Suami Settingan

Suami Settingan
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Darren cukup sibuk hari ini, mulai dari melihat-lihat foto hunian yang akan dia beli, lalu ada janji bertemu dengan salah seorang teman lama yang sejak dulu mengincar motor Darren dan rela menawar dengan harga lebih tinggi. Meski sebenarnya sangat sayang dengan motor yang ia dapat dari keringatnya sendiri, tetapi ia lebih sayang jika kehilangan istri.


Darren menghela napas panjang, ketika ia sampai di tempat kerja temannya tersebut. Beberapa saat lamanya ia terpaku, memandang untuk terakhir kalinya. Berat, meski hanya sebuah motor tapi tetap memiliki kenangan berarti.


"Bro ... lu boleh pelukan dulu sebelum gue bawa pulang." Suara temannya yang berseragam cokelat tua membuat Darren mengangkat wajahnya dengan perlahan.


Darren menyuguhkan tawa dengan sebelah bibir terbuka. Ia mengulurkan tangan untuk memberi salam persahabatan seperti sedang bermain panco, lalu menariknya hingga sisi tubuh mereka saling bertabrakan dengan lembut. "Kabar baik, Bro."


Kefaldo namanya, pria yang akan memboyong motor Darren. Sahabat yang bekerja di kejaksaan, penyuka motor gede.


"Gue tau, you're a richman right now!" Kefal sedikit mencibir akan keberuntungan Darren. "Jadi gak butuh ini lagi, benar?" Ia terkekeh seraya mengangguk kecil.


"Apa saja asal bayaran beres." Darren tak mau berpanjang lebar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak mau salah bicara yang akan menimbulkan persepsi yang lain.


"Oke, akan gue transfer berkala hari ini, lu tau resiko pekerjaan gue, 'kan?"


"Tak masalah, aku bisa menunggu pelunasannya hingga tengah malam atau besok pagi." Darren menyerahkan kunci motornya kepada Kefal, "jaga dia baik-baik, Bro."


"Istri lo bisa cemburu kalau dengar ini, Brader."


Kedua orang itu tertawa lalu berpelukan sejenak sebelum saling berpisah. Ketika menaiki ojek, Darren sekali lagi menoleh ke arah motornya. Everything okay.


Tujuan Darren selanjutnya adalah menemui teman lain untuk melihat-lihat rumah tinggal yang berada di sebuah kompleks perumahan. Bukan perumahan elite, hanya perumahan biasa, berukuran 6x7 meter yang sangat sederhana. Dari foto yang dikirimkan pemiliknya, rumah itu cukup nyaman dan tidak terlalu berat ketika dibersihkan. Jen bisa mengurusnya.


Ketika Darren hendak menghubungi Jen, rupanya Jen sudah mengiriminya pesan bahwa ia sedang berada di JC. Hal ini membuat Darren tersenyum, singa itu mulai jinak dan mengerti apa yang mesti dilakukan ketika akan bepergian.


Ia lalu mengarahkan si pengemudi ojek ke JC, ia akan mengejutkan Jen dengan mengajaknya melihat calon rumah mereka.


Namun, tepat ketika ia sampai di seberang JC, ia melihat Jen dan Vaya baru saja naik ke dalam sebuah taksi. Lalu ia berusaha menghubungi Jen agar berhenti, tetapi hingga tiga kali panggilan, Jen tidak menjawab teleponnya.


"Ikuti taksi yang disana, Pak," pintanya sambil terus menghubungi Jen. Motor melaju berusaha mengejar taksi yang mulai berjalan cepat sebab lalu lintas tidak ramai lagi.

__ADS_1


Betapa terkejutnya, Darren melihat Jen dan Vaya ternyata ke kantor polisi dimana Diego masih ditahan. Dan wajah itu, wajah itu sangat ceria sekali ketika mendatangi sebuah kedai dengan menu makanan kekinian. Darren terus mengawasi hingga dua orang itu masuk ke kantor polisi dengan menenteng sebuah kantong plastik tampaknya berisi makanan.


Darren mengesah penuh bimbang, ia ingin terus mengikuti tapi ia takut melihat siapa yang ditemui Jen. Namun, ia juga sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan Jen dan Diego nanti. Ah, dia sungguh kesal.


"Daripada penasaran, mending masuk dan ikuti saja, Mas ...," saran si pengemudi ojek ketika ia mendengar desah napas Darren.


"Kalau dia ternyata nemuin mantannya, bagaimana,Pak? Aku harus bagaimana?"


