Suami Settingan

Suami Settingan
Cerewet Yang Dirindukan


__ADS_3

"Terima kasih banyak, Pak Agung ... senang bisa bekerja sama dengan anda. Semoga ke depan kita bisa sama-sama memajukan usaha kita." Jen menyalami pria bernama Agung yang tak lain adalah orang yang di nantikan oleh Vaya.


Jauh-jauh dari pulau seberang demi menemui Jen untuk bekerja sama memajukan usaha. Beliau mengajak Jen selaku pemilik brand untuk mengatrol usaha konveksinya yang mengalami kebangkrutan. Minimnya pengetahuan dan salah memilih sasaran menjadi salah satu faktor, disamping oknum-oknum yang membuat usahanya makin terpuruk.


Jen menghela napasnya, jujur ia bingung. Belum lama ia memutuskan untuk memberikan rukonya untuk usaha mertuanya, kini ia sendiri membutuhkan tempat itu. Kadung mengucap janji dalam hati, Jen sedikit bimbang.


"Kenapa?" Vaya menatap sahabatnya penuh cemoohan. "Makanya jangan suudzon, jangan suka buruk sangka ... kamu pikir aku mau repot-repot ngurusin rumah tanggamu? Dapet duit kagak, pusing iya!" Ucapan Vaya benar menohok hati Jen, ia langsung menyambar smoothies strawberry yang ia pesan tadi untuk mengalihkan rasa malunya.


"Kamu suka berteka-teki, sih ...," balasnya lirih, nyaris tak terdengar di atas sedotan berliku yang baru saja ia tinggalkan.


"Aku bukan berteka-teki ... tapi cemas nungguin Pak Agung dateng, kupikir alamat ini susah di jangkau padahal tempat ini berada ditengah-tengah. Strategis sekali sampai aku memikirannya semalaman penuh." Vaya tidak terima dengan perkataan Jen yang seolah menyudutkan kalau ialah yang salah.


"Tapi Vay ... aku udah mau kasih ruko itu buat mama Desy ... jadi bagaimana dong?" Ia menoleh ke arah Vaya yang juga sedang menatapnya.


"Kamu udah ngomong?" Vaya balik bertanya, dan Jen hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Ya udah, gak perlu bingung, kan Mamer mu belum tau 'kan?"


Jen mengangguk, "tapi Vay, kasian mama Desy tuh, kadang ada driver yang kesasar, tadi aja ada customer dia yang nyasar kemana-mana. Trus andai mama punya kesempatan promosi dan tempat strategis, aku yakin usahanya bakal ramai. Mama tuh kaya telaten dan rapi gitu kerjaannya."

__ADS_1


Vaya menggelengkan kepalanya, pusing juga menghadapi mau sahabatnya ini meski ini juga hal mulia. Namun, jika Jen punya niat baik, dari dulu Vaya selalu mendukungnya. Terlintas ide yang sedikit memalukan sih, tapi Vaya akhirnya siap mengatakan hal itu.


"Apa sebaiknya kita bagi dua aja, kita atas dan mama di bawah?" celetuk Jen tiba-tiba. Hal itu membuat Vaya menelan kembali kata-kata dan idenya. Lalu diperbaharui dengan lampu bolam menyala di atas kepala Vaya. Dia menjentikkan jarinya dengan senyuman lebar sempurna.


"Kamu emang pinter, Jen ... jadi kita hanya butuh tenaga pemasaran yang bisa kita atur lah kerjanya. Promosi sekarang bisa lewat media sosial dan blog JC 'kan? Lalu kita tambah ke jasa endorsment. Bisalah itu aku atur," kata Vaya menyipit seolah promosi dan melobi selebritas media sosial adalah makanannya sehari-hari, tampak seperti hal yang sangat mudah dan kecil.


"Kita butuh desainer tema kaos JC yang unik dan lain dari yang lain. Kita bisa cari pembuat anime atau pekerja seni yang memiliki ide yang brilian. Itu harus, JC harus beda dan memiliki ciri khas yang kuat."


Vaya mengatakan itu dengan semangat menggebu, gerak tubuhnya begitu ekspresif dan seolah tak terkalahkan.


"Ya ...," jawab Jen menggantung sebab ia membasahi bibirnya dengan smoothies merah muda yang berpadu sangat pas di lidah Jen. Asam-asam manis segar yang menumbuhkan cita rasa aneh di dalam hatinya. Ya, perasaanya berangsur baik dan bahkan ia memikirkan untuk menyudahi perang dengan Darren. Hanya dia terlalu canggung dan tidak tahu cara berbaikan yang baik dan benar. Ia malu bercampur gengsi.


"Eh, kali ini Devaya Kusumawardani harum mewangi kayak bidadari ngga bakal ngeluh." Jemari Vaya menguncup, bergerak menyambar di depan bibir Jen, seolah menjumput ucapan Jen yang baru saja keluar. Lalu ia lemparkan jauh-jauh agar lupa jalan kembali ke bibir sahabatnya ini.


"No-no ... lebih baik aku capek di kejar duit daripada capek diomelin mama, kupingku bisa tuli kalau denger omelan mama tiap hari. Sampaia aku ke percetakan om setiap hari biar kelihatan kerja, padahal di sana aku cuma nebeng wifi doang." Vaya melakukan berbagai gestur yang cukup membuat Jen tersenyum simpul dan tau maksud terselubung Vaya dengan mendatangkan Agung. Agung datang demi keinginan Vaya bekerja kembali.


Ah, sudahlah ... tidak apa, asal Vaya kembali tersenyum, batin Jen dengan senyum lebar. Lalu menyesap minuman terakhirnya.

__ADS_1


"Oh ya, kamu lagi berantem sama Darren?" Jen menoleh, lalu pura-pura sibuk dengan melihat jam di ponselnya, lalu memandang keluar ruangan yang mulai gerimis. Mati-matian ia mengalihkan pikiran Vaya, tetapi pada akhirnya anak yang rada telmi ini ingat juga perkataannya tadi. Namun, Vaya tetap menuntut jawaban kala Jen tak sengaja menjatuhkan pandangannya tepat di mata Vaya.


"Udah enggak!" jawabnya cepat, "aku udah baikan sama dia," sambung Jen. Meski masih dalam hati saja, tapi dia sudah berniat baikan, jadi ya, kini tugasnya adalah mencari jalan buat berbaikan. Ah, susahnya.


Jen tiba-tiba berpikir, apa Darren sedang memikirkannya? Lalu ponselnya yang berbunyi ringan menunjukkan Darren mengiriminya sebuah pesan.


"Aku lebih suka telingaku penuh dengan suaramu yang cerewet itu. Aku merindukannya. Tolong kembalikan suara cerewet milik istriku tercinta itu."


Jen terkikik geli, dan dia tidak berniat membalasnya. "Aku balik, Vay ...," pamitnya pada Vaya yang melepaskan sedotan dari bibirnya, berganti melongo sebab Jen kembali ceria.


"Ajaib sekali tuh bocah ...," gumamnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2