Suami Settingan

Suami Settingan
Myung Yang Meresahkan


__ADS_3

Daster bunga-bunga kecil berwarna kuning membalut tubuh Jen, meski kebesaran tetapi Jen lebih memilih daster itu daripada baju-baju yang Desy pilihkan untuknya. Terlambat datang ke arena sarapan, Jen berhasil membuat seluruh penghuni rumah memandangnya dengan senyuman simpul penuh godaan.


Kecuali Papa Rendi semua sudah duduk di ruang tengah. Sarapan kali ini dilakukan lesehan karena meja makan tak bisa menampung jumlah mereka. Aroma dari menu masakan sederhana buatan Desy, mengoyak udara di sekitar ruangan itu. Nasi goreng, telur ceplok, ayam goreng, tumis buncis, dan rendang sisa semalam memenuhi meja makan. Jen pagi ini tak kalah ribut membantu mertuanya, dirumah dia tinggal menikmati, sementara di sini ....


"Seduh kopinya, Jen ... tolong, ya!" Desy dan Darren sibuk membawa makanan yang telah siap itu ke depan.


"Iya, Ma ...," Jen berdiri tak jauh dari kompor menunggu air di dalam panci mendidih, tangannya menuangkan gula ke dalam cangkir yang sudah diberi kopi bubuk oleh Desy. Teh celup dengan aroma melati juga sudah mengisi dasar teko.


"Ini dikasih gula sekalian apa, yak? Takutnya nanti pahit lagi kaya kemarin," gumamnya. Ia mengangkat teko tersebut tepat di depan matanya, ia guncang sejenak, lalu ia letakkan kembali. "Kasih aja lah, nanti kelupaan malah pahit jadinya."


Jen bergidik merasakan pahitnya teh kemarin, "Darren kejam sekali." Mata Jen terpejam mengingat rasa teh yang mengerikan itu, seumur-umur ia belum pernah merasakan sesuatu yang pahit.


Jen mengambil sendok dan bersiap menuangkan gula ke dalam teko tersebut, tetapi Myung datang dengan suara mengeongnya yang khas lalu menggesek kaki Jen secara berulang, bulu lembutnya membuat Jen geli setengah mati. Jen menunduk, "Pus ... jauh-jauh! Aku takut nanti dikira apa-apain kamu kayak semalam!"


Myung berhenti, tetapi giginya langsung menancap di betis Jen.


"Au ...." Gula ditangan Jen tumpah dan bercecer di lantai, karena ia terkejut dengan gigitan Myung.


Ini kucing punya dendam pribadi apa sama aku, yak?


"Ih, jan mulai, deh ...!" Jen menarik kakinya hingga gigitan itu terlepas. "Sakit, tauk!" Jen mengangkat kakinya, melihat bekas gigitan Myung.


"Dia suka kali sama kamu," celetuk Darren mendekatinya. Jen menaikkan wajahnya dan menurunkan kakinya yang tergores panjang melintang.


"Suka apanya, orang gigit sampe barut begitu!" gerutu Jen lalu menjatuhkan matanya pada Myung yang duduk menatap Jen sambil menjilati moncongnya.


"Coba lihat ...," Darren berlutut dan menarik kaki Jen ke depannya. "Kasih obat merah, ya ... ini gak dalam tapi cukup perih, sih!"


Darren mendongak, Jen menunduk. Kembali beradu pandang. Tak sempat menghindar, Jen akhirnya ketahuan sejak tadi menatap wajah suaminya.


"Ngga usah ... cuma luka kecil, kok!" Jen menggeleng. "Lepasin, airnya udah mendidih," ucapnya menghindari salah tingkah berlebihan.


Darren melepaskan tangannya, ia berdiri di sebelah Jen. "Mana? Belum, tuh," cibir Darren sambil merangkul pinggang Jen.


Jen sudah membuka mulutnya, tetapi kembali tertelan lagi merasakan tangan Darren di pinggangnya. "Lepasin, Ren ... kamu apa-apaan, sih?"


"Kenapa? Apa-apa aja, udah boleh kok, masa begini saja enggak boleh?" Darren menyusuli tangannya dengan lengan yang lain, dimatanya, Jen sangat manis dengan dasternya itu. Sungguh Darren tak tahan untuk menghentikan tangannya memeluk istrinya tersebut. Pun dengan bibir Darren yang tak tahan untuk memberikan kecupan.


Jen menampar tangan Darren, "Lepas, Ren ... malu kalau dilihat orang!"


"Diamlah sejenak," pinta Darren sambil meletakkan dagunya di pundak Jen.

__ADS_1


"Dia kenapa, sih?" batin Jen. Ia menurut saja apa kata Darren, meski lama-lama berat juga.


"Habis sarapan, aku mau menemui kak Excel ... kamu mau ikut?" tanya Darren sambil memejam. Ia menikmati saat telah memiliki Jen sepenuhnya.


Jen menggeleng. Tentu saja tidak! Jen biasa modis saat keluar rumah, mana mungkin pakai seragam kenegaraan emak-emak seperti ini. Apa kata matahari saat melihatnya memakai daster? Angin nanti pada gibahin Jen dan awan di langit menertawakannya. BIG NO, pastinya.


"Oke ... bisa jaga diri, 'kan selama aku pergi?" Darren menjauhkan dagunya, lalu beralih ke belakang kepala Jen. Menyemati rambut yang menebarkan wangi itu dengan sebuah kecupan.


