Suami Settingan

Suami Settingan
Apa Ini Tanda Cinta?


__ADS_3

Darren terkekeh melihat Jen yang terlihat lucu dengan semboyan hidupnya yang agak mengerikan. Memang bagus motto hidup Jen itu sebenarnya, tetapi ia menyamaratakan orang lain dalam konteks semboyannya. Orang lain yang dimaksud Jen termasuk mama dan keluarganya. Padahal ia seharusnya lebih banyak mendengar orang yang berada di sekitarnya, yang mengenalnya agar tidak salah langkah.


"Oke, besok kita temui mama, dan minta kunci rumah nenek, tapi sekarang ...," ujar Darren menanggapi. Ia mengulurkan tangan di sekitar pinggang Jen dan menarik pemiliknya hingga menabrak tubuh Darren hingga berbaring. Lantas menciumi pipi dan bibir Jen singkat-singkat secara berulang.


Jen kegelian tentu saja, posisinya juga kurang mengenakkan, tetapi jika ia memindahkan kakinya akan sangat lebih tidak mengenakkan. Its like women on top. Kepala Jen menjauh, ia menekan dada Darren agar tidak bisa mengejarnya lebih dekat. Jen berpaling.


"Hei-hei apa ini? Kamu membuatku malu, Ren ... jangan seperti ini, ih!" Jen kesal sekali. Punggungnya terasa ketarik dengan kaki yang pegal menahan posisinya di atas Darren.


Darren meletakkan kepalanya. "Malu sama siapa? Orang hanya ada kita berdua kok!" Tangannya masih ketat menekan punggung Jen.


"Malu sama pembacanya Mak Misshel ...," kata Jen. Ia menatap Darren lagi dan berusaha memohon agar di lepaskan.


"Mereka suka, kok ... tanya aja!" Darren menaikkan alisnya berulang-ulang. "Kita cobain itu benda pesanan kamu ...," pinta Darren dengan seringai sangat menyebalkan.


"Apaan, sih ... malu tauk! Kasian yang belum nikah. Kan jadi pengen kek kita!"


"Doain biar cepet dapet jodoh dan menikah. Nanti biar niruin kita."


Jen menggerakkan tubuhnya lagi karena sudah tak tahan dengan sakit di punggungnya, ia melepaskan kakinya yang menahan jarak di antara mereka. "Lepasin, sakit tauk!"


Darren tidak peduli, ia langsung mengeratkan pelukannya dan menyambar bibir Jen yang belum selesai berbicara. Melahapnya sampai tak bersisa.


Tok-Tok!


Mata Jen melebar sempurna, napasnya berhenti beberapa saat lamanya. 'Kan? Kubilang juga apa?


"Kak, ada kak Tamy di bawah! Buruan turun!"


Darren melepaskan ciumannya, pelukan tangannya juga menjadi longgar, kesempatan ini tak di sia-siakan begitu saja oleh Jen. Ia segera kabur dengan tubuh yang kurang nyaman. Selain sakit, beberapa bagian menyisakan denyut yang mengerikan.


Darren membenahi rambut dan pakaiannya, menimpa kaos tipisnya dengan sweter berwarna kuning pudar. Menarik napas dalam-dalam untuk membuang gumpalan yang setengah jalan keluar. Sial!


"Aku ke bawah dulu, Jen ...," pamit Darren tanpa menoleh kepada Jen yang duduk di atas kasur dan menunduk.


"Perlu kubuatkan teh buat Tamy?" tawarnya mencoba bersikap baik layaknya tuan rumah.


"Ngga usah, dia cuma sebentar kok," ujarnya sambil berlalu menuju pintu. Ketika sampai di ambang pintu, ia menoleh dan tersenyum. "Redakan saja sakit punggungmu, kita lanjutkan lagi nanti."


Jen membola, kesal sekali mendengar perkataan Darren barusan. Jen sampai bangkit untuk menimpuk kepala suaminya itu, tetapi sayangnya dia telah berlalu dari sana dengan tawa yang masih mampu ia dengar.

__ADS_1


***


Sebentar? Ini sudah hampir satu jam berlalu, tapi Darren belum kembali juga.


"Apa sih, yang mereka bicarakan?" Jen turun dari tempat tidur. Sejak tadi ia bertukar pesan dengan Naja dan Vaya untuk mengusir bosan dan sepi. Penasaran dengan perbincangan suaminya dan Tamy, juga sungkan kalau-kalau dianggap tidak menjamu tamu dengan baik. Meski Tamy selama ini tidak pernah bersikap baik dan ramah padanya.


Jen merapikan penampilannya, melapisi kaosnya dengan sweter berwarna mustard. Ia melangkah meninggalkan kamar dengan perasaan was-was. Ia enggan berpapasan dengan Dinka.


Benar saja, kamar Dinka terbuka, suara riuh di kamar itu terhenti ketika Jen melewatinya.


