
Jen merosot diantara tumpukan pesanan yang dibatalkan. Mitra kerjanya tentu tak mau merugi dan membebankan semua kepada Jen dengan meminta bayaran penuh. Manik mata yang sendu itu memindai seisi ruangan yang sangat sesak dengan kodian pakaian kekinian itu.
Tanna ... nama wanita itu menggema di hati Jen. Batinnya menggemas, meletupkan amarah yang memuncak. Tangannya saling meremas. Geram ... sangat geram.
Darren hanya bisa menghela napas melihat itu semua. Jumlahnya tak sedikit dan berhasil menguras tabungan Jen. Rasa ketidakpeduliannya yang hilang, kini muncul lagi, memudarkan kesal di hatinya. Cinta selalu begini, tak pernah bisa membenci.
"Jual murah saja, toh barangnya berbeda-beda." Darren memandangi pakaian yang sebagian besar adalah kaos couple. Namun tak sedikit pula yang sepertinya kaos untuk sebuah even.
Jen masih tak menggubris kehadiran Darren. "Sebanyak ini mau dijual kemana?" lirihnya hampa.
"Kaya cuci gudang gitu, tapi kita yang datangi pembeli."
"Entahlah, Ren ... pusing aku!"
"Kamu masih demam, sebaiknya istirahat saja dulu, minum obatmu. Besok pikirkan lagi!"
Jen menghela napas lagi. "Besok atau sekarang kadar pusingnya sama. Gak bakal sembuh meski diobatin."
"Kamu tuh apa-apa dibikin mumet duluan, barang-barang ini bisa kok dijual lagi. Atau disumbangin aja kalau ngga mau susah payah jadiin uang lagi. Coba deh, jangan panikan dan mudah butek jadi orang itu."
"Maksud kamu, aku gak bisa berpikir gitu?" Jen meradang. Ia bangkit dan mendatangi Darren. Mata galak itu kembali membuat Darren memompa sabar.
"Aku yakin kamu bisa mikir," jawab Darren enteng. "Cuma cara kamu mikir lebih banyak ke arah parno, gak jelas, suka mentingin yang gak penting, mikirin yang belum pasti. Sementara ini ...," Darren menyentuh tumpukan kaos itu dengan ujung sepatunya.
"Ini mudah dan penting sekali untuk di bereskan. Coba dulu dipasarkan, biarpun gak balik modal seenggaknya bisa ngurangin jumlahnya, biar mata gak sepet. Ini kaos dulu laris 'kan? Brand kamu, ciptaan kamu, masa mau kamu biarin membusuk. Sumbangin sebagian, titipin di galeri Jeje juga bisa. Kamu punya kenalan, manfaatin sekarang. Apa-apa kok manyun duluan ...!"
"A—" Jen semula hendak menjawab, tapi ia segera mengatupkan bibirnya lagi. Sebagai gantinya ia menatap Darren dengan wajah lesu.
"Aku belikan obat dulu, apa keluhanmu selain demam? Lagian udah malem dan lelah, bukannya tidur malah main hape, akhirnya pikiran kemana-mana, stres 'kan? Jadinya sakit."
"Kamu kenapa jadi ngalahin mama, sih? Cerewet sekali! Bukannya kamu yang bikin aku ngga bisa tidur? Lagian aku sakit karena mandi malam-malam!" sewot Jen.
Kini gantian Darren yang kicep. Kaku dan hanya mengedipkan mata sebagai reaksinya. Begitu, toh? Darren tidak tahu sama sekali sebab ia yang awalnya hanya berpura-pura tidur akhirnya kebablasan dan tidak tahu apa yang dilakukan Jen setelah bertikai.
"Apa? Masih mau ngomel lagi?" sambung wanita itu dengan tangan dipinggang.
Darren hanya nyengir dan menggeleng. "Aku belikan obat dulu, ya ... mau dibelikan cemilan atau apa gitu?"
"Ngga ada napsu buat ngemil ... dan aku mau beli obatku sendiri." Jen menurunkan tangannya. Matanya masih bertautan dengan Darren, tanpa mengurangi kadar kegalakkan di sana. Ia bahkan melengos ketika sampai di dekat Darren.
Ia tak berniat mencegah istrinya pergi, malah semakin lebar menyengirkan senyumnya. Memandang kepergian Jen dengan tangan mengusap tengkuknya.
***
Vaya baru sampai usai menyelesaikan urusan dengan beberapa rekan kerja dan beberapa pegawai yang terpaksa diberhentikan. Jen yang meminta, ia tak lagi bisa menangani ini semua. Ia berniat memulainya lagi dari awal, dengan suasana baru nanti, kini ia ingin menata perasaannya dahulu.
"Udah beres, Jen ... tapi uang kamu habis." Vaya menyerahkan tanda bukti pembayaran ke depan Jen. "Seharusnya gak perlu berhentikan mereka dulu, kita pelan-pelan bisa mulai lagi dengan modal yang ada."
