Suami Settingan

Suami Settingan
Baumu ... Enak !


__ADS_3

Jen meringkuk dengan perasaan dongkol yang kian mendalam. Bibirnya belum berhenti hingga beberapa saat lamanya, sampai akhirnya sepoi angin membelai matanya dan ia terlelap. Lelah, hanya itu yang ia rasa. Dan ... nyaman ketika membaui bekas keringat Darren, campur dengan aroma sampo, aroma parfum—mungkin—atau campuran sabun cuci dan pewangi. Entahlah, pokoknya enak dan menenangkan.


Perasaan tenang dan nyaman membawanya mengambang di tengah awan-awan. Makin berat, makin nyaman, dan makin ngantuk. Jen terlelap dalam buaian. Lupa segala kesahnya pada Darren.


***


"Kau dari mana saja, Ren?" tanya salah seorang anak nenek Ita ketika ia mendapati Darren baru saja tiba dengan sebuah koper di tangannya. "Itu milik siapa? Kusangka milik orang karena ada di teras sejak tadi."


Darren hanya tersenyum kecil. "Ini milik Jen, istriku itu, Paman. Mungkin dia tidak melihatnya dan akupun lupa memberitahu dia kalau sopir keluarganya mengantarkan ini tadi pagi."


"Wah ... wah ... cepatlah kau temui dia, merajuk tau rasa kau," kekeh Paman itu sambil menyilangkan kakinya. "Bisa-bisa malam pengantinmu sepi."


Darren kembali tersenyum. "Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu, Paman ...."


Tanpa menunggu lagi, Darren segera melangkah ke ruang selanjutnya yang tak kalah ramai. Ia hanya melambai sekilas lalu meletakkan kotak berisi sambal balado jengkol ke atas meja makan.


"Ma ... dari Tamy," ujarnya sedikit teriak agar mamanya di dapur mendengar suaranya. Ada tetangga yang datang membantu memasak untuk acara tahlilan nanti malam, dan jawaban 'ya' dari Desy membuatnya segera melangkah ke lantai dua.


Bibir Darren terbuka lebar ketika ia tertawa melihat Jen yang tampak kepanasan. Kipas angin menderu, tetapi itu tak mencegah manik-manik peluh berhenti memenuhi kening putih istrinya. Ia meletakkan koper di sudut kamar, lalu ia mendekat ke kasur.


Ceroboh sekali dia.


Darren menurunkan bagian bawah daster Jen yang tersingkap naik. Dalam kungkungan halal dan suguhan indah meski tak sengaja itu selalu menaikkan hormon kelelakiannya. Jen itu berbeda, semalam dan siang ini, membuktikan Jen sangat cantik saat tidur, Dinka saja masih ngorok dan bibirnya selalu terbuka, tapi Jen tidak. Berbanding terbalik saat sadar, bibir itu tak henti-hentinya membuka meski kadang hanya untuk menyakitinya.


Ia membungkuk, mengambil posisi duduk di kasur yang sebenarnya belum lama ia beli. Darren sejenak merasa bersalah karena ia tak bisa memberi Jen kehidupan yang sama dengan hidup yang ia tinggalkan, tetapi baginya membuat Jen lebih mandiri demi menghindarkan dia dari pandangan kurang menyenangkan orang terasa lebih penting sekarang. Ia harus bisa membuat Jen adalah wanita berharga dan berhati baja.


"Love you, Jen ...," ucapnya lirih. Sementara hanya modal cinta di hatinya yang bisa ia berikan pada gadis itu. Selebihnya akan ia usahakan pelan-pelan sendiri dan mungkin bersama istrinya itu.


***


Dua siang, Jen berhasil menarik dirinya bangun. Disebelahnya ada Darren yang juga menggeliatkan tubuhnya.


"Sudah bangun? Nyenyak ngga bobonya?" Suara serak dan agak mendesah itu membuat Jen mencibir, ia ingat kalau ia tidur dengan gumpalan amarah pada pria ini.


Sok ngerasa gak bersalah banget, ya ... padahal dia habis sama Tamy.

__ADS_1


Jen turun dengan beringsut, lalu melangkah cepat sambil menguncir rambutnya. Ketika ia mencapai pintu, ia menoleh, menatap Darren dengan wajah juteknya, sebelum berpaling dan berlalu.


Darren mengacak rambutnya, setelah selesai mengikuti Jen hingga tak tampak lagi. "Sabar, Gusti ...," sebut Darren dalam pintanya. Masa hanya karena terlalu lama di luar dan tidak pulang sesuai janjinya tadi pagi, Jen marah padanya. Agak lucu rasanya, ketika merasakan rasanya jadi suami yang dikekang istri.


Darren menegaskan tawanya, "Posesif banget istriku itu."


Jen yang baru saja kembali dari kamar mandi, mencibir ke arah Darren yang masih tersenyum-senyum diatas kasur.


