Suami Settingan

Suami Settingan
Bukan Mobil Tetangga


__ADS_3

Darren dan Jen saling pandang dengan jenis pemahaman yang berbeda. Sedangkan Darren mengerti arah pembicaraan mereka, sementara Jen hanya berpikir kalau orang tua mereka kocak dan suka sekali bercanda di balik ucapan mereka yang terkesan serius.


Mereka berdua mengantar keberangkatan sang papa, sambil berbicang lirih. Tentu mobil yang dimaksud papanya adalah mobil baru di depan yang ia sangka sebagai milik tetangga, tetapi jika tak salah tangkap, pemahamannya mengatakan kalau mobil itu milik mereka. Hal ini sangat mengusik Jen sehingga ia mengambil kesempatan ini untuk bertanya pada Darren.


"Jadi itu mobil kita? Bukan mobil tetangga apalagi mobil pembaca yang dititipkan di halaman rumah kita?" Ia menatap suaminya yang tampaknya tak tau bereaksi seperti apa dengan ucapannya tersebut.


Darren menarik napas dan membuangnya dengan cepat sebelum menjawab. Sungguh ia merasa gagal dengan kejutan yang susah payah ia siapkan. Tau gini langsung aja kubawa pulang tanpa perlu repot berdesakan di bis dan ketabrak BMX.


Ia hanya mampu berkata 'iya' dan menganggukkan kepala dengan ekspresi kesal luar biasa yang tak mampu di sembunyikan.


"Wah ... abis ini kita gak bisa naik busway lagi donk?" Jen takjub jika dilihat dari sorot matanya, tetapi ada nada kecewa di ujung kalimatnya. Hal ini membuat Darren menarik sudut bibirnya samar.


Jen yang melangkah pelan mendadak berhenti, "kenapa gak motor aja? Kan lebih murah dan enak kalau di bawa pergi berdua saja." Ia menatap punggung Darren yang telah melewatinya.


Darren ikut berhenti dan menoleh dengan wajah yang mengerutkan keheranan. Ia sungguh takjub dengan pikiran istrinya yang terkadang di luar dugaan. Biasanya wanita lain akan nangis-nangis, merajuk, drama pertengkaran yang luar biasa menguras emosi dan tenaga, tetapi Jen berbeda, dia malah terlihat kurang suka dengan kejutan ini. Terlihat sekali sebenarnya, tetapi mungkin ia sedang tak ingin menunjukkan perasaannya, takut menyinggung mungkin. Atau dia hanya sedang berusaha menghargai usaha seseorang.


"Apa dia bosan dengan hidupnya yang mewah? Jadi tema kencan rakyat biasa jadi pilihannya?" batin Darren masih terpaku di tempatnya berdiri.


Jen berlari kecil mendekat, khawatir perkataannya menyinggung Darren, sehingga ia segera meralat ucapannya. "Maksudku, bukan aku tidak suka dengan mobilnya, aku suka kok ... tapi kita belum butuh. Kalau mau, ada mobil di rumah kok, kita tinggal ambil ... itu atas namaku, hasil kerjaku sendiri." Ia mengambil tangan suaminya, menatap pria itu dengan bibir terlipat dalam, saking cemasnya. Sungguh ia merepet ketakutan melihat diamnya Darren.


"Ren ...," panggilnya sedikit menggoyangkan tangan suaminya tersebut. "... jangan marah, plis ... iya-iya! Aku gak bakal ngomong apa-apa lagi. Iya, kita pake mobil kamu! Maaf!" Ia menaik turunkan pandangannya. Penasaran dengan reaksi suaminya, tapi takut ini merayapi dengan nakal di sekujur nyali Jen.


Hah! Kenapalah aku ini? Kenapa takut sekali kalau Darren sampai marah?


Darren menyimpulkan senyum, mengambil kesempatan ini untuk menciumi rambut Jen yang berada tepat di bawah dagunya. Jemarinya mengisi sela jemari Jen yang sedang mengait di lengannya.

