
Darren hanya tersenyum menyaksikan tingkah Jen yang terus berteriak, melompat, dan mengumpat. Melepaskan beban yang mungkin saja dirasakan berat olehnya. Ia bahkan melepas sweaternya, lalu melemparkannya ke tengah-tengah gulungan ombak. Darren hanya mampu menggelengkan kepala melihat ini.
Hampir setengah jam berlalu, Jen kembali dengan napas tersengal. Namun, senyum lebar tersungging di sudut bibirnya yang tipis dan mungil.
"Kenapa dibuang sweternya?" Ia mengawasi langkah Jen yang menyerak pasir hingga berhamburan.
"Buang sial," jawab Jen sambil menumpu lututnya. Darren melebarkan senyum, sekali lagi ia menggeleng. Ada-ada saja.
"Lega sekali rasanya, Ren ...," ucapnya sambil mendudukkan tubuh di sebelah Darren dengan meluruskan kakinya.
"Caraku selalu ampuh, kamu saja yang susah percaya." Ia masih mengawasi senyum di sana.
Jen menengadah, "selama ini aku gak pernah dapat masalah yang berat, 'kan? Hidupku biasa saja, hepi-hepi saja lebih tepatnya. Party sama Diego juga bukan karena ada masalah sebenarnya, tapi mungkin terbawa arus pertemanan saja ku rasa. Mencoba sesuatu yang baru—"
"Dan berbahaya ...," potong Darren yang membuat Jen langsung menoleh dan mengangguki ucapan Darren.
"Ya, itu juga benar. Aku gak tau kalau teman dibelakangku merencanakan sesuatu. Mikirnya mereka baik, gitu aja, sih ... gak taunya malah menikam dengan sadis. Tapi emang karena aku bodoh dan naif, sih ...." Jen tersenyum miris, ia lantas tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
"Gak apa-apa, dulu bodoh dan naif, asal sekarang gak diulangi. Lebih bodoh orang yang terperosok pada lubang yang sama, 'kan?" timpal Darren.
"Gak tau juga, sih, apa aku sekarang sedang mengulangi kesalahan yang sama, karena aku tadi diusir Mama. Ya, aku kesel sama Ranu, aku tampar dia, lalu di marahi mama, dan semua fasilitas dari mama diambil semua. Itu kesalahan yang sama apa enggak, ya?" Jen nyengir.
Darren tersenyum, "kamu minta dimaklumi apa dinilai? Atau dihakimi?"
"Em ...." Jen sejenak berpikir, "Dimaklumi saja, deh ...." bibir itu kembali nyengir.
Darren tertawa, "artinya kamu tahu kamu salah, kalau dinilai atau dihakimi pasti akan membuatmu terluka, benar?"
Jen mengangguk dengan bibir menipis. "Jadi aku akan membebanimu, karena kesalahanku ini, 'kan? Lalu aku harus apa agar aku gak terlalu bikin susah hidup kamu?" Sorot mata itu seperti meminta maaf, malu-malu menatap Darren.
Darren menekuk kakinya, lalu melingkarkan tangannya hingga saling berpegangan. "Jadi istri yang baik, cukup kurasa!"
Ucapan Darren membuat Jen melongo. "Hanya itu? Caranya?"
"Ya, istri yang baik. Pahamlah, pasti wanita tahu hal itu, 'kan?"
"Tapi ada beberapa hal yang aku gak bisa. Kalau cuma nurut, sih oke lah ... mudah sekali itu."
"Yang gak bisa apa?"
"Masak mungkin," jawab Jen sambil mengendikkan bahu dan bibir mencebik.
"Asal bisa nyalain kompor, rebus air, bedain bawang merah dan putih, gula dan garam, bisa lah itu."
Jen merengut, "Emangnya aku anak teka apa? Kalau cuma itu aku bisa ... kalau masak kaya Ranu itu aku yang gak bisa." Jen melempari Darren yang tertawa dengan pasir hingga tangan pria itu terangkat agar tak terkena pasir.
"Tenang saja, cukup bantuin mama, nanti kita kenyang kok, mama gak bakal keberatan."
"Kenapa kita gak cari rumah sendiri, ngontrak gitu?"
"Kamu mau tinggal dikontrakan?"
"Kenapa enggak ... apa aku sekarang bisa pilih-pilih? Aku anak buangan, Ren."