Jen melihat sekilas saja nominal yang ia keluarkan hari ini. Banyak, bahkan kepala Jen sampai berdenyut kembali.
__ADS_1
"Udahlah, Vay ... aku capek. Moodku berantakan, sementara kita off dulu. Semoga dalam waktu dekat hatiku dapat pencerahan jadi kita bisa kerja bareng lagi."
"Ya udah kalau itu mau kamu, aku ikut saja. Tapi jangan lama-lama, ntar aku keenakan jadi pengangguran lagi." Ingin Vaya menyarankan untuk meminta bantuan papa Harris saja, tapi melihat wajah sahabatnya yang lesu itu, ia menelan kembali semuanya.
Jen tersenyum singkat, lalu menepuk bahu Vaya dan mengangguk. "Oke. Aku ke apotek dulu ...."
"Beli tespek?" celetuk Vaya santai, ia tak bermaksud apa-apa, hanya berpikir biasanya itu yang dibutuhkan pengantin baru.
Jen yang telah menjauh beberapa langkah, berhenti dan menoleh. "Iya! Puas lo!" sahut Jen dengan galak dan nyolot.
Vaya menjengit dan tertawa cengengesan. "Kan hanya berjanda, kenapa sewot? Bagus dong ...." Vaya merendahkan suaranya, ia meneropong bibirnya. "... kalau iya."
Jen mendengkus kesal, ia memilih berlalu pergi daripada meladeni kekonyolan Vaya. Gadis itu memang perlu ditabok ubun-ubunnya, biar setan di kepalanya rontok.
***
Di kampus, Ranu tengah melamun di sebuah tempat duduk yang menghadap ke lapangan basket. Mata gadis itu kosong menatap mahasiswa yang tengah bertanding basket. Aric—cowok pujaan Dinka ada di sana, itulah sebabnya mengapa Ranu harus menunggu Dinka di bangku ini. Ah, menyebalkan sekali gadis itu, sudah tahu kalau Ranu enggan berlama-lama duduk diam, tanpa melakukan apa-apa. Seharusnya, ia menunggu Dinka di perpustakaan saja. Adem dan menenggelamkan pikirannya dalam sebuah buku agar tak lagi memikirkan Darren.
"My Honhon Aric masih main, 'kan, Ran?" Napas ngos-ngosan Dinka seperti terpaan angin musim peralihan.
Ranu tidak menjawab, bukankah dia sudah tahu jawabannya? Kenapa masih bertanya? Mata Ranu masih bergerak mengikuti Dinka yang mendudukkan tubuhnya, tatapan matanya terpaku pada tengah lapangan basket, sementara tangannya meraba tas saku tas punggungnya.
Ranu mendesah dan mendecak. Pasti yang ia pikirkan hanya Attalaric Napoleon tapi bukan Bonaparte, yang mentereng dengan rambut bagian atasnya yang jatuh hingga ke dahi berbalut air keringat. Itu sangat keren. Ehm, tapi tidak bagi Ranu. Kak Darren olwes debes, no debad!
Membenahi kacamatanya yang tidak berubah posisinya, Ranu mengambil apa yang di butuhkan Dinka dan meraih tangan sahabatnya itu, menimpakan botol minum de dalamnya.
"Makasih, My Bestie ...," ucap Dinka hanya menoleh sekilas, lalu tegak kedepan lagi seolah satu detik sangat sayang dia lewatkan bila tidak memandangi Aric. Bahkan Dinka tak memperhatikan cara minumnya yang sudah seperti onta kehausan.
" ... suatu hari dia bakal jadi laki gue, Ran ... dia terlalu sempurna, Ya Tuhan! Apa aku masih hidup ... dia seperti malaikat surga!" seru Dinka dengan nada ceria.
"Ehm ...." Dinka berdehem agar lamunan Ranu buyar. "Kak Darren? Masih belum bisa lupain?"
Ranu menarik napas sekaligus menjawab pertanyaan Dinka. "Yah ... kurasa butuh banyak sekali waktu untuk lupa sama kakakmu itu. Jika menyukainya butuh sepuluh tahun, waktu yang sama juga untuk melupakannya. Aku tidak bohong soal menyukainya dan berharap dia adalah suamiku." Ranu membuang napasnya, lalu memandangi kakinya.
Sejurus kemudian ia menoleh kepada Dinka. "Menua bersama ... sejauh itu pikiran dan anganku bersama dia. Tapi ... yah, aku bisa apa dalam waktu satu minggu sebelum pernikahan itu terjadi. Menggagalkannya?"
Dinka mengedip saja sebagai reaksi. Ia bahkan tidak tahu seterluka apa sahabatnya waktu itu. Ranu hanya mengurung perasaannya saat itu. Ia sendiri enggan bertanya karena sudah tahu Ranu terluka. Kini ia membiarkan Ranu mengeluh dan berbicara. Mungkin akan melegakan dan segera melupakan.
