
Jen mengerucutkan bibirnya menyuarakan sebuah siulan tak jelas nada dan lagunya. Menunggu Darren pulang yang malam ini sepertinya dia agak sibuk di tempat kerjanya. Memasukkan beberapa bahan masakan kalengan dan frozen food yang masih mendominasi kulkas barunya, sedikit sayuran, daging ayam, telur, dan buah-buahan. Susu cair yang sengaja Jen siapkan untuk suaminya jika esok atau kapanpun, suaminya tersebut melakukan olahraga pagi.
"Haaas! sudah selesai ...." Kedua tangannya saling menepuk pelan dengan gerakan berulang. Ia telah memenuhi dapurnya dengan bahan pangan, jadi esok ia akan bangun pagi-pagi dan menjalankan roda rumah tangganya.
"Kaya ada yang kurang ...," ia meneliti bumbu dapur, kaldu-kalduan, garam, gula, teh, dan kopi. Telunjuknya menari dengan anggun diatas benda-benda tersebut. "... apa, ya?"
Tangan Jen menggaruk rambutnya yang tiba-tiba sangat gatal, padahal baru saja ia mencuci rambutnya.
Matanya bergerak liar secara berputar, "aha ...," menjentik jemarinya, ia lantas berjalan dengan gerakan riang seperti menari menuju kamar dan mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu yang langsung ia kirimkan pada suaminya.
"Mantep nih ...," gumam Jen sambil memeluk ponselnya, tubuhnya bergoyang ke kanan dan kiri saat membayangkan oleh-oleh yang dibawa Darren.
Tak sampai setengah jam berselang, terdengar suara motor memasuki halaman diikuti suara suaminya. Jen yang sedang nonton JaringTV beranjak bangkit dengan senyum lebar penuh kegembiraan.
Namun, semua itu perlahan memudar saat melihat siapa yang sedang bersama suaminya tersebut.
"Makasih, ya, Tam ...." Darren menyerahkan setir kemudi sepeda motor yang tidak dimatikan mesinnya kepada Tamy dan langsung diambil alih oleh Tamy dengan posisi Darren menjaga posisi motor tersebut tetap berdiri.
"Aku langsung balik, ya ...." Tamy tersenyum kepada Darren sebelum menurunkan kaca helm retronya. Namun sebelum semua itu, Tamy melihat Jen yang muncul dari dalam rumah, menatapnya dengan muka masam. Darren yang membelakangi posisi Jen sepertinya tidak menyadari kehadiran istrinya.
"Jangan ngebut ...," ucap Darren sedikit keras sebab Tamy telah memundurkan motornya, hanya lambaian tangan sebagai balasan atas peringatan dari sahabatnya tersebut.
Darren memutar tubuhnya sembari mendorong ke arah belakang rambutnya yang telah memenuhi dahi. Senyumnya masih tersisa juga bekas gelengan kepala melihat kelakuan sahabatnya tersebut.
"Loh, kok masih di luar ...?" Darren terenyak melihat Jen memeluk kusen pintu depan dengan bibir manyun. Napasnya mengela cepat ketika Jen tak menyahutinya, malah merengut semakin masam. "Kenapa?"
Langkahnya tertuntun untuk menghampiri istrinya tersebut. Otaknya terus berputar mencari kesalahan yang membuat Jen manyun. "Emangnya masih mau makan udah malam begini?"
Lalu mengimbuhinya dengan 'hem' untuk menghilangkan kesan menyudutkan.
__ADS_1
Jen kembali teringat ucapan mamanya tadi siang, sehingga ia menarik napas dalam lalu membuangnya pelan seraya menggelengkan kepalanya. Dia manyun karena melihat Tamy yang bersama suaminya. Entahlah, Jen selalu kesal melihat lelaki itu baik kepada wanita lain. Wajar 'kan? Namanya juga suami?
"Ya udah, aku kelupaan tadi, jadi gak sempet beli ... kamu belum makan?" Ia mengulurkan tangannya ketika Jen menggapai tangannya tersebut.
Jen mengecup sekilas tangan suaminya, jika boleh berlama-lama pasti dia mau banget. Karena hingga sekarang, hatinya masih sedikit terusik oleh adegan suaminya dengan Tamy tadi. Uh, nyebelin tuh orang!
"Udah, kok ...," jawab Jen sambil menegakkan tubuhnya. "... cepetan mandi! Asem banget bau badanmu." Sedikit menaikkan suaranya agar rasa itu segera pergi.
Darren hanya menjawab 'iya' dengan kalem dan beranjak pergi setelah mengusap rambut Jen. Memindai wajah hingga ke bawah dengan sorot mata yang merindu.
