Suami Settingan

Suami Settingan
Me Time Sama Mama


__ADS_3

"Papa katanya buru-buru, kenapa masih di sini, tuh kasian Riko nungguin ...," sejenak mereka terdiam dengan senyum bahagia penuh syukur menghiasi, tetapi Kira juga segera sadar dan menepuk lengan suaminya seolah mengingatkan.


Harris menepuk kening dengan telapak tangan dan berkata 'oh iya' sembari mendongakkan kepalanya. "Kenapa papa makin pelupa, sih, Ma ...," keluh pria berwibawa itu selanjutnya. Ia segera berbalik sembari mengulurkan tangan pada Kira sang istri yang juga sudah siap memberikan baktinya.


Pun dengan Darren dan Jen yang segera mendekat untuk menyalimi papanya, "hati-hati di jalan, ya, Pa ...." Jen tersenyum ketika Harris mengusap kepalanya.


"Kalian juga, ya ... Ren, kalau kamu luang, kita ngobrol ya. Papa ingin lebih dekat dengan kamu." Ia menepuk pundak Darren yang baru saja menyalaminya dengan tangan yang lain.


Darren mengangguk untuk menyanggupi dengan senang hati. Meski dalam hati ia berdebar juga. Haih ... semoga bukan obrolan yang berat, harapnya dalam hati.


"Berangkat dulu, ya, semuanya." Harris beranjak dengan senyum yang cerah menghiasi. Kira dengan setia meraih lengan suaminya, mengantar suaminya tersebut dengan sekali waktu menoleh untuk mengatakan sesuatu. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Harris kembali menghentikan kakinya. Tangannya lagi-lagi menepuk kening, lalu berbalik mendekati Jen.


"Papa cuma lupa bilang kalau kamu jadi saksi untuk kasus Tanna dan Diego, Jen ... nanti akan papa kasih tau apa saja yang harus kamu lakukan nanti ... masih lama kok, jadi ngga usah dipikirkan. Lagian Tanna juga di laporkan oleh Nella, jadi kalaupun kasusnya sama kita ringan, tapi kalau sama Nella sampai berujung kematian ayah Nella. Mungkin hukumannya akan lebih berat." Harris melihat ekspresi terkejut dan tegang wajah Jen ketika nama Tanna di sebutkan. Sepertinya anaknya itu masih memiliki trauma pada Tanna.


"Jangan takut dan katakan keadaan sebenarnya, mengerti?" Harris menekankan kalimatnya dengan sebuah anggukan. Meminta anaknya tetap kuat dan berani.


"Iya, Pa ... Jen ngerti kok, malah saat ini yang aku tunggu-tunggu. Menjebloskan Tanna ke penjara." Jen menipiskan bibir. Meski sebenarnya dia juga berdebar-debar sebab akan menghadapi sidang pengadilan pertama kali.


"Anak pintar ...." Harris mengusap pipi anaknya. "Udah, ya ... papa beneran berangkat ini ...," ujarnya seperti kerepotan sendiri. Tangannya melambai, dan bergegas berjalan ke mobil di mana Riko sudah menunggunya di samping pintu mobil yang sudah di bukanya.

__ADS_1


Mereka bertiga melambai hingga mobil yang ditumpangi Harris lenyap dari pandangan. Kira berbalik, dengan mata yang memejam sebelah. "Let's go shoping ...!" seru Kira dengan tangan meninju udara di atasnya.


***


"Ranu apa kabarnya, Ma?" Jen berdiri di depan kasir bersebelahan dengan Kira yang baru saja menyelesaikan pembayaran atas belanjaan yang barang elektronik yang sebagian besar sudah dikemas dalam sebuah mobil yang akan diantarkan ke rumah Jen. Mereka juga berdebat tentang pembagian pembayaran yang tidak di setujui Kira.


"Dia baik, hanya sekarang malas masak ... mungkin karena dia ngga punya teman yang diajak seru-seruan di dapur." Kira tersenyum membalas pertanyaan Jen. Sebenarnya, tidak juga. Ranu menjadi pribadi yang tertutup dan murung beberapa hari ini. Namun, ia tak ingin mengatakan hal tersebut kepada Jen, tak ingin anaknya semakin merasa bersalah. Beruntung kasir memanggilnya untuk mengembalikan kartu debit Kira beserta struk pembelian yang sangat panjang sehingga ia punya alasan pengalih perhatian.


