Suami Settingan

Suami Settingan
Ever Lasting Love


__ADS_3

Meski sudah sangat terlambat untuk ukuran masuk kerja, Darren tetap beraktifitas seperti biasa. Wajah lelah Darren terlihat menguap beberapa kali. Tak jarang ia mengusap tengkuknya. Memijatnya ringan.


"Kenapa?" Tamy masuk tanpa kesulitan sebab Darren membiarkan pintu ruangannya terbuka. "Dia bikin ulah lagi?" Biasanya Darren akan terlihat letih dan suntuk bila Jen terus membuat ulah.


Darren menggeleng. "Ngga kok ... cape pindahan aja!"


Masa iya mau menceritakan kalau sehari semalam gulat di kasur? Sama Tamy pula! Yang ada dia nanti malah makin baper.


"Rumah baru?" Tamy berjalan mendekati meja, lantas ia meletakkan satu cup kopi yang baru saja ia beli dari sebuah coffe shop tak jauh dari sini. Berhubung di depan meja kerja Darren tak ada kursinya, ia langsung menuju sofa.


"Bukan. Rumah neneknya Jen yang udah lama ngga ditempati. Mainlah kapan-kapan!"


Aroma kopi yang menyeruak udara sekitar Darren membuat tangan pria itu mengambil gelas kopi dan menyesapnya. Capucino. Darren menatap tulisan di gelas tersebut. 'Semangat'


Darren mengulas senyum tipis lalu ia menaikkan kepalanya ke arah Tamy yang membuang muka ke sisi lain ruangan. Seolah ia tidak mengetahui apa-apa soal ekspresi sahabatnya tersebut.


"Ya, siapa tau bisa bikin mood jadi baik setelah membacanya!" ucap Tamy.


Darren kembali tersenyum, "kopi tuh diminum, bukan dibaca!"


"Ya, maksudnya baca tulisannya lalu seruput kopinya!" ralat Tamy. Masih saja wanita itu menolak menatap Darren. Meski sesekali ia melirik ke arah pria tersebut.


"Semangatku dah balik tanpa minum kopi, percaya deh! Punya istri itu lebih dari meminum sepuluh cup kopi. Istriku semangatku!" Darren terkekeh sambil terus menyesap kopinya.


"Gak usah diminum kalau gitu! Nyesel tau ngga beliinnya!" Tamy merengut dan bangun dari duduknya. Ia menghampiri Darren berniat merebut cup kopi di tangan Darren.


Darren menampik tangan Tamy, menjauhkan gelas itu dari jangkauan sahabatnya. Membuat Tamy mendengkus kesal. Ia sampai membuang wajahnya ke sembarang arah melihat Darren sangat menyebalkan.


"Kemarikan! Sana lihatin istrimu yang bikin semangatmu naik. Gosah minum kopi dariku!" kesal Tamy. Sampai-sampai ia menghempaskan bahunya luruh.


"Nanti bintitan kalau kamu minta lagi ... nanti cantiknya ilang!" Darren menggoda Tamy dengan menaik turunkan alisnya. Tak lupa seringai yang menampakkan cekungan pipinya membersamai.


"Lama-lama kau ketularan sifat istrimu yang menyebalkan itu, ya!" Tamy menghentak kakinya dan berlalu pergi dari ruangan Darren. Percuma saja mencemaskan pria itu.

__ADS_1


"Jan galak-galak, tar gada laki yang mau sama situ! Kapok!"


"Bodo amat!" balas Tamy di balik pintu.


Darren terkekeh. Ia kembali menatap laporan hasil penjualan yang berada di laptopnya untuk nanti di serahkan pada Jeje bila telah kembali. Meski sebenarnya Jeje tidak terlalu ambil pusing tapi amanah yang dipikulnya tentu akan ia emban dengan baik sehingga tidak membuat si pemilik di rugikan.


Ponsel di sebelah laptop berdering, Darren mengambilnya tanpa melihatnya terlebih dahalu.


"Selamat siang, Pak ... pesanan bapak telah kami siapkan sesuai dengan apa yang bapak inginkan. Apa perlu bapak mengecek lagi atau barangnya langsung di antar ke alamat bapak?" Suara di seberang telepon terdengar ramah dan mendayu.


Sejenak Darren berpikir. "Langsung dikirim saja, Bu ...."


