
Ketika jam makan siang telah lewat, Jen duduk dengan gelisah di balik setir kemudinya, dipikirannya hanya ada Darren. Meski begitu dia tetap bersikap ceria seperti biasa, membantu mertuanya dengan sepenuh hati. Tugasnya bertambah-tambah saja rasanya, setelah membantu mamanya membuat beberapa pesanan buket bunga, kini ia harus mengantarkan mamanya berbelanja di sebuah toko yang menjual perlengakapan untuk membuat buket bunga. Yang Jen tangkap dari semua ini adalah sebagian besar yang memesan buket bunga adalah istri-istri kolega papanya. Jen mencurigai sesuatu, tetapi ia membiarkan saja, ia hafal benar cara Harris Dirgantara bekerja. Diam dan sunyi.
"Nak ...," panggil Desy seraya memegang bahu Jen.
"Eh, ya, Ma ...." Jen tersentak, dan dia tidak sempat menguasai diri, "maaf, Jen ngelamun." Bahkan ia tidak melihat mama mertuanya masuk ke dalam mobil. Selarut apa lamuannya barusan? Mungkin juga pikirannya yang agak kacau seharian ini, jadi untuk fokus sangatlah sulit. Darren penyebabnya.
Desy hanya tersenyum menanggapi, dia sendiri tidak mempermasalahkan, dirinya cukup mengerti kalau anak mantunya ini juga kelelahan.
"Apa mama tau Darren kemana ...." Mungkin terkesan tidak tepat kalau dia yang tinggal satu atap, tetapi malah bertanya pada orang yang berlainan rumah. Namun, apa dia punya opsi lain selain bertanya pada wanita yang melahirkan suaminya ini? Setelah berulang kali menghubungi tetapi tidak ada jawaban, setelah pesan berisi betapa cemasnya dia pada suaminya tersebut, tetapi sama sekali tidak ada tuan yang membalas.
Jen tetap melanjutkan mengemudinya, tanpa bertanya kemana tujuan mereka selanjutnya. Sementara Desy, ia sedang mengecek daftar belanjaan, barang kali ada yang terlewat.
"Dia sedang mencarikan bunga untuk Tamy ...." Desy menarik pandangannya dari lembar kertas berisi list belanjaan, "kita ke pasar bunga dulu, Nak ... masih ada yang harus mama beli lagi di sana."
Untuk Tamy?
Jen mengangguk, lalu membelokkan setirnya ke arah pasar bunga yang tak jauh dari tempatnya berada kini. Jen menelan semua tanya dan rasa kesalnya lagi secara utuh. Di kerongkongannya seperti ada sebongkah batu yang susah sekali di dorong masuk, malah ingin menyembul keluar.
Untuk Tamy lagi? Sebegitu pentingnya dia? Sampai aku diabaikan? Wah ...!
Jen tanpa sadar mengeluarkan senyum sinisnya, mencengkeram erat kemudinya. Ia butuh pegangan, dia butuh pelampiasan.
__ADS_1
Jen kembali mencoba menghubungi Darren ketika menunggu mamanya belanja, tetapi masih sama saja dengan sebelumnya, Darren tidak menjawabnya. Namun, Darren membalas pesannya, mengatakan kalau dirinya masih mengantarkan Jabir dan Bisma ke bengkel sebelum kembali ke galeri.
Emotikon love yang melimpah seolah tak berarti baginya kini. Dimatanya, Darren hanya mempermainkan perasaannya saja. Setelah hatinya mulai terpaut pada pria itu, setelah dirinya mulai nyaman ketika berbicara dengan pria itu. Dan kini ... semua harus seperti ini, hanya karena Tamy. Ya, Tamy ... wanita itu!
Jen menggeram, tanpa sadar menampik kemudi dengan keras lalu matanya yang memanas mulai meluruhkan cairan bening. "Kamu lebih parah dari Diego, Ren!" isaknya kesal, lalu mengigit bibir agar tangisnya mau mereda.
***
"Jen ... makan dulu, yuk! Mama laper, nih." Desy meletakan barang belanjaan terakhirnya di meja lebar yang mengisi setengah dari ruangan kecil di bagian samping rumah, sepertinya dahulu tempat ini bekas toko atau semacamnya.
Jen hanya mengangguk, dan dengan helaan napas yang semakin berat, Jen mengekori mamanya ke meja makan.
"Mungkin Darren ngga makan di rumah, Jen ... sepertinya galeri sangat sibuk hari ini." Desy mengambilkan piring untuk Jen sementara Jen sedang mencuci tangannya di dapur.
"Oh ...," kata Jen menanggapi. Tidak tahu bagaimana juga dia harus merespon. Dia benar-benar merasa diabaikan.
"Guramenya buat kamu aja, Nak ... nanti untuk Darren mama buatkan lagi aja."
Jen menaikkan alisnya ketika melihat gurame sebesar itu hanya untuk dirinya sendiri. Melihat bentukan ikan tersebut dan besarnya, Jen bergidik. Ya, jika Darren pasti bisa makan itu sampai tak bersisa, tapi dia? Tentu saja perutnya tidak akan muat.
Seketika laparnya hilang, berganti jijik yang mendirikan bulu kuduknya. "Mama ada mi kuah instan?"
__ADS_1
Desy yang sedang mengambil nasi untuknya sendiri menoleh ke arah Jen yang belum duduk di kursi.
"Aku rasa seperti mau pilek, Ma ... pengen yang berkuah dan panas," kilahnya ketika kerutan di kening mama mertuanya mulai tumbuh subur.
Desy, tentu awalnya berpikir kalau Jen selama ini hanya berpura-pura menyukai masakannya. Dan kejadian tadi ketika melihat menantunya itu bersuara sengau, berpikir kalau Jen lelah dan tidak suka membantunya, tetapi perkataan Jen barusan tak pelak membuat Desy merasa bersalah. Mungkin, Jen tidak enak hati mau menolak permintaannya. Bukankah sejak pagi, Jen sudah bilang kalau dia sedang malas mengemudi? Harusnya 'kan dia peka dengan kode dari menantunya itu.
"Ada, tapi rasa ayam bawang ... mau?" Desy mendorong kursinya ke belakang, mengangkat tubuhnya setengah berdiri, tetapi Jen langsung menahannya.
"Biar Jen ambil sendiri, Ma ... mama lanjut makan saja." Dia menyengirkan senyum canggung dan berlalu menuju laci dimana mamanya menyimpan persediaan kebutuhan pangan.
"Jangan sering-sering makan mie, Sayang ...." Jen yang sudah berjalan menuju dapur, berhenti dan berbalik lagi menghadap Desy. "Kamu butuh nutrisi yang bagus kalau sedang sakit, bukan mi instan. Lagipula, untuk kamu yang sedang menyiapkan tubuhmu untuk mengandung, mi instan ngga bagus buat rahim kamu."
Itu seperti berada di sebuah jembatan kaca yang sudah retak, dimana di bawahnya ada ribuan buaya kelaparan sedang menatap ke arahmu. Maju salah, mundur juga sama saja tidak selamat. Selain diam membisu, sampai ada heli penyelamat yang mengulurkan tali tangga ke arahnya, lalu menariknya ke atas.
.
.
.
.
__ADS_1
.