Suami Settingan

Suami Settingan
Merah Muda Yang Cantik


__ADS_3

Darren mengemas senyum bangga ketika lengannya mengamit tangan Jen. Wanita yang telah menjadi istrinya tersebut masih memalingkan wajahnya, menahan malu ketika berjalan menuju pelaminan dimana karib Darren tengah tersenyum bahagia dengan berbagai pose foto dengan para tamu undangan


yang sebagian besar adalah keluarga kedua mempelai.


“Malu ya, jalan di sebelahku?” tanya Darren sambil terus berjalan, sesekali ia mengusap jemari Jen yang mengerat lengannya. Ia tetap


tersenyum, sebenarnya pertanyaannya adalah sebuah godaan saja. Dia yakin Jen


tidak akan pernah malu mengakui dirinya sebagai suami, mertuanya telah


mengajari anak-anak mereka dengan baik bagaimana menghargai orang lain,


siapapun mereka.


“Hah?” Jen seperti tersentak dan menoleh dengan cepat.


“Apaan? Mana ada aku mikir seperti itu, sih?” Bibirnya merengut dan mengerucut,


tapi ia terlihat cemas. Takut kalau sampai Darren berpikir dia berpaling karena


malu berjalan berdampingan dengannya, pada kenyataannya ia masih menahan


segenap rasa malu dan berdebar yang luar biasa mendetam di balik dadanya.


Darren melebarkan senyumnya setelah memicing sebelah mata, “canda, Sayang ... jangan serius gitu, ah!” Tangannya kembali menjulur untuk mengusap pelan pipi Jen.


Jen hanya berdecak sebagai jawaban, apalagi melihat Darren terkekeh, Jen semakin kuat mendengkuskan napasnya. Lalu berpaling dengan gelengan kecil di kepalanya.


Kedua pengantin menyambut mereka dengan raut bahagia, lalu seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelum-sebelumnya, Tamy dan Jabir menerima ucapan selamat dari Jen, meskipun Tamy sedikit canggung di balik

__ADS_1


senyumnya. Jen dengan senyum lebar berfoto dengan dua gaya yang berbeda lalu beranjak turun dari panggung pelaminan tanpa berkata apa-apa lagi.


Apa memangnya selain ya, sudahlah ...? Apa Jen mau mengatakan basa basi soal kecemburuannya yang sedikit memalukan itu ? No, Jen tidak sebodoh itu untuk membuat dirinya sendiri malu. Toh pada akhirnya, semua


kembali pada posisi semestinya, pada keadaan semula. Meski Jen tidak memungkiri, ada rasa canggung berlebihan diantara dia dan Tamy. Dan itu tidak akan menjadi masalah lagi nanti, sebab ia telah yakin suaminya bebas dari gangguan. Dan ia tak lagi perlu khawatir kalau Tamy berada satu ruang atau berdekatan dengan Darren.


“Mau makan apa?” Darren membawa Jen menuju stan prasmanan sederhana yang terisi oleh berbagai menu makanan. “Ini ...?” Darren menelunjuk rendang dan olahan kentang. Jen menggeleng, telunjuknya menumpu dagu ketika ia ragu memilih menu prasmanan tersebut.


Mata Jen sibuk memindai dari ujung sampai ujung yang lain dari hamparan menu prasmanan tersebut, lalu ketika pandangannya jatuh pada sate ayam yang terlihat berkilat  menggiurkan dengan sambal kacang mengguyur dengan jumlah yang melimpah, Jen langsung terpikat dan meneguk liurnya.


“Aku mau itu ....” Mata Jen semula memandang sudut jauh yang menghamparkan puluhan tusuk sate yang telah tertata di piring, beralih kepada


Darren seolah minta persetujuan dan ajakan.


