
Di kafetaria sebuah kampus, Ranu tampak melamun. Tangannya memutar sedotan yang menusuk sebuah gelas berisi lemon tea. Biasanya, Ranu akan berdua bersama Dinka dan menghabiskan jeda waktu istirahat untuk berceloteh. Tentang cowok-cowok dambaan mereka. Siapa lagi kalau bukan Darren dan bintang di kampus mereka, Aric—pujaan hati Dinka.
"Dih ... ngapain ngelamun?" Dinka menempatkan dirinya di seberang Ranu. Ia meletakkan tas dan beberapa buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan kampus di meja sebelum menghadapi sahabatnya tersebut.
Ranu hanya bergerak malas. Ia bahkan tidak memfokuskan pandangannya, lalu menunduk dan mengaduk lagi cairan yang menggenang di gelasnya.
"Hadeh ... ni anak!" gumam Dinka sambil menggeleng. Ia menyikapkan tangannya di meja lalu memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Ranu.
"Kenapa? Bukannya kamu harusnya seneng tinggal serumah sama cowok pujaan hati kamu?"
Mata indah di balik kaca mata itu melebar sempurna. Namun, kilasan merah di sana tak bisa menyembunyikan luka hati gadis itu. Dinka mundur, ia takut akan kena timpuk tangan Ranu yang sangat panjang itu.
Ranu menajamkan matanya, bibirnya meliukkan kekesalan. Dari sifatnya, Dinka yakin sebentar lagi Ranu akan mengomelinya, sehingga ia merapatkan giginya yang sudah tampil maksimal.
"Canda ...." Dinka melebarkan senyumnya.
Gejolak di hati Ranu sudah seperti pasang yang mengamuk karang. Pasang yang pecah, sementara karang tetap kokoh, kalaupun runtuh pasti hanya jadi butiran pasir. Ranu menyapu wajah Dinka yang merabak merah. Bahunya yang sempat tegang kini lemas dan turun. Ia menunduk. Dan menangis
"Yah-yah ...," gumam Dinka sambil beranjak mendekati sahabatnya.
Malah nangis.
"Sori-sori ... aku cuma berjanda tadi ... jangan diambil hati yak ...." Ia mengambil sisi kepala Ranu dan meletakkannya di pundak.
"Din ... aku harus bagaimana? Satu sisi kakakku, di sisi lain pria yang aku sukai sejak kecil? Gak papa kalau kak Darren gak bales perasaanku dan milih orang lain, tapi kenapa harus kakakku? Sementara mereka tak pernah terlihat dekat? Apa aku saja yang gak peka?" isak Ranu di bahu Dinka. Lirih sekali ucapan gadis yang biasanya cukup berisik dan hangat ini.
Dinka tak bisa berkata-kata selain mengusap lengan Ranu dengan lembut. Andai Ranu tahu bahwa kedua orang tuanya yang meminta Darren melamar Jen, pasti hati sahabatnya ini semakin terluka. Dinka memang sempat memprotes keputusan itu karena ia dan Ranu telah melambungkan khayalan mereka setinggi awan. Sahabat akan jadi ipar. Terdengar seru dan pasti menyenangkan, tetapi itu semua buyar gara-gara keputusan orang tuanya yang tak bisa ditawar lagi. Entahlah, Dinka saja sampai beradu urat dan mendiamkan mamanya beberapa hari. Dinka juga memilih tak datang dengan alasan menjaga neneknya. Hanya berharap, ia tak melihat wajah istri kakaknya itu. Menyebalkan sekali, meski baru dipikirannya saja.
Dinka mengerjapkan kelopak matanya dengan cepat, ia kembali menenangkan sahabatnya. Ranu tak boleh tahu akan hal itu.
"Gak gitu kok, mungkin karena mereka itu udah dewasa jadi bisa menyembunyikan perasaan mereka. Lagipula, kakak tidak pernah dekat sama cewek manapun, selain kita ... dan mungkin emang kita yang gak kenal kakak, Ran."
