Suami Settingan

Suami Settingan
Untung Tampan!


__ADS_3

"Apa melahirkan itu sakit?" tanya Jen pada suatu sore saat mereka berdua hendak melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit.


Darren tersenyum, tentu dia tidak pernah tau bagaimana rasanya hamil maupun melahirkan, sehingga ketika seorang wanita hamil bertanya seperti itu, yang dia lakukan hanya menggenggam tangan Jen semakin erat. "Yang pasti berjuang itu selalu menyakitkan, Sayang ...."


Jen menipiskan bibir penuh kekhawatiran, tanpa sadar kepalanya mengangguk dan mengusap perut yang bergelombang tak karuan setiap kali mendapatkan sentuhan darinya. "Mereka terlihat bahagia ... dan aku juga akan melakukan hal yang sama, tidak peduli sakit ataupun terluka."


Darren menggenggam tangan Jen semakin erat dan menciuminya, seolah menunjukkan bahwa dia sedang memberikan dukungan terbaik untuk sang istri. "Asal kau tetap menjaga dirimu dan ingat masih ada aku yang membutuhkanmu," kata Darren bersungguh-sungguh. " ... kau tau aku tidak bisa hidup tanpa kamu, kan?"


Darren menolehkan kepalanya ke arah Jen dan mengecup punggung tangan Jen dengan lembut sekali lagi.


Jen tidak tahan untuk tidak tersenyum, "Ya ... terkadang kau sangat menyebalkan dan membuatku sangat marah. Baiknya aku pikirkan lagi kenapa aku harus mempertimbangkamu pada akhirnya."


Darren merengut, "Yah, aku memang begitu dan aku rasa kau masih punya dendam yang belum terselesaikan, jadi pertimbangkan bahwa setelah ini kau masih punya pekerjaan untuk menyiksaku."


Jen tertawa yang terus saja ditahan-tahan agar perut bawahnya tidak terlalu tertekan dan akan membuatnya meringis kesakitan lagi. Sejujurnya, jika boleh ... dia ingin mempertahankan mereka sedikit lebih lama di dalam perutnya. Melindungi mereka dan tangan-tangan dunia yang menakutkan.


"Mereka anak-anak yang kuat, karena momy-nya adalah momy terhebat," kata Darren tiba-tiba dan membuat Jen langsung menoleh. Sedikit bertanya-tanya kenapa Darren bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.


"Tidak sulit membaca mata dan ekspresimu ... jadi jangan begitu heranlah." Darren melirik Jen dan menaik turunkan alisnya, seolah apa yang ia katakan adalah hal-hal biasa dan lumrah Darren lakukan pada Jen.


"Aku tau bahkan sampai ke dalam sel terkecil di tubuhmu, kau mau apa, kau akan bereaksi seperti apa, dan kau akan senang atau sedih karena apa ... itu sangat mudah kuketahui asal kau tau ....!"


Jen tertawa lirih, takjub dengan kata-kata Darren yang suka sekali membual. "Baiklah Tuan Sok Tahu ... kali ini kau benar, dan yah ...." Jen berpaling dengan sendu ke arah depan, " ... aku memang tidak ingin kehilangan perasaan yang menyenangkan ini."


Jen menunduk dengan resah, "Entahlah aku hanya merasa mereka akan meninggalkan tubuhku—"


"Mereka harus meninggalkan tubuhmu, Sayang ...." potong Darren cepat. Lantas ia berpaling ke arah Jen dan tersenyum ketika Jen menyorotinya penuh tanya, sedikit tidak suka dengan perkataan Darren.

__ADS_1


"Namanya hamil, tetap saja bayinya harus dikeluarkan ... kalau tidak, kasihan kamu dan bayinya."


"Owh ... ya." Jen tertawa salah tingkah, "Yah ... memang! Kau benar ...."


Jen menundukkan kepalanya dengan senyum masih tersemat. Ia menyapukan tangannya di permukaan perutnya lagi. "Tapi ... aku merasa mereka tidak—"


"Tidak akan terjadi apa-apa, Sayang ... berdoa yang baik-baik saja, kurasa kau hanya terlalu lelah dan banyak pikiran karena kondisi mereka. Bukankah mereka tetap memelukmu meski dunia ingin memisahkan kalian? Aku rasa, mereka juga tidak akan rela membiarkanmu bersamaku begitu saja."


Begitulah Darren, dia tidak pernah putus memberikan support untuk Jen. Menyuntikkan pikiran yang baik terus menerus, menunjukkan cahaya untuk kegelisahan hati Jen. Meski terkadang dia sangat konyol saat mendukung istrinya tersebut.


"Sudah-sudah, jangan memikirkan apa-apa lagi, kita hanya perlu dengar dan ikuti apa kata Dokter Luna dan Dokter Andina nanti. Jangan mikirin yang enggak-enggak ...."


Jen menunduk dalam diam, menatap perut yang entah berapa hari lagi akan mengempis dan kehilangan rasa berdenyut indah di sana.


"Mami sayang kalian ...."


