Suami Settingan

Suami Settingan
Maaf Lagi OTW


__ADS_3

"Loh, kapan kamu datang, Din?" Ketika Ranti datang membawa semangkuk rujak yang beraroma segar, Dinka mengekori, membawa segelas air putih. Tubuhnya sengaja merapat ke punggung Ranti, agar Jen tidak langsung bisa melihatnya. Dia takut diusir sama seperti kakaknya yang begitu kejam mengusirnya.


Dinka menghela napas dan bergeser ke samping, "dari tadi," jawabnya kaku. Malu bercampur pasrah jika diusir saat ini juga.


"Oh ... sori aku gak tau kalau kamu disini." Jen cuek menanggapi Dinka, dia juga tidak bergerak dari posisinya. Hanya menengok saja.


Dinka menarik salah satu sudut bibirnya, melihat reaksi Jen. Entahlah, dia harus bagaimana lagi sekarang. Terlampau canggung.


"Ini Bu, rujaknya ... ayo segera dimakan selagi masih seger, Mbak Dinka loh, yang beliin mangganya." Ranti segera membantu Jen duduk dengan tegak dan menyodorkan mangkuk berisi rujak serut ke depan Jen.


"Oh, makasih, ya, Din ...." Jen melirik sekilas ke arah Dinka dan mulai menyuapkan rujak ke dalam mulutnya. Dinka membalasnya dengan senyum singkat yang terkesan gugup.


"Ini kurang pedes dan kurang asem, Mbak ...." komentarnya, lantas menyuapkan lagi rujak segar itu. Lagi dan lagi. Dan ketika Ranti akan menjawab, Jen buru-buru menghentikannya.

__ADS_1


"Et, gak usah dijawab ... Mbak Ranti pasti akan bilang gak boleh terlalu asem dan pedes!" Jen berkata terlalu cepat hingga ia tersedak pedas, lantas ia terbatuk-batuk sampai menyerah pada mangkuk yang awalnya di peluknya erat. Kini gantian ia memeluk perutnya yang terasa nyeri.


"Bu, pelan-pelan." Ranti khawatir dan menepuk pelan punggung Jen. "Sampe begini batuknya, duh ...." Ranti hanya takut Darren akan memarahinya.


"Ini minumnya ...." Dinka mengulurkan air minum yang awalnya mau di raih sendiri oleh Jen.


Jen menerima dan meminumnya hingga airnya tumpah-tumpah.


"Bu, udah ya makan rujaknya, saya takut nanti bapak marah, apalagi ibu sampe kesakitan begitu." Ranti segera menjauhkan mangkuk itu dan Jen setuju tanpa syarat. Bukan apa-apa, perutnya nyeri sekali hingga ia tak bisa merasakan perutnya beberapa saat.


"Makasih," Jen menerimanya, dan sekilas melihat Dinka yang kembali duduk. Sekilas mereka saling bertatapan tetapi Dinka segera berpaling ke arah tivi yang masih menyala.


Jen ingat apa kata Dinka kemarin, sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dia tidak perlu melakukan apa-apa untuk minta maaf, Jen sudah tidak mempermasalahkannya. Hanya dia tidak tahu harus mulai dari mana bahkan ia takut pada suaminya, mereka belum bicara apa-apa tentang hal ini.

__ADS_1


Sedangkan Dinka yang masih naik turun emosinya, masih meninggikan ego dan rasa sungkan memulai sesuatu terlebih dahulu, juga tak kalah bingung mau bagaimana memulai percakapan. Jika saja hal lain mungkin dia bisa melakukannya, tapi minta maaf kepada pihak lain yang benar itu sungguh sulit. Selalu sulit dan angkuh.


Ranti melihat semua itu memilih pergi dengan gelengan kepalanya yang lemah. Tak habis pikir pada saudara ipar yang egonya sama-sama tinggi itu. Sengaja Ranti tidak berkata apa-apa agar mereka berdua tidak menyadari kepergiannya dan bisa bicara berdua baik-baik menyelesaikan masalah pelik mereka.


Jen mencoba bersikap biasa saja dan ia kembali merebahkan diri. Mengurai rasa sakit di perutnya.


Dinka melihat ini sebagai peluang, pasti Jen sebentar lagi membutuhkan banyak hal dan dia tidak bisa mengambil atau melakukannya sendiri. Kepalanya terulur, ia mengintip ke wajah Jen yang masih terlihat kesakitan.


Dinka masih mengawasi dengan tekun, dan setelah beberapa saat lamanya kemudian, Jen menggapai gelas. Dinka segera mengambilkannya. Pun pada saat Jen ingin miring, Dinka membantunya. Mengambilkan ponsel, remot tivi, menaikkan suhu AC, mengambilkan camilan, membantu Jen bangkit, mengawalnya ke kamar mandi, mengambilkan baju ganti, dan masih banyak lagi, Dinka lakukan ketika Jen baru saja memisahkan bibirnya. Mbak Ranti yang melihat kejadian itu hanya tersenyum, dan membiarkan saja. Mungkin dengan begini mereka akan semakin dekat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2