"Jika aku orang lain dan egois, aku pasti lakukan itu. Tapi, Mama bagaimana? Papa? Apa yang dirasakan mereka? Lalu Kak Jen? Dia kakakku, saudara perempuanku satu-satunya, melihatnya bahagia bersama cintanya, apa aku tega bertingkah kejam?"
Ranu menyeka sudut matanya yang basah. Membasahi bibirnya yang kering, lalu menurunkan ke lehernya.
"Dia berbeda ayah denganmu, 'kan?" Dinka menegaskan hubungan darah yang bisa dijadikan sebagai alasan agar Ranu tidak berbelas kasih pada Jen dan memperjuangkan perasaannya.
"Ya, aku tahu ... tapi kami keluar dari perut yang sama. Sebagian darah kami sama. Lalu kenapa aku harus menyakiti sebagian tubuhku sendiri?"
Dinka menipiskan bibir, ia mengerti bersama sejak kecil dan tidak terpisahkan, membuat Ranu selalu berpikir mereka berdua berada dalam satu tubuh.
"Kalau begitu ikhlaskan ... biarkan Jen bahagia." Dinka mencoba opsi lain agar Ranu berhenti dilema.
__ADS_1
Ranu menoleh dengan seluruh wajah memerah. "Aric menikah denganku, bagaimana perasaanmu? Ikhlas?"
Dinka berjingkat mundur. "Buset ... bisa gila tujuh tahun aku kalau kamu nikung aku!" serunya dengan mata membelalak.
Ranu menatap Dinka, mengatakan bahwa inti dari semuanya adalah ikhlas itu sulit.
Dinka kembali mengarahkan tatapannya ke depan. Aric jadi tidak menarik meski bola matanya masih mengikuti gerak memesona seorang Aric. Dia berpikir, apa memberi harapan pada Ranu adalah hal baik saat ini.
Ekor mata Dinka melirik Ranu yang memandangi kakinya, memutar sepatunya pada rumput dan daun kering. "Apa kau tetap menerima kakak meski ia seorang duda?"
Kaki Ranu berhenti, kepalanya menoleh mencari kepastian bahwa kalimat itu terlontar dari bibir sahabatnya.
"Aku tidak bermaksud memisahkan mereka walau aku tidak suka Jen. Aku gak sejahat itu lah ... tapi sumpah demi Aric aku denger kalau mereka nikah kontrak selama setahun!" Dinka cepat-cepat mengoreksi ucapannya. Takut Ranu salah paham nanti.
Ranu seperti kehilangan napas beberapa saat, mata gadis itu melebar hingga bijinya berguncang. Waktu selanjutnya, napas yang keluar dari hidung gadis itu terdengar pendek dan memburu. Syok!
"Kau-kau bilang apa?"
"Kau dengar semuanya dengan jelas dan bukan mimpi! Kesempatanmu untuk bersama kakak masih ada, hanya kau perlu bersabar setahun ini ...," Dinka meluruskan. Ia membuka lagi botolnya lalu meminum beberapa cecap. Ekor mata gadis itu masih melirik ekspresi sahabatnya.
Serangan jantung sepertinya si Ranu, pingsan sebentar lagi itu!
Dinka masih sibuk menggosipkan respons Ranu dalam hati, sampai tidak menyadari kalau seseorang merebut botol wer-wer dari tangannya.
"Eh—" cetus Dinka terkejut. Suaranya yang ngegas, detik itu juga lenyap dari laringnya. Waktu-waktu ini, Dinka kehilangan segala daya dalam tubuhnya. Lumpuh dan lembek.
Malaikat dengan keringat menetes-netes itu tengah menenggak air dari bibir botol yang sama. Jakunnya naik turun, menggoyang tubuh Dinka yang terserang gempa. Ia mengedip dan sudah pasti pupil memenuhi ruang di matanya.
"Makasih, ya ...," ucap Aric sambil menimpakan lagi botol itu ke dalam genggaman tangan Dinka. Pria tampan itu tersenyum, lalu mengacak rambut Dinka sebelum ia berlalu begitu saja dari sana.
Dinka yang telah lumpuh hanya bisa memutar lehernya, mengikuti langkah Aric yang anggun. Sampai di ujung selasar yang panjang, Aric menoleh dan tersenyum lagi, lalu melambai samar kepadanya. Itu detik-detik paling indah dalam hidup Dinka. Semua terjadi cepat dan singkat, membuat kebahagiaan dalam tubuh Dinka melesat cepat, hingga ia tak kuasa lagi menahannya.
Oh My ... jantungku kolaps!
Detik selanjutnya, ia sudah tergolek di atas rumput dengan Ranu yang panik di mengguncang tubuhnya. Meski begitu bibirnya masih menyengirkan senyum. Bahkan tangannya mendekap erat botol berwarna Magenta itu. Awan diatas sana melukiskan wajah Aric dengan senyum dan sayap malaikatnya.
Oh my Angel ....
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaciw untuk supportnya mantemans ... cinta banyak-banyak😍😍😍