
Darren sedang merebah di atas ranjang sambil memangku laptop. Dia terpaksa pulang lebih awal karena mengkhawatirkan Jen yang pergi menemui Sia dengan perasaan kacau, membawa pulang pekerjaannya dan menyelesaikannya sekarang—jika bisa, dia sejujurnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Sia.
“Udah mau tidur?” Jen keluar kamar mandi dengan tangan sibuk mengeringkan rambut, “tumben?” Ia melangkah ke meja rias dan menyiapkan hairdryer.
“Belum, sih ... masih ada pekerjaan sedikit, tapi kalau aku ngga di sini, takut kamu tidur tanpa memberitahuku apa yang terjadi dengan Sia ....”
Jen semula hendak menyalakan hairdryer, tapi segera mengurungkannya, memilih menghadap Darren yang terlihat antusias menanti jawabannya. Pria itu memindahkan laptopnya dan beringsut ke arah Jen.
“Sia ditipu teman satu kosnya, begitu aja, sih, intinya,” jawab Jen malas. Ia lelah membahas ini lagi. Pikirannya sibuk menduga-duga apa Sia berbohong atau tidak. Lelah sebab ia telah meluapkan kemarahannya, berharap Sia takut, dan mengatakan kebenaran, tetapi yang ada Sia malah memeluknya erat, mengatakan terimakasih, dan tersenyum bahagia atas perhatian yang diberikan kepadanya.
Darren menaikkan alisnya bersamaan, “hanya itu?” dia sampai bergidik saking tidak percayanya.
“Yah, kurang lebih begitu kalau dia tidak berbohong.” Jen memfokuskan lagi pandangannya pada Darren. “Kakak masih akan menyelidiki ini lagi, besok Sia sudah kembali ke Surabaya dan akan diantarkan oleh kakak. Memastikan bahwa dia benar-benar tinggal di rumah salah satu dosennya.”
Darren menghela napas, pandangannya kosong dan teralih ke lantai, “Sia itu meski terlihat tangguh tapi dia masih sangat polos,” ujarnya setengah melamun.
__ADS_1
Jen yang sudah memegang gagang hairdryer, kembali menoleh tajam, “perhatian banget sama Sia ...!”
“Aku sering bertemu dia dulu, kebetulan temenku rumahnya di sekitar rumah papa Rian ....” Darren menaikkan pandangannya dengan santai. Akan tetapi begitu pandangannya jatuh di wajah Jen, dia langsung gugup melihat bagaimana ekspresi Jen. Wanita itu menyilangkan kakinya dan menyedekapkan tangannya di dada. Matanya melebar dengan tatapan mematikan.
“Mati gue, kayaknya salah omong!” batin Darren sambil mengalihkan perhatiannya dari wajah menyeramkan istrinya.
“Ma-maksudku ....” Darren terbata dan mengedipkan kelopak matanya dengan cepat. “aku pernah melihatnya sekali.”
“Ya, aku juga merasa kau pernah sekali melihatnya! Pantas saja kau sangat penasaran dengan keadaannya! Kalau kau mencemaskannya, kenapa kau tidak datang saja tadi dan melihatnya langsung!” Jen berdiri dan melangkah dengan cepat, “dia pasti sangat terluka dan akan senang bersandar di pelukanmu,” sambungnya ketika sudah mencapai pintu. Darren melongo dibuatnya.
Darren menutup matanya dengan rapat ketika Jen membanting pintu, meski tidak terlalu keras. “Ya, salam ... salah lagi.” Ia mengusap wajahnya sangat kasar, perasaannya terpelanting begitu cepat hanya karena hal sepele. Ya, Darren memang sering melihat Sia, tapi dia tidak pernah menyapa. Temannya yang memberitahu semua tentang Sia yang sering digunjingkan karena mamanya yang seorang perusak rumah tangga, bahkan ia melihat sendiri hal itu. Kata temannya itu juga, Darren menyimpulkan kalau Sia ingin kuliah di luar kota agar dia bisa hidup tenang tanpa ada masa lalu buruk yang mengikuti.
Duh, Gusti ... ingin rasanya meneriakkan apa salah dan dosanya, tetapi ia sadar, salah dan dosanya sangatlah banyak, dan ketika nikmat itu datang, mungkin ia lupa bersyukur dan bertanya kebaikan apa yang pernah ia lakukan hingga datang anugerah nikmat yang luar biasa. Ahh!
“Yang ... aku minta maaf, deh ... aku beneran ngga nyapa Sia sama sekali, kok.” Ketika matanya menangkap bayangan Jen di dapur sedang meletakkan panci berisi air di atas kompor, Darren membuntutinya. Ia ikut hilir mudik kemana saja Jen berlabuh.
__ADS_1
Jen berhenti dan memutar tubuhnya hingga nyaris saja bertabrakan dengan Darren, ia menaikkan matanya dengan malas. Membalas tatapan Darren dengan malas juga, lantas berlalu begitu saja, membawa gelas ke dekat kompor.
“Sayang ... plis, deh, masa kamu ngga percaya sama aku, sih?” Darren masih terus mengikuti Jen, merengkuh
pinggang, dan meletakkan dagu di pundak istrinya tersebut. “Lagian aku melihatnya dari jauh kok, belum pernah menyapa, apalagi bertemu dan memberi perhatian secara khusus. Itu hanya kata temenku saja."
Jen diam saja dan sibuk menyeduh jahe instan yang dibawakan oleh orang tua Naja dari desa. Jahe instan buatan ibu Naja yang kini dijadikan usaha rumahan ini, konon katanya sangat laris di sana. Banyak ibu rumah tangga yang menjadikannya usaha sampingan yang cukup menjanjikan.
Keterdiaman Jen cukup membuat Darren panik. Ia sibuk mengeluh dan berdecak di samping telinga Jen, sibuk merayu dengan menciumi istrinya dari samping. “Yang, ayolah ...,”rengeknya di akhir usaha merayu dan meluluhkan yang bisa dibilang cukup gagal.
Jen menuntaskan wedang jahe buatannya dengan meletakkan sendok yang ia gunakan untuk mengaduk wedang itu dengan keras, lalu berbalik dengan hembusan napas yang keras. Masih menatap Darren dengan malas.
.
.
__ADS_1
.
.