
Sisa hari itu rupanya buruk. Jen secara alami langsung masuk kamar dan terdengar meraung kesal.
"Mbak, harus berapa kali aku katakan! Masak dagingnya yang benar, yang matang, jangan biarkan dia makan daging yang hanya di panggang saja. Masak sampai matang, Mbak! Mbak paham ngga sih?"
Akhirnya Darren yang merasa kalau kata-katanya keterlaluan, bicara dengan Ranti di dapur. Wanita itu sudah mengemas dapur, dan bau apa ini? Rawon?
"Maaf, Pak ... tapi ibu hanya ingin makan rawon, tapi daging sapinya sengaja di panggang dulu. Tadi udah saya rebus sampai matang dagingnya Pak, ini ...," kata Ranti menunjukkan potongan daging yang sudah kehitaman di sebuah mangkuk kecil. "Ibu tau kok, Pak, ibu hanya ingin merasakan sensasi dipanggang saja," lanjutnya takut-takut.
"Saya ngga bela Ibu, Pak ... tapi Bapak seharusnya ngga bicara begitu sama Ibu."
Darren mengusap wajahnya kasar. "Simpan saja makanannya dulu, Mbak ...," perintah Darren yang menyetujui perkataan Ranti. "Maaf sudah membuatmu melihat pertengkaran kami."
Ranti tersenyum maklum, "sebaiknya bicara sama wanita hamil itu hati-hati, Pak ... kasihan."
"Iya, aku ngerti, Mbak ... tapi ini menyangkut kesehatan bayi kami. Dia sakit, Mbak ... dan harus terus dipantau sampai bayi kami lahir, sampai setahun kira-kira setelah kelahirannya. Aku khawatir pada keduanya, Mbak." Darren seperti tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin mengatakan kebenaran pada Jen, tapi ia takut sifat keras kepala Jen dikhawatirkan akan menghambat test amniocentensis, mengingat resiko yang ditimbulkan cukup mendirikan bulu tengkuk. Harapannya satu-satunya adalah virus itu berhasil mati dengan pengobatan dan tidak sampai menular ke pada bayinya.
Ranti mengerti, tapi bukan tempatnya untuk memberi nasihat, dia tidak begitu mengerti maksud 'sakit' tersebut, majikannya enggan menyebutkan apa sakit yang di derita istri dan calon bayinya. Sepertinya cukup membuat stress pria yang duduk dan memijat keningnya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya, ibu tau apa sakitnya, Pak ... Bapak tidak harus menanggungnya sendiri." Ranti segera undur diri, ketika selewat beberapa waktu tak mendapatkan respons dari pernyataannya.
Darren menghela napas dalam dan berat. Melihat menu di depannya, ia merasa bersalah, tangannya meraih garpu dan menusuk daging kehitaman itu. "Sungguh aku ngga sanggup melihat air matamu, Yang ...." Darren meletakkan kembali daging tersebut dan mengambil nampan. Memanaskan kuah rawon dan membawanya ke kamar.
***
"Aku tau, aku egois, Vay, tapi aku ngga bermaksud membuat bayiku kenapa-napa. Aku ngerti kok, apa yang boleh dan enggak. Aku udah belajar banyak, dan dia seenaknya saja bilang kalau aku—"
Suara Jen terhenti oleh tangisan pilu. Darren mendengarnya dari balik pintu dengan tangan menyangga nampan. Ia menguping Jen yang sedang berbicara dengan Vaya di telepon.
"Aku berusaha makan selain daging, aku cincang bayam, wortel, sawi, kacang polong sekalipun, Vay, tapi, selalu keluar lagi, keluar lagi ... sampai perutku sakit. Apa ini salah sikap egoisku juga? Aku ingin, tapi bayinya menolak."
"Aku harus bagaimana? Sebelum sakit itu, sebelum aku dikatakan hamil, aku ngga seperti ini 'kan? Apa aku pernah pilih-pilih makanan, Vay ...?"
Hening menjeda di sana, sehingga membuat Darren penasaran. "Ya, aku ngga sadar itu, tapi aku emang ngga pernah muntah, 'kan? Ah, sudahlah ... aku pusing," keluh Jen menggerutu.
Darren menjulurkan kepalanya sedikit, melihat wajah sembab Jen yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang, tangannya memutar-mutar boneka kelinci besar yang berwarna putih dan kelabu. Anehnya, setelah isakan tadi, Jen terlihat tidak lagi menangis. Hanya merengut saja.
__ADS_1
"Ya, aku bahagialah, masa hamil ngga seneng, ngga bahagia? Kamu aneh, ih ...!"
Darren melihat Jen meringis lagi, menggigit bibirnya, tampak menahan haru. Tangan yang semula memutar telinga boneka itu bergerak mengusap perutnya. "Jangan tanya seberapa senangnya aku, Vay ... aku seneng banget, tapi kenapa mesti ada drama kaya gini? Dia tampak biasa saja, malah galak kadang. Aku pikir dengan adanya dia, kami ngga bakal berantem kaya gini? Tapi ...."
Jen terlihat meletakkan ponselnya. Wanita itu menangkup wajahnya dan kembali menangis. Lebih keras dan menyakitkan.
"Haniii ... aku ke rumah kamu sekarang, ya ...."
Darren melangkah pelan menuju Jen yang masih menunduk dengan kedua menutupi wajah. Meletakkan nampannya di kursi panjang di bawah ranjang, dan duduk di sebelah Jen dengan posisi menyamping. Melerai kedua telapak tangan Jen dari wajah. Jen cukup terkesiap, tapi ia tak bisa sekadar berpaling menghindari tatapan Darren.
"Kamu mau tangan kanan atau tangan kirimu, yang menampar mulutku."
.
.
.
__ADS_1
.
.