
Keasaman wajah Dinka sejak kejadian tadi sore meningkat tajam. Ia marah, ingin rasanya menghardik wanita manja itu, menyatakan kekecewaan dan luka. Ya! Dinka sangat terluka ketika kakaknya hanya dimanfaatkan saja. Namun, hingga acara malam ini selesai, Dinka masih bisa menahannya. Nanti, akan ada waktu untuk mencabik wanita manja itu.
Jen belum terbiasa dengan kegiatan yang melibatkan orang banyak dan ribet. Ia hanya membantu sesekali, selebihnya ia menepi dan tidak membuat dirinya menjadi beban dan halangan para tetangga sekitar rumah suaminya yang tengah bekerja. Sejujurnya, ia sangat malu dan kesal dengan dirinya sendiri. Apa-apa ngga bisa! Hanya hal sepele tetapi ia tak mampu melakukannya. Ketika acara telah selesai, Jen membantu berkemas, ia merapikan ruang tamu yang dijadikan tempat digelarnya acara tersebut. Di luar, Darren masih berbincang dengan dua orang temannya. Jabir dan Bisma.
Sohib seia sekata Darren, tapi tidak senasib dan sepenanggungan itu, tengah menghisap batang rokok berwarna putih. Menatap kosong hamparan jalan yang mulai sepi. Ketiga pemuda itu sesaat kehilangan kata-kata, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Gue mo kawin ...!"
Posisi duduk mereka yang membentuk huruf 'U' melingkupi meja plastik dengan taplak batik, memungkinkan dua orang lainnya menatap wajah kosong di depan mereka. Bisma tersedak asap rokok, sementara Darren menjatuhkan bibir bawahnya.
"Bangun ... lu ngigo!" Tangan Bisma melayang untuk mematahkan kepala Jabir ke kiri.
Jabir menghela napas, ia tahu inilah reaksi alami sahabatnya itu. Tak mengherankan juga, hidup yang tidak ada kejelasan nasibnya itu sudah sangat merepotkan, bagaimana jadinya kalau dia sampai benar-benar mewujudkan kata-katanya? Apa itu bukan menambah beban lama dengan beban yang baru?
Darren yang paling normal dan logis di antara mereka, menangkap keseriusan di wajah Jabir. "Nafkahin anak orang itu berat, Brader ... lu yakin gak bakal minder kaya gue?"
Jabir mengubah posisi duduknya, menyesap dalam-dalam batang cigaret berfilter yang kini ia jepit diantara ibu jari dan telunjuknya. Ekspresi kenikmatan kentara sekali dirasakan Jabir. Meski itu bukan sesuatu yang baik, tapi namanya nikmat dan candu, siapa peduli? Lagipula, bukan rokok yang membunuhmu, tapi terkadang rindu dan cinta yang mampu mematikanmu, tanpa proses sakit terlebih dulu.
"Gue yakin ... dia bukan cewek yang mudah menyerah, buktinya dengan segala ketidakjelasan gue selama ini, dia mau bertahan."
Bisma berdecih, lalu berkata sedikit menyolot, "Lu ngomong enak! Sebelum ama sesudah nikah itu beda, Bir ... wanita, bisa berubah jadi singa setelah nikah sekalipun dia dulu kek kelinci dimata lo!"
Tentu ini berdasarkan kisah Bisma yang bukan lagi nano-nano bahkan sudah jadi gado-gado. Hampir sama kasusnya dengan Jabir, kelihatannya wanita yang bergelar Nyonya Ansanaa Bisma di buku kehamilan miliknya itu, dulu selalu berkata, 'aku gak bisa hidup tanpa kamu, Beb' nyatanya sekarang seperti buih. Hilang, lenyap, dan musnah. Meninggalkan Nirwana yang masih harus menyusu dari ibunya bersamanya. Sayangnya, ia hanya seorang ayah muda yang hanya tau cara membuatnya, tanpa tahu bagaimana mengurusnya ketika menjelma menjadi seorang bayi bernyawa. Daamn!
Kini hidupnya tak lebih dari sebuah olok-olok Enyaknya, yang tiap menit dan detik mengomelinya, menyumpahi Sanaa, dan minta jatah sebagai ganti waktu tuanya untuk mengurus Wawa—panggilan Nirwana.
"Dia beda sama Sanaa, Bis ... gue tau kalau Sanaa terbiasa hidup enak dan bebas. Calon gue lebih fleksibel sama hidup gue yang kek ombak ... terombang-ambing," sahut Jabir sambil melempar puntung rokoknya ke asbak kayu di depannya.
"Dan gak jelas ...," tegas Bisma mencibir. Namun dengan santainya, Jabir mengangguki dan malah mengacungkan jempolnya.
Seratus buat lo!
"Seriusin usaha bengkel lo, Bir ... nikah gak cuma butuh kata cinta dan halalin bercinta doang, lu juga harus bisa bikin dia bahagia, tentram, dan sentosa lahir batin." Darren memandang lurus sahabatnya itu.
__ADS_1
"Cewek kaya Sanaa itu benernya bukan matre, tapi logis ...," sambung Darren sekilas melirik Bisma. Sanaa kabur karena Bisma hanya bekerja serabutan dan malas-malasan, bukan karena tak lagi cinta, tapi sebab Bisma yang bodo amat dan semaunya sendiri. Selain Sanaa yang bercerita padanya, Darren melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bisma masih Bisma yang malas dan tidak punya semangat untuk berubah. Meski Darren kini tahu dimana Sanaa, ia merahasiakannya, setiap bulan, Sanaa memberikan gajinya pada Nirwana, dan ia berikan pada Enyak Ipeh—ibunya Bisma.
