
Jen sejak kejadian Ace sakit saat ditinggal liburan, tidak lagi berani meninggalkan anaknya sendirian. Sebisa mungkin, ia selalu membawa serta Ace kemanapun ia pergi. Bahkan ia menambah ART dan pengasuh untuk Ace. Meski Ace tidak suka dengan pengaturan sang Mami, tetapi semua tidak bisa ditawar, dalih untuk kebaikannya membuat bocah kecil itu tak berkutik.
"Mi, ayo berangkat!" Pagi ini, sudah dua bulan lewat setelah liburan menyesakkan itu. Ace berwajah malas saat ia berdiri di depan kamar sang Mami bersama Dinka sebagai sopir pribadi Ace, dua orang pengasuh yang masing-masing membawa tas sekolah dan sebuah bag berisi bekal makan siangnya.
"Mami?" ulangnya.
Di dalam kamar, Jen yang dari semalam merasa tak enak badan, kesal dengan teriakan Ace. Ia menyibak rambut dan selimut dalam satu gerakan dan membuka pintu dengan langkah terseok-seok.
Sebenarnya, Jen sudah bangun tadi subuh, lalu melakukan test urin yang rutin ia lakukan tiap pagi bila selesai bercinta. Meski ia tahu, hasilnya tidak akan serta merta positif, tetapi sudah dua bulan lebih, terhitung sebelum ia berangkat liburan, IUD di rahimnya telah dilepas. Berharap banyak, ia akan hamil setelah liburan, tetapi nyatanya, ini sudah lewat dua bulan dan garis dua yang diharapkan tak kunjung muncul.
"Mami absen antar Ace ya, Mami lagi sakit, Nak!" Jen mengucek matanya yang buram. Menguap dan menggeliat, membuat Ace menepuk kening dan menggelengkan kepala. Heran dengan tingkah polah Maminya yang aneh.
"Tau gitu, kan kita ngga nungguin Mami. Lihat udah jam berapa?" Ace menunjuk jam di lengannya. Bocah itu merengut kesal. Persis dengan raut uncle Excel saat marah.
Jen tertawa garing, "Maaf, hani bani switi, Mami beneran sakit. Nih pegang kening Mami!" Jen menunduk dan mendekatkan kepalanya ke pundak Ace yang langsung menjauh dan membuat tubuhnya nyaris jatuh.
"Jangan deket-deket kalau sakit. Nular Mi ...."
Astaga bocah ini!
Ace mengibaskan tangannya dimana Jen nyaris merebah, seolah kuman yang menjangkiti Maminya tertinggal di sana.
"Mami buruan minum obat, tidur, dan jangan kerja dulu. Ace berangkat, pamitin sama Papi sekalian."
"Eh, kok gitu? Salim dulu, Nak ... Papi masih mandi tuh."
"Kelamaan ...," jawab Ace seraya menjauh. Dinka mengerucutkan bibir, sebagai reaksi dari semua tindakan Ace pada Maminya. Hubungannya dengan Jen bisa dibilang tidak terlalu baik, tetapi mereka juga tidak bermusuhan. Hanya saling menjaga jarak. Keduanya enggan untuk sekadar bicara baik-baik.
"Gue pergi dulu!" pamit Dinka. Namun, belum sampai Dinka memutar tubuhnya, suara Darren dari dalam kamar membuatnya berhenti.
"Yang, kok garisnya udah dua? Kapan kamu lepas itu-nya?" Darren datang dengan membawa testpack yang ia balut dengan sebuah tisu. Matanya lekat mengawasi benda ditangannya. Heran, tentu saja. Jen tidak pernah memberitahunya kapan benda penghalang itu dilepas.
Jen menahan napasnya di dada. "Benaran, Yang?" Ia menghamburkan larinya ke arah Darren dan merebut testpack itu tidak sabar. "Astaga, iya ...!" Telapak tangan Jen menutup mulutnya yang menganga. Ini kejutan yang luar biasa.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Yang ... akhirnya!" Ambang mata Jen mulai penuh dengan air mata, berganti-ganti memandang dua garis merah itu dan Darren yang masih tampak syok. Gerakan cepatnya meraih leher Darren, memeluknya erat. Terisak penuh haru, sementara Darren hanya terdiam dan bengong. Bukan tidak senang, tetapi ia bingung dan takut. Bayangan saat Jen hamil dan melahirkan, lalu menjadi orang linglung beberapa saat setelah kepergian Hero, melintas begitu saja. Siapkah dia melihat semua itu? Atau bisakan imaji-nya mengganti kenangan buruk itu dengan sebuah cerita indah tentang hamil dan melahirkan yang penuh haru dan tangis bahagia?
"Ace mau punya adik, Pi?" Celetukan Ace sontak membuat semua bayangan Darren terberai. Wajah polos anaknya yang terlihat bahagia mendengar kabar itu, membuat Darren tersenyum dan melepaskan pelukan Jen.
