Suami Settingan

Suami Settingan
Musuh, Pacar, dan Suami


__ADS_3

Dengan Darren yang mengemudi, ia menuruti kemana telunjuk istrinya terarah. Wanita itu memang tidak mudah menyerah apalagi minder. Ia optimis dan penuh semangat. Itu yang Darren sukai.


Dengan senyum mengembang, Darren mengusap kepala istrinya hingga membuat wanita itu menoleh. "Ada apa?" tanyanya dengan kening mulusnya berkerut. Matanya menciut heran.


Darren menarik tangannya usai menyelesaikan usapannya hingga ke punggung atas istrinya. Menempatkannya di atas lingkaran kemudi. "Enggak ...," ucapnya bernada memang tidak ada apapun yang terjadi. Ia menggeleng untuk menegaskan ucapannya.


"... hanya makin sayang sama kamu." Datar. Seolah Darren adalah pria yang fasih mengatakan kalimat gombalan yang membuncahkan dada.


Jen menipiskan bibir dengan pipi yang naik, lalu perlahan barisan giginya muncul seolah tak mampu membendung rasa senang yang menyelubungi.


"Eheemmm ...." Vaya berdehem dengan intonasi yang panjang dan menyela. Semula wanita itu sibuk membalas pesan dari orang-orang yang hendak memesan, tetapi ketika melihat aksi dua orang di depan, seketika fokusnya buyar.


Gak tau kalau di belakang ada jomblo kronis sedang melihat, apa?


Vaya memalingkan wajahnya ke luar kaca dengan gerakan yang menyindir. Tangannya memukul jok mobil secara perlahan. "Nasib lo, Vay ... cuma jadi rengit doang," ucapnya pada jok mobil yang memantul. "Sabar Vay, lo juga bakal dapet jodoh, kok ... jodoh yang bikin kamu meleleh."


Vaya menganggap dirinya sedang ngobrol dengan jok mobil. Lantas ia menjawab ucapannya sendiri tanpa menggubris Jen yang baru saja menoleh ke arahnya. Ekor matanya menangkap itu.


"Lo pikir gue margarin, mudah leleh?" sungutnya sebal dibuat-buat. Ia langsung duduk tegak kembali. Matanya menyambar Jen yang menertawakannya.


"Jahat lo jadi orang! Kenapa bikin gue jadi iri sama kalian? Nyebelin lo pada!" Vaya berkata sampai dagunya maju.


"Maaf, Vay ... aku gak maksud buat kamu ngerasa begitu!" Darren menjawab dengan sesekali memerhatikan wajah Vaya dari kaca yang menggantung di sebelah kirinya.


"Aku jadi curiga sama kalian berdua ... jangan-jangan, kalian dari dulu emang ada hubungan? Ngaku ngga?" Vaya maju hingga berada di antara dua jok bagian depan.


Jen yang kembali menghadap ke depan setelah melihat Vaya bergerak menuju ke arahnya, hanya bisa menunduk sambil memainkan bibirnya. "Enggak kok, mana ada kita begitu, ya ngga, Ren?" Ia melirikkan kepalanya ke arah Darren. Berharap pria itu membalas tatapannya. Namun sepertinya, pria itu sedang fokus pada jalanan, mengabaikan pertanyaan konyol Vaya dan permintaan kesepakatan Jen.


"Darren diam, tuh ... kamu bohongin aku? Sembunyiin apa kamu dariku, ha?" Kali ini Vaya sedikit kesal. Andai ada yang di sembunyikan sahabatnya ini, dia akan mematahkan tulang ayam yang paling lunak untuk memuaskan rasa kesalnya. "Jawab ...!" sentak Vaya menuntut.


Darren menoleh, lalu ia berdecak. Tak sampai lima detik Darren kembali mengawasi jalanan. Ia tersenyum saja sebagai respons pertama. Sangat misterius sampai membuat Vaya penasaran setengah mati.


"Oke, fix ... kalian tarik ulur sebelum nikah dan melihat cepatnya acc lamaran, lalu jarak melamar dan nikah yang gak lama, aku yakin kalau kalian ...." Vaya bergantian menatap kedua sahabatnya. "... hamil di luar nikah!"


Ucapan Vaya membuat Darren menginjak pedal rem secara mendadak hingga mobilnya berhenti tiba-tiba.

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong!" ucap Darren.


"Mulut jangan asal mangap!" Jen memutar tubuhnya dengan pipi merona dan tangan melayang untuk membekap—sedikit meremas—bibir Vaya. Gigi Jen beradu begitu kuatnya hingga membuat kekesalan di wajahnya tampak.


Vaya menarik-narik tangan Jen dari wajahnya, ia juga menggelengkan kepala agar ia bebas dari jeratan tangan sahabatnya tersebut.


