
“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu mengurus pernikahan Tamy?
Dan keluar kota waktu itu? Dengan Tamy?” tanyanya ragu dan lirih ketika sampai
di ujung kalimatnya. Jen hanya melirik sekilas saja suaminya yang hanya mengulum
senyum dengan kepala menunduk. Kekehannya terdengar menggelitik dan sedikit
mengganggu. Kesal karena itu seperti sebuah ejekan baginya.
“Aku waktu itu nyari bunga untuk ini semua, berhubung aku sendiri juga sedang mencari
sesuatu, dan hari itu juga aku ada pertemuan dengan Pak Adi—yang semalam itu,
jadi ya ... aku pergi sekali jalan. Aku
pikir kamu tuh udah paham bagaimana hubunganku dengan Tamy, makanya aku santai
saja.” Nada suara Darren mengisyaratkan bahwa ia telah berulang kali
menjelaskan bahwa hanya Jen satu-satunya, bahkan Tamy tidak akan mungkin
menggeser posisi Jen didalam hatinya. The only love.
“Jadi kamu mikir aku pergi sama Tamy saja?” Darren menatap
sisi kepala Jen dengan binar bahagia, merasa senang saat dicemburui, “kamu ...,”
“Ya, wajarlah—kalau aku mikir seperti itu ...,” sambar Jen dengan
cepat dan sedikit ngegas, ia menegakkan tubuhnya dan sedikit menghadapkan wajahnya kepada Darren,
“aku 'kan gak tau hubungan kamu sama Tamy itu kaya apa sebelumnya, lagian waktu itu Tamy pernah
datang dan nangis-nangis di depan kamu ‘kan?” Masih sarat dengan nada tak
terima dan kesal dengan prasangkanya sendiri lebih tepatnya, mengenang masa
dimana Darren menenangkan Tamy.
“Kamu gak tau ‘kan gimana perasaan seorang istri pas tau
suaminya juga menjadi sandaran wanita lain, menenangkan tangis wanita lain?”
Jen hanya tidak menjelaskan betapa ia trauma dengan wanita lain yang dekat
dengan pria yang telah memiliki pasangan.
__ADS_1
“Maaf,” jawabnya sembari menundukkan wajah, melihat luka di
mata Jen, Darren hanya bisa mengalah saat ini. Mungkin Jen sungguh-sungguh
ketika ia tidak suka akan kedekatannya dengan Tamy, karena terlalu akrab, karena Jen sudah lama menyukainya, hanya terlalu
kesal saja hingga tidak tau bagaiamana
cara mengungkapkan, merasa kalah karena dia terlalu ramah dan friendly pada
semua kawannya baik lelaki dan perempuan, sehingga Jen merasa tertinggal langkah dan
memilih memusuhinya, daripada mengungkapkan perasaannya.
Ya, terkadang ketika
kita tidak bisa melakukan apa-apa terhadap sesuatu yang kita suka maka lebih
baik kita membencinya, dan bertekat untuk tidak melirik. Menebalkan dinding hati hingga kebas dengan segala pemberitaan
akan sesuatu yang kita benci itu, meski sesekali jiwa ingin tahu menggelitiki.
Jen kini menghadap lagi ke depan, berkata dengan nada tegas
penuh penekanan. “Mulai sekarang aku mau kamu jaga jarak dengan mereka ...,”
kata Jen sambil menunjuk segerombolan wanita yang mungkin rekan Darren yang
sabetan tajam yang tertoreh kepadanya, “jaga perasaanku yang baru mulai datang
padamu. Aku ingin ini adalah perasaan sukaku yang terakhir pada pria, aku ingin
rasa ini berlabuh pada hati yang tepat. Pada pria yang tepat.”
Darren menipiskan bibir dengan rasa bahagia yang tidak
pernah ia bayangkan sebelumnya, “aku janji ... ingatkan aku jika aku membuatmu
tidak nyaman dan terluka.” Meraih tangan Jen dan membawanya ke dada. Ia
mengukuhkan hatinya sekali lagi, janji pada dirinya sendiri, tak ada wanita
lain selain Jen di hatinya.
***
Darren dan Jen akhirnya pamit ketika tetamu mulai berkurang,
__ADS_1
Jen tampak lelah jika harus menunggu sampai acara benar-benar berakhir. Masih ada Bisma dan beberapa rekan yang lain yang masih asyik mengobrol dan bercanda, menggodai Darren dan Jen.
“Thanks, Brader, lu emang sohib gue yang terbaik.” Jabir menyalami Darren dengan menempatkan
tautan tangan kawannya tersebut di atara dada mereka yang saling bertabrakan.
“Nggak masalah ... kek sama siapa aja lu, Bir ...,” Darren mengimbuhinya
dengan tepukan tangan lain yang bebas tautan. “Gue balik dulu, kesian bini gue
... dia pasti kangen sama gue!” Darren menaik turunkan alisnya secara berulang
dengan seringai yang hanya dipahami maksudnya oleh pria, terbukti Jabir
langsung menyambut seringai Darren dengan seringai yang sama.
“Yeah ... nyembur disudut yang tepat, Bro ... lima belas derajat searah jarum jam, kalau mau hasilnya jagoan dengan menara yang
kokoh, kek babenya ...,” kata Jabir dengan diiringi kekehan penuh goda.
Darren tertawa, “sok tahu lu, nyoba aja belum pernah, kek
udah pro aja.” Ia menoyor bahu sahabatnya itu sambil menatap Jen yang sedang
diajak Tamy mojok, dan kelihatannya mereka berbicara dengan sangat serius.
“Bini gue emang istimewa, Bro ...,” ucapnya ketika menyadari
tawa Jen lepas, sekalipun ia sempat cemburu pada sahabatnya tersebut. Tidak
menyangka kalau Jen lebih dewasa dari yang ia duga selama ini. Alih-alih
mendamprat dan melampiaskan kemarahannya pada Tamy, Jen lebih memilih menepi
dan menyimpannya sendiri, membiarkan kecemburuannya larut hingga ia menemukan
logika dan menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya. Antisipasinya juga
cukup baik, yaitu dengan mengatakan padanya, meski masih diliputi sedikit
kekesalan tapi itu masih sangat bisa diterima oleh telinganya. Jen tanpa sadar
mendewasakan dirinya sendiri dengan caranya yang tampak kekanak-kanakan.
Dan Jabir menyepakati perkataan Darren.
.
__ADS_1
.
.