Suami Settingan

Suami Settingan
Kehilangan


__ADS_3

Dinka memarkirkan motornya di halaman rumah sang kakak. Sejenak ia melihat orang berkerumun tak jauh dari lokasinya berdiri, tetapi tak lama kemudian, dia segera berbalik dan berniat mengetuk pintu rumah kakaknya. Namun, ia terkejut melihat pintu yang sedikit membuka.


"Ceroboh sekali, sih, mereka ...," gerutu Dinka dengan decakan lirih sambil melihat sekeliling. "Kalau ada maling gimana?"


Dinka membuka pintu dan mulai memanggil kakaknya, tetapi hingga beberapa saat lamanya, tak ada sahutan satupun. "Kemana, sih, mereka? Rumah kelihatan baik-baik saja!" Ya, jika kemalingan tentu akan berantakan, tetapi ini masih rapi sama seperti biasanya.


Dinka berjalan ke dapur dan melihat kandang Myung yang berada di belakang pintu, hal ini membuat Dinka makin heran. "Myung ... Sayang, mama pulang, Nak ... kamu dimana?"


Sekali lagi hanya detik jarum jam yang terdengar. Ia juga melihat ponsel milik kakak iparnya bertengger di meja tak jauh darinya. "Kemana, sih, mereka?"


Dinka lantas memeriksa ruangan lain di rumah ini dan berakhir di kamar utama yang juga ternganga lebar. Pikiran Dinka makin tak karuan, lantas ia berlari ke depan, berniat mencari tahu ke tetangga barang kali ada yang melihat kakaknya. Namun, ketika ia sampai di depan pintu, ada dua orang bapak-bapak yang datang dengan membawa bungkusan kain ditangannya.


"Maaf, Neng ... Mbak Jen-nya ada?" tanya bapak yang semula berada di belakang bapak yang membawa butelan kain, beliau menyela lebih dulu.


Pandangan Dinka masih terpaku pada bungkusan kain itu, "mereka, eh maksud saya ... kakak saya ngga ada di rumah semua, Pak ... ini saya juga bingung nyariin." Dinka melangkah ke depan. "Itu apa, Pak?" tanya Dinka curiga.

__ADS_1


"Wah, tadi saya lihat mbak Jen sudah pulang loh, masak ngga ada?" Bapak itu melongokkan kepalanya ke belakang Dinka.


"Ini cuma mau ngasih tahu kalau kucingnya ketabrak mobil bapak ini, tadi." Ia menunjuk pria yang terlihat merasa bersalah dan ketakutan saat melihat Dinka yang mengeluarkan tatapan tajam.


Dinka semula kesal dengan bapak itu yang tak percaya padanya, tapi ketika mengatakan kucing, dia langsung berlari mendekati arah yang di tunjukkan si bapak.


"Maafkan saya, Mbak ... tadi majikan saya ngebut jalannya. Tapi majikan saya akan bertanggung jawab kok, saya akan makamkan kucing Mbak dengan layak, dan jika perlu majikan saya akan menggantikan dengan kucing lain yang sama persis atau sesuai kemauan Mbaknya." kata bapak itu panjang lebar dan gemetar


Namun, Dinka mengabaikan semuanya. Dia sibuk mengambil bungkusan kain yang berubah warna kemerahan. Dibukanya kain itu secara perlahan hingga tampaklah Myung yang sudah tak bernyawa. "Myuung ...." Dinka mendekap erat kucing kesayangannya itu dengan air mata yang berderai. Tubuhnya luruh dengan ratapan pilu terus mengiringi.


"Maaf, Neng ...," kata bapak itu lagi dengan lirih.


"Katakan pada majikan bapak ...," kata Dinka sambil mengangkat tubuhnya berdiri. "Seribu kucing pun dia berikan padaku, aku tidak sudi menerimanya! Bagiku, dia tidak akan ada penggantinya!" Ia tiba-tiba ingat bagaimana menyelamatkan kucing itu dari selokan kotor, merawatnya hingga sebesar ini. Menyisihkan uang jajan demi membelikan makan Myung, yang mana orang tua Dinka tidak akan mau mengeluarkan sepeser uang pun untuk kebutuhan Myung. Meski ia sadar, orang tuanya bukan tidak mau, tapi untuk kebutuhan mereka saja, mamanya harus banyak berhemat.


Semua orang diam, ketika suara Dinka menggemakan langit sore yang sudah menggelap pekat. Ya, semua orang paham dengan kepergian, tapi, apa harus sampai sebegitu marahnya hanya karena seekor kucing? Lagi pula, pelakunya juga sudah bertanggung jawab dan minta maaf.

__ADS_1


***


Dinka kembali pulang dengan tubuh lunglai, rasanya, dia benar-benar tak punya berteman atau siapapun lagi setelah kepergian Myung. Sudah berjam-jam lamanya, Dinka usai mengubur Myung di halaman rumah kakaknya. Hal ini di sengaja, agar kakak iparnya itu selalu ingat dan merasa bersalah setiap kali melihat kuburan Myung, bersalah sebab menelantarkan Myung hingga kucing itu mati.


"... sakit apa?" Samar ia mendengar suara mamanya dari ruang makan sepertinya sedang menelpon. Langkahnya terhenti untuk menguping.


"Ya, emang tadi dia sempat bilang kalau mau ke dokter, tapi mama ngga nyangka kalau sampai harus di rawat segala, Ren. Parah banget ya, kondisi Jen? Biar mama nyusul kamu ke rumah sakit sekarang ...!"


Dinka hanya mendengar helaan napas mamanya saja, tidak sampai mendengar apa jawaban dari kakaknya.


"Manja banget sih, sakit gitu aja sampai harus di rawat segala! Sampai menelantarkan Myung ...," gumam Dinka sambil berbalik meninggalkan rumah lalu ia melajukan lagi motornya menuju rumah sakit. Tak mempedulikan matanya yang sembab dan merah, yang dia tahu hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada kakaknya tersebut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2