"Ya, aneh aja, masa abis kesel-keselan, abis tengkar, abis musuhan, sekarang kaya Abi dan Umi," jelas Vaya akan kecurigaannya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, ya, Gais. Benci jadi cinta, bahkan cinta jadi benci adalah hal lumrah yang sering kita temukan dalam hidup sehari-hari.


Maksud Vaya, no problem what happen between them, yang pasti dia sangat senang melihat keakuran mereka.


"Kalau hamil juga gak masalah, 'kan?"


Vaya mundur sebelum ada timpukan susulan yang mungkin saja bisa memporak-porandakan kepala atau tulang bahunya. Jen sangat kejam jika menimpuk sampai badan sakit semua.


Jen memutar penuh tubuhnya, lalu meletakkan tubuh di sandaran sofa. Matanya melebar nyaris lepas saking kesalnya pada sahabatnya yang 'Masya Allah' lemes dan ember sekali mulutnya. "Lu tau—"


"Jen ...." Suara lembut Darren mengatupkan bibir Jen, menciutkan kelopak mata yang nyaris menumpahkan isinya. Tubuh itu merosot turun dan duduk dengan tenang kembali.


"Good girl!" Ia mengusap kepala Jen ke arah depan dengan lembut hingga Jen menunduk.


"Sekarang kita mau kemana?" Pertanyaan Darren tetap lembut, tapi siapa sangka itu berhasil mengoyak lamunan Vaya. Melamunkan kekaguman akan pria di depannya itu.


Beruntung banget kamu, Jen ... gadis bar-bar dapat ikhwan saleh dan rupawan. Gusti ... dia jelmaan malaikat kali, ya.


"Pulang saja, kamu pasti lelah," ucap Jen sambil tersenyum sangat manis.


Darren mengendikkan kepala, tidak terima dengan panggilan 'kamu' tanpa embel-embel 'Yang'.


Jen menghela napas dalam. Baiklah.


Ia mengatur wajahnya yang sempat kesal—karena Darren menurutnya lebay dan kesal sebab ia sering alpa—dengan senyum merekah. "Pulang saja, Yang ...," ralat Jen.


Vaya menggelengkan kepala, ia benar-benar takjub dengan kekuatan ijab kabul. Jangankan hanya belum cinta, musuhan saja jadi manut kaya marmut. Oke, fiks, besok-besok ia bakal mau kalau di jodohkan.


"Oke, Sayang ... kita pulang dulu, tapi naik busway ... mau?" Jen mengangguk, lalu hadiah usapan kembali mendarat hingga sampai pipi. Berakhir sebuah cubitan kecil di sana.

__ADS_1


Vaya melihat itu langsung membuang muka, besok-besok dia tidak akan mengizinkan Darren datang dan menjemput mereka. Lagi pula, untuk apa coba menjemput tapi pada akhirnya hanya akan naik busway? Taksi banyak, mobil Jen juga ada di rumahnya, tidak akan kekurangan mobil mewah. Lha kok naik bis!


Tipe-tipe orang kaya yang merakyat atau bosan dengan kemewahan! Suka heran sama tingkah mereka.


***


Di dalam busway yang sedikit sesak, sebab saat ini banyak pengguna moda transportasi yang di klaim mampu mengurangi kemacetan itu membludak, Jen berdiri dengan berpegangan pada handle grip yang menggantung di atas kepalanya. Ia menghadap samping dengan lengan Darren posesif melingkar di pinggangnya. Sesekali ia mendekap wanita itu jika ada desakan dari penumpang lain. Balasan dari Jen adalah sebuah senyuman penuh rasa terima kasih.


"Gak pernah 'kan pacaran di bis?"


"Gak pernah karena aku gak pernah punya pacar ...," jawab Jen menegaskan.


"Diego?"


"Cuma deket aja, gak pernah jadian." Jen menaikkan pandangannya ke arah Darren yang menatapnya penuh senyum. Semula, Jen asyik melihat luar kaca bus yang cukup ramai oleh aktifitas manusia. Sore dengan menikmati secangkir kopi sepertinya sangat menyenangkan.


Kepala Darren berkecamuk dengan keindahan yang memesona. "Jadi aku ini, musuh, pacar, sekaligus suami. Yang pertama dan terakhir buat kamu? Satu-satunya di hati kamu?" Darren menyeringai.


"I—" Jen menelan kembali kata 'iya' yang nyaris meluncur. Keningnya mengerut ketika otaknya mampu mencerna ucapan suaminya itu.


Darren memajukan kepalanya, "pastinya iya ... dan aku sudah tau!"


Jen merengut tetapi senyum tetap saja terbit dengan malu di antara ekspresinya yang mengerut.


Tentu saja, jawabannya iya ...."


.


.


.


.


- Sori mayori baru up🙏 padat merayap ke jalur ke puncak pas libur lebaran(katanya)😁

__ADS_1


__ADS_2