Suami Settingan

Suami Settingan
Ban Bocor


__ADS_3

Dulu, periksa merupakan momok yang amat sangat mengerikan, tetapi entah mengapa hari ini sangatlah berbeda. Jadwal periksa Jen dua minggu sekali mengingat istimewanya kondisi bayi tersebut. Due date minimal usia 37 minggu, jadi itu masih lama sekali karena sekarang baby kembar Jen berusia 26 minggu.


Ada dokter Luna yang berbicara panjang lebar dengan begitu cerianya dan Andina yang selalu sibuk mewanti-wanti. Salah satu bayinya, memang lebih kecil, tetapi dia sangat aktif dan terkesan jahil. Kedua bayi itu laki-laki yang dengan perkasanya menunjukkan kehebatan pria saat Dokter Luna menggerakkan tranducer ke arah kaki mereka.


"Wah, kamu bakalan paling cantik di rumah Jen. Lihatlah tombaknya berdiri mengerikan." Dokter Luna terkekeh, "suamimu pasti seneng banget ini."


Jen tersenyum. "Dia sudah tau kalau laki-laki, Dokter ... tapi dia pasti bakal bangga melihat ini semua."


Darren berjanji datang, tetapi sampai pemeriksaan ini hampir berakhir, pria itu belum menampakkan ujung hidungnya.


"Dia pasti datang." Dokter Luna mengerti kalau Jen sedikit kecewa dengan absennya Darren hari ini. Sedikit menghibur dan memberikan semangat.


"Aku tau, Dok ...." Jen tersenyum lebar. "Sekalipun harus kehilangan kontrak, dia akan mengutamakan aku dan anak-anaknya."


"Jangan membanggakan suamimu di depanku, Jen ... atau aku akan jadi orang yang paling iri sama kalian. Lihatlah suamiku, dia bahkan langsung ke luar negeri setelah mengantarkan aku ke rumah sakit." Dokter Luna merengut. Suami dokter Luna adalah seorang pilot maskapai ternama, jadi tidak heran, kalau Luna sering di tinggal.


"Dokter hamil lagi aja, nanti minta suaminya buat nemenin pas lahiran." Jen berkelakar, Luna semakin merengut menanggapi. Ia menginstruksikan agar perawat membantu membersihkan sisa gel yang ada di perut.


"Dua aja cukup, Jen ... aku pusing ngurusin anak-anak. Apalagi yang kecil itu susah banget kalau ditinggal ayahnya, banyakan drama pas mau nganter ayahnya berangkat."


Jen tertawa membayangkan anak kedua Dokter Luna yang menggemaskan itu. "Hehehe, pasti Dokter juga baper pas ayahnya mau berangkat."


Luna mengangguk, "kau benar ...," lantas dia memerhatikan kertas hasil cetak usg Jen. Dia menghela napas. "Seb—"


"Aku belum terlambat, 'kan?" Darren mengagetkan seluruh penghuni ruangan yang langsung menoleh ke arahnya. "Maaf, tadi ban mobilnya bocor, dan aku pakai ojek kemari!" katanya terburu-buru saat melihat Jen merengut sinis.


Jen menghembuskan napasnya, "Kamu ketinggalan pertunjukan!"

__ADS_1


Darren sungguh menyesal, ia melangkah gontai menuju ranjang di mana Jen sudah selesai merapikan pakaiannya. "Maaf, Yang ...," tangannya mengulur dan membantu Jen turun.


"Gimana keadaannya Dok?" Darren tak sabar bertanya. Kalau bisa jangan kelewatan satu beritapun tentang anaknya.


"E, Jen ... kamu ke bagian gizi sama suster, bisa 'kan? Biar Darren saja yang nungguin obat kamu. Aku udah minta Andina ke sana tadi," kata Dokter Luna yang langsung diangguki Jen. Darren sendiri mengerti maksud Dokter Luna dan dia mengantarkan Jen sampai depan poli gizi yang tidak terlalu ramai.