"Hidup itu butuh pangan ... kalau padi gak nanem ya, harus beli. Dan beli itu butuh duit, karena kita hidup di jaman modern, bukan jaman batu yang pake sistem barter. Lah kalo elu punya barang yang dibarter, kalau punyanya cuma bodi aduhai, apa iya bodi bini lu mau dituker sekarung beras?"
Bisma terdiam, ekor matanya meneliti wajah Darren yang sejak tadi bertatapan dengan Jabir. Intinya, Bisma merasa ucapan Darren tertuju untuknya. Bisma tahu, tapi entahlah ... ia sudah berusaha bekerja dari ojol sampe kuli, tapi tetap saja Sanaa tak akan kembali padanya. Mungkin Sanaa sudah menikah lagi dan ... melupakannya.
"Gue tahu ... gue salah, tapi gue udah berusaha, lo pikir susunya Wawa itu murah? Bayaran gue seminggu abis buat beli kebutuhan dia dalam beberapa menit, Ren ... lu belum rasain aja! Makanya, bagaimana gue bisa dateng ke dia lagi, dengan mobil mewah kalau gini caranya?" Bisma sedikit kesal, mau tak mau. Seakan usahanya hanya dipandang sebelah mata.
"Sanaa gak butuh mobil mewah, dia butuh lo berubah. Mobil mewah di showroom banyak, bisa beli kapan saja, gak akan ada kata terlambat, tapi kalau lo gak mulai dari sekarang untuk berubah, lo bisa terlambat, tua, dan mati. Sia-sia idup lo. Gak guna, cuma menuhin populasi manusia di bumi, doang!"
Bisma tersulut, ia langsung melompat berdiri. Kata Darren benar, tapi tidak semuanya mudah saat diucapkan. Ia sudah mati-matian bekerja sekarang. Sampai kulitnya menghitam.
Namun, itu setalah Sanaa pergi!
Kedua orang itu beradu urat mata dan leher, siap saling bertikai. Bisma sudah mengepalkan tangannya, sudah terangkat, bahkan Darren sudah bersiap, tetapi Bisma segera duduk lagi dan membuang napasnya keras. Meluruhkan amarahnya.
"Gue rindu bini gue ...," ucapnya sedikit terisak.
Jabir mau tak mau juga ikut berpikir, "Gue juga ... gue gak mau cuma menuhin daftar nama di KK bapak gue. Gue pengen jadi orang yang berguna, bukan hanya jadi penggenap populasi dunia!"
"Kita bertiga harus berubah jadi manusia lebih baik. Mulai sekarang!" Darren menipiskan bibir.
Ketiga orang itu berangkulan saling menepuk dan menguatkan. Tekat semakin bulat, nakal juga ada masa pensiunnya.
"Gue mau langsung nikah aja! Lo urus acara akad gue, ya, Ren ... dekor rumah dan kamar pengantin gue ...." Ucapan Jabir langsung membuyarkan kekhusukan suasana rangkulan mereka.
Darren hanya menghela napas, "Gue gak bisa ngedekor, karena bukan orang WO. Modal dikitlah! Sewa jasa WO ... sekali seumur idup loh nikah itu, kecuali lo punya rencana nikah lagi setelah kaya raya!"
Jabir berdecak, masih saja bercanda tentang hal serius seperti ini. "Gue cuma butuh bunga aja, Ren ... 'kan mau aku buat pesta kebun ala-ala, gitu! Nanti tenda sama background-nya pinjem ke Pak RW saja."
"Inget, bunganya beli ... gak gratis!" tegas Darren yang langsung membuat Jabir mencebik.
"Diskon, ya!"
__ADS_1
"Malam pertama lu cuma masuk setengah, mau?" kecam Darren masih tajam.
"Eh, buset! Gak seneng banget lu gue mo hepi-hepi."
"Beda donk harga nawar sama profesional." Darren terkekeh.
"Dah, kalian pulang sana ... gue mo hepi-hepi!" Ia bangkit karena malam sudah semakin dingin.
"Ih, gak setia banget lu ... menari diatas derita gue!" ucap Bisma keberatan, ia sebenarnya masih ingin banyak berbincang dengan Darren.
"Bodo ... udah nikah kudu mentingin kebahagiaan istri. Kalian nomer dua, kalau gue ada anak, lu pada nomer seratus!" Ia menarik tangan Jabir dan Bisma yang melemas.
"Yang nomer 3 sampai 99 siapa?" tanya Jabir.
"Istri gue, emaknya anak gue, anak gue, anak istri gue, anak-anak gue dan istri gue, anak-anak-anak yang gue titipin di gua garba istri gue! Paham lo!" Kali ini dia menarik tangan kedua orang itu lebih keras hingga berdiri.
"Intinya anak dan istri lu, Sintingg!" sembur Jabir.
"Biar makin jelas aja ... biar otak kalian yang segede otak Patrick itu bisa ngebaca dengan jelas!"
"Dah bubar!" Darren mendorong bahu kedua temannya hingga terhuyung kedepan.
Bisma dan Jabir bergerak sangat malas, mereka bahkan menoleh untuk mengajukan banding. Tapi, tidak! Darren ingin menghabiskan malam dengan istrinya itu. Orang kata, masih anget-angetnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1