
Puas itulah kata yang tepat dan memenuhi hati Darren sejak kejadian kemarin siang. Pria itu tidak lagi sungkan atau berpikir ulang jika ingin menghujani istrinya dengan cinta. Berbenah? Kumohon, lupakan! Barang-barang mereka masih berserak tak karuan. Mereka hanya mandi, rebahan, makan, bercinta, mandi lagi, tidur sebentar, lalu ... bercinta lagi. Love always crazy.
Kini ketika menjelang siang, Jen hanya memasang wajah bersungut dan masam ketika berhadapan dengan suaminya yang tampak berpuas diri. Celebrate yang luar biasa indah membuat pria itu melebarkan senyum hingga menggusur pipi. Cekungan di sana, mata yang menyipit, dan suara desis tawa—kadang ia melepaskan dengan lugas—menjadi sangat akrab di telinga Jen. Ini memang sudah jam sembilan pagi, dan mereka masih tampak kuyu—berantakan malah—terutama Jen. Ya, si gila suaminya usai subuh terus menggempurnya hingga membuatnya nyeri pinggang dan tertidur, ia baru bangun beberapa saat lalu dan sarapan sekarang.
Bubur ayam yang Darren pesan menjadi menu pembuka hari yang akan terasa melelahkan dan panjang. Jen makan sambil berbalas pesan dengan Vaya. Mereka janji keluar hari ini untuk 'membuang' baju sisa yang masih ada beberapa kodi. Meski sebenarnya ia sangat lelah dan hanya ingin bersahabat dengan kasur. Namun, Vaya telah meminjam mobil kakaknya, jadi ia tidak bisa seenaknya membatalkan ucapannya sendiri.
Darren mendecak kesal melihat istrinya yang butuh asupan makanan itu malah asyik bermain ponsel, bukan segera menghabiskan makanannya. Ia langsung menyambar sendok dan berpindah posisi ke sisi Jen lalu menarik dagu Jen agar menghadapnya. Membuka paksa rahang itu dengan kedua jemarinya lalu menyuapkan satu sendok penuh bubur yang hampir mendingin.
Mata Darren terus menghujani Jen tatapan tidak bisa dibantah hingga membuat Jen hanya bisa diam dan menurut. Ia meletakkan ponsel dan makan dengan patuh, tanpa suara dan di suapi oleh suaminya yang berubah menjadi galak.
"Udah, aku udah kenyang ...." Jen menjauhkan wajahnya dan berpaling. Dua porsi bubur itu akhirnya mereka makan bersama. Darren menyuapi Jen dan dirinya sendiri bergantian dari sendok yang sama. Bukan ... bukan Jen jijik atau takut tertular oleh bakteri Darren tapi Darren begitu jahil ketika menikmati satu sendok penuh bubur dengan gerakan menjilat dan sepertinya sendok itu sangat nikmat. Tentu perlakuan itu membawa ingatannya kepada peristiwa semalam dan pagi tadi. Ya, seperti itu Darren memperlakukannya.
"Habiskan! Atau mau suapi dengan bibirku langsung?" kecam Darren seraya bergerak hendak bangun.
Jen menahan napasnya, ini gila. Ancaman Darren sungguh mengerikan. Ia menggeleng. Jangan!" cegahnya ketika tangan Darren bersiap mengambil satu sendok bubur dan meletakkan di depan bibirnya.
"Oke, akan aku habiskan ... tapi aku makan sendiri." Ia mengambil sendok lain dan mulai makan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang masih kacau ini.
"Biarkan saja, aku sudah manggil orang untuk membantu kamu beberes. Kamu kembalilah tidur!" Darren menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tapi ia bukan tak tahu ekspresi keberatan yang menguar bersama sorot mata itu.
"Aku hari ini akan keluar dengan Vaya ...," ucap Jen berniat mengatakan pamit. Ia menyendok bubur dengan manik mata yang terus mengawasi Darren. Ia khawatir suaminya itu tidak mengizinkan.
"Pergilah, tapi jangan lama-lama. Segeralah pulang. Dan berangkatnya aku antar!" enteng Darren sambil terus menyantap makanannya. Ia baru menatap Jen ketika makanan itu sudah tandas.
"Aku hanya memastikan kamu ngga kenapa-napa," sambungnya usai mengernyit melihat ekspresi Jen yang sedikit cemberut.
"Iya, aku ngerti. Aku hanya mau menjual murah baju-bajuku, kok ... lalu aku akan—" Jen berhenti. Ia nyaris kelepasan bicara. Ini hanya rencana dalam otaknya saja. Belum mau mengatakan pada Darren terlebih dahulu.
