya, bergegas menggeser tubuhnya ke samping sehingga Dinka tidak sampai berjumpa dengannya. Dia hanya tidak mau terpergok hingga keadaan semakin canggung untuk Dinka. Dia sudah memaafkan, dalam hal ini dia juga salah karena mengabaikan tanggung jawab. Namun, Darren memintanya untuk tidak bersikap lunak sementara waktu, Darren bermaksud untuk memberikan pelajaran pada adiknya.
***
Di ruangannya yang sepi, karena para karyawannya langsung pergi begitu Darren datang, Jen memaksa Darren duduk di atas mejanya agar posisinya lebih tinggi, karena ukuran perutnya yang luar biasa besar, Jen tidak bisa lagi membungkuk dengan bebas memeriksa luka Darren. Ia juga memaksa Darren menanggalkan celananya yang sudah kotor penuh darah dan sobek. Menggantinya dengan yang baru yang mereka beli dalam perjalanan kemari.
__ADS_1
Mengenakan boxer, Darren merasa risih Jen mengobati kedua lututnya dan luka gores yang lain. Jen diam saja karena merasa bersalah, membayangkan betapa tersiksanya Darren menahan luka di kakinya yang cukup panjang meski tidak terlalu dalam.
"Lain kali jangan maksain diri kalau gak bisa nemenin, Ren ... telpon kan ada, tinggal bilang kalau kerjaan kamu belum selesai. Aku bisa ngerti." Jen masih menunduk sembari mengoleskan obat yang diberikan oleh perawat tadi. Sesekali meniupnya.
"Padahal aku pengen lihat mereka unjuk towernya yang perkasa itu." Darren terkekeh, ia membayangkan foto-foto USG yang sengaja di ambil tepat diantara kedua paha bayi-bayi mereka. "Mereka pasti begitu tampan dan gentleman kaya papinya—au!"
Darren menunduk dengan napas satu-satu yang keras. "Pelan-pelan, Sayang ... sakit!"
"Oh, sorry ... lagi ngingetin tuh bibir biar gak narsis dan nyebelin." Jen merengut ketika menatap suaminya yang meringis akibat lukanya di tekan kuat-kuat olehnya.
"Dokter Luna juga mengakui kalau mereka tampan bahkan untuk seusia bayi di kandungan, hidungnya mancung dan dari penampakannya udah kelihatan, Yang. Harusnya kamu bangga, dong."
"Sok tau! Dokter Luna pasti juga akan mengatakan hal yang sama dengan pasien lainnya yang bayinya diperkirakan laki-laki." Jen akhirnya tak tahan untuk menggeram dan menampik paha Darren.
"Iya!" Jen meraih celana yang baru dibeli, lantas menyerahkannya kepada Darren dengan sebuah desakan kesal. "Gitu aja gak tau!" lanjutnya ketus.
"Ih, kok marah? Kan aku orangnya polos, gak paham sama hal-hal begitu ... kupikir itu pujian spesial buat kita, kan?" Darren bersiap turun, tetapi Jen menahan lagi dada suaminya.
"Bentar ...!" Jen mengambil sebuah plester dari tasnya. "Pakai ini biar kaya drama korea." Jen mengacungkan plester bergambar seperti yang ada di drama dan film korea.
"Ditempelkan pada lukanya, biar romantis gitu, Yang ... trus nanti pas kamu jauhan sama aku, kamu sentuh plestet itu sambil tersenyum bayangin kejadian ini dan aku." Jen meletakkan telunjuknya di kedua pipinya, kepala Jen miring dan sengaja di imut-imutkan.
Darren memisahkan bibirnya, tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. "Harus banget, ya?" Darren mengerjap melihat warna dan gambar plester itu. Astaga Jen! Darren hampir pingsan.
__ADS_1
"Gak papalah, Abang ... sekali-sekali nurutin istri, meski bukan ngidam, dan ini kan di dengkul, ketutupan kok!" Jen mulai bekerja, menempelkan plester itu. Dan yang membuat Darren menengadah penuh istighfar adalah bukan hanya satu tapi banyak.
Dosa apa aku, Tuhan?
Darren pasrah dengan tangan menyangga tubuh diatas meja, lalu kepalanya menengadah agar ia tidak melihat betapa horor rupa dengkul dan luka-luka yang tertambal plester tersebut.
Pintu menjeblak terbuka, lantas diiringi jeritan nyaring, membuat Darren menegakkan tubuhnya. Jen muncul dari arah depan Darren. Posisi mereka memang sungguh kurang mengenakkan ketika dilihat dari pintu. Darren membelakangi dan Jen muncul dari depan bawah Darren. Sungguh siapapun yang melihat pasti berpikir yang tidak-tidak. Apalagi celana Darren di letakakan begitu saja di meja yang lain.
"Lain kali kunci pintunya."
Vaya menghentakkan kakinya sebelum berlalu dan membanting pintu dengan kasar. Meninggalkan Jen dan Darren yang saling pandang penuh kebingungan.
"Dia kenapa?" tanya yang hanya dijawab dengan bahu terangkat oleh Darren.
.
.
.
.
Satu aja ya, gais🙏
__ADS_1