
Hari dimana Jen harus
menghadapi sidang perdananya untuk kasus Tanna akhirnya tinggal menghitung jam
saja. Tak kurang dari dua belas jam lagi ia harus berdiri di depan jaksa dan
hakim. Dan meskipun sang Papa telah membekalinya dengan banyak pengetahuan, momen
esok hari termasuk momen yang sangat emosional dan mengundang sensasi melilit
yang aneh di ulu hatinya, hingga ia akhirnya mengeluh lirih di depan meja
dapur.
Jen tengah menyeduh susu hangat untuk Darren yang baru saja pulang.
Lebih dari seminggu lamanya Darren dilanda kesibukan yang entahlah, Jen sendiri
malas untuk mengingat, dia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik untuk
suaminya tersebut. Meskipun ia heran sendiri dengan otaknya yang biasa lemot itu
mendadak mudah sekali ingat dengan apa yang diucapkan Darren. Siapa Adi,
jabatannya, kemampuannya, dan sikapnya, lalu ada Kenang yang katanya orang yang
sangat kaya dan tertutup, dia hanya diketahui sebagai seorang dosen biasa yang
sebenarnya itu hanyalah kamuflase saja. Dan satu lagi yang Jen tak bisa lupa, nama Kenang tersebut konon katanya, tidak pernah di temukan di
mesin pencarian layaknya orang kaya yang biasa masuk dalam jajaran orang kaya dan
berpengaruh di negeri ini. Basis bisnis Kenang berada di Beijing dan Singapura,
dan di negeri ini hanyalah akar-akar kecil yang menjadi penopang sebuah pohon
yang besar. Yang lebat daun serta cabangnya.
“Kenapa?” Lingkaran tangan membuat Jen tersentak mundur dari
perasaan aneh yang memelintir ulu hatinya dan lamunan yang sangat lekat akan sosok yang baru di dengarnya saja. Darren sejak tadi melihat Jen tampak
melamun dan tanpa sadar telah mengaduk susunya terlalu lama yang membuat cairan
putih dan beraroma manis itu bercecer di meja marmer hitam yang berkilat dan
mulus. “Katakan apa masalahmu, Yang," pintanya lembut.
Jen tersenyum kecil, ia segera meraih gelas yang sudah
terasa lengket di sisi luarnya itu, “hanya gugup untuk sidang besok,” jawabnya
jujur seraya memutar tubuhnya sebelum Darren mendesak pundaknya dengan dagu,
berbisik dengan sedikit gigitan kecil mendarat di telinganya. Ya, itu kebiasaan
Darren akhir-akhir ini menjadi hobi barunya.
“Mumpung masih hangat.” Darren menerima gelas yang masih ada
jemari istrinya itu, tidak mengambil alih, tetapi menimpanya hingga seolah-olah
Jen yang mendorong gelas itu sampai ke bibirnya. Selagi
menikmati sensasi
hangat yang menjalari kerongkonganya, Darren setia memaku tatapannya pada netra
__ADS_1
bening milik istrinya itu.
“Makasih, Yang ...,” masih dengan tangan saling menimpa
gelas, Darren menurunkan gelas tersebut dan menghadiahi sudut bibir Jen dengan
kecupan kecil.
“Mau bobok apa ngobrol dulu?” Salah satu tangannya
melepaskan gelas, meraih pinggang Jen hingga menempel di perutnya, lalu merebut gelas
yang masih dipegang Jen dan meletakkan di atas meja.
“Nonton tv aja, deh ... aku agak pusing kalau obrolan yang
kamu maksud adalah tentang orang kaya itu lagi," jawabnya malas. Ia melepaskan tangan Darren
dari perutnya, lalu melangkah terlebih dahulu menuju ruang Tv. Sementara Darren
mencuci gelas sisa minumnya, bibirnya mengeluarkan kekehan pelan ketika
mendengar perkataan Jen.
Darren menyusul Jen yang merebahkan tubuhnya di sofa panjang
depan televisi, ia jelas melihat Jen hanya memainkan ponselnya, bukan menonton
televisi. Ia lalu melangkah lebih dekat ke arah istrinya tersebut.
“Kayanya nagih jatah dulu, nih, sebelum nonton tivi.” Darren
menempatkan dirinya diantara kaki Jen yang terbalut kain sebatas lutut bercorak
pelangi yang berantakan. Seringainya penuh goda muncul ketika Jen menyisihkan
“Belum nyoba di sini, ‘kan?” alisnya mengimbuhi dengan tak
kalah genit. “Lebih menantang ...,” sambungnya dengan nada rendah dan sebelah
matanya mengedip pelan, tangannya mulai merambat di atas permukaan kulit kakinya.