__ADS_1
"Jangan bilang begitu, mungkin mama kesel banget sama kamu, dan kamu kesalahannya fatal. Bener gak?"
"Iya, sih ... aku tadi kesel banget soalnya, jadi ya ... aku ngelawan mama."
"Nah, 'kan? Mama gak mungkin tega ngusir kamu."
"Emang gak ngusir sih, cuma 'kan kuberpikir kalau mama ngusir aku." Jen nyengir lagi.
"Astaga, Jen ... pasti setelah ini kamu gengsi mau balik kesana?"
"Iya lah ... orang minggat kalau gak disuruh balik, ya gak bakal tiba-tiba balik, 'kan? Apa kata mereka nanti?"
"Untung kamu udah punya aku, kalau nggak kamu mau kemana? Siapa yang akan nolong kamu?"
"Ish ...." Bibir Jen kembali merengut. "Tapi iya juga, sih! Eh, jan salah ... kubisa numpang di rumah Vaya."
"Ya, tapi 'kan dia orang lain, gak mungkin kamu lama-lama tinggal dirumah dia 'kan?"
"Wah, bener juga. Mana aku gak punya duit setelah bayarin orang-orang tadi." Jen mengangguk setengah melamun. Ia kini benar-benar hampa tanpa uang bersamanya. Ah, sial lagi, hidupku. Sudahlah.
"Besok atau kapan gitu, aku mau sumbangin baju-bajuku ke panti atau kemana gitulah, Ren ...," sambungnya.
"Sebagian kamu jual lah ... sumbangin semua kemana? Panti juga butuhnya yang kecil-kecil, 'kan?"
"Iya juga, sih ... entahlah." Jen mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
"Kamu tahu ...," ucapan Darren membuat Jen kembali menoleh. Disaat yang sama Darren juga memutar kepalanya ke arah Jen.
"Hari ini, akan tercatat dalam Guiness Book of Record." Darren melebarkan senyumnya.
"Kita bicara kaya manusia normal ... dan ini percakapan terpanjang kita."
Jen tersenyum hingga tertawa, "apa itu sebuah prestasi? memecahkan rekor dunia?" Jen menggeleng. Ada-ada saja.
"Ya, bagiku ini prestasi dan pecahkan rekor duniaku. Biasanya urat lehermu keluar semua kalau ngomong sama aku."
"Perlu dirayakan kalau begitu. Traktir pizza kapan-kapan." Jen masih tersenyum, ia tak menyangka, pria di sampingnya terlihat bahagia hanya dengan gaya bicaranya yang berubah saja.
"Boleh, resto bintang lima juga boleh."
"Benarkah? Restonya Mama?"
"Yah ... ketebak!"
Keduanya tertawa, lalu saling melemparkan pasir, dan berakhir dengan perang pasir yang sesungguhnya sampai seluruh badan mereka penuh dengan pasir. Mereka berdua hanya tertawa, hingga napas mereka habis ditelan udara malam di tepi laut yang dingin dan kering.
***
Sementara, Kira tak juga bisa memejamkan mata meski malam telah larut. Ia cemas memikirkan anaknya yang pergi begitu saja karena ucapannya.
"Mau sampai kapan, sih, Yang ... kamu mondar mandir kaya orang yang dikejar hutang." Harris sudah berbaring sebab ia lelah sekali hari ini. Namun, karena ia tak bisa memeluk kesayangannya, tidurnya jadi tidak tenang. Ditambah bayangan Kira yang kesana kemari itu membuatnya gelisah di balik matanya yang terpejam.
Kira tidak menjawab, malah ia semakin rajin bergerak dan menggigiti ujung jarinya. Harris menghela napas, ia menarik tubuhnya hingga duduk dan bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Makanya ngga usah sok tega kejam sama anak sendiri kalau akhirnya kelimpungan kaya gini. Kamu tuh galak dan kejamnya kurang konsisten, jadinya repot sendiri."
Kira berhenti, ia kesal dengan ucapan suaminya tersebut. Lantas ia menghadap suaminya dengan tangan bersikap di dada dan ekspresi semakin galak.
"Kamu ngga tau apa yang dilakukan Jen pada Ranu, Pa ... dan kamu ngga dengar kalau dia jelek-jelekin kamu tadi."
Harris mencebik tidak peduli, "menjelekkan seperti apa misalnya?"
