Suami Settingan

Suami Settingan
Kesempatan


__ADS_3

Jen mengulas senyuman saat melihat Darren sedang berada di sebuah tempat yang katanya milik teman Darren. Tempat itu dihuni berbagai macam kucing ras terbaik dan menawarkan biaya adopsi yang terjangkau—tentu untuk ukuran Jen. Sepakat untuk menggantikan Myung, Jen tetap tinggal di rumah dan Darren menunjukkan kucing-kucing tersebut melalui panggilan video. Suaminya itu tampak menggemaskan ketika para kucing berdatangan dan menggesekkan bulunya ke kaki Darren. Meski Darren agak jijik dan kegelian akibat ulah para kucing yang merupakan piaraan dari pemilik tempat itu, tetapi dia berusaha tetap antusias menggali informasi seputar kucing-siap-adopsi demi Jen.


"Jadi yang mana, Sayang?" Darren terlihat tak sabar dan tidak tahan berada di tempat itu lama-lama, suara kucing bersahut-sahutan dan itu membuat Darren meninggikan suaranya.


"Yang mukanya penyok itu saja, kayanya mirip sama Myung." Jen menghentikan tawa dan fokus mengamati kucing yang sedang di sorot oleh kamera ponsel Darren. "Yang abu-abu tua, itu matanya bagus!" Jen mengubah lagi pilihannya saat melihat kucing berbulu lembut dan bermata hijau kekuningan yang tajam.


"Jadinya pilih yang mana?" Darren terdengar kesal, sementara Jen terkekeh tanpa dosa, malah kesenangan melihat suaminya tersiksa.


"Yang matanya beda warna deh, nanti aku kasih nama Salju karena bulunya yang putih." Jen beralih lagi pada kucing yang pupilnya berbeda warna.


Darren tak tahan untuk tidak mengeluh keras-keras. "Astaga, Sayang ... pilih bener-bener, deh ... atau itu saja yang abu-abu kaya karpet bulu di rumah mama, tar kalau dia melungker di karpet biar keinjek."


"Ish, jahatnya ... mana boleh sama makhluk Tuhan jahat begitu. Apalagi dia ngga nyakitin kamu ...," kata Jen sok bijak dan berhasil membuat Darren mengalihkan arah kameranya, dari kamera belakang ke kamera depan demi melihat ekspresi Jen.


"Ya, aku emang jahat, apalagi sama yang jahatin kamu!" Darren merengut, matanya tajam penuh peringatan menghadapi Jen.


Jen mau tak mau menipiskan bibirnya penuh, "sesayang itu kamu sama aku?" matanya menyipit demi menutupi rasa hatinya yang penuh bunga. "Ouch ...," pekik Jen.


Darren sepertinya berdecak karena sebal dengan pertanyaan Jen yang meragukan perasaannya, lalu ketika Jen memekik, semua kesalnya tanggal sudah. "kenapa?" wajahnya berubah panik, pucat, dan tegang. "apa sakit?"


Jen meringis kala merasakan dua sisi perutnya berkedut akibat tendangan dari dalam, "bayimu main bola di dalam." Jen melupakan ponselnya, ketika tendangan itu berbuah nyeri yang tak kunjung hilang. Malah menjalar sampai ke punggungnya. Kedua tangan Jen menyangga perut itu sambil terus mendesis menahan sakit. Kamera ponselnya jelas mengarah ke perut buncit Jen, gerakan itu berhasil membuat Darren kalang kabut. Pasalnya, Jen di rumah sendirian karena mbak Ranti baru akan kembali sore ini.


Darren membatalkan semuanya dulu, langkahnya begitu kalut, bahkan ketika ia menembus jalanan, seolah Darren sedang kerasukan setan balap. Jen selalu merasakan nyeri, pegal, dan terkadang sampai membuatnya berkeringat dingin. Ini baru menjelang enam bulan, masih lama jika sampai batas minimal persalinan yang aman. Masih beruntung bayinya bertahan sampai sejauh ini, keduanya sehat dalam masa observasi, tetapi tetap saja, berhubung Jen belum mau melakukan USG lagi dan tidak ada yang boleh melakukan apapun pada bayinya, semua masih terasa abu-abu.


