
Nyatanya, hari-hari Dinka terasa sangat suram dan merana sejak kejadian terakhir. Setiap pulang kuliah, dia mengadu keberuntungannya dengan mendatangi JC, lalu yang ia dapati hanyalah ruangan dengan selusin karyawan dengan meja kerja utama diduduki oleh wanita lain dengan kaca mata bertengger di pangkal hidungnya, memandangnya dengan tatapan yang bisa dibilang agak mengerikan.
Harapan satu-satunya hanyalah tempat itu dengan dalih menemui mamanya, dan dia tidak akan terlalu kentara dalam posisi yang canggung. Dia ingin memperbaiki semuanya, tetapi tidak menemukan cara yang baik dan tidak membuatnya tersudut terlalu jauh. Itu sulit rupanya.
Belum lagi, Ranu yang hampir setiap detik mengiriminya pesan yang menanyakan bagaimana keadaan Jen yang baginya cukup membuatnya semakin pusing tak karuan. Dia frustrasi sendiri akibat kata iya yang pernah ia lontarkan kepada Ranu. Ini sungguh tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Satu-satunya cara ialah dengan mendatangi rumah kakaknya tersebut, membuang jauh-jauh rasa malu dan gengsinya. Meski dia tak punya rencana ketika alasan itu tiba dengan cara yang tidak terduga.
Dan di sinilah dia berdiri, di meja dapur kakaknya dengan kedua tangan sibuk menurunkan kotak-kotak makan yang ia bawa barusan, di bawah tatapan tanpa ekspresi kakaknya. Dinka bukan lagi bingung mencari obrolan pembuka yang cukup pantas, tetapi ia menderita gugup yang luar biasa mencekik lehernya. Biasanya, kakaknya itu akan dengan senang hati menggoda, mencandai, bahkan akan membuatnya jengkel setengah mati dengan ejekannya. Namun sayangnya, Darren seperti kehilangan selera humor, menyisakan ketegangan dan ekspresi serius yang menghiasi wajah tampannya.
“Mama ... lagi ada banyak orderan buket, Kak, makanya aku yang datang kemari.” Kerongkongan Dinka rasanya mengering dan perih ketika ia berkata-kata, sehingga ia berdehem pelan. Matanya takut-takut mencuri lihat ekspresi kakaknya tersebut dalam gerakan yang disamarkan. Dalam hati bertanya-tanya, kemanakah kakak iparnya? Bukankah ini terlalu siang untuk bergelung di tempat tidur? Atau terlalu pagi untuk keluar rumah? Bukakah seharusnya pagi-pagi begini istri menyiapkan sarapan untuk suaminya? Bukan dikirimi terus-terusan oleh mertuanya. Ck, manja!
“Jen masih menjemur baju, tidak usah kau tunggu jika hanya memberikan ini saja!”
Dinka tersedak umpatannya sendiri, bagaimana bisa kakaknya tahu apa yang sedang dipikirkannya? Apa ini terlalu kentara? Dan apa itu tadi? Apakah itu artinya dia sedang diusir secara halus?
“Egh ... biarkan aku membantunya, Kak!” Dinka berujar riang demi menutupi pikiran buruknya. Langkahnya melebar ke samping untuk meninggalkan meja makan.
__ADS_1
“Tidak usah! Dia sebentar lagi selesai ....” Dinka menoleh dengan rasa tidak percaya memenuhi wajahnya. Kakaknya berkata sangat ketus dan dingin sekali padanya.
“Ngga papa, Kak ... aku sedang tidak terburu-buru dan-“
“Kami tidak butuh bantuanmu!” Darren menukas dengan cepat, dan tidak sabar. Sorot matanya menghujam begitu tajam ke arah Dinka. “Berangkatlah!”
Napas Dinka terhela pasrah, senyumnya memudar dengan cepat, tidak meninggalkan jejak sama sekali seolah bibirnya tak pernah tersenyum sebelumnya. Tiba-tiba rasa kesal dan kecewa berlomba-lomba memenuhi dirinya. Inisiatifnya di tolak oleh kakaknya sendiri. Itu sungguh menyakitkan walau—katakanlah, itu untuk melindungi istrinya. Dinka paham, tapi tetap saja rasanya sakit. Apa tidak bisa sedikit hangat dan lembut bertutur kata? Apa tidak bisa berkata dengan nada biasa?
"Ya sudah, kak ... aku berangkat." Dinka pasrah, dan dia tetap kembali untuk menyalami kakaknya. Lalu gumaman sebagai jawaban, mengantarkan kepergiannya.
"Siapa yang datang?" Jen mengelap tangannya dengan bagian belakang baju hamilnya ketika ia muncul di dapur. Perutnya menyembul dengan sombongnya. Lalu wajah putih bersih itu penuh dengan rona merah berhias sulur rambut yang tak terikat dengan benar.
"Lelah, ya?" Darren mengambil alih gelas yang dipegang Jen. "Duduk saja, biar aku ambilkan!"
"Jangan berlebihan, aku bisa sendiri kok ...." Jen memang melepaskan gelasnya tapi dia terkadang tidak enak hati sendiri saat orang-orang datang dan memberinya banyak pelayanan.
"Kau sudah lelah dengan banyak tekanan dan anak di dalam perutmu, jadi aku hanya bisa meringankan saja beban-beban yang aku timpakan sama kamu, Sayang." Darren menuangkan air putih dari sebuah wadah kaca bening dan menyodorkannya pada Jen.
__ADS_1
Jen tertawa menerima gelas tersebut, tatapannya mengisyaratkan rasa terimakasih, "ya, harusnya kan kita bagi dua, kamu satu aku satu, setidaknya kita bisa menyelamatkan salah satu."
Darren berhenti dan termenung, "mereka kuat dan akan baik-baik saja. Selamat semuanya." Ia tak tahan untuk mengusap rambut Jen, sungguh ingin meneriakkan kata meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Jen merasa candaannya tidak membuat suasana menjadi senang, jadi dia mengalihkan pembicaraan. "Aku akan mengganti Myung dengan kucing baru ... apa kau setuju?"
"Ya ...!" Darren menarik ikat rambut Jen dan membenarkan ikatannya tersebut. "Kau hanya akan melihat gambarnya, karena aku tidak mau kamu menyentuh makhluk itu!"
"Baiklah, Suamiku!" Jen tersenyum dengan gaya cerianya. Tangannya menyusup ke pinggang Darren dan memeluknya. "Calangeo, Oppa."
Darren berdecih, "Yeobo, baru benar!"
.
.
.
__ADS_1
.
.