Ia mengangguk. "Tetapi, Mami harus memastikan semuanya ke Anti Dokter dulu. Biar Mami diperiksa dan adiknya Ace beneran sudah bobok di perut Mami." Darren menunduk dan mengusap wajah Ace pelan. Dilema besarnya adalah dua orang ini. Ah, cinta bisa membuat seorang Darren takut setengah mati. Dia pria pengecut yang takut kehilangan.
Jen sibuk mengeringkan air matanya, harunya bertambah-tambah melihat interaksi Darren dan Ace. Ia tahu ini terlalu memaksa, tetapi dia tidak mau Ace selalu kesepian. Dia suka anak-anak. Dan, dia ingin memiliki satu bayi cantik yang akan didandani bak princess.
"Selamat, ya!" ucap Dinka seraya mengulurkan tangannya.
Jen kembali berekspresi datar saat Dinka menyalaminya, "Makasih."
"Sehat-sehat. Dan jangan main ke pet shop-ku. Jangan ke rumahku tanpa pemberitahuan sebelumnya, biar aku bisa sterilkan rumah. Riwayat kesehatanmu cukup mengerikan, dan aku ngga mau mengulang kesalahan yang sama."
"Ngga usah lebay!" jawab Jen ketus.
"Kita harus lebay soal kamu, Yang!" sahut Darren. Pria itu begitu serius menanggapi ucapan Jen. "Kali ini, aku ngga mau denger kamu bantah aku, marah karena aturanku, atau kesal dengan ribetnya kami dalam menjagamu. Kami tentu ngga mau sampai kamu kenapa-napa lagi!"
Jen berdecak, kesal kebahagiaannya terganggu. "Iya!" jawabnya malas saat melihat mata Darren yang penuh ketegasan. Suaminya itu benar-benar tidak bisa lagi ditawar atau diajak berdiskusi.
Jen melipat bibirnya, hatinya tersentuh. Mana boleh seorang istri mengabaikan surganya? Tentu dia hanya akan menurut pada imamnya. Pada titian yang akan membawanya ke arah kebaikan, jika surga itu terlalu jauh digapai. Sadar mereka hanya hamba-hamba penuh dosa, jadi mengharap surga tanpa berbuat baik di sisa hidup, sama saja memiliki cita-cita tanpa mau mengusahakannya.
"Yang ...."
Jen tersentak, lalu tersenyum manis. Meraih tangan Darren dan menciuminya. "Iya, Suamiku Sayang ... aku akan nurut sama kamu dan semua aturanmu. Aku ngga akan bantah-bantah kamu lagi." Jemari membentuk huruf V dan senyum yang dimanis-maniskan muncul setelahnya.
Darren hanya tertawa. Merengkuh kebahagiaannya dalam pelukan yang erat. "Istriku yang paling cantik dan pinter pasti ngerti apa yang terbaik buat dirinya dan calon baby-nya."
Darren memutuskan, bahwa ketakutan harus selalu dirangkul dan dipiara. Dijaga agar tidak membakar sisi kewarasannya. Ia tahu, ia mengerti, kesalahan tidak boleh terulang sekali lagi. Tetapi kali ini, dia sudah sangat dewasa dan tahu bagaimana menundukkan sifat istrinya. Selalu mendukung dan mengalah. Siaga dan penuh kasih. Seperti biasa.
"Mi, setelah ini Ace harap, Mami sama Papi ngga sering bertengkar lagi!" Ace bersedekap. Matanya penuh dengan ancaman. "Ini demi kebaikan calon adik Ace. Biar dia bobok dengan tenang tanpa denger suara Mami yang menyakiti telinga."
Jen menyembunyikan wajahnya di dada Darren, sementara Darren hanya bisa menghela napas. Astaga, Ace ini ada-ada saja!
__ADS_1
*
*
*
*
*
Actually, ini sudah berakhir ya, gaes ... 🤣🤣🤣 sudah tamat beneran🤭
Jangan tanya kenapa lama🤣 adalah sebabnya🤭
Terimakasih untuk semua lope2nya😘😘😘😘
Untuk rank umum 123, bakal aye kasih dikit tanda kasih. Silakan konfirmasi ke akun-akun media sosial aye, ye ... fb, ig, atau follow akun MT-ku ini. Bisa lewat gc Noveltoon juga, yah ... aku tunggu sampai tanggal 16 Maret, ya.
FB : Misshel
Ig : Misshel_88
Akun Author : Mrs. Light
Btw, ada even yang aku ikutin di NT, bolelah ceki-ceki di keluarga gak ada akhlak satu ini🤭
Sementara nunggu dapet lirikan maut dari Noveltoon🤣 kali aja takdir ku beneran berubah yak.🤣🤣🤣
Okey, always waiting your coming di sana. Karena baik Jeje maupun Monica juga pak duda dosen, mau aku rombak ulang dari awal🤭 Bakal ada gift kecil-kecilan lagi jika sukses dapet cuan🤣🤣🤣 Okey, See you there😘😘😘
Love banyak-banyak dari author kemriyik🤣
__ADS_1
Misshel🤭