"Jangan nangis dong, aku 'kan jadi sedih, Ran ... kita bisa tetep jadi sodara meski tidak menjadi ipar." Hanya itu yang bisa ia katakan. Meski ia membenci Jen, tapi Ranu sangat menyayangi Jen, jadi ia tak bisa mengutarakan apa yang ia rasakan pada Ranu.
"Din, apa selama ini kak Darren gak ngerasa kalau aku memiliki perasaan sama dia, ya?"
"Em ... kalau itu aku gak tahu, Ran ... kakak gak pernah bahas-bahas masalah pacar atau cewek yang dia suka. Sama papa ngomongin bola atau motor, kalau sama mama ya, kakak hanya bercanda saja. Menghibur mama gitu, sih."
Kedua gadis itu masih saling menyandarkan kepalanya.
__ADS_1
"Jadi bener ya, aku hanya salah paham dengan kebaikan kak Darren." Isakan Ranu jelas terdengar. "kupikir dia selalu manis karena menyukaiku. Mungkin karena aku masih kecil juga, ngga dewasa," racaunya. Ia melepas kacamata yang tiba-tiba merasa mengganggu.
"Gak gitu konsepnya, Ran ... Jen itu cuma umurnya yang banyak, tubuhnya doang yang tua. Tapi kalau masalah dewasa, kamu juaranya. Kamu itu cantik dan Jen gak ada apa-apanya." Dinka melirik sahabatnya yang hanya terlihat ujung hidungnya yang menukik curam. Hais ... Ranu itu sangat sempurna. Ia menarik kacamata Ranu dan menggoyangkan dengan kesal benda itu di depan wajah Ranu.
"Makanya kamu tuh jangan pake beginian, dandan! Ke kampus bawa mobil yang paling bagus, beli barang-barang yang mahal biar semua tahu kalau kamu itu anaknya Harris Dirgantara. Masa anak orang kaya sederhana gini tampilannya. Beneran di sangka anaknya tukang kebun SMA kita dulu kamu itu, Ran!" omel Dinka. Ia ingat Ranu pernah mengaku sebagai anak dari salah satu tukang kebun di sekolah mereka dulu.
Bahkan para wartawan waktu itu tidak berhasil menemukan Ranu, selain Ranu sudah pulang bersama Darren, juga tidak ada satupun yang mengetahui kalau ada salah satu anak Dirgantara menempuh pendidikan di universitas ini.
Ranu bangkit dan meraih kacamatanya lalu memakainya setelah kembali. "Aku pakai ini karena aku gak bisa baca tanpa ini. Bukan gaya-gayaan doang. Emang kamu mau, aku gak ngenalin kamu kalau gak pake ini?" kesalnya pada Dinka.
Dinka terkekeh, "Kamu lahir di jaman apa, sih, Ran? Lensa kontak banyak, Neng ... jan katrok, deh!"
"Auk ah, suka pake kacamata aku tuh, pake soft lens ribet pasang dan lepasnya. Yang ada mataku kecolok nanti," sungut Ranu sambil menenggak lemon tea yang mulai mengembunkan titik bening di luar gelas. Ia memang tak bisa berlama-lama bersedih jika bersama Dinka.
"Aku mau ke kelas dulu. Ikut ngga?"
"Eh, bentar deh, aku belum makan nih," Dinka melambai ke arah salah satu mbak-mbak penjual.
"Masuk kelas! Bodo jangan dipiara. Cita-cita pengen kaya, tapi kalau kamu gak mau belajar yang ada kamu cuma pinter halu doang." Ranu menyambar tangan Dinka, membuat teman Ranu itu tak jadi membuka mulut.
"Dasar emak-emak!" gerutu Dinka.
Baby Cio terlelap dalam buaian Naja, setelah melalui drama sepanjang pagi. Kini Naja menghempaskan tubuhnya di sofa usai membaringkan anak lelakinya di atas ranjang.
