Suami Settingan

Suami Settingan
Bawang Dimana-Mana


__ADS_3

Harris dan Kira yang menyaksikan semua kejadian manis pagi ini dari balik pintu, hanya bisa menitikkan air mata haru. Anak perempuannya telah menemukan tambatan hati yang sempurna. Sungguh tak ada yang lebih membahagiakan dari ini semua. Anak-anak mereka terlalu kebetulan berada di tangan yang tepat. Rasa syukur tak pelak memenuhi hati hingga menyeruak ke dada, lahir melalui tetes air mata yang tak mau berhenti merembes.


"Papa bawa bawang, ya ... kok mama jadi nangis kaya begini?" lirih Kira sambil menyeka bawah mata dengan jemarinya. Ia terlalu malu untuk berbalik dan menatap wajah suaminya.


Harris menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas, mendesiskan sebuah ejekan pada ucapan istrinya tersebut. "Cengeng tapi gak mau ngaku!" sindirnya tak lebih dari sebuah gumaman. Jika sedikit saja lebih keras, dan sampai ke pendengaran Nyonya besar, tamat sudah riwayatnya pagi ini.


Sebagai ganti, ia mendekati istrinya, memberi usapan ringan pada pundak istrinya tersebut, lantas berucap lebih lembut. "Percaya 'kan, sama keputusan Papa waktu setuju menikahkan Darren dengan Jen?"


Mengulangi lagi usapan tersebut, hingga Kira rebah di dadanya, "jangan kotori bajuku, Ma ... papa ada meeting pagi ini."


"Haish ... papa perhitungan banget, sih!" sungut Kira sambil melepaskan sebuah tamparan di dada bidang suaminya. Ia segera menjauhkan kepalanya, takut kalau penampilan sang suami jadi tidak sempurna karena ulahnya. Lalu tangannya merapikan lagi pakaian suaminya tersebut.


"Suamiku harus tampan paripurna kalau mau meeting ...," ucapnya sambil terus melayangkan tangannya di dada, hingga ke dagu, lalu merembet ke rambut. Ia menengadah dan bertatapan dengan pria tampan yang mengisi harinya dengan kebahagiaan dan cinta.


"Iya, dong ... biar papa makin percaya diri di depan rekan kerja papa." Harris membenarkan letak kerah jasnya dengan gaya yang sok keren.


Kira mencebik, "bukan ... tapi biar mama dapet pujian. Istrinya perhatian banget sama suaminya, pakaiannya rapi, bersih, dan wangi," ucap Kira sambil menirukan gaya orang yang sedang membicarakan atasannya.


"Haish ... dasar wanita haus pujian! Siapa sih, yang ngajarin kamu?" Harris mengeluh sambil memutar wajahnya ke samping. Ia sangat jengah melihat kelakuan istrinya tersebut.


Kira menatap dada Harris sembari mengusap pelan menyamping. "Kamu ... kamu yang selalu memujiku, padahal aku ngga cantik, tapi kamu bilang cantik. Pokoknya semua karena kamu!" Kira menipiskan bibir dan menyelipkan tangan di pinggang suaminya. "Love you, Papa, suamiku sayang." Kira menengadahkan kepalanya, menatap suaminya dengan senyum mengembang.


Harris melebarkan senyumnya, istrinya ini selalu sangat manis dan pandai merayu. "Meski kamu merayuku, tapi tetap ingat ... jangan boros belanja. Beli yang penting-penting saja, dan tetap hemat!" Tentu ia tak mau termakan gombalan maut sang istri yang selalu bertingkah seperti anak remaja untuk meluluhkannya.

__ADS_1


Bibir Kira langsung merengut. "Ish ... papa ngga asyik!" Ia kembali menampar dada suaminya yang langsung diakhiri dengan usapan lembut dan menelusup kian dalam di dada suaminya tersebut.


Harris membalas pelukan istrinya, memberikan kecupan banyak-banyak di atas hijab yang membingkai. Ia kembali teringat untuk tak pernah jenuh memberikan istrinya pengertian. Di turunkan tangannya mengusap punggung Kira dengan lembut, pun dengan tutur katanya.


"Kamu tuh, harus percaya sama aku, Yang ... dan jangan suka menghakimi anak kamu berlebihan. Pada saatnya anak-anak akan dewasa, entah bagaimana jalannya. Saat proses pendewasaan, kita sebagai orang tua harusnya selalu ada, jangan menjauhi ... biar anak ngga ngerasa sendiri dan mencari pelarian salah yang dianggapnya benar."


Kira meliukkan bibirnya, mencibir suaminya dengan sinis. "Sok bijak kamu, Bang ... kaya kamu dulu ngga salah jalan aja?" Kira yakin, suaminya bisa berkata demikian karena pengalamannya dulu. Meski keadaan berbeda sebab suaminya menjadi tidak terkendali karena kehilangan mamanya. Harris mengela napas, lalu melepaskan pelukan yang menempel bagai tentakel gurita.