Pasti mikirin Tamy, tuh ... dasar!


Jen menggeram sampai buku tangannya teremas erat. Menyebalkan sekali. Ia mendengkuskan napasnya saking kesal yang tak bisa lagi di tahan. Matanya masih lekat memandang Darren yang sepertinya masih asyik mengawang lamunan hingga tak menyadari Jen telah masuk kamar.


Terang-terangan sekali, sih ... dasar ngga peka!


"Paling ngga tunggu sampai satu tahun, sampai kita berpisah. Baru kamu lanjutkan hubunganmu dengan wanita lain." Sebaris kalimat yang diucapkan sebiasa mungkin agar tidak ada kesan marah di sana. Namun, sesiapa yang mendengar juga tahu, Jen sedang dikuasai cemburu.


Darren mengangkat kepalanya, ia terkejut. Sumpah demi seluruh kenikmatan dunia, ia tak menyadari kehadiran Jen diruangan ini. Terlampau asyik membayangkan usahanya agar Cio-Yang-Lain segera hadir diantara mereka, seperti ucapan Excel. Tentu ia ingin sekali, jika mungkin sebelum satu tahun ini, atau setidaknya diujung-ujung perjanjian tak kasat mata yang terlanjur mereka ucap. Sebenarnya, ia tak pernah memikirkan perpisahan.


"Hubungan? Dengan wanita lain? Mama dan Dinka maksud kamu?"


"Siapa, sih maksud kamu, Jen?"


"Udah gak usah dibahas lagi! Aku capek ...." Pandangannya yang melebar ke arah Darren, ia buang jauh-jauh. Matanya mulai basah. Ia bingung mau kemana, di sana-sini mentok, lupa kalau ini bukan rumahnya. Sampai akhirnya, ia hanya memutar tubuhnya ke kanan dan kiri.


Sial!


Ia melirik Darren yang masih menaikkan alisnya. Mendecak, Jen menyapu seluruh ruangan hingga sampai pada koper yang akrab di matanya.


Ia berlari kecil, lalu dengan tak sabar, ia membuka koper tersebut. Matanya berbinar. Setidaknya ia bisa memakai pakaian yang layak.


"Kamu ambilin ini ke rumah?" tanya Jen seolah lupa ia sedang kesal pada Darren. Ia mengambil salah satu baju dan memakainya. Darren hanya tersenyum kecil menanggapinya.


Kadang jujur juga menjadi masalah dan bohong bisa menghindarkan masalah.


"Kelihatannya bagaimana?" Ia putuskan mengatakan itu. Ia tak kuasa berbohong sebenarnya.

__ADS_1


"Makasih ...," ucapnya tulus.


Darren hanya bisa menghela napas dan berkata 'hem'. Wanita ini sangat ajaib, bahkan rasa penasarannya tentang siapa yang dimaksud Jen saja belum terjawab, malah Jen sudah pulih dari marahnya. Bahkan ia tak perlu repot-repot membujuk Jen agar tak lagi merajuk. Hah!


***


Myung berada dalam gendongan Dinka, kucing itu memang sangat manja pada Dinka. Tangan Dinka tak henti membelai belakang kepala hingga punggung kucing itu.


"Myung, kita ambil hairdryer mami di kamar kakak, ya ... nanti bisa ketularan songong dan manja kalau kelamaan di tangan istrinya," gumamnya di dekat telinga Myung yang menjentik seolah kegelian.


Langkah Dinka ringan terkesan cepat mendekati pintu kamar kakaknya. Tangannya menekuk siap mengetuk, tetapi ia urungkan saat samar ia mendengar suara bernada tinggi di dalam kamar.


Satu tahun ....


Wanita lain ....


Berpisah ....


Dinka menajamkan telinga, bahkan ia menyisipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu menempelkan di daun pintu setelah melepaskan Myung.


"... sabar dulu, setahun lagi kalian bebas bersama."


Oh My ... sumpah demi apa saja yang ia punya, Dinka hampir pingsan mendengar ini. Jadi mereka menikah karena sebuah perjanjian atau semacamnya. Benar mereka hanya main-main dengan pernikahan ini?


Dinka terhuyung mundur dengan mata melebar tak percaya. Ia tak menyangka kakaknya akan melakukan hal seperti itu, sesuatu yang pasti akan membuat orang tua mereka bisa mati mendadak. Hingga menabrak pintu kamarnya, Dinka baru berhenti.


Kakaknya tidak mungkin melakukan itu ... pasti Jen di balik ini semua. Kepala Dinka mulai melakukan cucokologi dari rentetan kejadian belakangan ini. Sampai beberapa saat lamanya, ia akhirnya menyadari satu hal. Kakaknya adalah korban. Ya, hanya korban, korban keegoisan Jen.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2