"Tadi Jen bilang kalau Ranu menggoda Darren, dan bilang kalau Papa pilih kasih. Dia dengan angkuhnya bilang kalau akan menjalani hidup dengan caranya sendiri. Aku belum pernah lihat Jen bertingkah kasar dan menjengkelkan seperti itu apa lagi kepada adiknya sendiri." Kira menghembuskan napasnya kasar, seakan tidak tahu lagi bagaimana bersikap terhadap putrinya tersebut selain mengamini apa yang terucap dari bibir putrinya.
"Yang ... wajar 'kan kalau seorang istri cemburu melihat kedekatan wanita lain dengan suaminya. Apalagi memang wanita itu memiliki perasaan kepada suaminya. Wajar banget kalau Jen marah dan cemburu."
Kira tak percaya suaminya mengatakan itu, seperti membela Jen lagi. Hal ini membuat Kira semakin kesal, karena tuduhan Jen yang mengatakan Harris pilih kasih padanya dan disini Harris sedang membela Jen.
"Tapi Ranu bukan orang lain, Pa ... mereka saudara, kenapa sampai harus menampar Ranu hingga pipinya merah begitu?"
"Kamu aja kalau ngga ditenangin, pegawai butik juga bakal kamu cekik karena mengambil ukuranku," goda Harris yang membuat Kira melebarkan matanya. Ia membubarkan dekapan tangan di dadanya, lalu menaiki ranjang dan duduk di hadapan suaminya.
"Jadi kesel nih, kalau diganggu pas dipegang-pegang cewek lain?"
"Kan? Jadi kamu yang kesel ...," Harris menekan kening Kira dengan telunjuknya hingga Kira tergusur mundur. "Jen juga sama seperti kamu, kesel pas lihat orang yang dicintainya berdekatan dengan wanita lain."
"Tapi ini Ranu, Pa ... masa sih, dia tega. maksudku Ranu sampai menggoda Darren dan Jen mesti nampar adiknya?"
"Ranu memang suka sama Darren, Yang, dan wajar kalau Jen marah."
Perkataan Harris membuat Kira kehilangan kata-kata untuk sesaat. "Jadi-jadi, Jen beneran memiliki perasaan sama Darren, Pa? Ini bukan ada permainan dibelakang mereka?"
"Iyalah, masa ada orang nikah ngga ada perasaan, sih? Kamu ini suka ngarang."
Telunjuk Harris sudah melayang lagi untuk mendorong istrinya, tapi Kira dengan ekspresi malas dan kesal mengusir telunjuk suaminya. Dasar ngga sadar diri, dia membicarakan dirinya sendiri, batin Kira.
"Kamu dulu pas nikah, ada perasaan sama aku? Dasar suka menghilangkan fakta kalau kamu dulu judes minta ditabok sama aku." Ia menghempas tangan Harris hingga kembali ke sisinya.
Harris tergelak, ia segera meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat. "Aku sedang mengatakan pada pikiranku kalau malam pertama kita dulu, kita habiskan dengan bercinta semalaman. Sungguh aku malu dengan sikapku dulu padamu. Tolong jangan diingatkan lagi." Selanjutnya Harris mengecupi wajah istrinya yang beraroma mawar. "Love you, Wifey." desisnya.
"Dasar aneh. Fakta ngga bisa dilupakan, Abang," sungut Kira sambil membalas pelukan suaminya. "Aku gak bisa dibujuk dengan kata cinta doang, aku maunya uang."
"Ambil semuanya, untuk kamu ... tapi berikan cintamu hanya untukku." Harris meraih bibir istrinya itu lalu menyesapnya bergantian.
Kira tahu kemana langkah mereka akan menuju, sehingga ia segera mendorong tubuh suaminya menjauh, dan tangan nakal itu segera ia usir dari tubuhnya. "Aku masih harus nelpon Desy, Bang ... aku belum tenang jika belum tahu keadaan anak-anak."
"Hubungi Desy dan aku akan bertugas sendiri." Harris dengan tak sabar menyerahkan ponsel miliknya pada Kira, lalu ia juga segera membuka baju tidur Kira.
"Jangan gila!" Kira merebut pakaian yang tengah di koyak suaminya, lalu beranjak bangun dan menghubungi Desy.
Yang benar saja, Bang, masa nelpon besan diselingi suara desahaan, batin Kira. Ia selalu ingat jika tidak bisa menahan diri karena perbuatan keji suaminya.
.
.
.
__ADS_1
.
.