Jen menaikkan salah satu sudut bibir atasnya, jijik dengan
gaya suaminya yang nakal itu, “jangan harap,” ucapnya ketus seraya mengalihkan
kaki yang telah di kuasai Darren.
“Takut, ya?” Darren menahan tubuh Jen dengan mengungkungkan
kedua tangannya di kedua sisi tubuh wanita yang telah miring itu.
“Gak ... lagi pengen aja bikin kamu kesel.”
Darren terkekeh pelan lalu menciumi pelipis istrinya yang
begitu ketus padanya. “Kenapa? Lagi ada masalah?” Ia menarik Jen hingga duduk
dan memeluk wanita itu dari samping, “katakan saja!”
Jen merebah di dada suaminya, “gugup itu capek, ya ...,”
katanya lirih.
“Ya, kalau kamu bawanya berat, dipikir serius, dan gak
berusaha ngalihin pikiran kamu dari sana, ya, bakal capek.” Darren meletakkan
__ADS_1
dagunya di atas kepala Jen. Membelai rambut yang hampir separuh berubah kembali
hitam. “Udah, santai aja kali, Tanna gak bakal nyakitin kamu.”
Jen menarik dirinya dari dada Darren, “ya, aku tau ...,” ia
menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum. “Aku hanya harus menahan tanganku
untuk tidak mencekiknya,” di sertai gerakan meremas yang mungkin saja bisa
menjejakkan lebam atau mungkin bisa remuk jika benda tersebut rapuh.
“Kamu mengerikan ...,” kata Darren sambil mengecup pipi
istrinya. “Udahlah ... Tanna udah cukup menderita di dalam penjara, sebaiknya
kamu lepasin dendam kamu, tinggalkan di belakang, kita mulai hidup baru, cerita
baru, dan hubungan pertemanan yang baru yang lebih baik dan sehat.”
Darren hanya bisa sejauh ini memberikan ketenangan pada
istrinya itu, memberikan tubuhnya sebagai sandaran bagi beban Jen.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Darren menarik istrinya lagi dalam pelukan, “kamu hanya
perlu tetap tenang dan tersenyum, tunjukkan kalau kamu sudah tidak terpengaruh
baik oleh Tanna maupun Diego.”
“Tidak bisa ... aku tidak bisa setenang kamu atau yang lain,
ketemu Diego saja, aku mencak-mencak.”
“Suasana di depan hakim itu beda, Sayang ... semua ada
aturannya. Kamu gak bisa seenaknya ngamuk sama Tanna, malah nanti kamu yang
kena masalah," tuturnya lembut.
“Udahlah, sini maen sama Abang aja, biar gak mikirin Tanna
lagi.” Ia mengambil posisi Jen agar menghadapnya. Menangkup pipi Jen dengan kedua belah tangannya, membawa wajah yang terlihat kurang bergairah dan tidak yakin bahwa apa yang akan dilakukan Darren padanya akan mampu menghiburnya, lebih dekat pada bibirnya.
Darren menanamkan keyakinan pada istrinya itu bahwa semua akan baik-baik saja, melalui ciuman yang baru saja berlabuh dan memadu dengan lembut itu, Darren mencoba menyalurkan kehangatan yang mampu menyulut tungku hormon endorfin, dopamin, dan serotonin dalam tubuh istrinya itu menyala.
Lalu ketika Jen mulai mengalungkan kedua tangannya di leher, Darren mulai membagi tugas pada kedua tangannya. Darren hanya perlu menyingkap kain itu dan menarik turun
kerah berkerut yang melingkari leher mulus milik Jen, lalu dengan sambutan yang
luar biasa menyulut, Darren mengalihkan pikiran dan dunia Jen yang begitu kusut, dengan permainan lembut yang membuai. Sampai terbit jeritan dan senyuman di bibir Jen, Darren menyudahi perbuatannya.
Masih dengan napas yang penuh engah dan sengal, Darren membopong tubuh istrinya ke kamar mandi, lalu membantunya membersihkan diri.
"Malam, Sayang ... mimpi yang indah, ya ...." Darren menyematkan kecupan di kening Jen yang mengedip menahan kantuk dan lelah, tak lupa ia menyelimuti tubuh istrinya itu. "Bobok sendiri dulu, yah ... Abang masih ada kerjaan sedikit," pamitnya yang hanya diangguki lemah sebelum berguling miring dan benar-benar terlelap.
.
.
.
.
.
__ADS_1