
Jen meregangkan tubuhnya, lelah setelah selesai membantu mama Desy mengemas perkakas.
"Jen ... maaf ya, kamu jadi kecapekan begini?" Desy merangkul anak mantunya dengan sayang.
Jen menggeleng. "Ngga kok, Ma ... Jen malah harus berterimakasih sama Mama karena udah sabar ngajarin Jen."
"Itu tugas Mama, Nak ... sekarang kamu istirahat, gih ...! Udah malem juga!" Desy mengusap pipi Jen dan mengecupnya. Baginya, Jen selalu seperti anaknya sendiri sejak kecil.
"Mama juga ... selamat malam, Ma!" Jen membalas Desy dengan memeluknya. Di sisi Desy, ia seperti berada di sisi mamanya sendiri. Eh ... enggak ding! Mamanya aja akhir-akhir ini sering marah-marah ngga jelas. Desy adalah mamanya yang baru.
Jen segera beranjak ke kamarnya, ia berniat mandi lagi karena seluruh tubuhnya gerah dan lengket. Pakaiannya masih teronggok di dasar koper sebab tak ada waktu menata ke dalam lemari. Langkah Jen ringan, ia dengan santai membuka koper tersebut.
Ia mengaduk kopernya hingga bagian bawah, dimana ia berpikir akan ada piama Doraemon berwarna biru, atau yang berwarna kuning mencolok yang isinya mata The Minions atau gigi Spongebob yang sedang tersenyum lebar.
"Ohmaigos!" serunya saat tangannya mencapai sesuatu yang licin dan lembut. Ia menggeram dengan mata terpejam, tangannya meremas baju itu. "Kurang asem banget si Naja ... masa harus pake beginian?"
Ia memang tak melihat, tidak juga menarik kain tipis itu, dari perasaannya dia sudah tahu bagaimana bentukannya. Melepaskan kain itu, ia beralih ke pakaian lain yang disertakan Naja di sana. Jeans dan baju-baju yang akan membuatnya gerah sepanjang malam.
"Naja mau manggang aku semalaman kayaknya ...," desahnya pasrah. Jen—setelah membuang napasnya dengan keras—akhirnya memberanikan diri melihat isi kopernya. Lingerie berbagai model dan warna terpampang nyata di sana. "Gila ...," desisnya.
Menarik salah satu yang berwarna hitam, Jen menggelarnya di depan mata. Ia langsung mendesah dan memejamkan mata, bayangan bentukan tubuhnya dalam balutan kain itu membuatnya bergidik ngeri. Pun dengan bayangan selanjutnya, membuatnya mengigit bibir. Ouh ... itu sangat meresahkan.
"Tapi 'kan kemarin udah ... jadi sekarang gak mungkin dia lakuin lagi. Masa iya begituan tiap hari." Jen mencibir sampai kepalanya miring. Tidak peduli, ia mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi.
Jen nasibnya baik, sampai kembali ke kamar lagi, ia tak menjumpai siapapun. Ia pun lantas mengepas salah satu lingerie yang dianggapnya masih sopan. Tipis tapi tidak transparan, berupa celana sangat pendek dengan renda dan atasan dengan tali spageti dan renda membentuk huruf 'V' yang rendah. Warna peach yang cantik, pikirnya.
Jen menaikan tanktop itu hingga nyaris menyentuh leher, lalu ia segera naik ke kasur kecil Darren, dan duduk bersila. Ritual malamnya sebelum tidur adalah memainkan ponsel, meski sekarang sepi sekali. Hiks, batin Jen menangis.
Pertama kali yang ia lakukan adalah membuka aplikasi hijaunya.
Naja ....
Wish your night ... whispering uh ah ... wkwkwkwkwk!
"Kurang ajar banget, sih!" Jen menggigit bibir, ia ingat bagaimana dulu ia mengirimi Naja baju dinas malam itu sangat banyak dan bermacam model.