"Tamunya udah mau pulang, ngga usah turun! Udah aku buatin teh juga! Lagian suaminya punya tamu, bukannya disambut malah asyik ngedekem di kamar."


Jen menoleh, Dinka dan temannya asyik menekuri buku di bawahnya. Entah itu hanya pura-pura atau memang mereka mengerjakan tugas, tapi Jen yakin Dinka sengaja menyindirnya.


Sial sekali anak ini!


"Wah, bagus dong ...." Jen tersenyum manis, "makasih ya, Dek ... aku jadi ngga perlu repot-repot bikinin."


Dinka semula yakin kalau Jen akan mati kutu, kesal, dan marah karena ucapannya, tapi siapa sangka bibir wanita itu malah tersenyum manis. Dan kini dialah yang tampak jahat di mata kawan-kawannya.


"Ya udah, ya ... lanjutin belajarnya, biar jadi anak pinter dan beradab. Aku mau ke minimarket, kalian mau cemilan? Atau soda?" Jen mendekati ambang pintu dengan ekspresi selembut malaikat. Senyumnya secerah sinar matahari pasca musim penghujan.


"Ngga usah, Kak ... ini udah mau selesai kok," jawab teman Dinka yang tersenyum sungkan. Mereka belum pernah melihat Jen secara langsung jadi ketika apa yang dikatakan Dinka agak bertentangan dengan kenyataan mereka malu sendiri.


Jen tersenyum lebih lebar. "Baiklah kalau begitu ... aku tinggal dulu, ya. Selamat belajar."


Dinka mendengus kesal. Sial! Jen berhasil membuatnya malu di depan teman-temannya. Akan kubalas kapan-kapan. "Dasar bermuka dua," umpatnya ketika Jen telah berlalu dari depan pintu kamarnya.


"Udahlah, Din ... cepetan kelarin, udah malem, aku mau cepet pulang! Takut ada poci di ujung gang rumahku."


Dinka menghela napas, membuang jauh-jauh kesal yang bersarang di dadanya. Ia segera menunduk dan mengikuti apa kata temannya.


***


Jen berpuas diri ketika menuruni tangga, hatinya penuh sorak sorai kemenangan melihat wajah Dinka yang pucat. Jen bukan tandinganmu, Din!


"... hampir nikah, Ren! Kenapa harus kayak gini? Aku tuh gak tau harus bersikap kaya gimana ...."


Jen menyibak rambut yang menutupi telinganya ketika mendengar suara Tamy yang menangis.

__ADS_1


Apa ini?


Jen menyentak dirinya sendiri agar terbangun dari syok yang melanda. Ia berjalan cepat sampai ke dekat ruang tamu. Mencuri pandang. Iris matanya menangkap Darren sedang mengusap punggung Tamy. Ya, itu suaminya sedang meredakan tangis wanita lain.


Dia juga melakukan itu pada wanita lain? Jadi bukan aku saja yang pernah ia tenangkan?


"Bayangkan! Hitungan hari dan harus gagal! Orang tuaku pasti malu ...," isak Tamy lagi.


"Udah-udah, jangan nangis lagi. Tadi udah baik katanya, kok mewek lagi. Nanti pulang bawa muka sembab gini malah bikin orang rumah curiga. Udah ya, nanti aku cari jalan keluar! Okey!"


Lagi-lagi mata Jen di suguhi pemandangan yang kurang mengenakkan. Dan hatinya seketika merasa panas. Ini tidak bisa di biarkan. Meski hanya mengusap punggung tapi itu suami orang. Suami gue, lebih tepatnya!


Jen melangkah dengan lebar, tetapi ia segera berhenti ketika ia sisi lain dirinya berkata. "Hei, kamu cemburu? Udah cinta?"


Berpikir sejenak, lalu matanya melihat ke arah dua orang itu. Bersikap elegan, Jen ...!


Lagian itu hanya mengusap saja, tidak menyandarkan kepala di bahu, dan tidak berpelukan. Ayo positif thinking Jen ... ayo!


Kenyataannya, Jen tetap sangat kesal hingga tangannya mengepal. Ia kembali masam dan ingin menangis. Lelaki begitu ternyata.


Jen memutar tubuhnya dan kembali ke kamar. Ia menumpahkan kekesalannya di atas kasur. Menelungkup dan membenamkan kepalanya. Ucapan Tamy terus terngiang di benaknya.


Hampir nikah?


Jen meninju kasur, ia kesal sebab tidak tahu dengan pasti apa maksud ucapan itu. Mungkin mereka dulu hampir nikah? Lalu kandas karena Darren memutuskan menikahinya? Mungkinkah mereka dulu pacaran?


"Argh!" Jen menenggelamkan teriakannya di dalam kasur.


Begitu saja sudah kesel, Jen ... sudah cintalah kamu sama Darren!


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2