
Time so flies ….
Tanpa terasa, Ace sudah berusia lima tahun. Anak lelaki itu memiliki tingkat keaktifan yang sangat tinggi. Sampai-sampai, setiap orang tidak mengharapkan kunjungannya. Nyaris semua orang terkena dampak dari ulah pria kecil tersebut.
“Mami …!” Jen dari dalam ruangan JC yang baru, membuang napasnya dengan kasar. “Mami … Ace is koming!” teriakan melengking dan apa adanya itu sungguh mengganggu. Jangankan orang lain, Jen saja—jika tidak ingat betapa susahnya membesarkan anak itu, rasanya ingin kabur saja jika Ace datang. Anak itu pasti akan mengacau di sini.
Jen membenarkan posisi kacamatanya. Mendesis dan memijat pelipisnya dengan gerakan memutar yang kuat, seolah tindakan itu bisa menyisakan satu tempat kosong di otaknya untuk menghadapi polah tingkah Ace.
Pintu ruangan ini tidak tertutup sempurna, tetapi Ace mendorongnya kuat-kuat sehingga terdengar suara berdentam yang membuat ruangan hening itu menjadi pekak. Jen masih dalam posisinya, sementara, pria kecil itu berlari cepat hingga membuat rambutnya bergerak-gerak, seragam TK-nya yang sudah tak beraturan lagi berkibar-kibar. Beberapa noda mengotori baju dan kakinya, pipi dan sekitar bibir ada bekas lengket yang terlihat samar. Jen mengeluh diam-diam. Drama sakit gigi pasti akan menjadi momok mengerikan tak lama lagi. Pekerjaannya sedang penuh-penuhnya, astaga …!
“Mami kayaknya ngga suka kalau Ace datang!” pria kecil itu menangkupkan badan di paha ibunya. Menepukkan kedua belah telapak tangan kecilnya di sana. Bertepatan dengan itu, ambang pintu kembali memunculkan sosok lain, memberikan Jen kesempatan untuk mengelak dari tuduhan putranya tersebut. Padahal tadi Jen sudah kelabakan mencari kalimat yang tepat untuk mengelak dari pertanyaan mengerikan itu. Bisa dia berkata jujur, tetapi nalurinya mendikte agar menjaga perasaan bocah yang belum mengerti apa-apa itu.
“Papi gak sibuk? Kok sempet jemput Ace?” Jen mengusap kepala anaknya dengan lembut tanpa mengalihkan perhatian dari suaminya, lalu ketika bocah itu mendongak, Jen menunduk untuk mengecup kening Ace. Seorang ibu memang kerap merasakan lelah fisik dan pikirannya, tetapi nalurinya tak pernah ingkar dan alpa untuk tetap menyayangi buah hatinya. Begitulah keadaan Jen sekarang. Dia kerap kesal pada anaknya, tetapi kasih sayangnya selalu melebihi besarnya rasa kesal tersebut.
Darren tidak segera menjawab. Ia memilih untuk menghampiri Jen dan mengulurkan kasih sayangnya. “Kami ketemu di depan, Yang … sama Dinka.” Dengan teliti, Darren mengamati wajah Jen yang terlihat lelah, “sibuk, ya? Kusut banget tuh, muka?” Darren menunjuk ke titik-titik dimana Jen terlihat berbeda.
Jen mengerutkan hidungnya sembari menampik telunjuk Darren dari wajahnya. Berkata dengan ketus, tetapi tidak kesal, “itu tanda penuaan, Pi. Mami dah tua, udah keriput.” Jen melirik sarkas. Tetapi Darren hanya terkekeh kecil. Geli saja dia mendengar nada suara istrinya yang begitu sensitive jika menyangkut kata tua dan penuaan, atau ketika dia mengamati wajah Jen berlebihan. Padahal maksud Darren bukan seperti itu, Darren benar- benar melihat jejak kelelahan dan juga pikiran yang terbebani di raut wajah Jen.
“Vaya nggak masuk hari ini …,” sambungnya setelah menaikkan Ace dalam pangkuannya. Meraih tisu basah untuk mengelap wajah Ace yang belepotan. “katakan pada adikmu untuk membawa tisu atau lap buat bersihin wajah anakmu ini. Dan jangan biarkan dia memanjakan Ace. Dia anakku, kalau Dinka terus-terusan menuruti apa mau Ace, bisa-bisa Ace akan melunjak dan mengabaikan nasihat kita.”
Darren mencebik, “Vaya sakit?” Dia berusaha menelan ucapan Jen, tidak bermaskud menyangkal karena dia sependapat dengan Jen. Tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Dinka terlihat tulus dan ingin menebus kesalahan. Selain itu, Dinka memang benar-benar sayang sekali dengan Ace. Pesona anaknya itu memang luar biasa, meski sering dicap nakal.
