Suami Settingan

Suami Settingan
Hanya Tentang Mereka


__ADS_3

Darren menamparkan telapak tangan Jen ke sisi bibirnya hingga terasa panas dan sedikit nyeri.


"Darren hentikan!" Tangan Jen menegang kaku, tertahan agar Darren tidak bisa menariknya. "Apa seperti itu bisa menyelesaikan semuanya? Sebenarnya ada apa, sih? Ada apa dengan makanan itu?"


Jen menarik tangannya dengan kasar dan keras, hingga Darren yang terdiam tak bisa mempertahankan tangannya tersebut. Matanya masih menatap suaminya itu dengan perasaan mendongkol.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Ren?" tanya Jen lirih, tetapi Darren tahu kalau Jen sudah muak dengan semua tingkahnya. Tingkah yang agak mencurigakan.


Darren benar-benar kehabisan napas sekarang. Wajahnya semakin tertunduk. Menimbang-nimbang semuanya. Lalu ia menoleh, meraih telapak tangan Jen dan meremasnya. "Sayang, ka—"


"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu dariku, Darren. Aku tau aku pasti tidak baik-baik saja saat aku dirawat!"


"Yang, kamu baik-baik saja, kok—"


"Bohong!" tukas Jen cepat sembari mengibaskan tangan Darren. "Kamu tau, kamulah yang egois, Ren ... kamu yang bikin aku kebingungan dan serba salah. Kalau aku baik-baik saja, kenapa kamu sampai seperti ini padaku jika hanya soal makanan?"


Darren menghela napas alih-alih menjawab pertanyaan istrinya. Lantas ia berdiri dan melangkah dengan langkah yang terpaksa menuju meja di mana banyak sekali laci di bawahnya. Darren menarik satu amplop yang isinya sudah dia hafal diluar kepala.

__ADS_1


"Ini apa?" Jen bertanya saat amplop itu telah berpindah tangan kepadanya. "Ini punyaku?" Jen membukanya dengan cepat tanpa menghiraukan Darren yang membisu.


"Aku sakit kanker? Ngga bisa disembuhkan?" Manik mata Jen bergerak-gerak, bibirnya berkomat-kamit membaca kata demi kata di kertas yang terlihat kusut itu, sesekali keningnya mengernyit karena ia tidak terlalu paham dengan istilah medis yang baru pertama kali ditemuinya.


"Kamu positif terinfeksi virus tokso, Yang ... kamu harus tes lagi besok atau besoknya." Darren terlihat putus asa dan tidak kuasa memandang Jen. Sebagai pengalihan, dia mengalihkan letak nampan berisi makanan yang sudah sedikit dingin itu ke meja di sisi ranjang.


"Apa itu mematikan?" Jen menutup lembaran yang membuat kepalanya pening. "kami akan mati?"


Darren meletakkan piring yang dipegangnya dengan sentakan di tengah dadanya. "Aku tidak tau kalau kamu senang sekali berpisah dariku!" Itu sungguh menyakitkan. Apa tidak apa pertanyaan lain, atau respons yang sedikit wajar, menangis misalnya? Tersedu-sedu dan meratapi? Bukan terlihat antusias dan berkata seolah mati itu adalah perkara yang mudah.


"Ya ... dari kelihatannya, maksudku, kamu tampak berlebihan sekali, membentak-bentak, kasar, dan seperti bukan kamu yang biasanya." Jen sedikit menyesal menukas perkataan suaminya dengan berlebihan.


Jen menggigit bibirnya. "mereka baik-baik saja, 'kan?"


Darren menghela napas lagi. "Aku berharap kalian baik-baik saja, makanlah yang seimbang, dan jaga diri kamu. Mungkin itu bisa mengurangi efek dari parasit itu."


Sejauh ini, hanya bisa berharap kalau gizi dan nutrisi mampu meningkatkan imunitas dan membiarkan tubuh Jen membentuk antibodi secara alami. Meski ada beberapa bantuan obat-obatan, tetapi lebih baik tubuh Jen mampu melawan virus itu. Segala cara yang dikatakan baik dan dianjurkan oleh Dokter Andina, Darren setujui sepihak tanpa melibatkan Jen.

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya Jen sedikit tidak percaya. "Dokter Andina bisa aku hubungi, ngga ya, sekarang? Aku harus tau keadaan mereka!"


"Untuk sekarang, obat yang diresepkan untukmu lebih dari mampu untuk menekan terpaparnya virus itu pada mereka, Yang ... kita akan tes lagi besok atau lusa, sebisa kamu." Darren agak terkejut melihat reaksi Jen yang diluar dugaannya. Mungkinkah dibalik kilat-kilat yang timbul di mata itu dia sebenarnya ingin menangis?


"Besok saja kalau begitu, meski aku merasa baik, tapi aku perlu tau keadaan mereka secepatnya."


Jen terlihat menggebu, tapi mungkin itu karena dia sedang tidak tenang. Hanya disembunyikan. Dan, ini yang sangat tidak diinginkan Darren, Jen mulai berahasia dengan perasaannya.


"Kamu ngga takut?"


"Aku hanya takut mereka yang kenapa-napa," jawab Jen dengan mata yang terpupuk cairan bening.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2