
Anaknya Pak Rendi ….
“Kenapa, sih?” Bisma sejak tadi memandangi Darren yang tidak focus dalam bekerja. Padahal saat ini, cuaca sedang tidak mendukung untuk bersantai atau sekadar melamun. Mereka berdua berada di tengah terik matahari, sedang memeriksa hama yang menyerang tanaman organic yang dibudidayakan oleh kelompok tani binaan Darren.
Darren membuang napasnya keras-keras, hatinya sedang galau tak terperi. Sejak kejadian penyebutan ‘anaknya Pak Rendi’ oleh Jen, Darren jadi sering melamun dan berkomat-kamit tak jelas. Agak mengherankan, setelah tahun-tahun yang adem ayem, Darren merasa Jen pada akhirnya menemukan titik jenuh bersamanya. Pria itu mungkin merasa minder. Dia belum ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga mertuanya. Sedari dulu memang itu yang Darren permasalahkan.
“Mungkin gak sih, Jen itu selama ini hanya pura-pura cinta saja sama gue?” celetuk Darren tiba-tiba.
“What?” Bisma tersedak, seakan sekumpulan hama sedang memenuhi saluran napasnya. Dari mana pikiran bodoh macam itu berasal? “kamu gak sedang bertengkar sama Jen, kan?”
Darren menggeleng ragu. “Kami ribut Cuma soal bayi, dan itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu—biasa terjadi, tetapi gue pikir Jen suka sama pria lain sekarang ini!”
“Wah …!” Bisma mendekat, baginya ini berita sangat besar dan luar biasa. Akhirnya kesempurnaan mereka ada celahnya juga. “Serius, Jen ada pria lain? Atau lo aja yang lagi sensi? Heran juga sama lo, dimana-mana cewek yang sensian, lah ini malah lakinya yang sensian kek tespek mahal.”
“Menurut gue begitu …,” kata Darren ragu. Di satu sisi dia tidak percaya jika Jen tega menduakannya, di sisi lain, selain ucapannya waktu itu, banyak hal yang memungkinkan bagi Jen untuk memilih lelaki yang lebih baik darinya.
Bisma memandang Darren cukup lama, tidak biasanya Darren bersikap berlebihan seperti ini jika memang masalahnya tidak serius. “Mungkin karena lo merasa minder dengan Jen, Ren, jadi lo mikirnya begitu. Lo belum sepenuhnya menerima dia karena bayang-bayang keluarganya. Lo terlalu berambisi untuk membahagiakan Jen dengan materi, yang mungkin saja Jen tidak terlalu membutuhkannya.”
__ADS_1
Pandangan Darren mengawang jauh pada hamparan tanaman sayur mayur organic hasil budidayanya. Lahan ini, peternakan, dan perusahaan e-commerce di bidang pertanian dan peternakan adalah cara-cara Darren untuk mengimbangi nama besar Dirgantara. Benarkah dia terlalu berambisi? Padahal dia hanya melakukan tugasnya sebagai kepala keluarga. Akan tetapi, dalam lima tahun terakhir dia memang sangat keras berusaha, apalagi jika melihat kesuksesan kakak ipar dan mertuanya, Darren seolah terpacu untuk lebih giat bekerja.
“Gue hanya melakukan apa yang gue bisa lakuin buat bahagiain dia, hanya berusaha nafkahin anak bini gue dari keringet gue sendiri. Seenggaknya gue gak terlihat ngandelin mertua gue doang,” ujar Darren setelah lama berpikir.
Bisma terkekeh mendengar jawaban Darren yang seolah sudah kehilangan seluruh dunia hanya karena memikirkan sikap Jen yang berubah. Namun, Bisma menahan cemoohan untuk sahabatnya itu, setidaknya untuk sekarang.
“Mertua lo itu tipe-tipe langka, Ren. Mereka mau-mau aja dimanfaatin, malah kadang seneng dimanfaatin. Ya nggak, sih? Coba deh, lo pikir lagi … bahkan bokap mertua lo tau kalau lo dan Jen itu gak ada hubungan apa-apa, tapi malah setuju lo nikahin anaknya. Karena apa, mereka percaya lo itu bakal bisa jagain Jen, gantiin dia. Gue yakin, Tuan Harris itu melihat besarnya cinta lo ke Jen, tetapi lebih banyak memberikan kesempatan ke elo buat berusaha memenangkan hati Jen. Tipe-tipe mertua keren menurut gue, yang gak suka ikut campur, banyak koar-koar gak jelas, tapi lebih banyak ke action … ke tindakan nyata yang cas-cus, cas-cus, dan hap, sampai ke tujuan.”
Kini giliran Darren yang terkekeh geli melihat sahabatnya itu berbicara dengan gerakan ala-ala Tukul Arwana, juga kata-katanya yang dalam maknanya.
“Buat apa pake nanya ini itu dulu kalau hanya akan bikin keruh keadaan, beliau mengambil jalan pintas, kan? Jalan pintas yang bener, bukan kebetulan. Gue tau kalau beliau mengambil keputusan seperti itu sudah dipikirin mateng-mateng dan dalam waktu yang lama. Tipe pria pemikir dan memendam semuanya sendiri, kadang beliau bertanya hanya kita ngga sadar tujuan pertanyaan itu untuk apa, ya ngga sih?” Bisma melanjutkan. Pria itu sudah lama mengamati, tetapi sepertinya kekagumannya itu barusan tersampaikan.
“Nah, bener itu. Istri lo bener-bener tipe romantic yang humoris. Bisa-bisanya gombalin suaminya kaya begitu,” sahut Bisma seraya mendekat. Ia mengambil semprotan yang akan dia gunakan untuk membasmi kutu daun itu, lalu mulai bekerja. Bener-bener kelakuan pasutri konyol satu ini, pikir Bisma sambil tersenyum dan menggeleng.
“Gombalin yang mana?” Darren berdiri, agar Bisma bisa bekerja dengan benar. Jika ramuan anti-hama buatannya ini berhasil mengusir kutu daun, maka dia bisa memberikan cairan dari bahan-bahan alami ini kepada petani, beserta pengarahannya sekalian.
Bisma menoleh setelah memakai kacamata abu-abunya, “Lah, bukannya yang suka ngatain lo anaknya Pak Rendi atau Kakaknya Dinka itu Jen?”
__ADS_1
Darren menaikkan alisnya, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Bisma.
“Ya elah. Dia sering kok kalau pas kesel sama lo bilangnya ‘anaknya Pak Rendi’. Seringnya gini … Bis, kemana anaknya Pak Rendi? Kok sampai tengah malem belum pulang? Katanya dari situ siang?” kata Bisma menirukan logat Jen kalau sedang marah atau kesal karena Darren.
Darren kesusahan menelan ludahnya. Jadi maksud Jen waktu itu …?
“Bis … gue balik dulu!”
“Woe, mau kemana lo?” Bisma mendecak kesal karena Darren tidak menggubrisnya, malah berlari tunggang langgang seolah sedang terjadi kebakaran di rumahnya. “Kenapa sih, tuh anak?”
*
*
*
*
__ADS_1
*
3/5