Jen menggeleng, "enggak ... akan mengosongkan tempat itu setelah semua habis." Jen kembali menyendok bubur, ia menggeser duduknya agar tak berhadapan dengan suaminya yang tampak mempertanyakan kalimatnya yang menggantung.
Darren mencebik, Jen terlalu mudah ditebak dengan ekspresinya yang kurang meyakinkan saat berbohong. "Segera mandi dan bersiap! Aku akan menunggumu di sini!"
__ADS_1
Ia memutuskan untuk membiarkan Jen dengan rahasianya. Toh pada akhirnya, dia akan mengetahui semua dengan mudah.
Jen beranjak, ia mengemas bekas makannya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Jangan lupa tutupi cap stroberi di lehermu!" Jen refleks mencekal lehernya dengan cepat, lalu mata itu membola dengan semu merah kembali merekah. Detik berikutnya, ia berlari dengan cepat ke arah kamarnya.
Darren tergelak melihat istrinya yang sangat polos itu. Ternyata, galaknya cuma sampul saja!
***
Jen membenahi tas selempang yang semula kurang pas pada tempatnya sambil berjalan ke arah Darren yang sedang meminta sopir taksi menunggunya sejenak. Mereka memesan taksi online untuk sampai di JC. "Nanti gak usah dijemput—"
"Mas! Bang! Yang!" Darren menyambar ucapan Jen yang mungkin akan memanggilnya 'Ren'.
Jen memutar bola matanya dan diakhiri sebuah dengusan kesal. "Just Darren apa tidak boleh? Aku enak panggil kamu gitu!" Bibir mengerucut itu segera di jumput dengan jemari Darren yang menguncup.
"Istriku 'kan pintar, jadi harus dibiasakan menghargai suami. Lagian panggilan sayang itu akan mengeratkan penikahan kita. Jadi semacam lem atau isolasi dobletape."
Jen menahan senyum, "apaan, sih?" Ia berjalan terlebih dahulu dengan senyum lebar.
"Yang, ya ... plis! Panggil aku Yang atau Bang, deh! Ngarep banget!"
Jen berhenti dan menatap pria itu dengan senyum penuh misteri. Ia mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Akan aku usahakan ... Yang!"
Darren tersenyum senang. "Kenapa ngga Bang?"
Jen yang sudah melangkah, kembali berbalik. Kali ini ia tampak kesal hingga Darren berhenti di jarak aman. Istrinya sedang kesal.
"Nanti dikira abang bakso, abang martabak, atau lebih parah abang preman!"
Darren terkekeh dan mengulurkan tangannya di sekitar bahu Jen. Merengkuhnya dekat. "Katakan love you!"
__ADS_1
"Ngelunjak!" Ia menyikut iga Darren hingga pria itu membungkuk dan mengaduh.
"Sakit, Yang! Kejam banget!"
"Salah sendiri!" ketus Jen sambil berlalu.
Mengatakan kata 'love you' baginya sangat sulit. Bibirnya seperti kelu, seolah ada rantai yang menahannya. Tapi dalam hatinya, ia perlahan mengakui kalau selama ini Darren lah yang ia cinta.
Dulu, saat melihat Darren jalan dengan Beby, ia hanya merasa hampa dan marah saja. Jen berterus terang sekarang, kalau dulu merasa sangat kesal melihat Darren seperti berhenti berharap padanya. Padahal, melihat Darren di sekitarnya, mengejarnya, mengharapkan balasan cinta itu membuat hatinya 'mongkok'. Merekah dan besar hati. Ia merasa berkuasa.
"Manten baru makin mesra, euy ... duh, untung dulu gak nolak pas di suruh nikah sama Yayang Darren." Vaya mengintip di balik kerai vertikal yang menutup kaca toko milik Jen tersebut. Ia tersenyum penuh arti, lalu melebar ketika senyumnya tak mampu mendeskripsikan kegelian di hatinya.
"Apaan, sih!" Jen merengut, menutupi senyum yang diam-diam muncul.
"Ngaku aja, kalau ngga ... Darren bakal kurebut! Sayang aja, cogan begitu dicuekin, dianggurin. Mending sama Vaya ... diapa-apain!" Vaya menggerakkan seluruh jemarinya seperti menggerayangi. Alis wanita itu naik turun. Bibirnya tergigit dengan suara mendesis.
"Sembarangan! Gak boleh!" Jen mendelik galak sehingga membuat Vaya tergelak.
"Cie ... yang udah cinta! Bukan dianggurin lagi keknya. Tapi dipisangin!" Vaya terbahak hingga memegangi perutnya. Ia belum berhenti meski Jen membungkam mulut Vaya dengan telapak tangannya.
.
.
.
.
.
Dah malem, monggo yang mau ... bobok! Emangnya mau apa malem-malem?😂😂😂😂
__ADS_1