Hari ini memang sudah hampir dua bulan menjelang sejak kejadian terakhir. Jen memang akan melahirkan dengan operasi caesar, dan hanya menunggu bayi-bayi itu siap. Menurut Dokter Luna, mengingat kondisi Jen, bayi-bayi itu akan dilahirkan tidak sampai seminggu lagi.


Jen sendiri malu jika sampai mereka melihat bentukannya yang sangat mengerikan. Bukan hanya kepada Mama dan Papanya saja, tetapi kepada Darren juga. Ketika mereka bercinta, Jen tidak memperbolehkan Darren menanggalkan pakaiannya, juga tidak boleh melihat ke arah lain selain matanya.


Ketika semuanya telah usai, seperti biasa ... Jen yang hanya akan mendengarkan kabar yang baik-baik saja, makan di kafe tak jauh dari rumah sakit bersama Kira, sementara Darren—kali ini bersama Harris, menghadapi Dokter Luna dan Dokter Andina.


"Jen harus tau kondisinya ...," kata Luna akhirnya. Dia menatap tajam Harris yang tidak setuju kalau Jen diberitahukan keadaan yang sebenarnya. "Ini akan lebih baik untuk menyiapkan mental Jen dan bersiap menghadapi apapun keadaannya nanti."


Darren setuju, tetapi Harris tidak mau. Namun perkataan dari Dokter Luna membuatnya mengkaji ulang ketakutannya yang tidak berlebihan. Pria tua yang masih tampan itu hanya bisa menghela napas ketika Dokter Luna membentaknya barusan.


"Jen tumbuh jauh lebih kuat dari yang anda pikirkan, Tuan ... kita harus mengupayakan yang terbaik, tetapi jangan sampai keadaan nanti akan membuat Jen merasa bersalah. Anda tidak boleh terus menutupi keadaan yang sebenarnya, hanya demi terlihat bahwa semua baik-baik saja," kata luna tegas dan tajam. Hal itu membuat Darren tegang.

__ADS_1


Apa Dokter Luna sudah siap jadi ibu rumah tangga seutuhnya?


Darren mencoba mencairkan suasana dan berusaha menjelaskan apa yang mereka alami selama ini. "Em, begini, Pa ... Jen rasanya sudah tau apa keadaannya saat ini," kata Darren pelan. Bingung mau menjelaskan dari mana.


"Begini, pa ... Jen mungkin sudah mencari dokter lain sejak merasa ada yang tidak beres dengannya. Aku memastikan sendiri, dan dia tampak tidak terpengaruh, aku juga tidak melakukan apa-apa, selain mencoba berbicara dengan kata-kata yang bisa diterimanya tanpa harus menyulut emosi. Jadi, aku hanya mendukungnya saja, tanpa berniat membuatnya berpikir aku menyembunyikan sesuatu. Aku tidak menutup-nutupi, tetapi tidak juga memberitahukan apa kabar buruknya secara gamblang."


"Yah ...," Harris mendesahkan napasnya di udara, "mungkin sebaiknya begitu, aku terserah kalian saja. E ... sejujurnya, aku hanya tidak tega membunuh mimpi anak-anakku saja. Jika bagi kalian itu tidak apa-apa, baiklah ... aku ikut apa kata kalian saja."


No-no, jika kalian berpikir kalau Tuan Harris ini sedang menyerah, kalian salah. Baik Luna maupun Darren malah merasa kalau mereka sedang diancam. Sorot mata tajam itu seolah mengatakan kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak dan cucuku, kalian berdua yang akan menaggung akibatnya.


Darren menelan ludah dibalik senyumnya yang terlihat lega, sementara Luna duduk tegak kembali di kursinya, seakan baru menyadari kalau dia saat ini sedang bertaruh. Mempertaruhkan segalanya. Sedangkan Andina yang belum banyak berinteraksi dengan bos besar itu, berpura-pura sibuk dengan lembaran kertas yang biasanya ia isi dengan keluhan-keluhan pasien. Dokter polos itu sedang membaca berulang-ulang lembaran kosong.


Andina berpikir—lebih tepatnya menyadari, dibalik gaji yang besar, ada usaha yang besar dan ada bos yang punya tatapan tajam mengerikan.


Ya Tuhan ... untung tampan.


.


.


.


.


Ha ... karena aku upnya satu bab, jadi aku buat panjang kali tinggi ya ... kalau mau dikalikan lebar, melebar ke Jeje aja, atau ngikut ke In*vel, kalau suka yang panjang dan durasinya lama🤣 tenang ... gratis kok, cuma kalau mau sedekah sama othor cantik ini, bacanya nanti-nanti saja kalau udah digembok🤣🤣


Kaboor ah, takut ditabok💃💃

__ADS_1


Oh, ya ... selamat bertambah tua semuanya, berkurang setahun lagi jatah hidup kita semua di dunia. Tahun baru, biar bermakna, yuk koreksi diri alih-alih merayakan dengan cara yang kurang berfaedah. 🙏 Selamat menjalani tahun 2022, semoga harapan kalian semua terwujud di tahun ini🤲🏻🙏


🥰🥰🥰💫💫💫


__ADS_2