"Kan, mulai lagi!" Harris menuding ujung hidung Kira dengan gemas ketika istrinya itu senang sekali mengungkit masa lalunya yang gelap. "Mentang-mentang sekarang kamu udah berkuasa, jadi semaunya merendahkanku?"


"Iyalah, salah sendiri kamu minta aku di atas!" Kira nyelonong pergi usai berkata demikian. Senang sekali rasanya membalas dengan telak suaminya yang sering membuat plesetan saat mereka bicara serius.


Harris membuka mulutnya, tetapi ia kehabisan stok kata-kata. Hanya mampu melebarkan mata dengan telunjuk masih menggantung di udara. Kurang ajar sekali istrinya itu. Tanpa babibu, ia menangkap tangan istrinya, lalu mendekapnya dengan erat sampai Kira menjerit-jerit.


"Oh, sudah pinter ya, sekarang?" Suara Harris dan keributan dari luar menyadarkan Jen dan Darren yang masih berpelukan. Mereka saling menjauh dengan mata masih bertaut pandang.


"Kenapa aku lupa kalau ada papa dan mama, sih, Yang?" Darren juga mengusap kening hingga kepala belakangnya. Sungguh ia lupa, entah apa sebabnya.


"Cukup aku saja yang telmi, Ren ... kamu jangan ikut-ikutan!"


Jen segera menarik tangan suaminya tersebut untuk menemui orang tua mereka di depan. "Maaf, Pa, Ma ... kelamaan nunggu jadinya," ucapnya canggung. Namun, ia langsung nyengir dengan ekspresi menggoda ketika melihat kedua orang tuanya berpelukan.


"Wah ... pada pacaran nih, dua abg yang lagi kasmaran," celetuk Jen. Ia berdiri di depan pintu dengan Darren di belakangnya, memegang pundak. Keduanya tersenyum cerah.

__ADS_1


Kira langsung memisahkan tubuh, membenarkan hijab yang membingkai wajahnya. Ia menutupi salah tingkahnya dengan menggosok ujung hidung dan berkata canggung, "Santai aja, waktu kita masih banyak, kok ... papa ni, yang agak buru-buru."


Harris mendecakkan lidahnya, lagi-lagi Kira menggunakan namanya sebagai tandem.


"Mama tadi agak melow lihat kalian akur begitu. Mama pikir Jen masih Jen yang dulu, eh, ternyata udah jadi istri yang baik ...." Harris menempatkan Kira di sisinya, menghadapkan wanita itu pada anak dan mantunya.


Kini giliran Jen yang memerah wajahnya, ia menunduk malu. Pujian itu dan ketahuan sempat berlama-lama dengan Darren, membuat dirinya terbakar.


"Papa dan Mama bangga sama Jen, dan Darren ... makasih ya, udah mau membimbing Jen menjadi wanita, anak, dan istri yang baik. Kami ngga bisa membalas kebaikan kamu, selain mengucapkan terima kasih."


"Papa jangan bilang seperti itu, Jen emang sebenarnya baik, aku ngga ngelakuian apa-apa. Malah aku yang berterimakasih sama Papa dan Mama udah ngizinin Jen bersamaku." Darren makin mengeratkan tangannya pada bahu Jen.


Jen tidak tahan untuk tidak meringis kesenangan. "Apaan sih, kenapa pada muji aku? Pokoknya, Jen mau jadi anak yang baik, Jen gak mau bikin mama papa kesusahan." Ia meraih tangan Darren dan mengamitnya hingga jemari mereka saling bertaut, lalu memandang Darren dengan tatapan lembut. "Dan gak mau bikin Darren repot terus."


"Jadi papa bakal gendong cucu lagi nih, sebentar lagi ...," celetuk Harris dengan mimik wajah serius, sambil menatap istrinya. "Ma ... tambah tua kita, besok papa mulai pake peci deh, ketahuan rambutnya udah dua warna."


Perkataan Harris membuat Jen dan Darren menelan ludah. Lalu dengan mengedipkan kelopak matanya, Jen menyengirkan senyumnya. "Doain aja, Pa ...."


Darren semakin tak bisa berkata-kata, apa-apaan istrinya ini, cepet sekali berubahnya. Seperti bunglon. Tetapi tentu ia juga hanya bisa melebarkan senyumnya seraya mengangguk untuk membenarkan kata istrinya. Pokoknya terlihat akur sajalah ... takut kena geplak tangan kekar itu, bisa pingsan nanti. Lagi pula, ketika semua minta didoakan yang terbaik, tentu hanya akan hal baik sebagai hasil. Mengenai proses, tergantung bagaimana kita menikmatinya. Proses selalu menyakitkan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2