"Bisalah! Kamu pikir aku anak kecil apa?" Jen menjauhkan kepalanya. "Minggir, airnya sudah mendidih." Kali ini ia tak mengada-ada, air didalam panci sudah menggelegak cantik dan menguarkan uap panas.


Darren menurut, ia beralih ke sisi Jen, berniat membantu mengaduk kopi tersebut. "Panas banget, ya? Pipimu sampai merah begitu?"


Tangan kiri Jen menimpa pipinya sendiri, sedikit menggerakkan matanya ke arah Darren yang tampaknya biasa saja, Jen langsung membuang muka. Menyembunyikan rona wajahnya.


Iya, tapi bukan panas dari uap air dan api, tapi dari tubuh dan sikap kamu!


"Udah tau, nanya!" ketus Jen yang membuat Darren terkekeh.


***


Usai sarapan, Darren menuju kantor kakak iparnya dan di sinilah dia berada duduk bertiga dengan tegang dan memutar otak.


Ucapan Darren membuat Excel dan Rega menatap Darren. Tentu saja mereka keheranan. Darren mengerti lalu menunjukkan ponselnya ke depan mereka.


"Aku sempat mengambil beberapa foto ibu Nella, dan Nella harus tahu kalau ayahnya telah meninggal," lanjutnya.


Excel yang tampak lelah menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. "Lihat saja dulu bagaimana reaksi Nella saat tahu ayahnya meninggal. Jika dia tidak peduli, biarkan saja dia dipenjara."


Rega menganggukinya, "Bener, Ren ... siapa tau dia ngga peduli keluarganya lagi."


"Tetapi kenapa kamu berpikir Nella !akan berubah pikiran?" Excel menoleh ke arah Darren yang tampak berpikir.


"Sejauh yang aku tahu, Nella hanya 'orangnya' Tanna ... kau tau, seperti terpaksa." Darren menjelaskan apa yang ia pikirkan. Tampaknya seperti itu sebab terakhir kali ia melihat Nella, ia seperti tak berdaya menghadapi Jen.


"Yang tau pasti, ya, Jen dan Naja ... kenapa tidak tanya mereka saja?" Rega menengahi.


"Naja sudah kelelahan sama Cio, masih mau kamu tambahin ngurusin begini?" Nada suara Excel sedikit meninggi dan tidak terima.


"Kan saran saja, kenapa marah?" Rega menjauhkan wajahnya dengan bibir meliuk, ekor matanya mencibir sinis suami takut istri di sebelahnya. "Dasar sensi!" gumamnya tak terdengar.


"Sebaiknya aku menemui Nella saja, lihat reaksinya dia, baru kita putuskan. Bagaimana?" Darren menatap bergantian dua orang di depannya.

__ADS_1


"Oke ... lakukan saja!" ujar Excel menyetujui saran Darren.


***


Darren melanjutkan perjalanannya ke kantor polisi di mana Nella ditahan. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Darren diarahkan ke sebuah ruangan.


Sedikit lama ia menunggu, hingga datanglah wanita yang tampak lesu dan wajahnya cekung. Namun, ia masih terlihat angkuh ketika mengetahui Darren-lah yang menunggunya.


"Ini ibumu?" tanya Darren setelah beberapa saat lamanya ia hanya mengamati wajah Nella. Ia mengulurkan ponselnya ke depan Nella.


Ekor mata Nella bergerak sedikit, untuk melihat gambar yang ada di ponsel Darren. Sedetik kemudian, ia merampas ponsel itu dan menangis.


"Kau apakan ibuku?" tanyanya meninggi tapi parau. "Kalian sudah memenjarakanku, masih mau mengganggu ibuku?"


"Menurutmu bagaimana? Apa kau tidak berpikir kalau papanya Jen selalu membasmi rumput liar sampai ke akarnya?"


Nella terdiam, ucapan Darren seolah menampar sisi otaknya yang membeku karena ketakutan akan ancaman Tanna. Ia terpaku saja pada orang seperti Tanna dan berpikir tak punya pilihan. Pada kenyataannya, orang yang lebih berkuasa, orang yang lebih menghargai sesama manusia ada di depannya. Ia hanya perlu memyeberang dan berbicara. Tentu hidupnya tak akan seburuk ini.


"Ayahmu meninggal, ibumu mencarimu ...," ucap Darren ketika Nella hanya menatapnya nanar. Gelombang kekecewaan dan penyesalan mengalir di pelupuk mata wanita itu. Namun, kecuali ada hal setimpal, Darren tak akan berbaik hati pada Nella.


"Terimakasih sudah mengabariku, tapi jika tidak ada hal lain, sebaiknya kau pulang." Nella bangkit untuk kembali ke dalam selnya. Lebih baik ibunya tak tahu dimana dia berada, jika sampai tahu, tentu ibunya akan sangat kecewa.


"Dia sangat mengkhawatirkanmu, Nel ...," Darren ikut berdiri, ia tak menyerah, sebab ia yakin, Nella tak ingin merugikan orang lain.


"Jika kau merasa kau hanya korban, aku bisa mengusahakan kebebasanmu. Kau bisa hidup tenang dengan ibumu."


Ucapan Darren sukses membuat Nella goyah, ia seperti memiliki harapan, sehingga ia kembali menelisik wajah Darren.


"Kau hanya perlu mengatakan kebenaran yang akan membuat Tanna mendekam lebih lama di penjara!"


Bukan hal yang sulit tentunya, toh Nella juga kehilangan ayahnya karena tangan jahat Tanna.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2