"Dasar anaknya Excel!" keluhnya sambil terkekeh. Sejenak meregangkan tubuhnya, Naja mengambil ponsel dan melihat-lihat media sosial. Foto-foto pernikahan Jen dan Darren menghiasi banyak sekali portal berita. Hate speech masih ada tetapi lebih berkurang. Biangnya sudah gak bisa pegang ponsel, kekeh Naja dalam hati.
Naja sedikit was-was, jika sampai mama mertuanya tahu, bisa runyam masa depannya juga. "Mana pas cinta-cinta sama anaknya mama Kira," Naja kembali tertawa geli membayangkan wajah suaminya yang judes-judes ngangenin.
"Aduh ... Daddynya Cio," ucapnya menggigit bibir, "jadi kangen 'kan baru ditinggal sebentar saja." Ia berniat melakukan video call dengan suaminya itu, tetapi ibu jarinya menggantung di atas nama kontak "X"
"Gak jadi ah, nanti dia ge er lagi." Naja melempar ponselnya di sofa, bersamaan dengan pintu kamarnya terbuka.
Naja menoleh, melihat Jen yang tampak kusam dan murung.
"Berapa chapter? Kusut amat, Wanita?" goda Naja yang berpikir Jen sudah tak gadis lagi.
Jen semakin memberengut. Langkahnya menghentak dan berbunyi.
__ADS_1
"Eh, jangan berisik! Cio baru saja tidur." Mata Naja bergerak mengikuti langkah Jen, keningnya semakin berkerut dalam. "Kenapa, sih?"
"Kamu dulu bisa gak ketahuan kalau pura-pura, gimana caranya?" tanya Jen sambil melemparkan tubuhnya di sofa. Bersebelahan dengan Naja.
Kerutan di kening Naja semakin banyak bertumpuk. "Ketahuan kalau cuma settingan?" Ucapan itu justru membuat Naja ketar ketir sendiri. Kalau ketahuan, dia juga kena imbasnya.
"Sedikit lagi ketahuan!" jawab Jen sambil mengadukan telunjuk dan ibu jarinya. Hal itu membuat Naja melebarkan matanya yang terlihat lelah.
"Mati gue," cetus Naja.
"Kenapa? Kan yang ketauan aku, kenapa kamu yang mati?" Jen mengerucutkan bibirnya.
Naja memandang wajah Jen sejenak. Ia heran kenapa Jen jadi lola kaya dia. "Kan itu ideku juga, Jini ...," ujarnya gemas. Ia sudah mengulurkan tangannya di depan pipi Jen. Ingin meremasnya. Tapi hanya udara di sekitar pipi saja yang ia remas.
"Kalau mama tahu, apa aku bakal dipisahin sama kakakmu?" sambungnya cemas.
Jen menggerakkan bola matanya ke sudut atas. "Bisa jadi ...."
"Beneran?" Kini Naja tak lagi bisa menahan kecemasannya. Ia meraih kedua lengan Jen dan mengguncangnya.
"Tapi boong aja, deh ... karena aku pintar jadi mama percaya sama aku. Jadi aku mesti baik-baik sama Darren, atau kalau ngga, aku bakal dilempar ke Point Nemo ...," jawab Jen girang.
"Hais! Kukira kalau ketahuan, Jen ...," Naja kembali melemaskan tubuhnya di sofa. Yang bener aja kalau sampe ketauan, bisa gila otaknya yang sudah mulai miring karena anak bayiknya.
"Aku tadi 'kan gak siapan sarapan buat Darren, jadi mama marah. Ya, kupikir kamu aja sarapan disiapin kakak, kenapa Darren gak ambil sendiri?" ujar Jen enteng.
Naja menatap Jen. Astoge, pikirnya. Minta digetok kepala Jen itu, sambungnya dalam hati. "Sehat, Neng?" tanya Naja dengan mata melebar. "Itu sama aja bunuh diri, Jen ... baik-baik kalau mau hidupmu tenang saat main beginian."
"Yah ... aku 'kan gak tau. Lupa, sih ...." Jen menyengir.
.
.
.
.
.
__ADS_1