"Balas dendam, nih ceritanya?" balas Jen dalam pesannya setelah lama berpikir. Jen hampir saja merebahkan badannya ketika ponselnya kembali berdenting.
"Balas dendam dibayar nyicil ... wkwkwkwk!"
"Dasar Naja ...," geramnya sambil meremas ponsel ditangannya.
Kebiasaan di rumah ini memang selalu mengamankan harta benda, termasuk pulsa listrik. Setelah tak ada aktifitas lagi, sebagian besar lampu dipadamkan, menyisakan lampu depan dengan watt paling rendah. Itu adalah tugas Darren.
***
Memastikan semua aman, ia segera naik ke kamarnya. Pintunya tak berderit, hingga ketika ia masuk, Jen yang asyik memainkan ponselnya tak menyadarinya.
Mata Darren berhamburan dengan girang, hingga bibirnya menyusul dengan sebuah rentangan senyum bermakna. Buih-buih kelelakiannya mulai mengumpul dan tegak hanya dengan melihat bidadarinya yang galak itu tampak cantik. Duduk tegak—meski tidak menyambutnya—diatas kasur, seperti menunggunya. Mati-matian Darren menahan bibirnya agar tidak berteriak saking girangnya.
Ia melepas sarungnya dan meletakkan di keranjang biru di dekat lemari. Baju kokonya juga ia lepaskan, berniat ingin mendekati Jen dengan celana boxernya saja. Tapi ketika baru satu langkah berjauhan dari dekat lemari, ia berbalik.
__ADS_1
Bisa mencak-mencak dan ngamuk nanti ... gagal bahagia donk, si Elmo!
Ia bergegas membuka lemari, lalu mengambil kaos dan memakainya. Pantulan badan Darren yang cukup atletis dan kulitnya yang kuning langsat tampak jelas di cermin. Cukup ideal untuk ukuran manly, sebenarnya. Tapi bagi ekor mata Jen yang sengaja meliriknya, itu biasa saja. Jauh dari standartnya. Tapi tetap saja, ia berdebar.
Ketika Darren mendekat, Jen beringsut rapat ke tembok, menarik selimutnya sebatas dada. Matanya menyalak dengan galak saat tubuh Darren jatuh diatas kasur.
"Apa?" tanya suaminya itu dengan mimik keheranan.
"Tidak ...." Jen menggeleng lalu kembali memainkan ponselnya.
"Tidurlah, ini sudah malam ...!" titah Darren sambil menggulingkan badannya ke samping, tangannya menekuk sebagai tumpuan kepalanya. Memandangi istrinya.
Jen menaikkan bola matanya menatap Darren. "Belum ngantuk!" jawabnya ketus. Jika dia tidur, dia akan berada dibawah selimut yang sama. No, No ...!
"Memangnya ngga lelah?"
"Enggak, tuh ...!" jawab Jen dengan kedua bahu terangkat. Tak peduli.
Hening ....
Hening ....
Hening ....
"Kamu tadi ngerokok?" tanya Jen memecah kantuk yang melanda mata Darren. Wanita itu menancapkan tatapannya yang tajam ke arah Darren.
"Enggak! Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" Darren menarik tubuhnya hingga bangun. Mengendus tubuhnya sendiri yang sedikit berbau asap rokok.
"Mana? Gak ada, tuh ... aku gak bau apa-apa!" elak Darren.
Jen berdecak, ia melemparkan ponselnya, menurunkan selimut, lalu mendekati Darren yang terpaku pada bukit yang tampak remesable itu. Darren mencoba mengusir pikiran kotornya, tapi tetap saja tangannya terasa gatal, hingga ia mengepalkan tangannya.
Jen dengan polosnya mendekati Darren dan mengendus jejak aroma asap rokok di atas tubuh Darren. Jaraknya terlalu dekat, membuat Darren tercekat. Ia menegang, hingga napasnya berhenti. Bahkan ketika Jen mencapai lehernya, ia memejamkan mata.