Jen kembali menonton JaringTV melihat tayangan ulang sebuah talkshow ringan yang cukup menghibur tetapi tetap menyelipkan wawasan. Jen tekun sekali menyaksikan penuturan dokter Girlyke, yang membahas masalah dalam berumah tangga. Khususnya dalam urusan ranjang. Meski sedikit merinding, Jen tetap memasang kupingnya, tanpa membiarkan satu helai rambutpun menghalangi.
Durasi ... Jen mencebikkan bibirnya saat mendengarkan ini. "Durasi bikin capek, Dok ...," keluhnya pelan di ikuti gerutuan bernada 'heuh'. Ia segera meraih remot untuk menggantinya dengan saluran lain. Saraf di permukaan kulitnya mulai geli.
Chanel selanjutnya tetaplah drama China sebagai pilihan. Selain drakor, Jen juga menyukai dracin dan Thaidrama. Keuwuan mereka sangat manis hingga membuat Jen meleleh tak terkendali, membuat otaknya traveling kemana-mana.
Dasar istri polosku yang galak, batin Darren. Ia beranjak ke dapur untuk membuatkan istrinya itu secangkir teh untuk menemani malamnya. Namun, ia begitu tercengang melihat dapur yang sudah rapi dan penuh dengan perabotan baru. Entah darimana asalnya, nalurinya sebagai kepala rumah tangga tiba-tiba tercubit. Ia pikir 'belanja' yang dimaksud adalah belanja kebutuhan bahan masakan. Ternyata perabot dapur yang komplit.
Bolehkah ia merasa tidak berguna sebagai suami?
Menyegerakan tangannya membuat teh, Darren segera menyusul istrinya di sofa depan tivi. "Biar gak dingin ...," tawarnya dengan cangkir telah terulur di depan wajah Jen.
Jen yang merebahkan tubuhnya di sofa langsung mendongak dan bangun sebelum menerima cangkir tersebut dengan gerakan tergesa-gesa karena terkejut, "makasih ...." Meniup cairan merah itu sekilas sebelum menyesapnya perlahan. Manik matanya terus mengawasi wajah suaminya yang datar, kurang mengenakkan.
Darren duduk pada tempat yang di tinggalkan Jen tanpa menjawab pertanyaannya, tetapi pria itu mengangguk seraya menumpukan sikunya ke lutut hingga tubuhnya condong ke depan. Jen menelan ludah melihat sikap suaminya ini. Ia sampai meliukkan bibirnya karena heran. Lalu ia teringat akan ganjalan dihatinya yang perlu ia utarakan malam ini pada suaminya tersebut.
"Em ... aku tadi belanja sama mama," Darren langsung menoleh mendengar perkataan Jen. Wanita itu membasahi bibirnya dengan ujung lidahnya, "aku keinget Ranu ... sebenarnya selama ini gimana perasaan kamu ke dia?"
Kepala Jen mengedik turun, menyadari pertanyaannya agak membuat suasana menjadi canggung hingga lidahnya terasa aneh saat menanyakan hal itu, tapi itu juga perlu untuk sikapnya ke depan.
__ADS_1
Darren kembali membawa pandangannya ke depan, lalu menegakkan tubuhnya di punggung sofa. Ia tampak menghela napas, lalu menyesap teh yang sejak tadi hanya ia mainkan saja.
Jen menunggu jawaban Darren yang agak lama dengan antusias, ia mengabaikan drama yang cukup menguras emosi. Hidupnya lebih penting!
"Kamu udah tau, 'kan? Kenapa mengulangi lagi pertanyaan yang sama?" Darren berkata sangat dingin dan datar, ditambah mata itu tak menyiratkan kehangatan lagi. Malah mengambang kekesalan.
Eh!
Jen memundurkan tubuhnya karena terkejut oleh pernyataan Darren. "O-Oya? Kapan aku bertanya?" mata Jen mengedip beberapa kali seraya memiringkan kepalanya, mencoba mengingat, tapi tak juga ingat. "Kapan?" Ia kembali menatap sisi wajah suaminya yang luar biasa tampan dari posisi ini.
Darren tampak kesal, hingga napasnya terhela dengan kasar. "Berulang kali, hanya kamu yang gak pernah perhatikan!" Pria itu bangkit dengan gerakan yang sangat kasar menuju kamar.
Jen terbengong dan mengedip lagi berulang-ulang. "Apa aku salah bicara? Kenapa dia marah, sih?" Jen memajukan bibirnya dengan pikiran yang tidak mengerti. Pandangannya masih setia mengekori kepergian Darren hingga lenyap di balik pintu kamar.
.
.
.
.
.
Hutang di bayar nyicil, temansđ
Dah, gitu aja! Ingat untuk meninggalkan jempol dan omelannya di setiap bab, karena aku upload bersamaan. Ngokey!đ
Noted: Tidak menerima omelan yang asem!
__ADS_1