__ADS_1


"Kenapa pilih motor?" Pertanyaan Darren yang diluar ekspektasi, membuat Jen menarik kepalanya yang semula menempel di dada Darren. Ia berbinar bercampur dengan rasa tak percaya ketika pandangan mereka bertemu. Ketika manik matanya memindai wajah Darren yang terlihat sama seperti biasa, ia semakin melebarkan senyum. Tidak ada aura kemarahan atau nada kesal dari suaranya. Flat seperti biasa. Malah jika Jen tak memiliki masalah dengan penglihatannya, samar-samar ia melihat jejak senyum membekas di garis bibir suaminya tersebut.


Darren menaikkan kedua alisnya bersamaan dengan dagu, seolah menuntut jawaban dari Jen.


Jen membuka mulutnya, lalu mengatupkannya lagi. Manik mata kecoklatan miliknya berputar mencari jawaban yang sepertinya tercatat di setiap sudut mata.


"Ya, biar murah aja! Mudah, praktis, muatlah buat kita berdua. Dan ...." Jen menjeda ucapannya, senyumnya merangkak memenuhi pipi. Biar bisa peluk-peluk kamu, lanjutnya dalam hati.


Jen menggeleng, lalu menyentak senyumnya memudar. "Pokoknya belum butuh, deh ...!" kilahnya dengan cepat.


Namun, semburat merah di pipi Jen membuat Darren tidak akan percaya begitu saja. Ia hanya mencebik dan meraih belakang leher Jen, mendekatkan kepala wanita itu di bawah dagunya. "Pakai itu aja, ya, meski gak semewah mobil kamu, meski gak sesuai mau kamu, tapi itu salah satu perhatianku untukmu, demi kenyamananmu. Oke ... jangan ditolak ya ... aku tau kamu gak minta, tapi aku ingin memberi."


Jen merembengkan air mata di pelupuk mata. Ia terharu dengan apa yang dilakukan Darren untuknya. "Tapi aku gak mau bebanin hidup kamu, Ren ... harusnya aku yang banyak melakukan sesuatu untukmu. Malah aku sering nyusahin kamu."


Jen melingkarkan tangan di sekitar pinggang suaminya, mendesakkan tubuhnya lebih dekat ke tubuh suaminya tersebut. Balasannya adalah Jen mendapat kecupan yang sangat banyak di kepalanya.


Jen masih berurai air mata saat menengadah, bukan lagi berkaca-kaca tapi bermiror-miror sudah mata Jen saat ini. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu. Tapi Jen terlampau malu, sehingga ia kembali mengangsurkan kepalanya ke dada suaminya tersebut.


"Jen sayang sama Darren, 'kan?"


Jen ber'hiks' ria di dada suaminya. Ia mengangguk dan berkata 'iya' di sela derai air mata dan sesaknya jalan napas.


Darren membalas pelukan Jen sambil mengusap punggung istrinya tersebut.


"Jadi Jen mau nurut sama Darren?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya ...," isaknya parau dan tak jelas.


"Jangan suka marah-marah dan galau ngga jelas lagi, ya!"


"He eh ...."


"Dan jangan minta pakai pengaman lagi, ya!" bisiknya di telinga Jen. Melahirkan geli yang menjalar di tengkuk hingga punggung bawah. Jen menggeliat pelan dan menarik tubuhnya menjauh.


"Kalau itu ... aku masih takut, Ren ... aku masih takut!" Ia menunduk. Lebih baik jujur daripada terlanjur dan semuanya kacau. Ia ingin banyak belajar dulu bagaimana menjadi wanita yang baik, istri yang baik, menantu yang baik, lalu ibu yang baik. Ia tidak ingin urutan itu terbalik. Ibu dulu, baru mantu, lalu istri. Seringnya begitu, 'kan?


Eits, Jen! Kotak hitam dengan merek oo1 masih tersegel loh! wkwkwkwk!


"Iya ... gak apa-apa." Darren mengusap kepala Jen dengan senyum terkembang di bibirnya. Jen belum tahu atau mungkin tidak menyadari atau ia hanya berharap benih yang berulang kali di tabur di dalam perutnya itu jangan jadi bayi dulu. Darren tertawa senang, tetapi ia juga meminta maaf kepada Jen. Ia yakin Jen tahu, tetapi memang belum siap adanya.


Namun dalam hati apapun yang terjadi ia akan siap merengkuh Jen dalam susah senang kondisi mereka. Jika galaknya Jen saja ia mampu menghadapi, maka galaunya Jen hanya butuh pelukan dan bahu sebagai sandaran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2