Suami Settingan

Suami Settingan
Berapa Lama Lagi?


__ADS_3

Selewat beberapa hari kemudian, Jen telah diizinkan pulang. Kesehatannya makin baik, namun sayangnya, dia kini sering muntah. Hanya makanan tertentu yang diizinkan oleh bayinya untuk masuk ke dalam perutnya. Dan sayangnya lagi, itu adalah daging.


Sayang sekali, sekalipun Darren memohon dengan amat sangat untuk mengganti dengan yang lain, Jen tetap tidak bisa makan selain olahan daging, telur, ayam, dan protein hewani lainnya.


Tentu Darren makin ketar ketir akan hal ini. Namun, ia akhirnya bisa menemukan solusi yang baik, yaitu menghadirkan seorang asisten rumah tangga. Pertama-tama, Jen masih harus banyak beristirahat, kedua, asisten itu bisa ia beritahukan hal-hal yang berkenaan dengan penyakit yang di derita Jen. Ya, Jen positif tertular parasit toksoplasma setelah IgM menunjukkan hasil yang positif.


Selewat beberapa waktu ini pula, meski masih sering meratapi kertas hasil lab istrinya tersebut, pria itu tampak tenang. Dengan telaten dan sabar, Darren menjaga dan mengawasi istrinya tersebut rutin mengonsumsi obat yang bertujuan mengurangi resiko tertularnya parasit tersebut pada janin mereka. Dan, Andina menjadwalkan di usia kehamilan 14-15 minggu untuk segera tes cairan amnion untuk memastikan hal tersebut.


"Aku gak bakal makan daging mentah, kok, Ren ... kenapa kamu masih terlihat mempermasalahkan hal yang kamu tau, aku gak akan melakukan hal macam-macam karena ada anakmu di sini."


Suatu pagi, ketika Darren termenung di ambang jendela kamar, masih memakai kaos dan celana trainingnya yang basah oleh keringat usai lari pagi yang biasa ia lakukan.

__ADS_1


Perkataan Jen membuat Darren yang awalnya memikirkan hal lain, kini kembali lagi ke masalah makanan kesukaan bayinya. "Aku tau, Sayang ... aku hanya berpikir kalau bayi kita adalah dua pria kuat yang memiliki otot kekar di kedua lengannya. Perutnya kotak-kotak yang atletis dan digilai wanita." Darren mengeluarkan gesture ingin merengkuh Jen dalam pelukannya. Dari belakang meski masih berkeringat.


Jen tersenyum, lalu menempatkan dirinya di depan suaminya. "Bagus, deh, kamu udah gak ngulang-ngulang hal itu lagi. Aku bosan kalau kau cerewet seperti itu."


"Ya, aku tau kau mudah sekali bosan, asal ngga bosan sama aku aja, sih," kata Darren menggoda di ceruk leher Jen yang langsung mendesah lirih. "wangi kamu jeruk pagi ini ... apa ini parfum baru lagi?"


"Bukan ...." Jen bersandar di dada sebelah kiri Darren. Menimpa tangan suaminya yang mengusap perut sedikit menggembung di bagian bawah pusar. "tadi aku makan jeruk yang dibelikan mama Desy."


"Kenapa baunya sampai sini?"


"Biar dibuatkan mba Ranti aja, Yang ... kamu—"

__ADS_1


"Oh, jadi istri kamu, Mbak Ranti?" Jen bersedekap galak, semula ia berniat mengusap pipi suaminya itu, tetapi urung dan tiba-tiba hatinya sedikit tersentak.


Darren tertawa. "Istriku tetap kamu, tapi kamu cukup instruksikan saja pada Mbak Ranti, Yang ... aku ngga mau maminya anak-anakku kelelahan. Ingat, aku sudah banyak uang sekarang!" tandasnya sambil menjawil dagu yang bulat dan menggemaskan itu. Darren maju untuk menggigit dagu itu, lalu melanjutkannya dengan kecupan di sudut bibir.


"Sombong!" cibir Jen sebelum membalas ciuman suaminya itu sedikit panas.


Darren menikmati semua itu, meski ia harus tetap menahan diri. Jen belum aman lagi untuk dibanting sekarang. Lagi-lagi, mereka harus segera mundur dan menggaruk lehernya masing-masing. Menahan rasa ingin yang tiba-tiba menyeruak.


"Berapa lama lagi, sih?" tanya Jen memecah kecanggungan. Terdengar kesal, alih-alih malu. Ini sudah hampir sepekan, belum ditambah sebelum sakit yang—entahlah, dia sendiri lupa kapan itu terjadi terakhir kali. Mereka sama-sama sibuk dan kelelahan.


"Dokter Andina kayaknya tau ...," jawab Darren menggantung, dia sendiri berpikir apa dia berani bertanya akan hal yang sedikit intim kepada dokter yang baru dikenalnya belum genap seminggu.

__ADS_1


"Malu, ih ... intip di grup chat kelas kamu, atau grup chat teman nongkrong kamu aja!" Alisnya naik sekilas dengan nakal, yang berhasil membuat Darren mendecihkan tawa. Jen ingat ia pernah mengintip roomchat suaminya itu, selain konyol, rupanya mereka cukup vulgar dan terbuka. Dalam berbagai hal.


"Sabar, ya ... semua demi baby twin kita ...," Darren menjewer lembut kedua belah pipi Jen dan menggoyangkannya pelan. "Akan ada banyak waktu buat kita bersama-sama nanti ...," sambungnya seraya berlalu usai mengusap pundak Jen dengan lembut. Ia bersiap mandi.


__ADS_2