Di rumah, Jen menahan sakit akibat gerakan bayinya yang begitu kuat. "Sayang ... tolong jangan kuat-kuat nendangnya."

__ADS_1


"Sayang ...!"


Jen mendongakkan kepalanya, ia terkejut bukan main melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya. "Lho, mana kucingnya?" Mengabaikan betapa khawatirnya Darren padanya.


"Itu kita lupakan saja!" Darren kesal. "Kita ke rumah sakit!"


"Ngapain?"


Darren berjalan menuju Jen yang bersandar di kepala ranjang, mengolah napas yang tak beraturan. "Kamu kesakitan, masih tanya kenapa?"


Jen terkekeh geli. "Mereka nendangnya gak kira-kira." Jen menurunkan dua kakinya, dan bangkit, meraih kedua tangan Darren dan meletakkannya di kedua sisi perutnya. Segaris senyum terbit di bibir Jen saat melihat wajah Darren yang seperti kesetrum.


Dia bukan kali ini saja menyentuh perut Jen, tetapi ini adalah gerakan terkuat dan pasti menyakitkan. Tubuh rapuh Jen pasti seperti diremukkan dua bayi itu. Bahkan Darren jelas melihat sisa-sisa kesakitan di wajah Jen, hanya sering kali Jen menutupi semua itu agar tidak membuat semua orang khawatir berlebihan.


See?


Jen selalu begitu, dia punya banyak cara agar tidak bersentuhan dengan rumah sakit selain periksa. Belum lagi keinginan konyolnya yang hampir setiap hari dia katakan.


Melahirkan normal!


Katakan Jen agak gila dengan pemikiran itu, Darren tahu tidak ada yang tidak mungkin, tetapi dia terlalu takut melihat kesakitan berlebihan yang dialami istrinya nanti.


"Tolong, Yang ... jangan mengalihkan pembicaraan. Aku akan memberikan apa yang kamu mau, tapi kamu harus mau diperiksa secara menyeluruh." Jen sudah mulai nakal mencumbuinya, Darren bereaksi, tetapi dia ingin pertaruhan yang sepadan.


Jen menghentikan gerakannya, menjauh dengan mata berkabut. Kabut air mata dan kecewa. Mungkin untuk beberapa hal yang tidak berkaitan dengan ditolaknya hasrat palsu yang coba ia tunjukkan. Darren tahu, Jen hanya pura-pura menginginkannya. Yang menyakitkan adalah Darren seolah tidak mau mengerti akan ketakutannya.

__ADS_1


Jen memunggungi Darren dan memeluk perutnya. "Aku tau semua tidak akan lagi sama jika tau mereka tidak baik-baik saja, Ren. Mungkin aku akan meratap dan tidak lagi sayang pada mereka dan akhirnya aku melepaskan."


Jen menepis air matanya dan berbalik. "Aku masih ingin menyayangi mereka tanpa tahu apa kurangnya mereka, aku ingin membiarkan mereka bermain dengan puas sebelum dunia yang kejam akan menghakimi kekurangan mereka. Tidak perlu melakukan apapun jika akhirnya aku harus kehilangan mereka sekarang."


Darren menghela napasnya, entah dari mana Jen tahu kalau bayi mereka di diangosis mengalami kecacatan bawaan akibat virus itu. Andina mengatakan, mereka hidup, tetapi ada bagian tubuh yang tidak berkembang sempurna.


"Aku ingin memiliki mereka dan mengajari mereka saat melihat dunia. Jika aku harus jadi mata, kaki, dan penopang kehidupan mereka kelak, aku tidak akan keberatan. Aku tidak akan menyerah hanya dengan kekurangan. Kumohon, jangan lakukan apapun jika hanya menyakiti mereka."


Jen merosot dan memohon di bawah kaki Darren, yang membuat Darren langsung menariknya. Astaga!


"Sayang, jangan begini!" Ia menarik Jen dan membawanya duduk di ranjang. Tangannya mengusap kedua belah pipi Jen yang basah.


"Oke ... aku menuruti semua keinginan kamu, tapi ... kamu harus rajin periksa, harus terbuka, gak boleh main rahasia sama aku. Apa saja harus kamu bicarakan sama aku, ya!"


"Janji!" Jen langsung tersenyum. Lantas perlahan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


"Saranghe, Yeobo!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2