Suami Settingan

Suami Settingan
Jaga Dia Untukku


__ADS_3

"Tolong jaga kakakku ya, Din ...." Akhirnya mereka sampai pada apa yang menjadi tujuan Ranu menelpon kali ini. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana sebab tante Nina dan om Rio tidak mengatakan apapun padaku, hanya bilang kalau kak Jen sedang sakit saat ini dan sedikit mengkhawatirkan sebab dia sedang mengandung sekarang. Dan aku yakin keadaan di sana tak sesederhana orang hamil yang sakit ...." Ranu berhenti untuk memberi jeda pada dirinya untuk bernapas. Dadanya terasa sesak mengingat bahwa hanya dia saja yang menjadi tempat berbagi kakaknya itu. Mereka terbuka dalam segala hal tanpa terkecuali. Termasuk perasaannya pada Darren, meski tetap saja dia menyamarkan dengan baik curhatannya tersebut.


Dinka terdiam, sebersit rasa tidak suka pada apa yang baru saja di lontarkan Ranu padanya. Akan tetapi, ada yang lebih tidak Dinka sukai adalah Ranu meletakkan semua rasa kecewa dan lukanya begitu saja setelah mendengar kakaknya tidak baik-baik saja. Seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya. Entah ini karena hati mulia sahabatnya atau karena dia yang terlalu merumitkan sebuah urusan. Bukankah semua terlihat sederhana, mengakui, bagaimanapun juga dia telah salah. Lebih buruk, dia menebalkan rasa tidak sukanya dengan menimpakan banyak alasan yang tak masuk akal dan mencari-cari kesalahan dan kekurangan Jen. Kemudian dengan membutakan mata, dia mengabaikan sikap Jen yang tidak begitu ambil pusing pada apa yang telah diperbuat kepadanya.


"Din ...."


"Ya ...." Gelagapan. Ketika suara Ranu menyeret paksa dirinya kembali dari alam lamunan yang menghanyutkan. "Aku akan—apa?" Dinka berjengit, hingga ia sendiri terkejut dengan pekikannya barusan. "Em—maksudku ... apa yang tidak sederhana, Ran?" Buru-buru Dinka meralat semua ucapan dan reaksinya yang berlebihan. Seketika itu juga, ia menyadari ada yang tidak beres dengan permintaan sahabatnya tersebut. Sampai saudara yang jauh juga tahu keadaan Jen, apa ini benar semua tidak sesederhana ketika virus yang tidak terlalu mengkhawatirkan seperti yang ia baca di sebuah artikel menginvasi tubuh wanita hamil. Memang Dinka langsung mencari tahu bagaimana virus itu bekerja, lalu ia menutup mata saat ada yang mengatakan itu bisa dimatikan dengan sebuah pengobatan yang rutin dan berkelanjutan. Tapi entahlah, dia sibuk akhir-akhir ini dan dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.


"Aku selentingan dengar—entahlah, sepertinya orang tuaku menutup-nutupi sesuatu. Aku pernah denger om dan tante bilang, kalau bayi-bayi kak Jen bisa tidak bertahan lama akibat sebuah penyakit. Aku hanya berharap kakak baik-baik saja dan menjalani hari dengan bahagia. Aku tidak begitu jelas mendengar, Din ... malah aku agak heran ketika kamu malah balik bertanya padaku, seharusnya kau lebih tau daripada aku, kan?"

__ADS_1


"Em ... iya, aku tau ... maksudku kamu disana belum lama tapi ... kata-kata kamu agak aneh di telingaku, apa kalau kau pulang nanti, kau tidak bisa ngomong lo gue lagi?" Dinka menggigit bibir, menyadari betapa miskin pengetahuannya akan keadaan kakak iparnya. Jika dipikir lagi, dia malah tidak tahu apa-apa saat ini.


Diseberang, Ranu sepertinya tertawa. "Ya, aku emang gak pernah pakai sebutan itu, kan, Din ... jadi kamu harusnya ngga heran lagi, andai aku pakai bahasa yang formal nanti ... lagian ada tante Nina yang masih sering pakai bahasa jawa saat ngomel ke om Rio. Mereka kadang pakai lo gue juga saat berdebat, tenang aja ... aku gak bakal lupa."


Baru kali ini, Dinka kehabisan kata ketika berbicara dengan Ranu, mungkin karena otaknya mulai mendeteksi kesalahan yang fatal pada tindakannya yang lalu kepada Jen. Apa benar semua ini karena dia?


Telak sudah Dinka malam ini, dia seperti terpojok dan tak punya pilihan lain selain mengiyakan saja, demi persahabatan mereka. Namun, dia juga tidak tahu cara apa yang akan dia gunakan untuk mendekati kakak iparnya. Minta maaf? Basi ... dia akan terlihat seperti kurang meyakinkan jika memakai alasan itu. Lagipula, tidak semudah itu minta dan memberi maaf, kan? Kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan dengan mudah, dan dia kenal dengan baik sikap iparnya tersebut.


Dinka membanting tubuhnya dengan keras di atas tempat tidur. Semua sudah terlanjur dan runyam. "Apa semua akan selesai dengan minta maaf? Tanna saja berakhir mengerikan, padahal mereka bersahabat sangat dekat."

__ADS_1


Dinka mendesahkan napasnya dengan keras, kepalanya berdenyut mengerikan, dadanya berdentam tak nyaman seolah ada yang meremas isinya dengan kuat. Ini memang salahnya!


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2