“Ayo ....” Lagi-lagi, Darren mengisi sela jemarinya dengan jari-jarinya yang panjang. Menggenggamnya erat. Membuat rasa hangat merambat melalui ujung-ujung saraf yang seakan peka dengan sentuhan-sentuhan dari pria tersebut. Bibir Jen menipis tanpa sadar, manik matanya sejenak menatap tautan


tangan mereka, lalu dengan napas terhela dalam, ia mengangkat wajah, tersenyum


Keduanya duduk di sebuah bangku plastik yang tersedia di sudut jauh ruangan ini, menikmati dua piring sate, sup ayam dan sosis, buah


potong, air mineral, dan satu mangkuk sop buah. Jujur saja, Darren sedikit aneh dengan istrinya itu, meski sudah diberitahu agar tidak mengambil banyak menu, tetapi ia nekat mengambil dengan alasan belum makan sesiangan tadi. Pada akhirnya, Jen menyisakan semua itu kecuali sate dengan sambal yang sangat banyak. Makanan itu masih teronggok utuh bahkan sup itu hanya dicicipi kuahnya sesuap saja.


“Sakit perut, bagaimana nanti?” omelnya entah keberapa kali, ingin marah tapi melihat senyum yang menyipitkan mata itu malah membuatnya tak tega dan gemas sendiri apalagi ketika pipi itu menggembung berisi makanan. Bahkan ia


sampai memutar kepalanya dengan senyum yang tak bisa lagi ditahannya.


“Bener seharian belum makan?” Jen hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Tetap anggun dan tidak tampak seperti orang kelaparan yang kalap memang. Dan Darren suka melihat ekspresi kepedasan istrinya itu


sehingga ia berulang kali menyusuli suapannya dengan air mineral.

__ADS_1


Darren menggelengkan kepala dan mengambil tisu untuk menyeka bibir istrinya yang bertebaran dengan sambal dan air yang menetes-netes. “Madep sini, coba ...!” perintahnya sambil menarik dagu istrinya yang hanya mengedipkan bulu matanya tanpa sempat menolak atau mengelak.


Warna merah kembali memerahkan area sekitar bawah mata hingga ke telinga, ia dengan jelas melihat dari dekat wajah teduh suaminya


hingga ia tak kuasa menahan debar jantungnya yang menggila, seakan meronta-ronta melihat kuatnya pesona pria ini, apalagi saat sapuan napas yang terasa hangat menerpa wajahnya. Jen bergidik dan mengerjap dengan cepat, mengusir rasa yang kurang ajar menekan tenggorokannya.


“Udah ...,” kata Darren yang sudah selesai menyeka bibirnya, “kenapa bengong begitu?”


“Ya ...?” Jen gelagapan dan bingung mencari pengalihan. “Aku ... aku,” gugup dan gagap Jen yang langsung membuat Darren menerbitkan tawa kecil yang lirih.


“Aku tau aku tampan, wajar kalau kamu semakin dalam jatuh cinta sama aku ... au!” Darren praktis langsung meringis dan mengusap lengannya yang mendapat hadiah sebuah tamparan yang cukup keras dari Jen, “seneng banget, sih, nampar lenganku!” keluhnya lirih. Namun dengan tangan yang sakit itu juga


ia mengusap rambut Jen dan menyisipkan ke belakang telinga. “Untung sayang ...,” imbuhnya dengan punggung jemari mendarat di pipi bersemu semburat merah muda yang sangat cantik.


Darren lalu mengalihkan topik pembicaraan ketika Jen mulai meminum air mineralnya dengan mata awas  memandang rangkaian bunga yang melengkung membentuk lingkaran di belakang Tamy dan Jabir. Pun dengan bunga cantik di tangan Tamy yang ia rasa


adalah hasil karya mama Desy. Perbuatan Darren sungguh membuatnya tak bisa


berkata-kata dan salah tingkah. Dia mungkin pernah merasakan jantungnya


berdebar sebelumnya, pernah berbunga-bunga sebelumnya, tetapi belum pernah


merona dan perasaannya meluap sederas ini. Ini sungguh luar biasa.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2