"Makasih, ya, Mbak ...," ucapnya. Ia masih menata jawaban yang tepat untuk Jen jika anaknya ini memiliki pertanyaan lain.


"Pasti Ranu sedih sekarang ... jadi aku harus gimana, Ma ...?" Jen mengulum bibirnya dengan cemas, ia merasa keterlaluan kepada adiknya itu. Seharusnya ia menenangkan, menghibur, bukan malah membuat hati adiknya semakin terluka. Ah, sekali lagi, sifat egois dan suka semaunya sendiri yang masih bertahta tinggi di hati adalah penyebabnya.


"Karena semua sudah takdir jodoh ... kadang manusia terlalu tinggi menaruh ekspektasi akan keberhasilan sebuah rencana, tapi kalah sama yang berdoa sungguh-sungguh dan tulus memperlakukan seseorang. Darren mungkin selalu menyebutmu dalam doanya, jadi Tuhan menempatkannya dalam masalah yang sedang kau hadapi sehingga kalian bisa bersama seperti sekarang."


Jen merembeng haru kala melihat wajah mamanya yang begitu lembut memperlakukannya. Tak ada amarah memupuk di sana, yang waktu itu jelas sekali ia lihat. Ya, tentu seorang ibu tak akan terima anak yang susah payah dibesarkannya mendapat perlakuan buruk, sekalipun dari saudaranya sendiri.


"Maafkan Jen waktu itu ya, Ma ... Jen saat itu sedang marah sekali sama ... sama—"


"Mama ngerti ...," tangan Kira kembali mengusap lengan anaknya senyum penuh pengertian. "semua wanita juga akan marah kalau suaminya lebih memerhatikan maupun diperhatikan orang lain ... dan itu wajar. Untuk ukuran pernikahan yang masih bayi ... hal itu sangat bisa di mengerti oleh kami, Nak ... tapi Ranu masih anak-anak yang hanya tau kalau cinta itu harus bersama. Berikan waktu untuk adikmu itu mendewasakan diri dan kamu bersabarlah." Kira lagi-lagi tersenyum dan memutar badan Jen untuk di tuntunnya keluar dari tempat ini.

__ADS_1


"Kita makan, yuk ...," ajaknya sambil merangkul anak gadisnya tersebut di pinggang. Jen terlarut pada ucapan sang mama yang sedikit demi sedikit dicernanya. Ya, disini dialah yang harus dewasa, toh ... Darren sudah berkata kalau lebih memilihnya. Bahkan Ranu mungkin hanya dianggapnya seorang adik saja. Ah ... mungkin ia harus memperjelas ini nanti. Memperjelas perasaan Darren pada adiknya itu.


"Tetap sayangi Ranu dan perlakukan dia semestinya, walau nanti Ranu akan jutek sama kamu ...," lanjut Kira ketika sampai di bagian depan toko besar tersebut. "Jen bisa, 'kan?" Ia mengusap rambut anaknya.


Helaan napas Jen terdengar berat, tapi ia mengangguk untuk menyetujui. "Jen akan berusaha, Ma ...."


"Anak mama harus kuat dan sabar ...." Kira merengkuh anaknya itu dan mencium pelipisnya.


Kira menghela napas lega saat menurunkan kepala Jen ke bahunya. Menjadi orang tua adalah seumur hidup, jadi belajar juga seumur hidup. Terimakasih untuk anak-anak yang senantiasa mengajari orang tua ilmu baru yang kadang baru saja di temukan saat anak mendapat masalah ataupun ujian.


Mereka meleraikan pelukan. "Sekarang, biar Jen yang traktir mama ... tadi 'kan mama udah belanjain Jen." Jen mengamit lengan mamanya tanpa menunggu jawaban persetujuan. Membawanya ke sebuah kedai pizza yang berada tak jauh dari tempat itu. Ia kangen makan pizza dengan Tropical Punch. Mamanya yang sampai sekarang tidak suka dengan pizza toping jamur kesukaan Jen, jadi Jen berencana akan memaksa mamanya makan satu potong penuh. Dulu, dia dengan Ranu akan menertawakan mamanya yang menyengir ketika makan segigit jamur.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2