
Rian jelas mendengar percakapan anak dan karyawannya, tetapi ia hanya bisa meredam dengan sebuah hiburan-hiburan kecil. Dia bukan suami yang baik bagi dua istrinya, jadi untuk memberi nasehat yang baik, dia sadar diri bahwa seumur hidupnya tidak ada yang bisa dianggap benar. Dia hanya penebar luka.
"Papa melamunkan apa?" Jen membawakan satu potong bolu ke hadapan papanya. Mengangsurkan ke tangan papanya yang sudah berlipat kerut meski masih samar. Papanya ini masih tampan seperti dulu, hanya lebih kurus dan pucat. Jen duduk di sebelah papanya, menyerongkan posisinya.
"Apa ini tentang Sia lagi?" Jen mengusap punggung papanya, dan ketika Rian membalas tatapannya lalu tersenyum.
Rian menarik napas, meletakkan piring kue itu ke meja di depannya, lalu tegak kembali dengan helaan napas sama beratnya. "Seorang ayah sebenarnya tidak sedetikpun lupa pada anak-anaknya, Nak ... tetapi terkadang keadaan menghambat segalanya. Sekarangpun demikian, papa malah sakit saat seharusnya mencari Sia."
Jen masih meneruskan lagi usapannya di punggung papanya, "kakak sudah mencari Sia sebagai ganti papa, jadi sekarang papa tenangkan pikiran, ya ... Sia mungkin tidak berbohong, Pa. Sama seperti papa bilang, hanya keadaan sedang menghambat segalanya."
Semalam kakaknya berpesan kepada Jen untuk menenangkan pikiran sang papa, dan Jen yang semula bingung harus menenangkan dengan cara seperti apa, akhirnya begitu lega ketika berhasil melakukan perintah kakaknya dengan baik. Bagi Jen, hal-hal serius seperti ini sangatlah sulit. Dia terbiasa berkata santai dan penuh gurauan ketika memberikan hiburan pada kawan-kawannya.
Jen melukiskan senyum di atas bibirnya yang belum sepenuhnya kembali berseri. Entah kenapa sakit kepalanya datang dan pergi semaunya. Mungkin karena jika tidak terasa sakit, Jen tidak akan meminum obatnya. Bahkan sekarang, kepalanya berdenyut-denyut tak karuan.
Rian sedikit terkejut, "kamu bilang sama kakakmu, Nak? Apa itu tidak merepotkannya? Papa jadi ngga enak hati sama Naja, demi Sia dia harus ditinggal."
"Ngga apa-apa, kok, Pa ... kakak malah seneng begitu tau masalah Sia lebih awal. Bahkan dia langsung pesan penerbangan ke Surabaya semalam. Sia juga saudara kami, Pa ...," kata Jen sembari merebahkan kepala di bahu Rian. "Maaf kalau selama ini aku ngga deket dan sayang sama kalian."
__ADS_1
Rian kali ini benar-benar sembuh dari sakitnya, seluruh langit mencurahkan anugrahnya. Doa yang selama ini dia panjatkan akhirnya terwujud. Hanya demi detik-detik ini dirinya hidup. Hanya demi pelukan yang melingkari pinggangnya dia menahan semua perih dan lara. Waktu itu akhirnya sampai juga.
Rian membalas rangkulan anaknya dengan senyum yang merekah. "Papa yang ngga pernah berusaha dekat dengan kalian, Nak ... jangan minta maaf karena ini bukan salahmu. Papa sudah seharusnya berterimakasih pada kakak, kamu, dan mamamu. Kalian manusia luar biasa." Rian mengeratkan pelukannya. "Papa masih boleh cium kening kamu ngga, sih?"
Jen menjauhkan tubuhnya, seluruh wajahnya mengerut penuh tanya saat ia menatap papanya. "Emanngnya kenapa, Pa?"
"Kan udah ada Darren yang selalu mengisi keningmu dengan ciuman ...." Rian menahan senyumnya. Ketika Jen merengut lalu memalingkan wajahnya dengan semu merah di pipi, Rian menggelakkan tawanya. "Cie ... anak papa malu, ya ...," godanya sambil menoel pundak Jen yang masih memunggunginya.
"Apaan, sih, Pa ...." Jen berbalik, "udah ih, papa makan dulu kuenya." Jen meraih piring yang tergeletak manis diatas meja, mengiris satu suapan kue untuk papanya. "sini, biar Jen suapi papa."
Jen menjulurkan sendok ke depan Rian, dan dengan sedikit keraguan, Rian menerima suapan tersebut. Mengunyahnya perlahan-lahan. Dia telah terbiasa makan makanan yang mengandung glukosa berlebihan, meski dia tetap menjaga kadar gulanya tidak terlalu rendah. Rian akan lemas dan drop ketika kadar gulanya terlalu rendah.
"Enak dong, 'kan anak papa yang buat ...."
"Eh, bukan aku yang buat, Pa ... tapi Mbak Gita yang buat ... aku hanya nonton aja tadi." Jen tertawa lebar, sementara Rian yang tahu kalau Gita yang membuat kue tersebut, hanya menyimpulkan senyum. Jika boleh serakah, dia berharap akan seperti ini setiap hari.
***
__ADS_1
Darren hari ini bisa dibilang cukup santai di galeri, tetapi ia menjadi sangat sibuk ketika dua orang kawannya yang sedang ada proyek bersama mengajaknya bertemu. Mengingat hari ini dia bekerja sendiri di galeri jadi dia meminta Dafin dan Yoan untuk datang ke galeri.
"Jadi tinggal nyari angel investor aja nih ... yang berani ambil resiko, yang ngga pake mikir dua kali buat gelontorin dana ke Agribis." Dafin mengarahkan pandangannya yang penuh arti ke arah Darren yang terlihat sedikit melamun. Sejak mereka mulai rapat kecil-kecilan ini, Darren sibuk memerhatikan ponselnya sembari menggosokkan telunjuk di antara belahan binirnya yang mengatup.
Darren menghela napasnya, ia beralih dari ponsel yang tertera jumlah panggilan dari istrinya itu kemarin, pantas saja jika Jen marah. Tak kurang tiga puluh kali Jen menelponnya.
"Jangan minta papa mertua gue buat jadi investor, anaknya belum bahagia sama gue," katanya datar cenderung berat. Manik matanya merangkak menatap kedua sahabatnya bergantian. Dan hanya helaan napas berat yang penuh kekecewaan sebagai jawaban dari dua orang itu. Lalu Dafin membuka kedua tangannya dengan perasaan yang tidak tahu lagi harus mencari investor kemana. Perusahaan startup yang mereka jalankan selama kurang lebih dua tahun ini cukup di minati, tetapi sampai sekarang belum ada investor yang berani menggelontorkan dana untuk mereka. Ya, rata-rata beralasan takut modal mereka tidak kembali.
"Aku kemarin dihubungi oleh crazy rich dari Surabaya."
.
.
.
.
__ADS_1
.