Ngajak ribut ini wanita!
Jen menjauhkan wajahnya, menunjuk antara leher dan pundak Darren. "Di situ ada ... jadi jan boong!"
Darren mengerjap, sial! Napas Jen yang pendek-pendek dan hangat malah membuat Darren merapatkan kakinya.
Kamu yang mulai, ya, Jen!
"Dimana-mana, rokok itu di mulut, Jen ... mana ada orang merokok di leher. Apalagi bahu! Kamu ngarang bebas? Atau ngigo!"
"Ih ... ada ya, orang ngeyel kaya kamu, udah tau salah masih ngelak!" Jen mendekatkan wajahnya ke depan bibir Darren. Baru ketika nyaris bertabrakan, ia mengerem lajunya. Bahkan posisinya yang seperti bayi merangkak membuat belahannya terlihat jelas.
Eh, ngapain aku ikutin apa kata dia, sih? Kenapa aku terpancing?
Manik mata Jen merangkak naik, dan Darren juga sedang menatapnya dengan mata melebar. Beberapa saat lamanya kedua orang itu terpaku.
Jen merasakan kalau ia telah membuat kesalahan sehingga ia memilih mundur perlahan. Namun, tangan Darren sigap menahan kepala belakang Jen, lalu memadukan bibirnya.
__ADS_1
Jen mengerjap, ia meremass sprei di bawahnya. Darren bergerak sangat lembut seakan meminta balasan darinya. Sumpah, dada Jen sudah seperti drum ditabuh.
"Kenapa?" Darren melepaskan dirinya. Ia merasakan Jen gemetar. Masa masih belum terbiasa, sih? pikirnya. Atau jangan-jangan dia ngga mau lagi?
Jen semakin salah tingkah, takut-takut ia mencuri pandang ke arah Darren. "Kemarin 'kan sudah, masak sekarang mau itu lagi?"
Darren tersenyum lebar dengan samar. "Iya, bercinta itu harus setiap hari, Jen ... agar cintaku ke kamu makin besar. Dan cinta dihati kamu untukku mulai bersemi dan tumbuh. Ibarat tanaman, harus di siram dan di pupuk setiap hari." Tangannya terulur untuk mengusap rambut Jen.
"Tapi ... bagaimana kalau aku gak bisa cinta sama kamu?"
"Bukan ngga bisa, tapi ngga mau."
Ngga mau mengakui.
"Kamu yakin sekali, Ren ...," Jen mengambil kesempatan ini untuk sedikit membenahi posisinya. Sedikit lebih sopan. Ehm.
"Karena apa yang aku miliki, gak akan pernah aku lepas. Apalagi aku sudah menginginkannya sejak dulu. Aku sudah menyukai dan mencintaimu sejak kita masih anak-anak!"
"Bisa jadi itu cinta monyet, Ren ...,"
"Cinta monyet itu hanya sesaat, ketik kamu melihat wanita lain yang mendebarkan hatimu, kamu akan berpaling. Tapi aku tidak, sekalipun pada wanita paling cantik di alam semesta. Hanya ada kamu di mata dan hatiku."
"Cih ... gombal!"
Lalu Tamy? Dasar pria emang jago menebar bualan.
Darren tertawa, "Terserah kamu mau menilaiku bagaimana ... aku sudah jujur sama kamu tentang perasaanku."
"Buktikan kalau begitu ... jangan cuma omongan doang!"
Lirikan sinis Jen membuat Darren menaikkan alisnya. Gemas dengan bibir Jen yang suka sembarangan kalau bicara.
Gue buntingiin lo, tau rasa!
Darren dengan cepat mendekat ke depan Jen. "Kau minta, aku wujudkan!"
Cepat sekali Darren meringkus Jen dan membantingnya ke kasur. Sejenak ia menatap mata Jen yang membulat kebingungan dan cemas.
"Diam dan nikmati saja!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1