Suami Settingan

Suami Settingan
Ko Tak Tau Malu, Jen!


__ADS_3

Jen membiarkan jeda terjadi begitu lama antara kepergian Darren yang memang sedikit aneh. Sengaja mengambil waktu untuk dirinya sendiri, maksudnya menghabiskan teh dan juga drama yang sedang ditontonnya. Rumah ini tidak di lengkapi Wifi jadi ia harus hemat kuota. Sementara di tivi ada, ia mengistirahatkan ponselnya. Lagipula, dia tak lagi membutuhkan drama untuk membuat dirinya meleleh tak berbentuk, cukup menggesekkan kepala di dada suaminya, ia yakin setelah itu jejaknya tak lagi menapaki bumi.


Kao tak tahu malu , Jen!


Ia terkikik geli. Lalu menyesap teh terakhir yang mulai dingin dan ia langsung mematikan televisi dan lampu. Menyisakan lampu temaram kecil yang menjadi penerang ruangan.


Jen mengambil ponsel dan cangkir yang akan ia cuci terlebih dahulu sebelum tidur. Ia membasuh dua cangkir dan meletakkan di atas rak yang berdiri tegak di samping wastafel cucian. Jen sedang mengelap tangannya ketika ponselnya bergetar ringan.


'Mama Desy'


Jen bergegas membuka pesan yang barusan ia baca dari panel notifikasi ponselnya. 


'Besok bisa bantu Mama ngga, Nak? Pesanan buket bunga Mama sedikit membludak. Alhamdulillah'


Tersemat emoticon senyum dan mata penuh cinta di sana. Jen tau mamanya sangat bahagia dengan kemajuan usahanya. Jadi tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menyumbangkan tenaganya yang melimpah untuk sedikit melegakan kesibukan sang mama mertua.


'Bisa, Ma ... besok Jen akan datang pagi-pagi'


Ketika Jen hendak menurunkan ponselnya, balasan dari mama mertuanya tampaknya muncul lagi.


"Semangat sekali si Mamer ...," gumam Jen sambil tersenyum ketika membaca balasan dari mamanya Darren tersebut.


'Makasih, Sayang ... besok gak usah masak, makan di rumah mama aja. Mama akan masak special buat kamu'


Jen melebarkan senyumnya dan membalas 'siap mamaku yang cantik' sebelum mengela napas dan beranjak ke kamar.


Darren masih asyik duduk dan memainkan ponselnya ketika Jen masuk dan menutup pintu di belakangnya. "belum tidur?" bibir wanita itu memang sangat cerewet sehingga tak tahan untuk diam ketika matanya berpapasan dengan makhluk hidup yang bermulut dan bersuara. Terlebih ia yakin Darren mampu memahami perkataannya.

__ADS_1


Hanya 'hem' yang sangat menyebalkan sebagai jawaban dan terlihat Darren seperti tak berniat menatap ke arah Jen. Jen menekan ucapan yang hendak melompat menyatakan tidak terima ketika mendapatkan perlakuan tak acuh seperti itu. Ia bertekat untuk sabar, dan hanya sabar yang akan dilakukannya saat ini. Ya, dia hanya perlu memupuk sabar dari latihan seperti ini.


Jen berlalu ke kamar mandi meski ia tak tahu harus melakukan apa. Dia akhirnya membasuh muka dan kembali ke kamar membawa aroma segar dari facial foam yang ia basuhkan pada wajahnya barusan.


Darren telah meringkuk memunggungi posisinya nanti ketika ia merebah di tempat tidur.


Jen memainkan bibirnya yang mengerucut ke kanan dan kiri, sesekali memutar. Asem sekali malamnya kali ini. Dia yang ingin tau perasaannya pada Ranu, dan juga dengan Tamy tadi ... tapi pria yang biasa care itu mendadak tidak peduli padanya.


Sungguh kamu menyebalkan, Darren!


"Apa ada yang salah dengan sikapku atau dia sedang menyindirku karena setelah dia pulang kerja tidak kusiapkan teh atau kopi?" gumam Jen dengan mata yang berputar.


