Suami Settingan

Suami Settingan
Sudut Yang Pas


__ADS_3

“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu mengurus pernikahan Tamy?


Dan keluar kota waktu itu? Dengan Tamy?” tanyanya ragu dan lirih ketika sampai


di ujung kalimatnya. Jen hanya melirik sekilas saja suaminya yang hanya mengulum


senyum dengan kepala menunduk. Kekehannya terdengar menggelitik dan sedikit


mengganggu. Kesal karena itu seperti sebuah ejekan baginya.


“Aku waktu itu nyari  bunga untuk ini semua, berhubung aku sendiri juga sedang mencari


sesuatu, dan hari itu juga aku ada pertemuan dengan Pak Adi—yang semalam itu,


jadi ya ...  aku pergi sekali jalan. Aku


pikir kamu tuh udah paham bagaimana hubunganku dengan Tamy, makanya aku santai


saja.” Nada suara Darren mengisyaratkan bahwa ia telah berulang kali


menjelaskan bahwa hanya Jen satu-satunya, bahkan Tamy tidak akan mungkin


menggeser posisi Jen didalam hatinya. The only love. 


“Jadi kamu mikir aku pergi sama Tamy saja?” Darren menatap


sisi kepala Jen dengan binar bahagia, merasa senang saat dicemburui, “kamu ...,”


“Ya, wajarlah—kalau aku mikir seperti itu ...,” sambar Jen dengan


cepat dan sedikit ngegas, ia menegakkan tubuhnya dan sedikit menghadapkan wajahnya kepada Darren,


“aku 'kan gak tau hubungan kamu sama Tamy itu kaya apa sebelumnya, lagian waktu itu Tamy pernah


datang dan nangis-nangis di depan kamu ‘kan?” Masih sarat dengan nada tak


terima dan kesal dengan prasangkanya sendiri lebih tepatnya, mengenang masa


dimana Darren menenangkan Tamy.


“Kamu gak tau ‘kan gimana perasaan seorang istri pas tau


suaminya juga menjadi sandaran wanita lain, menenangkan tangis wanita lain?”


Jen hanya tidak menjelaskan betapa ia trauma dengan wanita lain yang dekat


dengan pria yang telah memiliki pasangan.

__ADS_1


“Maaf,” jawabnya sembari menundukkan wajah, melihat luka di


mata Jen, Darren hanya bisa mengalah saat ini. Mungkin Jen sungguh-sungguh


ketika ia tidak suka akan kedekatannya dengan Tamy, karena terlalu akrab, karena  Jen sudah lama menyukainya, hanya terlalu


kesal saja hingga  tidak tau bagaiamana


cara mengungkapkan, merasa kalah karena dia terlalu ramah dan friendly pada


semua kawannya baik lelaki dan perempuan, sehingga Jen merasa tertinggal langkah dan


memilih memusuhinya, daripada mengungkapkan perasaannya.


Ya, terkadang ketika


kita tidak bisa melakukan apa-apa terhadap sesuatu yang kita suka maka lebih


baik kita membencinya, dan bertekat untuk tidak melirik. Menebalkan dinding  hati hingga kebas dengan segala pemberitaan


akan sesuatu yang kita benci itu, meski sesekali jiwa ingin tahu menggelitiki.


Jen kini menghadap lagi ke depan, berkata dengan nada tegas


penuh penekanan. “Mulai sekarang aku mau kamu jaga jarak dengan mereka ...,”


kata Jen sambil menunjuk segerombolan wanita yang mungkin rekan Darren yang


sabetan tajam yang tertoreh kepadanya, “jaga perasaanku yang baru mulai datang


padamu. Aku ingin ini adalah perasaan sukaku yang terakhir pada pria, aku ingin


rasa ini berlabuh pada hati yang tepat. Pada pria yang tepat.”


Darren menipiskan bibir dengan rasa bahagia yang tidak


pernah ia bayangkan sebelumnya, “aku janji ... ingatkan aku jika aku membuatmu


tidak nyaman dan terluka.” Meraih tangan Jen dan membawanya ke dada. Ia


mengukuhkan hatinya sekali lagi, janji pada dirinya sendiri, tak ada wanita


lain selain Jen di hatinya.


***


Darren dan Jen akhirnya pamit ketika tetamu mulai berkurang,

__ADS_1


Jen tampak lelah jika harus menunggu sampai acara benar-benar berakhir. Masih ada Bisma dan beberapa rekan yang lain yang masih asyik mengobrol dan bercanda, menggodai Darren dan Jen.


“Thanks, Brader, lu  emang sohib gue yang terbaik.” Jabir menyalami Darren dengan menempatkan


tautan tangan kawannya tersebut di atara dada mereka yang saling bertabrakan.


“Nggak masalah ... kek sama siapa aja lu, Bir ...,” Darren mengimbuhinya


dengan tepukan tangan lain yang bebas tautan. “Gue balik dulu, kesian bini gue


... dia pasti kangen sama gue!” Darren menaik turunkan alisnya secara berulang


dengan seringai yang hanya dipahami maksudnya oleh pria, terbukti Jabir


langsung menyambut seringai Darren dengan seringai yang sama.


“Yeah ... nyembur disudut yang tepat, Bro ... lima belas derajat searah jarum jam, kalau mau hasilnya jagoan dengan menara yang


kokoh, kek babenya ...,” kata Jabir dengan diiringi kekehan penuh goda.


Darren tertawa, “sok tahu lu, nyoba aja belum pernah, kek


udah pro aja.” Ia menoyor bahu sahabatnya itu sambil menatap Jen yang sedang


diajak Tamy mojok, dan kelihatannya mereka berbicara dengan sangat serius.


“Bini gue emang istimewa, Bro ...,” ucapnya ketika menyadari


tawa Jen lepas, sekalipun ia sempat cemburu pada sahabatnya tersebut. Tidak


menyangka kalau Jen lebih dewasa dari yang ia duga selama ini. Alih-alih


mendamprat dan melampiaskan kemarahannya pada Tamy, Jen lebih memilih menepi


dan menyimpannya sendiri, membiarkan kecemburuannya larut hingga ia menemukan


logika dan menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya. Antisipasinya juga


cukup baik, yaitu dengan mengatakan padanya, meski masih diliputi sedikit


kekesalan tapi itu masih sangat bisa diterima oleh telinganya. Jen tanpa sadar


mendewasakan dirinya sendiri dengan caranya yang tampak kekanak-kanakan.


Dan Jabir menyepakati perkataan Darren.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2