"Baik Pak ... sekali lagi saya menawarkan, apa Bapak yakin dengan membelinya secara cash, kami bekerja sama dengan bank yang yang Bapak percayai jika anda berniat membeli secara kredit? Kami menawarkan beberapa keuntungan menarik yang bisa Bapak dapatkan. Dana Bapak bisa dialokasikan untuk modal usaha atau keperluan lain. Bagaimana Pak?"


"Saya masih konsisten untuk membelinya secara tunai, Bu ... ekonomi sedang tidak stabil, saya takut jika saya tidak mampu membayar cicilan setiap bulannya."


"Baik Bapak. Kami mengerti dan akan segera kami proses ya, Pak ... mohon untuk mentransfer uanganya begitu urusan administrasi selesai ya, Pak ... barangnya akan kami kirim paling lama sore ini. Terimakasih telah memercayai kami."


"Baik, Bu ...," jawab Darren sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi. Ia membuang napasnya keras-keras lalu kembali menerawang ke luar jendela.


***


Sementara, Jen dan Vaya tengah berkeliling di beberapa tempat untuk menjajakan pakaiannya. Vaya telah mengusahakan melalui penjualan online yang menawarkan diskon besar-besaran. Cukup laku, tetapi masih sisa beberapa kodi yang ingin segera Jen singkirkan.


Pasar besar di kota ini masih ramai meski siang telah datang. Mobil yang dikemudikan Vaya berhenti di halaman parkir pasar tersebut. Dua wanita itu langsung menggelar dagangannya lengkap dengan standing banner yang di buat Vaya kemarin.


Vaya menyalakan sebuah speaker untuk menarik minat para pengunjung pasar yang lewat.


"Yoayo, Buibu, Pakbapak, Mbakembak ... koleksi JC sedang cuci gudang. Less price sampai 50% dan ada free satu kaos untuk pembelian sepuluh pieces! Yoayo diborong buebu dan sanak saudara, handai taulan semuanya. Kualitas sama hanya harga yang terjun bebas. Boleh cek toko online kami di JeColshop. Asli no tipu-tipu dan no hoax."


Jen ternganga mendengar suara dari toa yang bikin insekyur pedagang tahu bulat.


"Vaya emang best! Makasih pujiannya, Beb!" Vaya menaik turunkan alisnya menanggapi ekspresi Jen yang nyaris pingsan.

__ADS_1


"Kamu buat ini kapan?" tanya Jen setelah mendapatkan lagi suaranya.


"Kemarin sama omku yang punya mobil ini. Dia kan yang punya cetak printing banner kaya gini, jadi pas nungguin ini jadi, aku iseng-iseng bikin rekaman ini. Katanya dari pada koar-koar ngabisin tenaga mending pake toa. Hehe ...," jelas Vaya panjang lebar. Tangannya menggoyangkan standing banner tersebut.


"... emang bener, sih ... kita hanya fokus menjual saja dan biarkan toa beraksi," cengir Vaya sambil menggaruk kepalanya.


Jen hanya bisa 'nyebut' dalam hati. Bisa ya, Vaya punya ide seperti ini, yang bahkan Jen saja tidak memikirkannya. Ya Tuhan, Jen sungguh merasa buruk, ia yang punya malah tidak melakukan apa-apa, sedangkan Vaya sibuk memikirkan cara untuk membuat usaha mereka lebih efisien.


"Ya Tuhan ... kemarin aku ngapain aja? Kanapa malah gak bantuin Vaya!" batin Jen.


"Makasih banyak ya, Vay ... kamu emang sahabat baikku. Tapi gak papa nih, kaya gini? Gak enak sama Om kamu." Jen memeluk Vaya. Ia sungguh mengatakan rasa terimakasih yang tulus.


"Udah gak papa ... kata Om cukup isi bensin saja, gak usah pakai uang sewa. Lagian mobilnya nganggur kok." Vaya menepuk punggung Jen dengan lembut. Dulu, Jen juga sering membantunya saat kesulitan, jadi kenapa enggak sekarang giliran dia yang bantu Jen. Apalagi Jen sedang kesulitan.


Teman selalu begitu, 'kan?


.


.


.


.


Bhaa ...😁


-Thor kemana lo? Ngumpet? Alasan apa lo gak up kemaren?🙄


Eh, panggilnya biasa aja kali😁 Shel ... onli Shel atau Mis😂 Thor itu berasa jadi anggota Avengers aja😂


-Kenapa mesti Mis?🙄


Biar keren aja😂😂😂

__ADS_1


Kaboorrr😂


❤❤❤❤


__ADS_2