Mencoba mengingat lagi bagaimana orang-orang memperlakukan suaminya, yang tidak ia lakukan sehingga mengundang kekesalan suaminya tersebut. Sayangnya, ia tadi memang tidak melakukan itu pada suaminya. Hah ... kenapa berumah tangga itu sulit sekali? keluhnya seolah batinnya ikut meronta, menggaruk wajahnya turun, mengacak rambutnya dengan frustrasi, lalu tubuhnya terduduk di lantai dengan kaki menerjang udara sekenanya. Ini sungguh mengesalkan. Jen meremas tangannya di udara, dengan suara menggeram gemas yang tertahan. Lalu ia mengela napas setelah di pikirnya, semua itu tidak berguna. Darren bergeming, dan dia lelah sendiri.


"Tenang, Jen ... tenang! Kau harus meluluhkan Darren malam ini!" Ia menekan ke bawah kedua belah telapak tangannya, seolah ada sesuatu yang naik dengan gerakan cepat dan mendesak.


Ia bergerak ke lemari, lalu mengganti baby doll nya dengan miss ling-ling yang lembut dan adem. Ia tertawa geli dan jijik sebenarnya. Menggoda suami? Itu terlihat konyol dan asing bagi Jen.


Ia berbalik setelah menaburkan wewangian yang biasa ia pakai saat bepergian. Aroma lembut dari merek kenamaan itu sering diendus Darren saat mereka bersama. Mungkin ini yang di sebut feromon yang akan membuat Darren menoleh padanya.


Semut kali, Jen!


Jen merebah dengan suara melengguh yang dalam, pun dengan gerakannya sedikit keras sehingga berhasil menimbulkan gelombang yang mengguncang tubuh Darren.


Lima kali putaran jarum jam yang panjang, tidak membuat keadaan berubah, Jen merasa pegal dengan posisinya, lalu ia berdehem kecil seraya merubah posisinya menyamping dengan kepala tersangga pada telapak tangannya, mengawasi punggung Darren.


"Sudah tidur?" Pertanyaan Jen tertelan sepi. "besok aku buatin kamu teh deh, kalau kamu pulang. Atau kopi ...." Hening sebagai jawaban. Telunjuk Jen membuat gerakan melingkar di atas kasur, bibirnya cemberut. Suaranya melembut penuh dayu.

__ADS_1


" ... dan aku 'kan cuma nanya bagaimana perasaan kamu sama Ranu. Kalau menurutmu kamu udah pernah bilang padaku," lirih dan pelan sekali ucapan Jen terdengar, malah terkesan merayu. "dan aku gak perhatikan ucapanmu, maaf deh ... soalnya aku tuh ... lupa."


Jen menelan salivanya, lalu melanjutkan, "aku hanya ingin tau dengan jelas saja, agar aku gak salah paham sama Ranu. Aku kasihan sama dia ... dan merasa bersalah tentunya."


Helaan napas Jen terdengar berat, bahkan sampai menggembungkan pipinya. "Ren ...!" panggilnya lagi memecah suasana hening yang tercipta. Jen tidak tau lagi harus berkata apa, ketika tak ada jawaban bahkan sehela napas terhembus untuknya.


Jen menyerah, ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Kepalanya terhempas ke bantal dan ia meraih guling dengan selimut secara bersamaan.


"Kenapa jadi dia yang ngambekan, sih?" gerutunya hanya dengan gerakan di bibir saja, tanpa mengeluarkan suara, tetapi di keheningan seperti ini, suara Jen terdengar desahnya. Lalu ia menutupkan selimut pada seluruh tubuhnya, dan menimpakan guling pada kepalanya, menenggelamkan tubuhnya di lautan kasur yang sangat lebar hingga menjarak dua manusia itu. Ah ... seharusnya!


"Aku rindu kasur di rumah mama Desy ...!" gerutunya pelan di telan bantal.


"Huaa ... kenapa semua jadi seperti ini? Rumah tangga, oh rumah tangga ... kenapa lebih sulit dari soal matematika dan fisika? Kalau ada sekolah rumah tangga, aku mau ikut kelasnya! Bayar mahal juga ngga papa! Nanti aku gadaikan salah satu perusahaan Papa!"


Itu hanya dalam batin Jen yang menumpukan wajahnya di dalam bantal. Sungguh ia lelah sendiri. Hingga terasa engap, ia baru membebaskan wajahnya dari bantal diikuti suara 'hah' yang cukup keras.


Darren tersenyum ketika gerutuan Jen terdengar merembet ke telinganya. Amarahnya seakan lenyap mendengar semua ucapan Jen yang cukup menggelikan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bacanya pelan ya!😄


__ADS_2