
"Sayang ...." Darren begitu lega melihat Jen yang membuka matanya. Sejak dipindahkan ke ruang perawatan, Darren terpekur sendiri dengan banyak sekali pikiran. Mulai bahaya jika sampai janin dalam perut Jen tertular virus tokso, sampai apa saja yang dilakukan jika Jen dan janinnya tertular. Andina sudah melakukan banyak antisipasi jika hal paling buruk terjadi.
"Loh, kenapa aku bisa pindah di sini, sih, Ren?" wanita itu mengerjapkan matanya dengan raut wajah bingung, tangannya mulai meraba hidung yang pasti tidak nyaman sebab di pasang selang bantu pernapasan. "Aku kenapa, Ren?"
Darren menghela napas sebagai jawaban lalu ia mengambil posisi ke sisi Jen yang udah duduk di ranjang. Ia memeluk istrinya tersebut di lengan, menempelkan dagu di bahu Jen.
"Kamu ngga papa, kok ...." Ia mengusap lengan istrinya itu, "kok udah ngga manggil aku bang lagi?" Darren mencoba mengurai ketegangan yang terjadi dalam dirinya. Sebenarnya, ia hanya sedang menutupi keadaan Jen yang sesungguhnya, dan Jen biasanya akan mengejarnya jika ia tak puas dengan jawaban yang ia dapatkan.
Sesuai saran dokter Andina, sebaiknya Jen jangan tahu kondisi dia terlebih dahulu sampai usia kandungan mencapai 15 minggu untuk mengetahui apakah janin mereka tertular atau tidak melalui cairan amnion. Dan selama itu pula, Darren bertugas untuk membuat semua terlihat baik. Meski begitu, Andina tetap menyarankan agar tetap memberitahukan kalau Jen di duga hamil. Namun, Darren tetap tak kuasa mengatakannya.
"Ngga usah ngalihin topik pembicaraan, Ren ... aku sakit apa?" Jen menyilangkan tangan di dada, bahunya bergerak untuk mengusir Darren dari sana. Ia sudah hapal benar dengan semua tingkah Darren jika sedang menyembunyikan sesuatu.
Darren membuang napas kasar. "biar aku panggil dokter Andina dulu ... tadi aku di suruh mencarinya jika kamu sudah siuman. Biar beliaunya yang menjelaskan agar kamu percaya."
Darren berpikir kehamilan Jen akan menjadi hal yang menggembirakan, dia dengan antusias memberitahukan kehamilan itu, bersuka cita dan bahagia, tapi nyatanya, kini dia tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Tak mampu membayangkan bagaimana reaksi Jen jika sampai tahu janinnya dalam keadaan bahaya.
"Loh, kenapa ke sana?" tanya Jen ketika melihat Darren menuju pintu. "Panggil dokternya lewat itu saja ...." Ia menunjuk telepon dan juga tombol darurat di dinding.
__ADS_1
"Ngga akan terhubung dengan dokter yang merawat kamu, Yang ...." Darren tersenyum meski hatinya terasa getir. Ya, karena bukan dokter jaga di bagian VIP yang akan dia panggil, melainkan dokter perinatologis. Andina adalah dokter tersebut.
Jen termangu menatap kepergian Darren yang terlihat aneh. Ada apa, sih? Mata Jen menatap sekeliling dan jatuh pada dirinya sendiri. Terasa lebih baik dari pada yang sebelumnya. Jadi apa yang dikhawatirkan?
Jen baru saja kembali merebah, pintu bahkan masih belum kembali menutup sempurna, tetapi segera saja pintu putih itu bertolak dengan suara hentakan kasar.
Jen terlonjak dan kembali bangun, "Dinka ...?" Ia tersenyum dan menarik tubunhnya tegak. Melihat ekspresi Dinka ia tak lagi kaget ataupun merasa terintimidasi, sudah biasa melihat wajah masam itu jika menghadapinya.
"Kembalikan kucingku!" raung Dinka dengan langkah lebar ke arah ranjang. "Kau membunuh Myungku!" tuduhnya gamblang tanpa basa basi.
"A-apa maksud kamu, Din? Myung ada dirumah!" Jen memang sakit, tapi jika tersulut, dirinya seperti orang yang tak mempan senjata. Tangguh berdiri dan siap melawan.
Bukan malah menghindarkan dirinya dari kesakitan, tetapi tarikan itu berhasil membuat luka di punggung tangan Jen.
"Kau ini apa-apaan?" bentak Jen dengan air mata mengumpul. Bukan takut, tapi dia sedang menahan nyeri luar biasa. "Myung di rumah, mana mungkin mati?" Ia terengah, napasnya seolah habis. Tubuhnya kelabakan mengatasi masalah, semua terasa sakit. Hatinya juga. Setelah semua ini?
"Kau berhentilah berpura-pura! Kau hanya demam tapi lebay sampai di infus segala! Kau sungguh anak yang manja, Jen! Kau sungguh membuatku muak!"
__ADS_1
Ia berusaha menarik tubuh Jen, "berhentilah berakting sok lemah, jika hanya untuk menarik perhatian orang lain!"
Jen berpegangan pada pembatas ranjang agar tetap kokoh di atas ranjang. Ia bisa melepaskan, tapi jika itu terjadi, Dinka akan menabrak dinding dengan keras. "Lepaskan, Din ... sa ... kit!" Matanya melirik tangan yang berpegangan pada besi itu. Cairan kemerahan keluar tanpa permisi.
"Dinka ...!" Darren memecah keributan itu dengan gelegar suaranya. "Apa yang kau lakukan, ha?" bentaknya dengan pandangan horor yang mengerikan.
"Kakak ...," bibirnya bergerak pelan memanggil kakaknya, yang sepertinya tidak akan berkubu dengannya kali ini. Terlihat dari sorot mata dan rahang yang terlihat menegang.
Mampus!
.
.
.
.
__ADS_1
.
#Kaboooorđ