"Ya, nanti suruh pilih saja, mantannya apa Masnya ...," jawab si bapak tukang ojek.


Darren masih menatap ke arah kantor polisi di seberang sana, lalu ia menepuk bahu tukang ojek tersebut secara berulang. "Makasih sarannya, Pak."


***


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Jen di pertemukan dengan Diego. Bule mantan kesayangan Jen itu tampak lebih kurus dan pucat.


Diego sejenak menatap Jen lalu menunduk, tak kuasa menghadapi tatapan Jen yang tampak dingin dan judes seperti biasa.


Diego membisu, ia membulatkan hati untuk menerima cacian Jen. Ini lebih melegakan dan dia tidak berniat meminta maaf, agar Jen terus membencinya seumur hidup. Iya, dia layak mendapatkan semua itu dari Jen. Sangat layak.


"Jual apartemen dan mobil kamu, yang aku ikut andil! Yang lain gak usah, buat modal kamu nanti kalau keluar penjara, sebagai pengingat kalau kamu pernah manfaatin cewek yang kasih makan kamu!" Suara Jen masih meninggi, sehingga mengundang rasa penasaran polisi yang berjaga untuk menoleh, lalu tersenyum.


"Hubungi Bian, dia tau dimana surat-surat mobil dan apartemen. Uangnya untuk kamu semua—"


"Gak usah sok baik dan sok peduli, aku bukan orang pemaaf meski dunia akan kamu berikan padaku setelah ini. Aku akan ambil sebanyak yang aku beri dulu, jijik aku kecampuran uangmu!" Mata Jen menghujam Diego seakan bisa mengoyak. Sungguh Jen adalah orang yang paling kejam jika sampai ada yang melukainya. Tidak peduli masa indah yang pernah ia lalui, baginya, satu titik hitam saja sudah memburamkan segalanya.


Lantas ia mengambil ponselnya, "berikan nomer telponnya, nanti akan kuhubungi sendiri."


Diego menarik napas dan menghembuskannya perlahan, lalu menyebutkan sederet angka yang merupakan nomor telepon Bian.


"Nikmati hidupmu dengan baik, D, kamu harus bersyukur, di sini kamu lebih aman daripada diluar sana dan menjadi buruan Om Riko dan anak buahnya." Jen berdiri dan memalingkan wajahnya dengan dengusan sinis. Sementara Diego hanya bisa meratapi kepergian wanita yang sebenarnya ia cintai.

__ADS_1


"Semua ini karena Tanna!" geramnya sambil meremas tangan. Ia bersumpah akan menghabisi wanita itu jika ada kesempatan.l


***


"Gimana?" Vaya menunggu diluar ruangan yang digunakan sebagai tempat pertemuan dengan tahanan, ia menenteng sekantung camilan yang biasa mereka makan di sela-sela jam kerja. Churros, corn dog, dan takoyaki. Setelah ini mereka berniat makan makanan tersebut di JC, seperti saat JC masih berjaya.


"Seperti mengambil permen dari bayi. Mungkin dia ingin dimaafkan makanya mempermudah semua urusan. Huh, tidak semudah itu, Pulgosso!"


Jen bersedekap di depan dada, matanya masih melirik pintu yang barusan ia tinggalkan seakan Diego disana dan mendengarkan semua umpatan Jen.


Vaya tertawa, "ada-ada saja, kamu, Jen ... pulang yuk! Kudah laper," ucap Vaya sambil menyengirkan senyumnya, tangannya mengusap perutnya dengan gerakan melingkar dan berulang-ulang.


"Dasar tukang makan!"


"Aku pengangguran dan stres denger omelan mama yang nyuruh aku kerja terus. Mending aku kawin aja, biar ada yang menanggung hidupku kaya kamu. Dan makan adalah obat stres paling ampuh, apalagi kalau gratisan." Vaya kembali nyengir.


Jen menoyor kepala sahabatnya, "kuanggap itu gaji kamu, Vay ... aku gak bisa gaji kamu dengan penuh." Jen melingkarkan tangannya di leher Vaya dan menggandengnya keluar. Memesan taksi lagi dan terus mengunyah tanpa peduli berat badan mereka akan menanjak naik setelah itu. Jen juga segera menghubungi Bian dan mengakhiri apapun yang berhubungan dengan Diego.


.


.


.


.


.


.


maafkan typo, maaf baru up juga ... 🙏

__ADS_1


__ADS_2