***


"Bayimu secara umum baik, hanya ... salah satu bayimu tidak mendapat pasokan darah yang cukup sehingga berat badannya lebih kecil, sementara yang lain kelebihan pasokan darah sehingga ukurannya lebih besar. Aku sebenarnya sudah menduga hal ini ketika Jen mengalami bengkak kaki waktu lalu, lalu berat badannya juga melonjak drastis, dan dia sering merasakan kontraksi."


Darren berhenti bernapas, apapun yang dikatakan Dokter Luna baginya adalah pukulan palu yang menghantam keras-keras gendang telinganya.


"Kamu harus kuat, Ren ... ini bisa ditangani tetapi kita akan melakukannya ketika bayimu sudah siap untuk dilahirkan, mungkin satu atau satu setengah bulan lagi." Dokter Luna melanjutkan, ia menoleh ke arah Andina yang ada di belakangnya, sibuk membaca hasil pemeriksaan Jen. Seolah ia telah salah melakukan diagnosis kepada Jen.


"Ada tambahan, An?"


Andina menghela napas, lalu menggeleng seraya menutup lembaran kertas itu. "Saya tidak ingin mengatakan, tapi ini keadaannya, Tuan. Tolong maafkan saya."


***


"Maaf, Tuan ... kaki anda mengeluarkan darah." Darren baru saja menginjakkan kaki di depan poli gizi yang telah sepi, dan seorang perawat melihat celana Darren yang berwarna krem penuh dengan rembesan darah.


"Oh, tadi saya jatuh waktu naik ojek." Darren tersenyum seolah menunjukkan kalau dia tidak apa-apa.


"Saya antar ke UGD, Tuan ... biar mendapatkan perawatan," saran perawat wanita itu.


"Saya masih harus menemani istri saya, Sus ... nanti saja." Darren baru merasakan kalau luka itu sungguh perih. Darren sedang ada pertemuan yang cukup mengulur waktu bersama kedua rekannya, sehingga ia memilih meninggalkan pertemuan demi menemani Jen. Menggunakan ojek, Darren meminta tukan ojeknya untuk melaju dengan cepat agar ia datang tepat waktu. Namun, karena kurang berhati-hati dan mungkin juga ini sebuah kesialan, motor yang di tumpangi Darren terlibat kecelakaan. Tidak terlalu serius tetapi betis Darren tergores benda tajam yang cukup dalam. Tak menghiraukan dirinya, Darren bertahan dengan luka di balut sekenanya.

__ADS_1


Di saat Darren hendak masuk ke ruangan poli, saat itu juga Jen muncul di sana dengan wajah berbinar. Mungkin di dalam sana dia mendapatkan lampu hijau pada makanan yang sempat diharamkan padanya.


"Abang ...!" panggilan yang akan datang ketika hati wanita itu senang. Jika kesal, dia akan memanggilnya nama saja. "Aku harus makan banyak-banyak." Ia berjalan cepat seolah mengambang dengan cengiran mengerikan di bibirnya. Melabuhkan tangannya di pinggang suaminya.


"Aku bisa makan tanpa takut pada jarum timbangan."


Darren menyambut istrinya, "Pasti bukan begitu ... yang benar bernutrisi dan banyak mengandung zat besi."


Jen melepas pelukannya. "Kok kamu tau?"


"Tau semuanya malah."


"Ngga asyik, ih ... aku pengen jajan yang ditepi-tepi jalan itu." Jen merengek dengan bibir cemberut.


"Boleh ...!" Jen langsung berbinar. "... tapi nanti kalau sudah lahiran."


Jen langsung merengek dan meninju-ninju dada Darren.


"Tuan, biar saya obati lukanya." suara perawat membuat kedua orang itu berhenti dari acara tinju-tinjuan manja.


"Kamu kenapa?" Jen memandang heran perawat dan Darren.


Darren menghembuskan napas karena tak bisa mengelak. Lantas ia menunjuk kakinya. Pasrah. Melihat gelagat Jen yang siap meledak.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2