__ADS_1
Jen menggelengkan kepalanya, tetapi Darren menukas dengan cepat. “Minta orang lain buat gantiin kerjaan Vaya, kau tidak perlu bekerja sekeras itu, Yang … aku masih mampu menghidupi kamu dan anakmu.”
“Vaya lagi bahagia karena mau nambah anggota baru,” kata Jen cepat saat Darren memilih menghindar dan menjauhinya. “Vaya baru 3 tahun menikah, dan sudah mau melahirkan anak kedua—“
“Itu masih berbulan-bulan lagi …,” tukas Darren dengan amat sangat tidak peduli. Terserahlah ya, mau hamil, mau enggak, mau sakit atau liburan sekalipun. Darren tidak pernah tertarik akan obrolan soal hamil maupun punya anak. Mungkin Jen yang keras kepala dan pantang menyerah itu tidak akan pernah mengerti akan putusan yang sangat tegas, jelas, juga tidak bisa diganggu gugat yang telah ia sahkan dalam hati dan benaknya. Just Ace, and only Ace.
Jen menghela napas dalam-dalam, berusaha untuk tidak marah ataupun mengomel panjang kali lebar. Darren sepertinya tidak mau ambil peduli ataupun takut jika dia mengomelinya. Jen tahu dia harus sabar dan lembut memperlakukan Darren agar mau mengiyakan maunya. Apalagi ini momen yang sangat tepat untuk membujuk Darren.
“Sayangnya Mami main di luar sama aunty-aunty sebentar, ya … Mami mau bicara sama Papi.” Jen membisiki Ace.
Mata hitam yang jernih itu berkilat-kilat menengadah. “Mami mau minta dibuatin adek, ya?”
“Wah, aku juga mau ikut ngobrol kalau begitu.” Ace bersiap turun, tetapi ditahan oleh Jen. Apa-apaan bocah ini?
Ace berhenti dan memandang Mami-nya, keningnya berkerut. “Why, Mom?”
Jen menaikkan alisnya dengan kesal. Anaknya ini bersikap sok dewasa dengan sikap dan pertanyaannya. Ini siapa yang ngajarin? Astaga, Ace … kamu tumbuh di lingkungan yang salah—Jen menepuk jidat. Setelah Opa dan Oma yang Masya Allah, ada Uncle dan Om-nya yang … kelakuannya minta diistigfarin terus.
“Ace juga mau adik. Selama ini Mami gak berhasil bujuk Papi buat bikinin Ace adik, jadi kali ini Ace akan berusaha bantuin Mami …,” sambung Ace saat Jen diam saja.
Jen menempatkan Ace dalam fokusnya—Darren melihat itu semua, dan hanya menghela napas. “Sayang … ini kali terakhir Mami usaha sendiri, kalau gak berhasil, Mami akan ajak kamu besok. Ya ….” Jen menekankan ujung kalimatnya, penuh permohonan.
__ADS_1
Ace tampak berpikir hingga bibirnya menguncup menggemaskan.
“Ace, Mami sibuk! Kita pulang aja, ya … jangan ganggu Mami!” Darren menyahut dari jarak yang sudah sangat dekat.
Kapan dia mendekat?
Jen terkesiap dan menahan napas, panic mencari alasan. No! jangan dulu, ini momen yang pas untuk membahas soal tambah anak. “Eh, kan belum dibuatin kopi, duduk dulu, gih! Ace biar main di luar, aku juga gak sibuk, kok, Pi.” Jen menahan dada Darren. Menghadang lebih tepatnya.
“Kembung kalau banyakan ngopi. Dahlah, selesaikan pekerjaanmu, kita bicara di rumah nanti, Ace akan sama aku siang ini.” Darren mengecup kening Jen dan buru-buru meraup Ace dalam gendongannya. “Sampai jumpa di rumah, Mami,” kata Darren seolah dia berbicara atas nama Ace. Pergi begitu saja.
Jen menjatuhkan rahangnya, mengantar kepergian suami dan anaknya tanpa bisa melakukan apa-apa. Astaga. Hilang sudah kesempatan emas untuk membicarakan soal tambah momongan. Darren begitu sulit mengabulkan keinginannya yang begitu mudah dan nikmat itu. Padahal hanya perlu banyak-banyak bercinta. Bukankah itu mengasyikkan, seharian tanpa busana dan bukankah pria menyukai kegiatan itu?
Jen menjatuhkan tubuhnya di kursi yang langsung ia putarkan dengan cepat. Wanita itu menggeram frustrasi.
*
*
*
1/5
__ADS_1